Pembinaan Masyarakat dan Pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi

Membentengi Aqidah
Di Tengah Lautan Sampah

T empat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi dihuni oleh sekitar 15.000 jiwa, mulai pria dewasa, wanita bahkan anak-anak. Mereka mengais sampah yang dibuang warga Jakarta, Bekasi dan sekitarnya demi untuk menyambung hidup. Kemiskinan yang mendera menyebabkan warga penghuni TPA Bantar Gebang menjadi obyek eksploitasi pihak lain baik secara ekonomi maupun aqidah. Mereka adalah saudara kita yang rawan aqidah dan rawan pendidikan.

Lautan sampah di Bantar Gebang seluas 108 hektar. Ribuan ton sampah datang setiap hari dari berbagai daerah terutama DKI Jakarta dengan volume sampahnya mencapai 26.000 meter kubik atau 6.000 ton per-hari ditambah dengan sampah dari Kabupaten dan Kota Bekasi yang mencapai 2.500 ton per-hari.

Walaupun sampah-sampah tersebut masih memiliki nilai ekonomi, sehingga menjadi tempat bagi 15.000 jiwa mengais rejeki, namun hidup di sana dalam kondisi yang tidak manusiawi. Tidak ada fasilitas yang memadai untuk mendidik anak-anak mereka, bahkan pola interaksi diantara mereka jauh dari nilai-nilai lslam hal ini membentuk mental yang lemah, kasar, jauh dari etika normal, individualis dan terpatri jiwa-jiwa mengemis yang akan terus diturunkan pada anak keturunan mereka.

Berdakwah di Komunitas Pemulung Sampah

Kondisi seperti diuraikan di atas menjadikan mereka rentan mengalami goncangan aqidah baik karena faktor kepribadian mereka sendiri yang jauh dari nilai-nilai lslam dan yang lebih bahaya adanya serangan dari luar aqidah Islam. Oleh karena itu menjadi prioritas bagi kita semua untuk mengambil langkah membina masyarakat di sana dengan pembinaan lslam berbasis Al Qur'an.

Bulan Maret 2009 Badan Wakaf Al Qur'an bersama partner lapang kami Yayasan Ummi Amanah, pimpinan ibu Sari menyusun program untuk pembinaan masyarakat, khususnya kalangan pemulung di Bantar Gebang. Langkah bersama kami yang pertama adalah mengadakan pelatihan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Islam (PAUD-BAI) bagi guruguru PAUD dan TPQ dan calon guru dari masyarakat di sekitar TPA Bantar Gebang, dengan materi pelatihan dan tenaga pelatih dari el-diina jakarta selatan.

Target pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan bagi pengajar PAUD dan TPQ dan membentuk calon pendidik baru dari penduduk lokal. Hasil pelatihan cukup baik, peserta memperoleh banyak manfaat yang bisa diterapkan dalam kegiatan mengajar mereka sehari-hari. Terlebih el-diina sudah menyiapkan juga perangkat-perangkat ajar yang diperlukan, bahkan sampai kurikulum PAUD-BAI dan Satuan Kegiatan Harian (SKH) bagi guru PAUD.

Sasaran jangka panjang adalah adanya kesinambungan antara metode ajar di sekolah dan di rumah karena sesungguhnya ibu lah yang sangat berperan sebagai guru yang terbaik untuk menanamkan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu ibu-ibu dari kalangan orangtua murid dan masyarakat lainnya, dibina melalui kegiatan majelis taklim muslimah. Adapun bagi kaum bapak dan remaja, dilakukan pembinaan keislaman seperti belajar membaca Al Qur'an, pengajian dan pelatihan ketrampilan.

Pembinaan Masyarakat dan Pemulung di TPA Bantar Gebang, Bekasi

Program wakaf untuk mendukung dakwah dan pembinaan masyarakat dan pemulung di kawasan TPA Bantar Gebang, Bekasi. Terdiri dari program:

  1. Wakaf Al Qur'an dan Pembinaan.
  2. Wakaf Khusus Pengembangan Sekolah "Al Falah", untuk anak-anak pemulung dan warga yang tidak mampu.

Pembinaan Masyarakat dan Pemulung di TPA Bantar Gebang, Bekasi

Lokasi : TPA Bantar Gebang, Bekasi
Partner Lapang : Yayasan Ummi Amanah

Wakaf Khusus Pengembangan Sekolah "Al Falah"


S alah satu prestasi yang diukir oleh Wulansari dari Yayasan Ummi Amanah, partner lapang BWA di kawasan Bantar Gebang adalah membangun sebuah sekolah bagi anak-anak pemulung. Perjuangan ibu guru yang satu ini dimulai pada tahun 2007, berawal dari membentuk majelis taklim "Al Falah" dan kegiatan pendidikan untuk anak usia dini (PAUD) di mushola kardus yang terletak di tengah bentangan sampah desa Sumur Batu, kec. Bantar Gebang.

Suatu hal yang ironis, baru 2 bulan PAUD didirikan dan membina Taman Pendidikan Qur'an (TPQ), ternyata sudah ada 4 siswanya yang nyawanya terenggut. Seorang terserang tetanus, seorang mengalami pecah empedu dan dua orang lainnya mengalami luka dalam yang serius karena terpeleset dan berakhir pada kematian. Suatu gambaran bahwa anak-anak dalam komunitas ini begitu kendor dalam pengawasan dan perawatan orangtuanya.

Pendidikan dan kesehatan sesungguhnya sangat krusial untuk mereka. Namun justru 2 hal inilah yang belum terpikirkan dan sedikit sekali terjamah dalam pembinaan dari pihak luar. Untuk itulah kita secara bersama-sama harus tergerak untuk memasuki wilayah ini karena kondisi mereka bukan hanya untuk objek dikasihani, tetapi harus ada langkah nyata agar kaum ini segera terbina dalam hal pendidikan dan kesehatan serta akidahnya.

Alhamdulillah....di akhir bulan Nopember 2008 akhirnya gedung sekolah Al Falah yang baru telah selesai dibangun sehingga tidak menumpang lagi di musholla. Meskipun sekolah tadi berdiri di atas tanah sewa dan berdinding bambu, tetapi mereka bangga sekali dan sungguh bahagia mempunyai 'gedung' sekolah yang baru.

Dengan fasilitas yang sangat minim inilah anak-anak menimba ilmu agar menjadi anak yang beriman dan berilmu. Sekolah Al Falah generasi pertama ini tidak memiliki bangku sekolah, meja belajar, buku-buku yang lengkap, peralatan tulis yang memadai dan alat bermain yang layak bagi siswa sebagaimana di sekolah yang lain.

Jika hujan, maka celah-celah kecil di atap seng yang menaungi ruang kelas akan meneteskan air hujan sehingga tak jarang ruang kelas banjir dan pagi harinya seluruh siswa harus bekerja bakti dengan Ibu Guru untuk membersihkan kelas agar bisa belajar lagi. Metamorfosa perjalanan kelompok belajar Al Falah, dimulai dari menumpang di musholla kardus, lalu berpindah di sepetak tanah sewa dengan bangunan sederhana, hingga akhirnya Ibu guru Sari di bulan Mei 2009 ' harus ' membuatkan rumah baru untuk murid-muridnya ini. Di 'gedung lama' yang belum genap setahun mereka tempati itu, ternyata masih terlalu sempit untuk menampung murid yang semakin banyak.

Mereka sering berebut meja lipat, juga tidak bisa leluasa melakukan aktifitas olah raga dikarenakan tidak ada lahan untuk kegiatan out door. Maka akhirnya "Al Falah" diputuskan untuk mengungsi lagi ke tempat yang lebih kondusif untuk belajar. Alhamdulillah ada uluran tangan dari seorang sahabatnya, yang selama ini begitu istiqomah membantu dan mengulurkan tangan. Dengan modal hutang dan uluran tangan ini, Sari langsung gerak cepat mencari lahan sewa. Penuh perjuangan dalam perjalanan kali ini dan harus menghadapi ( lagi ) gangguan preman di tengah proses pembangunan sekolah ini. Namun Alhamdulillah, dengan bekal 'power of kepepet' , dan pertolongan Allah SWT tentunya, mereka pun mundur teratur dan tak menampakkan batang hidungnya lagi.

Step berikutnya, mulailah ibu guru kita berperan sekaligus sebagai mandor untuk mengawasi pembangunan ini. Melelahkan itu pasti. Dia harus hunting sendiri seng bekas, kayu, bambu , paving dll agar bisa menghemat cost. Sedikit demi sedikit bangunan kayu plus bilik bambu dan beratap seng itu kini mulai berdiri megah.

"Aku pun bisa tersenyum bahagia, aku sudah membayangkan bagaimana murid-muridku nanti bisa duduk manis di bangku sekolah 'yang belum terbeli', bisa berolah raga di halaman sekolah, punya taman bacaan sendiri, musholla untuk mengaji dan Insya Alloh akan kulengkapi dengan permainan outdoor agar mereka bisa menikmati keceriaan yang utuh sebagaimana anak-anak yang lain" demikian ungkapan hati Wulansari seperti yang ia tulis dalam blog pribadinya,... Amin. Tepat pada tanggal 16 Juni 2009, murid-murid Al Falah sudah tidak sabar untuk pindah ke sekolah baru mereka. " Oke kita baris bareng-bareng menuju sekolah baru, ya ", "Horeeeeee! " seru mereka bersemangat.

Senyum guru-guru mengembang melihat murid-muridnya spontan berebut untuk berbaris menuju sekolah baru. Subhanalloh.setelah berada di tempat yang baru, mereka berlarian, jungkir balik, main bola, lari-lari keliling sekolah, membuka pintu dan observasi ke seluruh ruangan. Terimakasih, Ya Alloh.terimakasih atas diberi kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka. Di sekolah yang lama ukuran kelas hanya sepetak. Lantainya semen yang sudah mengelupas. Mejanya adalah meja lipat yang sudah jebol. Bila mereka masuk semua, berdesak-desakan dan berebut meja lipat.

Dan kini, di tempat yang baru ini mereka bisa merasakan duduk di bangku sekolah sama seperti teman-temannya yang lain. Ketika bangku-bangku sekolah yang dipesan sudah datang dan mulai tertata di ruang kelas, mereka berjejer menonton dengan antusias. "Waaaah kayak sekolah beneran, yah ? " begitulah celetuk salah seorang anak.

Perjalanan sekolah Al Falah masih panjang, sekolah ini adalah asa bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung untuk menatap masa depan mereka. Ia harus tetap ada dan menjadi sekolah terbaik, yang akan melahirkan generasi-generasi umat ini yang sholeh dan sholehah.

Mari bergandeng tangan bersama, bantulah kami agar kami bisa membantu mereka menjadi anak-anak generasi Rabbani yang tangguh...beriman, berilmu, bernas dan berakhlakul kariimah.

Wakaf Khusus pengembangan Sekolah "Al Falah"


Untuk membantu pengadaan sarana pendidikan seperti bangku sekolah, ruang perpustakaan, saran bermain siswa dll. Pembangunan fisik sekolah, penambahan ruang kelas dsb


Kebutuhan :

Rp. 125.000.000,-
terhimpun :