Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Sedekah Kemanusiaan

Anak Buruh Bangunan Ini Tak Bisa Buang Kotoran Melalui Anus

Muhammad Abidzar Al Ghifari adalah nama lengkapku. Aku Lahir di Malang, 10 Juli 2018. Ayahku bernama Fauzidil Alim (32 tahun) dan Ibu Luluk Ningtyas (25 tahun). Kami tinggal disebuah rumah sederhana di Dusun Kedalpayak, Kel. Kedalpayak, Kec. Pakisaji, Kab. Malang, Prov. Jawa Timur.

Sejak lahir aku kesulitan buang air besar karena usus besarku tidak bisa mengluarkan feses. Menurut analisa dokter nama penyakitnya adalah  Hirschprung. Dokter tidak tahu pasti apa penyebab kelainan ini. Yang jelas Aku harus menjalani sejumlah operasi agar bisa buang kotoran melalui anus seperti orang lain.

( Muhammad Abidzar Al Ghifari sedang digendung Ibunya)

Di usia ke 21 hari, Aku baru bisa mejalani operasi tahap 1 untuk membuat lubang pembuangan sementara di perut sebalah kiri bagian bawah. Seharusnya 9 bulan pasca operasi tahap 1 Aku menjalani operasi tahap 2 untuk memperbaiki usus yang rusak kemudian disambungkan kembali ke Lubang Anus. Namun rencana operasi ini urung didaftarkan karena kendala biaya.

Sehari-hari Ayahku bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Alhamdulilah penghasilan Ayah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. Tapi tidak untuk biaya pengobatanku yang sangat besar. Tapi Aku yakin Allah subhanahu wata’ala akan menolong hambaNya yang lemah melalui hambaNya yang dermawan.

Bagi Kakak, Om dan Tante yang ingin menyisihkan hartanya untuk membantu biaya operasi Aku, bisa disalurkan melalui Badan Wakaf Al Qur’an. Semoga harta yang didonasikan menjadi wasilah turunnya rahmat Allah subhanahu wata’ala dan dijauhkan dari segala macam penyakit.

Partner Lapang : Waindika

Donasi yang dibutuhkan : Rp. 200.000.000,-

 

Anak Buruh Bangunan Ini Tak Bisa Buang Kotoran Melalui Anus

Update #1: Mohon Doa, Tak Lama Lagi Ghifari akan Segera Dioperasi

Semenjak divonis penyakit Hirschsprung (kelainan pada usus besar) ketika lahir Muhamad Abidzar Al-ghifari yang kini berusia 2 tahun lebih 2 bulan harus rutin menjalani perawatan di empat Rumah Sakit berbeda sesuai rujukan dari dokter yang ada di Malang, Jawa Timur.

Namun, selama pandemi seperti saat ini orang tua Ghifari belum lagi sempat untuk menjalani kontrol rutin kepada putranya. “Jika tidak urgent, saya tidak bawa ke RS. Jadi saya rawat di rumah,” ujar sang ibu.

(Bayi Ghifari dan Ibunya)

(Bayi Ghifari dan Ibunya)

Donasi yang diterima dari BWA, digunakan untuk perawatan Ghifari di rumah seperti membeli infus, kain kasa, tisu basah, bedak stomahisive, dan lain-lain, selain itu juga digunakan untuk kontrol dan akomdosinya ke Rumah Sakit.

“Insyallah BWA sudah membantu kami dalam setiap perjalann pengobatan anak kami, agar anak kami bisa mendapatkan lanyanan terbaik,” lanjutnya.

“Alhmdulillah sangat senang sekali dan terbantukan dengan adanya program kemanusiaan yang telah dijalankan,” tutupnya.

Saat ini kedua orang tua Ghifari masih menunggu waktu untuk melakukan operasi pada putranya. Insyaallah dalam waktu dekat akan segera melakukan tindakan operasi.

“Semoga BWA semakin maju dan berkembang dalam menebar kebaikan serta membatu saudara-saudara kita yang kesusahan. Dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya bagi para donatur yang telah membantu keluarga kami,” pungkas Ibu Ghifari.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.