Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al Quran & Pembinaan

Al Quran Road Trip Kalimantan Timur

Pondok Pesantren As Salam & Para Santri Ponpes

 
Rindang pepohonan menghijau di sepanjang kanan kiri  jalan yang pada umumnya berupa tanah dan batu terjal. Beberapa ruas jalan yang sudah diaspal, namun kondisinya sudah rusak. Sesekali melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir sungai-sungai yang berwarna kecoklatan, juga melintasi rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu uling.

Itu semua merupakan  pemandangan selama perjalanan tim survei Badan Wakaf Al-Qur'an menelusuri Kecamatan Barong Tongkok,  Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur pada akhir Desember 2011 lalu.        

Di dampingi Kyai Arif, Pimpinan Pondok Pesantren As Salam, Aryakemuning, Barong Tongkok, tim BWA yang dipimpin Hamzah Winsyah menelusuri Kampung Barong Tongkok, Simpang Raya, Muara Asa, Ongko Asa dan Geleo Asa.

Walau namanya kecamatan, Barong Tongkok itu luasnya seluas kabupaten di Pulau Jawa. Jarak dari satu kampung ke kampung lainnya sekitar 60 Km. Warga tinggal berkelompok-kelompok di tengah hutan. Satu komunitas beranggotakan sekitar 100 KK.

Masuk Islam

Salah satu kelompok tersebut dipimpin oleh seorang mualaf, Ibrahim namanya. Dengan pakaian khas Dayak Banoa,  kakekyang berusia 70 tahun tersebut menyatakan bangga telah masuk Islam sejak 1993.

Lelaki yang dulunya seorang dukun ini menyatakan, awalnya orang Dayak yang menikah dengan orang Islam dibenci. Namun dirinya bersama 34 orang lainnya rela dikucilkan lantaran memilih masuk Islam. “Saya masuk Islam sesuai dengan hati nurani sendiri dan niat sampai sekarang saya Islam,” ungkap lelaki yang bingung bagaimana menghilangkan tato khas dukun Dayak di badannya itu. 

Namun sejak 2011, seiring semakin banyaknya orang yang masuk Islam, justru orang Islam menjadi panutan.  “Orang Jawa Islam yang menikah dengan warga kini menjadi penuntun, mengajari kami tentang Islam,” ungkapnya. Pengajian ibu-ibu rutin dilakukan sepekan sekali namun pengajian bapak-bapak tidak berjalan dengan lancar. Inilah yang jadi permasalahan dalam menjaga keistiqamahan mualaf.

Senada dengan Ibrahim, Kyai Arif pun mengakui, problem utama di Barong Tongkok adalah kurangnya dai dan Al-Qur'an untuk membina warga yang semakin banyak masuk Islam itu.

Maka, melalui program wakaf Al-Qur'an dan Pembinaan, BWA berencana melakukan Al-Qur'an Road Trip ke berbagai kampung di atas pada Mei 2012 mendatang. Targetnya mendistribusikan sekitar 2000 mushaf Al-Qur'an wakaf kepada para mualaf Dayak Banoa, Dayak Tunjung, dan kaum Muslim transmigran di Kalimantan Timur.

Dalam kesempatan yang sama pula, BWA berencana menggelar training dasar menjadi dai, sehingga mereka dapat membantu Ponpes As Salam dan memberikan terobosan dalam membina masyarakat.

Sedangkan untuk meningkatkan taraf ekonomi warga, ada permintaan dari dai dan warga setempat agar BWA membantu pengadaan bibit pohon karet untuk mata pencaharian mereka.[]

 

Wakaf yang dibutuhkan

 2000 Al-Qur'an x Rp. 100.000/Al-Qur'an = Rp. 200.000.000

Al Quran Road Trip Kalimantan Timur

Alhamdulillah, 2000 Al Quran untuk masyakat Kalimantan Timur

Perlahan tapi pasti, berkat adanya dakwah yang istiqamah mualaf Suku Dayak terus bertambah. Satu per satu suku di pedalaman Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur,  yang mayoritas memeluk animisme-dinamisme mulai menyadari Tidak Ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Utusan Allah.

Maka betapa gembiranya para mualaf ini, khususnya mereka yang berada di Kecamatan Barong Tongkok dan sekitarnya, ketika mendengar kabar bahwa dai kondang mantan rocker Ustadz Hari Moekti bersama tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) datang ke Pondok Pesantren As Salam, Kampung Aryakemuning, Barong Tongkok, untuk tabligh akbar dan menyalurkan Al-Qur’an wakaf.

“Warga antusias, bahkan ada yang satu hari satu malam jalan kaki dan naik perahu di sungai, naik ojek untuk mendengarkan tabligh akbar,” ujar Kang Hari, sapaan akrab Hari Moekti. Di tengah mualaf yang serius mendengarkan tausiah nampak pula Ibrahim, mualaf mantan dukun yang berpakaian khas Dayak Banoa.

Sekitar 2.000 mushaf Al-Qur’an dan Terjemah diserahterimakan Kang Hari ke Pimpinan Ponpes As Salam Ustadz Arif, untuk dibagikan kepada jamaah yang hadir dan juga lima titik daerah yang didiami mualaf Suku Dayak, termasuk  Kampung Muara Jawaq Kecamatan Manor Bulatn.

 

Masuk Islam

Tidak puas hanya beberapa warga Muara Jawaq  yang mendengarkan tabligh akbar, dua utusan dari DKM Masjid Baitul Munawwarah Ustadz  Mukhlis MS (Ketua) dan Ustadz Soufy Ahmad pun meminta Kang Hari dan tim BWA mengisi acara serupa di masjid mereka yang berlokasi di Muara Jawaq.

Maka siang itu juga rombongan berangkat dan sampai ke lokasi pada malam hari. Sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya  tabligh akbar pun digelar. Usai shalat jama qashar Zuhur-Ashar dan hendak bergegas ke tempat lain, Kang Hari dikejutkan oleh Mukhlis MS yang mengajak dua orang Suku Dayak untuk disyahadatkan.

“Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah,” ujar Rusnawati (29) dan Risa Rosalina (30) saat dipandu Kang Hari mengucap dua kalimat syahadat tanda masuk Islam, Senin (4/6) siang di Masjid Al Munawwarah.

Ketika Kang Hari bertanya mengapa tertarik masuk Islam, mereka menjawab, Islam itu baik, bersih, peduli. Mengajarkan orang untuk berbagi, salah satunya dengan pembagian hewan qur’ban termasuk kepada mereka yang saat itu masih menganut animisme-dinamisme.

Kedua wanita Dayak itu masuk Islamnya menggenapi sekitar 70 persen dari 200 KK Muara Jawaq yang terlebih dulu masuk Islam, setelah mendapatkan dakwah yang istiqamah dari para pengurus masjid yang berasal dari Suku Bugis, Banjar dan Jawa yang bermukim sejak tahun 2000 itu. Subhanallah, Alhamdulillah, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar.[]

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.