Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al Quran & Pembinaan

Begini Kondisi Muslim Di Tanah Karo Jika Tanpa Pembinaan Islam

Begini Kondisi Muslim Di Tanah Karo Jika Tanpa Pembinaan Islam

Saat kita bicara kota Medan, akan banyak yang mengira Medan itu identik dengan Batak. Padahal pandangan seperti itu kurang pas karena suku Batak hanya salah satunya saja. Faktanya masyarakat asli Medan merupakan keturunan Melayu yang identik sebagai keturunan muslim, hal ini berkaitan erat dengan sejarah Islam di Medan yakni Kesultanan Deli dengan bukti bangunan bersejarah Istana Maimun.

Secara historis, Medan tidak pernah menjadi bagian dari tanah Batak.  Medan merupakan wilayah Kesultanan Deli, yang dulunya termasuk Keresidenan Sumatera Timur --- berbeda dengan tanah Batak yang masuk Keresidenan Tapanuli. Itulah kenapa muncul ide pemekaran Provinsi Tapanuli yang terpisah dari Sumatera Timur (Medan, Deli Serdang, Langkat, Asahan, Batubara, dan Labuhan Batu)

Kalau di luar Sumatera Utara, orang-orang Batak lebih sering mengaku sebagai orang Medan tenimbang orang Batak.  Barang kali inilah yang menyebabkan Medan seolah-olah identik dengan Batak, padahal kebanyakan orang Batak tinggalnya nun jauh dari kota Medan yang berjarak sekitar 380 km atau hampir 10 jam perjalanan dari Medan. Penduduk asli kota Medan lebih tepat bila kita katakan sebagai keturunan Melayu Deli sehingga wajar bila di Medan penduduk mayoritasnya adalah Muslim.  Adapun penduduk di wilayah Tapanuli atau “Batak” penduduk muslim disana sebagiannya menempati posisi minoritas, misalkan  di Kabupaten Karo yang memiliki jumlah muslim sebanyak 82.515 orang, jumlah ini hanya 21,18 %  dibandingkan dengan penduduk yang beragama Kristen Protestan yang mencapai 58,24 %.

Tanah Karo merupakan daerah minoritas muslim dan ikon bagi agama Kristen Protestan yang terkenal seantero negeri, bahkan banyak missionaris terkenal yang lahir dari sini dan kantor pusat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang mendunia markasnya pun ada disini.

Melihat kondisi sebagai minoritas disana banyak saudara muslim kita yang berada di daerah ini yang mengalami pendangkalan akidah, seperti upaya pemurtadan, pluralisme, dan lain-lain. Di tambah dengan adanya bencana erupsi gunung Sinabung 9 Juni 2019 lalu, melalui berbagai bantuan dari lembaga non Islam semakin menambah kemudahan pergerakan pendangkalan Akidah. Terutama bagi saudara muslim yang tinggal di lereng gunung Sinabung. Bahkan beberapa Da’i mengatakan bila mereka sudah bicara adat istiadat sering kali mereka seperti menyamakan dengan agama, mereka terkadang lebih mementingkan adat ketimbang ajaran dalam agama. Hal inilah yang menjadi kecemasan bagi kita semua sebagai saudara seakidah.

Beratnya medan dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi para da’i yang berdakwah di Tanah Karo, di tambah minimnya fasilitas akomodasi dan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat menjadi tantangan bagi kita semua. Salah satu masukan kepada Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) adalah untuk melakukan pengiriman Mushaf Al-Quran sebagai media pembelajaran dan pembinaan.  Ada beberapa desa yang kesulitan memiliki mushaf Al-Quran di antaranya :

  1. Desa Kuta Gugung kecamatan Naman Teran
  2. Desa Ndeskati kecamatan Naman Teran 
  3. Desa Suka Tepu kecamatan Naman Teran
  4. Desa Ujung kecamatan Simpang Empat
  5. Desa Rih Tengah kecamatan Kuta Buluh

Di desa-desa ini dan beberapa desa lainnya, problem keagamaan yang mereka hadapi adalah lemahnya pemahaman akan ajaran agama Islam.  Banyak penduduk desa yang belum bisa shalat, baca Al Qur’an, dan sebagian ada yang ikut kebiasaan setempat yaitu makan Babi Panggang Karo (BPK) dalam kesehariannya.  Kondisi yang rawan aqidah bagi kaum muslimin ini tentu terjadi juga di beberapa desa pedalaman, maka banyak desa-desa di pedalaman Sumatera Utara yang sangat membutuhkan Al-Qur’an dan Pembinaan.

Melihat kondisi ini, BWA mengajak kaum muslimin mendukung proyek penyaluran 100.000 Al-Qur’an wakaf dan 10.000 buku iqra’, serta mengadakan training dakwah dan pemahaman Islam untuk Da’i pedalaman Sumatera Utara. Semoga  dari setiap huruf Al-Qur’an yang mereka baca akan mengalirkan pahala kepada Anda hingga hari kiamat, Aamiin.

 

Partner Lapang

Ustd Faisal Rahmat

Wakaf yang di Butuhkan

Rp 10.000.000.000,-

Begini Kondisi Muslim Di Tanah Karo Jika Tanpa Pembinaan Islam

Update#3: Al-Qur’an ini Sangat Bermakna bagi Kami

Balai Al Ikhlas adalah tujuan terakhir pada distribusi hari ke dua di daerah Lueng Bata, Aceh Besar, Selasa 29 Oktober 2019. Sekitar pukul 19.20 kami sampai di lokasi, alhamdulillah aktivitas mengaji masih berlangsung hingga adzan isya berkumandang.

Ustadz Daricman bersama istrinya membuka balai pengajian pada tahun 2012, saat itu jumlah santri baru 15 orang, dengan ruangan mengaji ukuran 3x6m beliau memulainya. Berawal dari anak-anak beliau dan lingkungan sekitar rumah, mulai yang duduk di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum belajar membaca tajwid, menghapal (murojaah), qiroati, doa keseharian, hingga pidato diajarkannya.

(Al-Qur'an Wakaf digunakan Santriwati untuk Menghafal)

(Al-Qur'an Wakaf digunakan Santriwati untuk Menghafal)

Alhamdulillah sejak tahun 2017 santri bertambah dari ibu-ibu dan mahasiswa/i, dari jam 17.30 dimulai dengan murojaah, santri dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum kurang lebih 200 orang dan mahasiswa/i 25 orang. Ibu-ibu yang mengaji mulai ba'da dzuhur hingga qobla ashar kurang lebih sebanyak 50 orang. Total kelas hingga saat ini sebanyak 15 kelas dengan tambahan tenaga pengajar adalah para mahasiswa/i.

Balai Al Ikhlas tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah dan memungut atau mematok biaya dari para santri, tapi bila ada wali santri yang ingin memberi maka diterima. Aktivitas mengaji dilaksanakan setiap hari kecuali ahad dan tanggal merah diliburkan.

“Kedatangan BWA sangat bermakna bagi kami dan memang selama ini hampir tidak ada yang berwakaf seperti ini, kepada para Wakif mendapat nilai terbaik disisi Allah SWT, dan ditahun kemudian dapat berwakaf kembali dengan senang hati disini,” ujar Ustadz Daricman.

Update #2: Menyebrang Laut Dua Jam, Pulau Aceh Sangat Membutuhkan Al Quran

Alhamdulillah, distribusi Al-Quran ke salah satu dayah di daerah Ingin Jaya, Aceh Besar disambut baik dan hangat langsung oleh pemimpin dayah tersebut. Dayah Bustanul Huda Lil Abiddin Al Amiriyah, berada di desa Ajecut, Kec. Ingin Jaya, Aceh Besar dan Teungku Jazri adalah pemimpin dayah tersebut.

(Al-Qur'an Wakaf telah Didistribusikan)

(Al-Qur'an Wakaf telah Didistribusikan hingga Ujung Pulau Sumatera)

Beliau sangat bergembira dan senang hati setelah mengetahui kedatangan kami membawa berita gembira, memberi wakaf Al Quran.

“Wakaf sangat perlu dan masuk dalam bagian pengembangan syariat Islam, yang telah diturunkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Masyarakat sekitar dan santri sangat membutuhkan Al-Qur’an, terutama bagi yang kurang mampu,” Terang Teungku Jazri kepada kami ketika selasai membagikan Al-Qur’an Wakaf kepada para anak-anak santri yang non mukim.

Beliau pun memberikan informasi dan berharap kepada kami sebelum kami berangkat melanjutkan distribusi, agar di tahun depan 2020 bisa mendistribusikan Al Quran di tempat kelahirannya. Dimana di daerah tersebut sangat perlu Al-Qur’an, di pulau Aceh 1 kecamatan, menyebrang laut 2 jam.

“Wakaf merupakan amal baik yang abadi bagi wakif, bagi dunia hingga akherat dan nanti pahalanya yang diberi oleh Allah terus menerus dalam pengorbanan harta mereka untuk mewakafkan Al Quran,” tuntas Beliau.

Sedikit tausiyah Teungku Jari berikan kepada tim distribusi dan beliau berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada team dari Badan Wakaf Al Quran yang mau mendatangi dayahnya.

Update #1: Raih Kemuliaan Menyatu dengan Al-Qur’an

Distribusi Al Quran Wakaf di Aceh sebelumnya baru sebanyak 5.000, berupa Al-Qur’an terjemah dan mushaf, sedangkan kebutuhan Al-Qur’an melihat dari jumlah dayah, masjid, panti asuhan lebih dari itu. Dilihat dari jumlah santri yang bermukim dalam 1 dayah paling sedikit ada 36 orang dan yang non mukim bisa lebih dari 100 orang.

(Distribusi Al-Qur'an Wakaf)

(Distribusi Al-Qur'an Wakaf)

Alhamdulillah pada Senin 28 Oktober 2019 distribusi Al-Qur’an Wakaf bertepatan dengan acara Tabligh Akbar dan sumpah pemuda yang diadakan oleh pemerintah Aceh di lapangan Blang Padang Banda Aceh. Badan Wakaf Al Quran diundang untuk menjadi salah satu bagian dari acara yang diadakan oleh pemprov tersebut.

Sebanyak 3.040 Al-Qur’an Mushaf dan Terjemah didistribusikan untuk perwakilan dayah (ponpes), masjid, meunasah (musholah), balai pengajian, ormas, dan sebagainya. Turut hadir dalam acara tersebut Habib Husein bin Hasyim Baagil di deretan bangku terdepan dan Ustadz Ahmad Al Habsyi sebagai pembicara tabligh akbar.

“Mari Kita Berwakaf di Badan Wakaf Al Quran, yang pagi hari ini benar-benar penuh berkah, penuh makna pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan alam disini pun membuktikan, kecerahan alam luar biasa. Jangan lupa tetap berwakaf ke Badan Wakaf Al Quran,” pesan dari Habib Husein bin Hasyim Baagil, sebelum beliau pulang, pada kesempatan yang diberikan kepada Badan Wakaf Al Quran.

“Saya Ahmad Al Habsyi mengajak semuanya, siapapun, apapun yang menyatu dengan Quran maka akan mendapatkan kemuliaan. Lihat ketika Allah memilih Jibril menjadi salah seorang malaikat yang membawa Al Quran kepada Nabi Muhammad, maka jadilah Jibril  malaikat yang terbaik dari seluruh para malaikat,” pesan Ustadz Ahmad Al Habsyi.

“Lihat ketika Allah memilih Nabi Muhammad mendapatkan kitab suci yang bernama Al Quran, maka Nabi Muhammad menjadi mahluk yang paling mulia. Lihat ketika umat Nabi Muhammad mendapatkan kitab suci Al Quran, maka kita menjadi umat yang termulia.Lihat ketika kulit menempel kepada Quran, hanya kulit tapi dicium dan di muliakan. Kenapa, karena ia menempel kepada Quran. Lalu bagaimana kalau Quran ada dihati kita, ada dalam semangat langkah juang kita. Semua yang berkorban demi Quran, demi Allah, Allah muliakan dunia dan akheratnya Insyaa Allah,” sambung Beliau.

Teruslah berwakaf Quran di Badan Wakaf Al Quran, mudah-mudahan keberkahan untuk kita semuanya. Sedikit tausiyah yang diberikan khusus kepada kaum muslimin, khususnya para wakif yang telah mewakafkan hartanya melalui Badan Wakaf Al Quran untuk kemajuan kaum muslimin,” tuntas Ustadz Ahmad Al Habsyi.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Para Donatur

Komunitas Pendukung