Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Zakat Peer To Peer

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

7 Tahun Cuci Darah untuk Bertahan Hidup

Sudah hampir tujuh tahun Kusniati (42) menjalani Hemodialisa (cuci darah) di Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YGDI), Jatiwaringin, Jakarta Timur. Hemodialisa harus ia jalani demi bertahan hidup semenjak dokter yang memeriksanya memvonis dirinya terkena Gagal Ginjal Kronis.

Warga kelurahan Abadijaya, Sukamaju, Depok Timur ini tinggal bersama kakaknya. Suaminya meninggalkan dirinya tak lama setelah dokter memvonisnya terkena Gagal Ginjal. Wanita berkerudung yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh cuci ini dikenal sangat baik di lingkungannya.

Penghasilan yang tidak seberapa sebagai buruh cuci tidak menghalangi Kusniati untuk berbagi dengan tetangga. Setiap kali menerima upah dari orang yang memperkerjakannya, ia sisihkan sebagiannya untuk dibelikan sesuatu untuk anak kecil di lingkungannya. Hal ini menimbulkan simpati yang luar biasa dari para tetangga.

Biaya tranportasi melakukan cuci darah mencapai Rp.400.000,- per bulan. Kusniati menggunakan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sehingga biaya cuci darah di YGDI gratis. Namun, ada beberapa obat yang tidak pernah dikonsumsinya selama tujuh tahun karena ketiadaan biaya, sehingga mengakibatkan terjadi osteoporosis (pengapuran tulang). Selama ini Kusniati memperoleh uang untuk biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari dari hasil mencuci baju dan iuran para tetangganya yang peduli.

Badan Wakaf Al-Quran melalui program Zakat Peer to Peer berencana membantu biaya obat-obatan dan transportasi melakukan cuci darah ibu Kusniati. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh kaum muslimin untuk bersama-sama membantu meringankan bebannya. Zakat dan donasi yang Anda tunaikan akan sangat berarti bagi ibu Kusniati dan Anda pun akan memperoleh pahala dari-Nya, insya Allah.

 

Donasi yang dibutuhkan untuk enam bulan ke depan:

Rp. 9.000.000,- (Sembilan Juta Rupiah)

 

Partner Lapang:

Alimudin Baharsyah

7 Tahun Cuci Darah untuk Bertahan Hidup

Update #2: Walau Gagal Ginjal Tetap Berbakti Pada Ibunda

Semangat hidup Kusniati (42), dilatari oleh keyakinannya bahwa Allah SWT menunjukan dirinya masih dibutuhkan oleh orang lain. Terutama ibundanya, yang saat ini mulai mengalami sakit-sakitan menjelang usianya yang semakin senja, 70 tahun-an. Padahal, fisik dan jiwa kusniati juga seringkali down. Karena harus rutin menjalani hemodialisa (cuci darah) setiap dua kali seminggu.

“Saya yakin, saya masih dibutuhkan orang lain. Terutama ibu saya, saat ini sedang mengalami penyakit pikun, syaraf dikepalanya mulai terganggu. Maka saya lebih semangat untuk membawa ibu berobat, merawatnya, mengatur makannya. Barangkali ini maksud Allah, masih memberi saya panjang usia dan memberikan saya kekuatan,” tutur Kusniyati dengan mata berkaca-kaca.

Ia tinggal bersama kakaknya yang sudah beristri, di kelurahan Abadijaya, Sukamaju, Depok, rumah peninggalan ayahnya. Sementara ibunya yang sakit, tinggal bersama kakaknya yang perempuan, tepat bersebelahan di samping tempat tinggalnya. Karena kakaknya yang perempuan itu sudah berkeluarga juga, Kusniyati merasa dirinya lebih punya banyak waktu untuk ibundanya.

Perjalanan Kusniyati menjalani terapi Hemodialisa ke Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YGDI), Jatiwaringin, Jakarta Timur, saat ini mengalami hambatan. Akhir bulan februari kemarin, pemerintah tidak memperpanjang kartu Jamkesmas milik Kusniyati. Padahal kartu tersebut adalah nafasnya untuk terus bertahan hidup.

Sebagai gantinya, Pemda setempat mengeluarkan Jamkesda tetapi dengan jangka waktu lebih singkat. Kusniyati harus memperpanjang masa berlaku kartu menjelang akhir bulan, jika ia masih ingin mendapat akses kesehatan secara gratis. Sementara, sakit yang diderita kusniyati yakni kerusakan fungsi ginjal ini sudah dialaminya lebih dari 7 tahun.

Badan Wakaf Alquran (BWA) membantu meringankan beban Kusniyati dengan memberikan biaya transportasi dan obat-obatan diluar kartu jaminan kesehatan yang dimiliknya selama 2 bulan terakhir ini, sebesar Rp 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah).

Update #1: Bantuan 3 Juta Rupiah Sudah Disalurkan

Kusniati (42), warga kelurahan Abadijaya, Sukamaju, Depok mengidap penyakit gagal ginjal sejak tujuh tahun yang lalu. Setiap dua minggu sekali ia harus berbaring selama kurang lebih lima jam untuk menjalani hemodialisa (cuci darah) di Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YGDI), Jatiwaringin, Jakarta Timur.

Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh cuci membuat Ibu Kusniati tidak mampu membiayai biaya pengobatan dirinya. Beruntung, selama ini biaya cuci darah ditanggung oleh pemerintah, sedangkan biaya perjalanan menuju tempat pengobatan menggunakan hasil iuran sukarela para tetangga. Meski begitu, untuk obat-obatan yang diperlukan masih belum bisa dibeli karena ketiadaan biaya.

Melalui program Zakat Peer to Peer, Badan Wakaf Al-Quran (BWA) ingin turut membantu biaya pengobatan ibu Kusniati. Dan Alhamdulillah, Senin (21/1), BWA telah menyalurkan bantuan zakat dan sedekah dari para muzakki dan donatur sebesar tiga juta rupiah untuk keperluan berobat selama dua bulan dengan perincian delapan ratus ribu rupiah untuk ongkos perjalanan dan sisanya untuk biaya pembelian obat-obatan.

Melalui bantuan bertahap ini, diharapkan bisa meringankan beban ibu Kusniati.  Terimakasih kepada muzakki dan donatur yang telah membantu, semoga Allah berkenan membalasnya dengan pahala berlipat ganda. Aamiin.[]

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.