Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Al-Quran Road Trip Nusa Tenggara Timur

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa terdapat banyak komunitas muslim di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagian dari muslim NTT adalah penduduk asli suku Timor yang sudah memeluk Islam sejak lama dan sebagian lagi merupakan pendatang dari Ternate, Sulawesi Selatan, dan Maluku yang sudah menetap di wilayah NTT selama ratusan tahun, di mana mereka hidup berdampingan dengan komunitas nonmuslim.

Muslim NTT termasuk minoritas, karena populasinya baru mencapai 25 persen. Secara geografis mereka tersebar di daerah pesisir dan pegunungan gersang, dengan tingkat ekonomi yang memprihatinkan. Wilayah NTT di masa lalu sempat dikuasai oleh kerajaan Islam sebelum datangnya para penjajah Eropa. Ketika Belanda menjajah, barulah dimulai penyebaran agama nasrani kepada penduduk asli. Penduduk yang berusaha mempertahankan agama Islam menyingkir ke pedalaman.

Saat ini para dai sudah masuk kembali ke komunitas Muslim NTT. Seiring meningkatnya aktivitas dakwah, Al-Quran sebagai sarana mempelajari Islam menjadi sangat dibutuhkan. Apalagi jumlah Al-Quran di sana sangat minim, terutama Al-Quran dengan terjemahannya.

Untuk meningkatkan penyebaran dan pemahaman Islam di NTT, Badan Wakaf Al-Quran akan menyelenggarakan program Al-Quran Road Trip yang akan mendistribusikan 2500 Al-Quran. Mari berpartisipasi, semoga wakaf Anda dapat membantu perkembangan dakwah di sana dan mengalirkan pahala kepada Anda.

 

Wakaf yang dibutuhkan:

2500 Al-Quran x Rp 100.000,-/Al-Quran = Rp 250.000.000,- (Dua Ratus Lima Puluh Juta Rupiah)

Al-Quran Road Trip Nusa Tenggara Timur

Update #2 Selesai : Al Quran Road Trip NTT, Perjalanan Menebar Hidayah di Pulau Terpencil

Betapa bahagianya masyarakat desa muslim di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyambut kedatangan tim Al Qur’an Road Trip Badan Wakaf Alquran (BWA), yang membawa 2.500 mushaf Al-Qur’an untuk mereka.

Suasana penuh kegembiraan dan keharuan tersebut dirasakan tim BWA sepanjang tiga hari lamanya, pada Kamis-Ahad (16-19/5) baru lalu. Selama tim BWA berkeliling membagi-bagikan Al Quran disana, terlihat antusiasme masyarakat dari anak-anak sampai kakek-nenek.

“Alhamdulillah baru kali ini kami mendapatkan Alquran sebanyak ini untuk desa kami,” ungkap Lageno, Kepala Desa Pulau Madu, Nusa Tenggara Timur, yang terlihat sangat haru dan bahagia saat menerima 500 mushaf Alquran dari BWA yang tiba di pulau itu pada Jum’at (17/5) pagi.

Sejak keberangkatan tim pada selasa (14/5) pukul 5 pagi dari Jakarta, Tim Al Qur’an Road Trip  NTT beberapa kali transit di Kupang dan Larantuka, NTT. Di Larantuka, dari pelabuhan Pante Palo Larantuka, tim harus menggunakan perahu motor kecil, menyebrangi lautan, ke pelabuhan Tanah Merah, pulau Adonara.

ntt

Di Pelabuhan Tanah Merah, Mobil Truck besar yang biasa digunakan masyarakat Adonara, menanti kedatangan tim. Di komandoi Ustadz Arifudin Anwar, Partner lapang BWA di NTT, kami menjelajahi Adonara dengan jalan penuh lubang dan cukup terjal berbatu.

Tim beristirahat sejenak di pondok pesantren Ikhwatul Mukminin pimpinan Ustadz Arifudin Anwar dan mulai membagikan Alquran pukul 13.00 waktu setempat. “Kami berangkat menyusuri pulau Adonara, mengunjungi Masjid dan TPA yang jaraknya antara tempat yang satu dengan yang lain berkisar 7 – 10 km,” ungkap Alimudin Baharsyah, salah seorang anggota tim BWA.

Walau kondisi jalan dan akses yang sangat jauh tersebut tim mampu mengunjungi  7 (tujuh) lokasi, yakni ke desa Wuhung, Lambunga, Pepe Geka, Witihama, Pledo dan Bele. Apalagi, tambah Alimudin, daerah tersebut tidak terdapat satupun kendaraan umum. “Bagaimana mereka dapat mengakses Al Qur’an dan ilmu pengetahuan?,” tanya Ali kepada rombongan.

“Alhamdulillah, meski sulit umat Islam tetap bertahan disini,” ujar Khairul, salah satu ustadz yang mengajar di pondok pesantren Ikhwatul Mukminin. Islam, lanjut Khairul, berasal dari kerajaan Islam Bima di Makassar. Khususnya masyarakat pesisir pantai, kebanyakan adalah muslim yang pada waktu itu lebih dikenal dengan sebutan PANJI (Pasukan Jihad Islam). Sementara non muslim, hidup di daerah pegunungan, mereka biasa dikenal dengan istilah Demon.


Napak Tilas ke 3 Pulau Bekas Kesultanan Islam

Pulau Madu merupakan salah satu pulau yang dihuni mayoritas muslim namun terisolasi kehidupannya. Meski potensi lautnya kaya dengan ikan tuna, namun masyarakat hanya menjadikannya sebagai kebutuhan lauk makan saja. Keterbatasan pengetahuan dan teknologi, membuat mereka lebih mengandalkan hasil dari bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Masyarakat yang terisolasi ini, sangat senang dengan kedatangan kami yang berkunjung ke tempat  mereka. “Tampak sekali sambutan khas masyarakatnya. Mereka menjabat erat tangan kami serta sapaan yang hangat sekali,” tutur Alimudin. Siapapun yang datang, katanya, pasti akan disambutnya dengan suka cita.

“Biasanya kami hanya mendapatkan Al Quran kalau musim kampanye saja. Paling banyak Cuma 5 mushaf Al Quran, itupun ada gambar calegnya,” cerita salah seorang warga kepada tim. Cukup setengah hari di pulau Madu, perjalanan dilanjutkan ke pulau Bonerate.

Bonerate, merupakan pulau dengan penduduk mayoritasnya Muslim. Masyarakat yang menerima islam dari suku Bugis dan kesultanan Buton ini memiliki profesi yang menakjubkan, yakni ahli dalam membuat kapal. Dan hebatnya lagi, kapal yang diproduksinya tanpa rancangan gambar dan desain.

“Banyak sudah dari berbagai pulau-pulau di Indonesia yang telah memesan kapal kepada kita. Kapal kayu yang kami buat ini ada yang berbobot mati hingga 500 ton,” ungkap salah seorang warga kepada Alimudin.

Tiba di Bonerate pukul 16.00 waktu setempat, tim melanjutkan aktivitas pada esok harinya.  Melalui Aziz, salah seorang warga dan kepala desa Bonerate, tim dengan lancar dan sukses membagikan 1.000 Mushaf Alquran di sana. “Bahkan acaranya cukup meriah, masyarakat menjamu kami dengan makan siang bersama layaknya hajatan,” ujar  Alimudin. Setelah ramah tamah tersebut, tim kembali lagi ke pulau Adonara.

Al Qur’an Road Trip NTT pun berakhir di pulau Adonara pada Ahad (19/5). Sebagai acara penutup, di halaman Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin digelar acara Tabligh Akbar. Tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Hari Moekti ini disambut oleh sekitar 250 warga yang datang berbondong-bondong memadati lokasi. Setelah acara selesai, tim BWA kembali membagi-bagikan sejumlah mushaf Alquran.

ntt

“Alhamdullah, kita bisa menjejakan kaki di Adonara, menurunkan Al Qur’an, amanah dari para wakif. Kita juga membagikan karpet masjid, sajadah, yang di iringi ibu-ibu pengajian. Subhanallah, ini merupakan hal yang menggembirakan bagi masyarakat Adonara,” pungkas ustadz Hari, menutup perjalanan Al Qut’an Road Trip BWA kali ini. []

Update #1: Al-Qur'an Untuk Muslim NTT

 

Pernahkah Anda membayangkan sulitnya warga desa terpencil di NTT untuk mendapatkan satu mushaf Al-Qur’an?

Di desa-desa terpencil minoritas Muslim Nusa Tenggara Timur dan desa Kabupaten Selayar Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan NTT tidak akan ditemukan satu toko pun yang menjual Al-Qur’an.

Maka, bila warga ingin membeli Al-Qur’an harus melakukan perjalanan  laut dan darat ke ibukota kabupaten atau propinsi yang menempuh waktu sehari semalam, tentu harus membelinya dengan harga yang lebih mahal daripada di kota Jakarta.

Oleh karena itu melalui project Al-Qur’an Road Trip NTT, Badan Wakaf Al-Qur’an menghimpun wakaf dari kaum Muslim. Maka terkumpulah sekitar 2500 mushaf Al-Qur’an. Al Qur’an wakaf ini dibawa ke NTT dengan menumpang Kapal Dakwah Nelayan NTT yang berlayar perdana ke NTT setelah menjalani proses renovasi di Tanjung Burung dan Karang Antu Banten.

Setelah menempuh perjalanan sepuluh hari dari Jakarta, kapal dakwah yang memuat ribuan Al-Qur’an wakaf itu akhirnya merapat di Pelabuhan Sagu, Adonara, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (4/5).

Alquran Road Trip NTT

Pengiriman Al-Qur’an yang didistribusikan selama dua pekan pada 16-31 Mei oleh tim Al Qur’an Road Trip dan partner lapang BWA.

Al-Qur’an disebarkan ke lima puluh desa terpencil di lima kabupaten yakni Flores Timur, Lembata, Alor, Timor Tengah Selatan dan  Sika serta dua desa di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan NTT. “Jadi rasionya per desa mendapatkan 50 Al-Qur’an,” ujar Ustadz Ariefuddin Anwar, partner lapang BWA di NTT.

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Ikhwanul Mukminin, Adonara, tersebut pembagian wakaf Al-Qur’an ini dilakukan untuk memicu budaya membaca Al-Qur’an di desa-desa terpencil.  “Daerah-daerah yang kita jangkau itu pada umumnya, akses ke pasar sangat sulit. Ke pasarnya saja sangat susah, apalagi beli Al-Qur’an,” tegas nazir wakaf kapal dakwah tersebut.

Warga Selayar misalnya, untuk sampai pada pasar kabupaten saja, mereka harus menempuh perjalanan 30 jam dengan menggunakan perjalanan laut dan darat. Dari desa ke kabupatennya 15 jam, dari kabupaten ke pasarnya juga sekitar 15 jam. “Dengan adanya distribusi Al-Qur’an wakaf ini memudahkan masyarakat membaca Al-Qur’an. Sehingga lebih mudah belajar,” harapnya.[] 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.