Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Indonesia Belajar

Agar Bisa Sekolah Lagi, Riki dan Ratu Riska Jualan Koran Tapi Hasilnya tak Mencukupi

BWA-IB. Meski tergolong lebih tua dari teman-temannya di sekolah, kakak beradik Riki Rahman Saputera (18 tahun) dan Ratu Riska Permatasari (16 tahun) sangat senang dapat duduk di bangku sekolah lagi. Sang kakak kini duduk di kelas 9 SMP YWKA I Jalan Menara Air, sedangkan adiknya di kelas 8 sekolah yang sama.

IB

Keduanya memiliki cita-cita yang sama yakni menjadi orang yang sukses sehingga dapat membantu dan membuat bangga ibunda Ine Martini (45 tahun) serta ketiga adiknya yang belum mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah. Ratu Resa Mutiarasari (15 tahun) putus di kelas 4 SD; Muhammad Fahrir Islami (13 tahun) putus di kelas 2 SD dan Raffi Akbar Risky (10 tahun) malah belum pernah duduk di bangku sekolah sama sekali.

Lima bersaudara tersebut tinggal bersama ibunda Ine Martini (45 tahun) di sebuah rumah kontrakan Bapak Sulaiman di Kebon Sayur RT 05 RW 03 Bukit Duri No 1, Jakarta.Sebelum tinggal di rumah kontrakan yang atapnya mau rubuh tersebut, pada 23 September 2014 mereka diusir dari rumah kontrakan yang lama karena tidak dapat lagi membayar kontrakan.

Banyak persoalan yang muncul akibat minimnya penghasilan, terlebih suami yang pekerjaannya tak menentu pergi entah ke mana sejak 2007 lalu. Ine yang bekerja sebagai salah satu karyawan Kantor Pos di Jakarta tentu saja tambah kelabakan, pasalnya sang suami kabur dengan meninggalkan utang yang cukup banyak salah satunya pada bank. Sialnya, utang tersebut ditulis atas nama ibu dari kelima anak mereka. Maka semua barang yang ada di rumah raib tapi tetap tidak cukup untuk mengganti itu semua,hingga tidak ada barang-barang lagi selain pakaian dan buku-buku sekolah yang lalu yang masih tersisa.

“Anak-anak pun akhirnya terpaksa putus sekolah,” ungkap Ine.

Namun perjuangan untuk melanjutkan pendidikan tidaklah usai sampai di situ. Riki, sebagai anak tertua lalu bangkit berupaya membantu ibunda. Ia lalu bekerja menjadi loper koran. Dari pukul 05.00 WIB – 10.30 WIB mengayuh sepeda mengantar koran ke rumah-rumah para pelanggan dengan penghasilan Rp 30 ribu perhari. Ia pun kembali meneruskan sekolah, meski penghasilannya tidak mencukupi namun pihak sekolah memaklumi sehingga memberikan kelonggaran waktu untuk membayar biaya pendidikan.

Sehingga sejak tahun ajaran baru kemarin, siangnya ia berangkat sekolah. Capek dan letih sudah tiada rasa baginya,kini bukan waktunya bermain. Karna harus fokus sekolah agar dapat menggapai masa depan.

Sepulang sekolah, malamnya Riki juga meluangkan waktu bersama ibunda. “Latihan belajar bahasa Inggris dan Prancis agar bisa kerja jadi manajer,” tutur polos Riki.

Tidak hanya Riki,  namun ada sang adik juga yang ikut membantu sang kakak berjualan koran meski awalnya ragu dan malu untuk berjualan namun tetap yakin dan teguh menghadapinya,dialah Ratu Riska. Namun kini Ratu Riska sudah tidak ikut berjualan lagi,karena tidak kuat kondisi fisiknya jika harus berjualan dan berjalan panjang dari komplek ke komplek.

Tapi tentu saja penghasilan dari jualan koran tidak memadai sehingga tunggakkan biaya sekolah terus membengkak. Untuk mengurangi beban keluarga Riki dan Ratu Riska, melalui program Indonesia Belajar (IB), Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) mengajak kaum Muslimin berdonasi. Sehingga cita-cita mereka tercapai dan pahala dari Allah SWT untuk kita semua karena membantu sesama. Aamiiin.[]

Donasi yang Diperlukan:

Rp 14.561.300,-  (untuk tunggakan daftar ulang, tunggakan SPP dan biaya SPP setahun ke depan Riki Rp 5.057.000 ,  Ratu Riska Rp 4 juta 885 ribu , dan untuk kejar paket A setara SD untuk Resa dan fahri Rp 2.720.000 & Akomodasi).

Mitra Lapang:

Weli Kurniawan

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.