Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Zakat Peer To Peer

Abed (9), Perjuangan Panjang Menuju Kemandirian

BWA-ZPP. Meski sudah berumur 9 tahun, Abed Solihin belum bisa berjalan dan berbicara. Kedua orangtua merasakan adanya kelainan sejak Abed berusia 8 bulan. “Karena jika saya dudukkan, dia sering menangis seperti kesakitan, dan aktivitasnya tidur saja,” ungkap ibunda Yanti (35 tahun).


Namun karena terkendala biaya, warga yang tinggal di kontrakan dekat pembuangan sampah di Jalan Margonda Depok Jawa Barat baru sekali saja memeriksakan kondisi Abed ke dokter. Pasalnya, selama ini penghasilan ayahanda Asmanto (39 tahun) sebagai pedagang sate Padang keliling pas-pasan. Bahkan  terkadang jualannya sering rugi alias tidak balik modal karena sepi pembeli.

Pada awal Januari 2014, orangtua Abed diperkenalkan kepada Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) oleh partner lapang BWA Hermawan. BWA pun langsung membawa Abed ke Rumah Sakit Hermina. Hingga saat ini sudah dua kali Abed diperiksa dokter.

Menurut hasil pemeriksaan dokter Huda Hilman, SpA, kemungkinan besar Abed mengalami lumpuh otak (celebral palsy), akibat cidera otak karena benturan. Cidera otak ini mempengaruhi kemampuan otak untuk menyerap informasi (sensorik) atau kemampuan otak untuk merespons informasi (motorik).

“Tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini, hanya saja kita bisa bantu agar anak ini bisa mandiri seperti berjalan, berkomunikasi dan lain-lain,” ungkapnya.

Menurut Huda, terapi agar Abed bisa mandiri akan melibatkan banyak disiplin ilmu kedokteran, seperti tumbuh kembang, saraf dan nutrisi. “Tindakan yang harus dilakukan pada Abed sekarang adalah fisioterapi pada klinik tumbuh kembang,” tegasnya.

Melalui program Zakat Peer to Peer, BWA mengajak kaum Muslimin untuk membantu Abed menjalani terapi sehingga dapat berjalan dan berkomunikasi sehingga dapat hidup mandiri.

Dan semoga urusan kita semua di dunia dan akhirat dimudahkan Allah SWT, karena telah memudahkan urusan sesamanya di dunia. Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “...Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat... (HR. Muslim).[]

 

Biaya yang dibutuhkan:

Rp 7.200.000,- (untuk biaya fisioterapi pada klinik tumbuh kembang)

Partner Lapang:

Hermawan

Abed (9), Perjuangan Panjang Menuju Kemandirian

Update # 2 : Kemampuan Motorik Abed Mengalami Kemajuan

Setelah menjalani 19 kali terapi di Rumah Sakit Hermina Depok, motorik Abed Solihin (9 tahun) mengalami kemajuan. Sekarang, penderita lumpuh otak (celebral palsy) tersebut sudah bisa merangkak lebih lama walau belum bisa bergerak maju, kemampuannya berdiri bisa sampai satu jam, mulai bisa berjalan dengan dituntun, bisa mengucapkan salam dan sudah bisa fokus terhadap sesuatu lebih lama.

Menurut Okta (34 tahun), terapis Abed di Hermina,  mengatakan faktor komunikasilah yang membuat Abed sulit menerima pelajaran saat terapi dilakukan. “Untuk itu, kami akan mengupayakan supaya Abed bisa berkomunikasi terbih dahulu,” ungkap, Selasa (3/6) di RS Hermina.

Abed menjalani terapi empat kali dalam sepekan. Di samping terapi,Abed juga harus banyak dilatih di rumah, agar perkembangannya semakin cepat. Namun, ibunda Yanti (35 tahun), sangat kesulitan membagi waktu antara melatih Abed berjalan dengan mencari nafkah berjualan sate padang pasca meninggal suaminya beberapa bulan lalu.  Untung saja Asminar (30 tahun), adik Yanti, bersedia dengan telaten membimbing Abed berjalan di rumah.

Melalui Badan Wakaf Al-Qur’an, Yanti mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang diberikan oleh para donator. “Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik,” doanya.[]

 

Update # 1 : Abed Asyik Jalani Fisioterapi

BWA - ZPP ; Abed Solihin (9 tahun)  terlihat asyik melihat dan memegangi berbagai benda yang baru dilihatnya saat mengikuti fisioterapi, Rabu (5/3) di Rumah Sakit Hermina Depok. Terapi perdana ini masih pada tahap observasi, apa saja yang sudah bisa dilakukan dan belum bisa dilakukan.

Abed 

Menurut terapis Okta (34 tahun) sebagai teripis di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa Abed masih punya peluang besar untuk bisa berjalan, karena otot kakinya cukup kuat. Berbeda dengan penderita lumpuh otak (celebral palsy) lainya, badan Abed tidak melintir, sehingga memudahkan untuk belajar berjalan.

Berdasarkan saran dari terapis, Abed mulai belajar berjalan dengan menggunakan walker pemberian dari warga Sawangan Depok Munir (42 tahun). Latihan perdana ini membuat Abed kesakitan dan menangis.

Namun di tengah upaya terapi Abed, pada 11 Maret, ayahanda Asmanto (39 tahun) merasa sesak didada, diduga terkena serangan jantung, sehingga tidak dapat berjualan. Sehari kemudian ia pun berpulang ke rahmatullah.

Ibunda Yanti (35 tahun) merasakan beban yang sangat berat, karena disaat Abed tidak bisa ditinggal sendirian, ibu muda tersebut harus dibebani pula dengan ikhtiar mencari nafkah. Tidak mau terus larut dalam kesedihan, Yanti meneruskan usaha suaminya berjualan  sate padang. Selama dagang, Abed dititipkan ke Asminar (30 th) ---adik Yanti. Meski penghasilannya belum sebesar yang diperoleh mendiang suaminya, Yanti tetap bersyukur.[]

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.