Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al Quran & Pembinaan

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pedalaman dan Kepulauan Sulawesi Tengah

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pedalaman dan Kepulauan Sulawesi Tengah

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah yang memeluk agama Islam adalah sebanyak 2,39 juta jiwa. Angka tersebut mencapai 78,9% dari total penduduk Sulawesi Tengah. Di Sulawesi Tengah terdapat 110 masjid besar, 3.039 masjid jami’, 11 masjid bersejarah, dan 543 masjid di tempat publik. Untuk Pesantren sendiri ada 88 pondok pesantren dengan jumlah santri sebanyak 11.243 santri baik yang mukim maupun yang tidak mukim.

Pada tahun 2021 BWA telah selesai mendistribusikan Al-Qur’an untuk program Wakaf Al Qur’an dan Pembinaan (WAP) Banggai Kepulauan dan Taliabu sebanyak 50.000 Al-Qur’an dan respon masyarakat disana sangat antusias terhadap aktivitas ini. Masyarakat merasa sangat terbantu dan berterima kasih karena walaupun mayoritas masyarakat disana muslim namun untuk bisa mendapatkan Al-Qur’an dapat dikatakan sangatlah sulit.

(Al-Qur'an Dibutuhkan untuk Anak-anak Belajar Mengaji)

(Al-Qur'an untuk Anak-anak Belajar Mengaji)

Sulawesi Tengah memiliki banyak pulau dan ada beberapa daerah-daerah yang masih sulit untuk diakses. Setelah BWA melakukan distribusi Al-Qur’an, ternyata masih banyak masyarakat disana yang membutuhkan Al-Qur’an. Da’i-da’i lokal masih banyak yang membutuhan Al-Qur’an sebagai sarana pembelajaran dan untuk santri-santri mereka.

Pada november 2021, tim BWA melakukan survey terkait kebutuhan Al-Qur’an untuk Sulawesi Tengah. Tim BWA bertemu dengan Ustadz Haerudin Ampana yang merupakan salah satu pengurus Forum Peduli  Mualaf. Beliau menceritakan bahwa untuk setiap tahunnya, pertambahan jumlah mualaf bisa mencapai 100 orang di wilayah Ampana dan sekitarnya.

(Ustadz Khaerudin Menunjukkan Kondisi Al-Qur'an yang Sudah Tidak Layak)

(Ustadz Haerudin Menunjukkan Kondisi Al-Qur'an yang Sudah Tidak Layak)

“Di Sulawesi Tengah ini banyak suku pedalamanan yang sudah memeluk Islam, salah satu nya yaitu suku ta/wana. Setelah mereka masuk Islam, ada permasalahan atau kebutuhan lain yaitu agar mereka bisa menpunyai Al-Qur’an,” tutur Ustadz Khaerudin.

“Akses menuju ke daerah pedalamanan tempat mereka tinggal susah. Mayoritas mualaf di pedalaman tidak bisa baca Al-Qur’an karena tidak punya,” ujar beliau.

Kebutuhan Al-Qur’an di Pulau Wakai

Tim mendapatkan informasi dari partner lapangan BWA di Sulawesi Tengah, bahwa di pulau Wakai sangat membutuhkan Al-Qur'an. Merespon informasi tersebut, pada ahad 7 november 2021, tim BWA bergegas menuju pulau Wakai. Dari Pelabuhan Ampana, tim menempuh jalur laut dengan kapal speed boat dengan kapasitas angkut 22 orang penumpang. Butuh waktu 1,5 jam untuk bisa sampai di kecamatan Wakai.

Meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, namun alhamdulillah kapal yang tim tumpangi melaju dengan lancar dan aman. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan banyak keindahan pulau-pulau kecil sebelum sampai di Wakai.

(Al-Qur'an untuk Masyarakat Sulawesi Tengah)

(Al-Qur'an untuk Masyarakat Sulawesi Tengah)

Sampai di Pelabuhan Wakai, tim BWA bertemu dengan Ustadz Harmoko (34 tahun). Dia dikenal sebagai tokoh pemuda di Pulau Wakai, desa Tojo una-una. Tidak menunggu waktu lama setelah beristirahat sejenak, tim diajak berkeliling desa, untuk melihat keadaan dan kebutuhan masyarakat disana.

Di desa Taningkola tim bertemu dengan bapak imam masjid. Tim BWA menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan untuk kegiatan survey kebutuhan Al-Qur'an. Mendengar hal tersebut, beliau merasa sangat senang dan terharu. Bapak Imam menuturkan kondisi masyarakat di Desa Taningkola. Beliau merasa prihatin dan sedih melihat banyak anak-anak mengaji dengan satu Al-Qur'an secara bergantian. “Sedih saya melihat banyak Al-Qur'an yang sampulnya sudah rusak dan halaman-halamannya hilang. Ini tentu menjadi kendala dalam proses pembelajaran. Kami sangat menginginkan adanya Al-Qur'an untuk anak-anak mengaji,” tutur beliau.

(Imam Masjid Taningkola)

(Bapak Imam Masjid Taningkola)

“Di kepulauan Togean ini kalo mau mencari Al-Qur'an itu sangat sulit, tidak ada yang jual. Jika ingin beli masyarakat harus ke kota Ampana menyeberang pulau dengan biaya yang tidak sedikit, lebih mahal ongkosnya dibanding harga Al-Qur’an,” ujar Ustadz Harmoko.

“Kami mengharapkan bantuan Al-Qur'an dari muslimin yang peduli kepada kami. Harapannya semoga anak-anak disini bisa semakin bersemangat dalam mengaji,” tutupnya.

Melihat banyaknya kebutuhan Al-Qur’an dan antusias saudara muslim di Sulawesi Tengah untuk memiliki mushaf Al-Qur’an, BWA mengajak seluruh umat muslim di Indonesia untuk mensukseskan program WAP Sulawesi Tengah dengan target 100.000 Al-Quran wakaf. Mari berwakaf di BWA, semoga menjadi amal jariyah yang tidak ada putusnya hingga yaumil akhir, aamiin.

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.10.000.000.000 (Sepuluh Milyar Rupiah) (100.000 Eksemplar Al-Qur’an @Rp.100.000)

Partner Lapangan:

Ustadz Haerudin Ampana

 

#BWA #InovasiWakaf #WAP #WakafAlQur’an dan Pembinaan #RoadTrip #SulawesiTengah

 

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pedalaman dan Kepulauan Sulawesi Tengah

Update #5: Banyak Mualaf Pedalaman Ampana yang Membutuhkan Al-Qur’an

Dalam kegiatan survey kebutuhan Al-Qur’an untuk wilayah Sulawesi Tengah, tim BWA berangkat dari Kota Luwuk Banggai menuju Ampana. Perjalanan ke Ampana kurang lebih memakan waktu 5 jam jalur darat atau sekitar 229 km dari kota Luwuk Banggai. Di Ampana tim bertemu dengan Ustadz Heruddin Ketua Forum peduli mualaf Kab.Tojo Una-una.

“Alhamdulillah semenjak tahun 2019 ada 165 orang yang bersyahadat masal dari pedalaman Ampana Masyarakat Dataran Bulan. Semenjak itu saya berkonsentrasi untuk melaksanakan pembinaan bagi keluarga mualaf dan muslim Pedalaman dengan mengirimkan da'i dan mensuport kebutuhan dai pedalaman,” tutur Ustadz Heruddin.

(Ustadz Heruddin)

Keprihatinan ini bermula dari ketika ada mualaf yang kembali ke agama asal dengan mengajak anak istrinya. Hal ini terjadi karena tidak adanya atau kurangnya pembinaan akidah dan kurangnya perhatian terhadap para mualaf yang baru masuk Islam.

Ustad Haeruddin mulai mengenal BWA sejak distribusi Al-Qur'an Roadtrip palu tahun 2020 lalu, di mana beliau diamanahi untuk membagikan 200 Al-Qur'an untuk wilayah Ampana.

Alhamdulillah meskipun jumlah Al-Qur’an yang telah didistribusikan sedikit namun permintaan semakin bertambah banyak dari masyarakat, sehingga besar harapannya BWA dapat menginisiasi kembali program pengadaan Al-Quran terutama untuk daerah-daerah pedalaman yang sulit di jangkau apalagi yang belum ada akses jalannya. seperti di dataran bulan Tojo una-una, di kepulauan Wakai, Togean, Parigi, Moutong dan daerah Sulawesi Tengah lainnya.

 

Update #4: Antusias dan Harapan Masyarakat Desa Kololio Pulau Togean

Pada saat Tim BWA melakukan survey kebutuhan Al Quran untuk masyarakat Kep. Togean, Sulawesi Tengah akhir 2021 lalu selain mengunjungi Desa Pulau Bamboe yang terisolir, ada beberapa desa yang dikunjungi atas rekomendasi Ustadz Harmoko yang merupakan tokoh muda disana. Salah satu desa yang dikunjungi adalah Desa Kololio, Kec. Togean, Kab. Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Desa Kololio tergolong berada di Pelosok Pulau Togean. Untuk kesana tim harus menggunakan kapal nelayan dari Pelabuhan Wakai selama kurang lebih 45 menit. Tim harus melanjutkan dengan menggunakan sepeda motor milik masyarakat sekitar 1 jam dengan kondisi jalan yang bebatuan dan tanah tanpa ada aspal sama sekali dengan pemandangan hutan sebelum akhirnya memasuki desa.

(Tim BWA tiba di Desa Kololio)

Tim BWA disambut oleh Kepala Desa Kololio yaitu Bapak Arif Nugroho. Di desa ini terdapat 185 kk & 535 jiwa. Desa Kololio ini mayoritas suku Bobongko, Kaili, Bugis yang 100% warga beragama Islam. Tim BWA membawa sedikit Al Quran survey yang kemudian dibagikan langsung oleh beliau bersama dengan Ustadz Harmoko. Di sekitar Desa Kololio terdapat 4 Desa sekitar yang ternyata jarak antar desa tersebut cukup jauh. Alhamdulillah, melihat masyarakat Pulau Togean yang antusias membuat Bapak Arif Nugroho dan Ustadz Harmoko dengan penuh semangat membagikan Al Quran tersebut.

Ada cerita tak terlupakan yang tim jumpai, yaitu pada saat selesai membagikan Al-Qur'an rupanya beliau Bapak Kades terlupa untuk membagikan Al-Qur'an di desanya sendiri jadi untuk warganya tidak kebagian. Banyak warganya yang berharap untuk mendapatkan Al Quran karena kalau dipikir bisa jadi di satu rumah belum tentu memiliki Al Quran. Apalagi ternyata di Desa Kololio ini terdapat 4 TPA yang meminta Al-Qur'an untuk kegiatan anak mengaji.

(Bapak Kepala Desa Kololio Arif Nugroho)

Karena memang Wilayah Desa Kololio yang berada hingga masuk kedalam hutan pastinya sangat sulit untuk mendapatkan maupun membeli Al Quran. Bapak Arif Nugroho berharap memang kedatangan Tim BWA kesini bukanlah untuk terakhir kalinya karena selain warga desa beliau masih banyak desa-desa lain di Pulau Togean ini yang membutuhkan Al Quran untuk mengaji di TPA/TPQ yang berada di desa-desa tersebut.

Dari survey terkait kebutuhan di Desa Kololio, Kec. Togean. Kab. Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah ini Tim BWA mengajak masyarakat untuk melihat bahwa masih banyak saudara muslim kita di pelosok yang sulit mendapatkan Al Quran untuk mereka mengaji agar generasi-generasi penerusnya tetap paham akan apa itu Islam dan pentingnya mempelajari Al Quran. Yuk, mari Berwakaf di BWA dalam Program 100.000 Al Quran untuk Masyarakat Pedalaman dan Kepulauan di Sulawesi Tengah.

 

Update #3: Desa Terisolir di Kepulauan Togean Butuh Al Qur’an

Pada kegiatan survey terkait kebutuhan Al Qur’an di Provinsi Sulawesi Tengah pada akhir 2021 lalu menjadi suatu pengalaman yang luar biasa bagi tim BWA. Bagaimana tidak, pada saat tim mengunjungi Pulau Wakai yang merupakan bagian dari Kepulauan Togean ternyata ada pulau kecil di sana yang sangat terisolir berdasarkan informasi dari warga yang kemudian menyarankan tim BWA untuk kesana.

Pulau Bamboe merupakan salah satu desa yang menurut warga sekitar merupakan desa yang bisa dibilang “tertinggal” dan terisolir menurut mereka. Jika diurut dari perjalanan tim dari Pelabuhan Ampana, waktu yang kami tempuh untuk bisa tiba di sana memakan waktu dua jam perjalanan untuk menuju ke Wakai menggunakan boat lalu kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal nelayan dengan waktu tempuh kurang lebih sama, yakni dua jam perjalanan, jika di total waktu yang dibutuhkan selama perjalanan yaitu sekitar lebih dari empat jam.

Perjalanan menuju desa Bamboe terasa sangat menegangkan. Untuk menuju kesana jika dari Wakai diperlukan orang asli yang sangat paham dengan jalurnya, karena di sekitar pulau banyak terdapat karang-karang yang cukup tinggi yang bisa merusak kapal. Selain itu, kondisi desa Bamboo yang merupakan pulau yang berada di hilir membuat banyaknya buaya yang terdapat di sekitar pulau.

Alhamdulillah, tim BWA akhirnya tiba di desa Bamboe. Tim mengunjungi masjid kecil di sana yang kelihatannya baru diperbaiki.

“Saat tiba di desa Bamboe ini kami langsung ke masjid. Dan terrnyata di sini sulit air dan belum ada penerangan listrik PLTD maupun PLN, ada beberapa masyarakat yang menggunakan solar cell untuk penerangan lampu. Sangat menyedihkan jika melihat kondisinya, membuat kami menjadi sangat bersyukur,” cerita Nabil saat survey di Togean.

(Anak-anak antri mengambil air bersih di Masjid yang baru di renovasi)

Tim BWA berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Ustadz Harmoko, salah satu tokoh masyarakat di sana. Beliau menceritakan tentang kehidupan suku Taa di masa lalu. Suku Taa pada saat itu masih animisme, namun semenjak tahun 1982 banyak suku Taa yang mulai berbaur ke masyarakat nelayan suku una-una. “Alhamdulillah, sejak saat itu mulai banyak yang masuk agama Islam secara bertahap dan sekarang ini mayoritas penduduk disini sudah beragama Islam,” tutur Ustadz Harmoko.

(Ustadz Harmoko, Tokoh Masyarakat desa Bamboe Bersama Tim BWA)

Kehidupan suku Taa di desa Bamboe jauh dari perhatian pemerintah. Bahkan di desa ini pegawai puskesmasnya saja tidak betah untuk tetap tinggal dikarenakan sulit air. Tenaga pengajar sangat minim apalagi guru agama maupun da’i. Dikhawatirkan akan terjadi pendangkalan akidah di sana apabila hal ini tidak segera diselesaikan masalahnya.

Al Qur’an hanya ada di masjid dan itupun jumlahnya hanya satu sampai dua buah aja. Beliau berharap ada perhatian dari pemerintah maupun masyarakat untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat di desa pedalaman ini di salah satu pulau di kep. Togean yaitu Pulau Bambu atau biasa warga sana menyebut desa Bamboe.

(Kondisi Rumah Masyarakat di Desa Bamboe)

Melihat masih banyaknya daerah dengan kondisi seperti ini, BWA dalam program Wakaf Al Qur’an dan Pembinaan (WAP) Sulawesi Tengah mengajak untuk bersama-sama mensukseskan program 100.000 Al Qur’an untuk masyarakat pelosok dan kepulauan di Sulawesi Tengah. Semoga amal para wakif dan pihak-pihak yang telah mensupport kagiatan ini di balas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipatganda. Aamiin.

 

Update #2: Banyak Mualaf di Pedalaman Tinombo Parigi Moutong Rindu Memiliki Alqur’an

Pada tanggal 11-14 Februari 2022, Tim Indonesia Ngaji BWA melakukan pembinaan ke wilayah Sulawesi Tengah. Kegiatan yang bertema Indonesia Ngaji BWA Road To Sulawesi Tengah ini meliputi pelatihan cara cepat bisa baca Alqur’an, pelatihan Tahsin Al Fatihah bersanad, dauroh qur’an dan tabligh akbar.

Pada kesempatan pembinaan itu, Tim Indonesia Ngaji BWA dikunjungi oleh Ustadz Ramli seorang pembina mualaf dari pedalaman Tinombo Parigi Moutong Sulawesi tengah. Beliau meminta Tim Indonesia Ngaji BWA bisa memberikan pembinaan untuk para mualaf binaan di pedalaman Tinombo. Di pedalaman Tinombo, jumlah mualaf sampai saat ini berjumlah 780 jiwa dari 7 desa di kawasan kecamatan Tinombo, Tomini, Palasa, Sidoan dan Mepangah.

(Ustadz Ramli)

Ustadz Ramli banyak cerita keadaan para mualaf di pedalaman yang dibinanya. Mereka hidup dalam keadaan kekurangan sehingga mereka tidak mampu untuk membeli Alqur’an. Pedalaman Tinombo mebutuhkan Alqur’an kurang lebih 2000 mushaf. Semoga BWA dengan program Wakaf Alqur’an dan pembinaan bisa mewujudkan kerinduan para mualaf di pedalaman Tinombo untuk memiliki Alqur’an. Demikian disampaikan Ustadz Ramli.

Selain kerinduan memiliki Alqur’an, Ustadz Ramli juga mengutarakan bahwa para mualaf di pedalaman Tinombo membutuhkan pembinaan berupa pengetahuan dasar agama islam. Beliau juga mengharapkan adanya guru atau ustadz yang bisa tinggal beberapa bulan di pedalam Tinombo untuk mengajar cara baca Alqur’an yang benar dan membina mental motivasi islami para mualaf pedalaman.

Tim Indonesia Ngaji BWA dibentuk untuk terus mensupport program Wakaf Alqur’an dan pembinaan, dan akan terus melakukan pembinaan di seluruh pelosok nusantara.

 

Update #1: BWA Gelar Indonesia Ngaji Road To Sulawesi Tengah

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- BWA (Badan Wakaf Al Qur’an) melalui program Wakaf Al-Quran dan Pembinaan (WAP) telah mendistribusikan lebih dari 1 juta Al-Quran wakaf ke seluruh pelosok Nusantara, terutama ke daerah-daerah yang mengalami rawan pendangkalan akidah. Distribusi Al-Quran wakaf tersebar dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam hingga ke Papua. Untuk mewujudkan Program WAP, maka BWA selain mendistribusikan Al-Quran juga melakukan pembinaan untuk umat islam yang telah menerima Al-Quran wakaf.

Tim Indonesia Ngaji dibentuk oleh BWA Inovasi Wakaf mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan ke seluruh pelosok Nusantara. Pembinaan dilakukan dengan berbagai program seperti Pelatihan Cara Cepat Baca Al-Quran Metode Abyan, Pelatihan Al fatihah Bersanad, Dauroh Quran dan Tabligh Akbar.

Setelah sukses melakukan pembinaan di Jawa Timur dengan tema Indonesia Ngaji BWA Road to Jawa Timur pada bulan desember 2021, kini  Tim Indonesia Ngaji BWA melakukan pembinaan ke wilayah Sulawesi Tengah. Kegiatan yang bertema Indonesia Ngaji BWA Road To Sulawesi Tengah berlangsung pada tanggal 11-14 Februari 2022.

Kegiatan Indonesia Ngaji BWA diawali dengan mengadakan Kajian Ba’da Shubuh di Masjid Baiturrahim Lolu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (11/2). Kemudian Tim Indonesia Ngaji BWA melakukan perjalan ke Masjid At Taqwa yang beralamat di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutung, Sulawesi Tengah. 

(Cara Cepat Baca Quran Metode Abyan)

Pembinaan berlangsung selama tiga  sesi dari pagi hari hingga malam hari. Sesi pertama di pagi hari adalah pembinaan berupa pelatihan Al Fatihah Bersanad. Sesi kedua dilakukan sore hari berupa Dauroh Quran. Sesi terakhir yang berlangsung setelah shalat Maghrib yaitu pembinaan berupa khataman Quran bersama 30 santri yang berasal dari pesantren-pesantren sekitar kabupaten Parigi Moutong. Kegiatan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar setelah shalat Isya berjamaah.

“Semoga dengan rangkaian acara pembinaan dari pagi hari hingga malam hari, bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan ummat muslim sekitar Parigi Moutong,” kata Ustadz Muhammad Marsi dari Tim Indonesia Ngaji BWA dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Salah satu kegiatan pembinaan oleh BWA Inovasi Wakaf kepada masyarakat penerima Al-Quran wakaf adalah Pelatihan Cara Cepat Baca Al-Quran Metode Abyan.

Hari berikutnya, Sabtu (12/2), Tim Indonesia Ngaji berangkat ke Desa Lobu, Kecamatan Parigi Barat. Pada hari itu, pembinaan yang dilakukan Tim Indonesia Ngaji BWA berupa Pelatihan Cara Cepat Baca Al-Quran Metode Abyan.

“Pembinaan ini dilakukan dikarenakan masih banyak warga di Desa Lobu yang belum bisa membaca Al-Quran. Bahkan banyak yang belum sama sekali mengenal huruf Al-Quran,” kata  Deni Rahman dari perwakilan Masjid Al Furqan, Desa Lobu Mandiri pada saat pelatihan berlangsung.

(Kegiatan Pembinaan BWA)

Pada kesempatan yang sama, Ustadz Hasyim Mustofa dari Tim Indonesia Ngaji BWA berharap  dengan adanya pelatihan ini akan dapat memberantas buta huruf Al-Quran di Desa Lobu ini. “Alhamdulillah,  warga antusias untuk hadir di pelatihan ini,” ujarnya.

(Peserta Kegiatan Metode Cepat Baca Quran)

Ustadz Muhammad Marsi mengemukakan, Tim Indonesia Ngaji BWA akan terus melakukan pembinaan untuk mewujudkan Program Wakaf Al-Quran dan Pembinaan. “Insya Allah bulan depan,  kegiatan pembinaan akan dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Barat,” ungkapnya.

 

Sumber:

https://republika.co.id/berita/r7cooc374/bwa-inovasi-wakaf-gelar-indonesia-ngaji-bwa-road-to-sulawesi-tengah

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.