Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pelosok dan Tertinggal di Jawa Barat

Al-Quran untuk Masyarakat Pelosok dan Tertinggal di Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah umat muslim terbanyak di Indonesia. Jumlah muslim di Jawa Barat yaitu 45.858.792 jiwa (menurut data tahun 2013). Selain itu, Jawa Barat juga memiliki pesantren dengan jumlah terbanyak untuk di Indonesia yaitu 8728 pesantren dengan total 907.515 santri. (https://opendata.jabarprov.go.id/id_)

Kondisi geografis Jawa Barat mayoritas merupakan daerah pegunungan membuat masih banyaknya daerah pelosok di Jawa barat yang dikategorikan desa tertinggal oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa barat. Ada 121 desa yang dikategorikan desa tertinggal.

Meskipun terkesan Jawa Barat adalah provinsi yang sudah maju dan berkembang. Ternyata, kebutuhan Al Quran dari masyarakat dan pimpinan pondok pesantren di Jawa Barat cukup banyak. Terutama di wilayah terpelosok dan tertinggal masih banyak masjid, pondok pesantren, maupun lembaga pendidikan agama yang kesulitan untuk mendapatkan Al Quran bahkan tidak memiliki Al Quran yang layak sama sekali. Sulitnya masyarakat mendapatkan Al Quran dikhawatirkan akan terjadi pendangkalan akidah dan makin meningkatnya buta aksara Al Quran.

(Banyak Al Qur'an di Daerah Pelosok Jawa Barat yang Rusak)

(Banyak Al Qur'an di Daerah Pelosok Jawa Barat yang Rusak)

Pada September 2021 BWA melakukan distribusi Al Quran sekaligus survei terkait kebutuhan dan kesulitan masyarakat Jawa Barat khususnya di daerah pelosok untuk mendapatkan Al Quran.

Di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya BWA melakukan distribusi Al Quran sebanyak 3.000 Al Quran bersama dengan KH. Burhanudin yang merupakan pimpinan pondok pesantren As Shofa Tasikmalaya. Beliau juga merupakan salah satu tokoh NU lama di Tasikmalaya. Tim BWA mendapati kondisi Al Quran di ponpes As Shofa selain jumlahnya yang sedikit dan kondisi Al Qurannya sudah tidak layak, seperti tidak ada cover, halamannya tidak lengkap, halamannya sobek hingga ada yang sudah tinggal seperempat jumlah halamannya.

(Silaturahmi BWA dengan Pengurus Ponpes As-Shofa)

(Silaturahmi BWA dengan Pengurus Ponpes As-Shofa)

Andra yang merupakan anak KH. Burhanudin mengatakan, “Terakhir mendapatkan bantuan Al Quran kurang lebih sepuluh tahun lalu, selama ini santri disini belajar menggunakan Al Quran per juz itupun dipakai bersama hingga berlima, ya beginilah kondisi pesantren disini, ungkapnya. “Alhamdulillah, setelah BWA datang untuk survey dan mendistribusikan  Al Quran disini pengajian di masjid semakin hari semakin ramai. Dulu biasanya hanya 60-70 orang yang datang, sekarang bisa lebih dari 140 orang yang datang. Banyak juga masyarakat yang datang dari jauh/desa lain yang menanyakan Al Quran nya masih ada atau ngga,” ujarnya.

Tim juga bertemu dengan Ketua Majelis Taklim DKM Masjid Besar Al Islah. DKM tersebut membawahi 10 desa dengan jumlah DKM hampir 150. Selain itu Tim BWA bertemu dengan Kepala Sekolah TK Bunga Bangsa II.

Menurut Ketua DKM Masjid Al Islah, setelah dibagikannya Al Quran oleh BWA minat masyarakat untuk menghadiri pengajian yang diadakan oleh DKM Masjid Besar Al Islah semakin meningkat. Masyarakat yang belum mendapatkan Al Quran sedikit kecewa dan menanyakan kapan BWA akan mengadakan distribusi Al Quran karena masih banyak lembaga dakwah islam seperti LPPTKA, DMI, MUI, Pengajian Muslimah yang memerlukan Al Quran.

Menurut Kepala Sekolah TK Bunga Bangsa II Ibu Ulfa, “Orang tua murid sangat antusias dengan diberikannya Al Quran. Karena dengan adanya Al Quran anak-anak mereka bisa mendapat pembinaan baca tulis Iqro dan Al Quran dari mulai mereka TK”. Namun selama ini yang menjadi kendala dalam pembinaan agama terutama baca tulis Al Quran adalah ketersediaan Al Quran fisik di daerah pelosok.

Tim BWA kemudian melanjutkan perjalanan menuju Garut dan Sekitarnya. Untuk titik survey yaitu Pondok Pesantren Takhashus Al Quran Miftahul Huda, Masjid Jami Miftahul Huda, Majid Jami Albarokah. Ust. Aam yang merupakan pengurus Pondok Pesantren Miftahul Huda mengatakan, “Al Quran disini memang merupakan barang mewah dan hanya masyarakat tertentu yang bisa membeli. Setiap pengajian, masyarakat yang memiliki Al Quran harus berbagi kepada masyarakat yang lain agar bisa ikut melihat ayat Al Quran yang sedang dibahas”. Kondisi geografis yang berada di lereng gunung Cikuray menjadi salah satu faktor sulitnya akses Al Quran untuk masyarakat sekitar tersebut.

(Ponpes Miftahul Huda Butuh Al Quran)

(Ponpes Miftahul Huda Butuh Al Quran)

Tim BWA melanjutkan perjalanan menuju Bandung dan sekitarnya bersama Ust. Moekti Chandra atau biasa dipanggil Abah Ottey. Beliau sudah melakukan dakwah hingga pelosok-pelosok Indonesia. “Yang terakhir mengajukan ke Abah ada lebih dari 8.000 Al Quran untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Karena masih banyak masjid-masjid yang kekurangan Al Quran,” tutur beliau. Beliau menambahkan, “Ada masjid yang hanya memiliki 2 Al Quran dalam 1 masjid tersebut dan kondisinya pun sudah copot-copot”.

BWA mengajak umat muslim untuk berpartisipasi dalam program Wakaf Al Quran dan Pembinaan umat muslim di pelosok Jawa Barat sebesar 114.000 Al Quran. Diharapkan bisa menjadi pembuka untuk terciptanya masyarakat Jawa Barat Islami yang berpedoman kepada Al Quran dan As Sunnah. Dan juga supaya buta aksara Al Quran di Jawa Barat terus bisa menurun. Semoga Al-Qur’an yang mereka baca akan menjadi pahala yang tidak terputus untuk kita semua.

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.11.400.000.000 (Sebelas Miliyar Empat Ratus Juta Rupiah / 114.000 Al-Qur’an)

Partner Lapangan:

KH. Burhanudin M.Pd.I

 

#BWA #WAP #WakafQuran #InovasiWakaf

 

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pelosok dan Tertinggal di Jawa Barat

Update #3: Kampung Qur’an Cireunghas Wujud Pembinaan BWA

Sampai akhir Maret 2022, BWA berhasil mengelola dua juta Al-Qur’an wakaf. Al-Qur’an wakaf itu tersebar di banyak wilayah Nusantara. Khususnya, daerah-daerah pelosok Indonesia di mana Al-Qur’an sulit didapat. Kalaupun ada, harganya cukup mahal bagi saudara Muslim di sana.

Bukan hanya Al-Qur’an yang dibutuhkan oleh saudara-saudara Muslim di pelosok, namun juga pembinaan yang dapat memastikan mereka belajar membaca Al-Qur’an secara berkelanjutan. Di sinilah BWA mengambil bagian dengan program WAP, Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan, bekerja sama dengan ustadz-ustadz lokal untuk memberikan pembinaan kepada masyarakat Muslim di pelosok.

(Kampung Tahfiz Cireunghas)

(Kampung Quran Cireunghas)

Hari Ahad, 5 Juni 2022, berlokasi di Diniyah Al-Kautsar Cireunghas, Sukabumi, Jawa Barat, BWA bersama Diniyah Al-Kautsar melakukan pembukaan dan peresmian Program Tahfidz Kampung Quran Cireunghas. Rumah Tahfidz itu mengusung cita-cita mendidik anak-anak di Desa Cireunghas menjadi hafidz Qur’an. Anak-anak diwajibkan untuk shalat Shubuh dan Magrib di masjid untuk kemudian dilanjutkan dengan program tahfidz Quran. Acara pembukaan ini dihadiri oleh warga setempat, perangkat pemerintahan desa dan MUI Kecamatan Cireunghas, yang diwakili oleh MUI Desa Cireunghas.

“Target kami adalah anak-anak dapat menghafal Al-Qur’an dalam setahun lima juz. Insya Allah ini sangat dimungkinkan,” kata Ustadz Ahmad Syaifudin.

Kepala Sekolah MDTA Al-Kautsar, Ustadz Fikri Abdilah mengatakan, program tahfidz ini merupakan bagian dari program belajar MDTA. “Akan ada 50-an murid yang siap dijadikan hafidz Al-Qur’an dengan program ini,” ujarnya.

Kampung Quran Cireunghas ini memang bertujuan untuk membina dan mencetak para hafidz Quran yang nantinya setelah selesai program mereka akan disebar ke beberapa lokasi untuk mengajar dan menduplikasi para hafidz Quran.

“Semoga ini awal yang baik untuk Kampung Quran Cireunghas dan model pembinaan seperti ini akan dibuat lagi di banyak lokasi di Indonesia,” tutur Ustadz Hasyim Mustofa dari tim Indonesia Ngaji BWA.

Ia berharap, semoga dengan program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAP) BWA menjadi percepatan tumbuhnya jumlah hafidz dan hafidzhah di Indonesia. “Mohon do’a dan dukungan dari para umat Islam Indonesia agar program ini dapat berjalan dengan baik. Untuk mendapatkan informasi kegiatan BWA, bisa kunjungi www.bwa.id dan www.wakafquran.id,” kata Ustadz Hasyim Mustofa.

 

Update #2: Distribusi Al-Qur’an di Pelosok Cianjur Selatan

Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) selalu konsisten dalam mendisitribusikan Al Qur’an ke seluruh pelosok di Indonesia dari tahun ke tahun. Saat ini sudah lebih dari 1,755,184 Al Qur’an yang telah dihimpun dan didistribusikan, yang InsyaAllah akan terus bertambah setiap tahunnya. Sebuah pencapian ini tidak akan bisa terwujud tanpa adanya dukungan dari para wakif dan support-support lainnya.

Saat ini Program Wakaf Al Qur’an Pembinaan (WAP) Jawa Barat adalah salah satu program BWA untuk masyarakat Jawa Barat khususnya masyarakat di daerah pelosok, yang sulit untuk diakses. Jawa Barat sendiri merupakan provinsi dengan penduduk terbanyak dan memiliki daerah yang cukup luas. Beberapa faktor yang melandasi BWA untuk kembali mendistribuskan Al Qur’an di Pelosok Jawa Barat, salah satunya adalah saat BWA beberapa waktu lalu mendistribusikan Al Qur’an di pelosok Cianjur Selatan.

(Kondisi Jembatan Penyebrangan di Pelosok Jawa Barat)

Tim BWA merasakan pengalaman yang tidak terlupakan saat membawa 4.800 Al Qur’an untuk beberapa wilayah di Cianjur Selatan. Tim menuju Kampung Sukarama, Desa Waringinsari, Kec. Takokak, Kab. Cianjur, Jawa Barat, dengan estimasi dua jam perjalanan.

“Ternyata lamanya perjalanan lebih dari perkiraan kami. Medan yang dilalui sangatlah sulit. Tim harus menggunakan kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi dengan kondisi jalan tanah merah yang masih basah setelah diguyur hujan semalam, membuat perjalanan kami terhambat,” ujar partner lapangan BWA yang ikut dalam distribusi.

(Kondisi Jalan Tanah Merah Membuat Mobil Slip)

“Alhamdulillah, ada warga yang membantu kami dengan motor yang sudah dimodifikasi atau yang biasa disebut dengan motor engkreg yang sanggup membawa 9 dus Al Qur’an.  Untuk sisa Al Qur’an yang tidak bisa dibawa dengan menggunakan motor kemudian dibawa menggunakan mobil pickup dengan memutar jalur meskipun jauh lebih lama,” sambungnya.

“Tapi di tengah perjalananan ban belakang mobil pickup bocor akibat mengenai batu yang tajam, betul-betul pengalaman distribusi yang menantang,” ujarnya menambahkan.

Tim BWA berkunjung ke tempat pengajian Ustadz Mulyadi beserta para santrinya. Beliau bercerita suka duka selama 18  tahun mengajar baca tulis Al Qur’an untuk anak-anak di desa tersebut dengan menggunakan Al Qur’an seadanya. Ada hal yang membuat kami terenyuh ketika mendapati ternyata ada anak yang sudah tamat SMA namun belum bisa baca dan tulis Al Qur’an. Walaupun begitu ia tetap semangat dan istiqomah dalam belajar.

(Kondisi Al Qur’an & Anak Ketika Sedang Mengaji)

BWA terus mengajak para wakif untuk bersama-sama mensupport kegiatan dakwah dan pemenuhan kebutuhan Al Qur’an di daerah pelosok Jawa Barat. Mari bersama bantu menguatkan akidah mereka yang tinggal di daerah rawan pemurtadan melalui program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan di Pelosok Jawa Barat. InsyaAllah semoga wakaf kita menjadi pahala yang tidak terputus hingga akhir masa. Aamiin.

 

Update #1: Al-Qur’an sebagai “Kebutuhan” untuk Masyarakat Jawa Barat

Selain memiliki penduduk muslim terbanyak di Indonesia, Jawa Barat sendiri memiliki pesantren dengan jumlah terbanyak juga untuk di Indonesia yaitu 8.728 pesantren dengan total 907.515 santri. Data-data tersebut belum termasuk santri dan ponpes yang belum terdaftar maupun yang sedang proses akreditasi. Dengan jumlah islam yang banyak ini, Jawa Barat bisa dikatakan menjadi tolak ukur Islam di Indonesia.

Melihat jumlah umat islam di Jawa Barat yang banyak ini, Dalam proses kegiatan dakwah islam para dai di Jabar untuk menjaga keislaman penduduk Jabar ini tidaklah mudah. Banyak kendala yang pastinya akan dihadapi oleh para da’i/tenaga pengajar disana termasuk santri dan masyarakat Jawa Barat yang ingin mempelajari/mendalami agama islam.

Di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya tim BWA bertemu dengan KH. Burhanudin dalam kegiatan survey dan pendistribusian Al-Qur’an. KH Burhanudin merupakan pimpinan pondok pesantren As Shofa Tasikmalaya dan merupakan tokoh NU lama di Tasikmalaya. KH Burhanudin memfokuskan titik survey dan distribusi untuk DKM, Majelis, Sekolah di Tasikmalaya dan sekitarnya.

KH. Burhanudin memiliki harapan Al Qur’an bisa menjadi kebutuhan untuk masyarakat Jawa Barat. “Senantiasa bertanggung jawab dengan membaca dan memahami Al Qur’an serta dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan Al Qur’an sebagai rujukannya. Al Qur’an fisik wajib dimiliki oleh setiap umat islam di Jawa Barat dan di seluruh Indonesia,” ujar beliau dengan penuh semangat berapi-api.

(KH. Burhanudin M.Pd.I Pimpinan Pondok Pesantren As Shofa Tasikmalaya)

(KH. Burhanudin M.Pd.I Pimpinan Pondok Pesantren As Shofa Tasikmalaya)

Dari kegiatan survey dan pendistribusian Al Qu’ran yang dilakukan, tim BWA melihat bahwa minat masyarakat yang tinggi untuk belajar Al Qur’an dan program-program keagamaan yang bagus dari lembaga maupun Dai-dai di Jawa Barat ini tidak disupport dengan Al Q’uran yang tersedia. Oleh karena itu BWA mengajak seluruh umat muslim untuk sama-sama bisa mensupport dai-dai di Jawa Barat dengan Al Qur’an dalam program Wakaf Al Quran dan Pembinaan (WAP) Jawa Barat. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk senantiasa beramal baik dan membalas dengan pahala yang tiada terputusnya hingga yaumil akhir. Aamiin.

 

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 11.400.000.000



10.07%
Butuh Rp 10.252.239.373,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.