Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al Quran & Pembinaan

Begini Kondisi Muslim Di Tanah Karo Jika Tanpa Pembinaan Islam

Begini Kondisi Muslim Di Tanah Karo Jika Tanpa Pembinaan Islam

Saat kita bicara kota Medan, akan banyak yang mengira Medan itu identik dengan Batak. Padahal pandangan seperti itu kurang pas karena suku Batak hanya salah satunya saja. Faktanya masyarakat asli Medan merupakan keturunan Melayu yang identik sebagai keturunan muslim, hal ini berkaitan erat dengan sejarah Islam di Medan yakni Kesultanan Deli dengan bukti bangunan bersejarah Istana Maimun.

Secara historis, Medan tidak pernah menjadi bagian dari tanah Batak.  Medan merupakan wilayah Kesultanan Deli, yang dulunya termasuk Keresidenan Sumatera Timur --- berbeda dengan tanah Batak yang masuk Keresidenan Tapanuli. Itulah kenapa muncul ide pemekaran Provinsi Tapanuli yang terpisah dari Sumatera Timur (Medan, Deli Serdang, Langkat, Asahan, Batubara, dan Labuhan Batu)

Kalau di luar Sumatera Utara, orang-orang Batak lebih sering mengaku sebagai orang Medan tenimbang orang Batak.  Barang kali inilah yang menyebabkan Medan seolah-olah identik dengan Batak, padahal kebanyakan orang Batak tinggalnya nun jauh dari kota Medan yang berjarak sekitar 380 km atau hampir 10 jam perjalanan dari Medan. Penduduk asli kota Medan lebih tepat bila kita katakan sebagai keturunan Melayu Deli sehingga wajar bila di Medan penduduk mayoritasnya adalah Muslim.  Adapun penduduk di wilayah Tapanuli atau “Batak” penduduk muslim disana sebagiannya menempati posisi minoritas, misalkan  di Kabupaten Karo yang memiliki jumlah muslim sebanyak 82.515 orang, jumlah ini hanya 21,18 %  dibandingkan dengan penduduk yang beragama Kristen Protestan yang mencapai 58,24 %.

Tanah Karo merupakan daerah minoritas muslim dan ikon bagi agama Kristen Protestan yang terkenal seantero negeri, bahkan banyak missionaris terkenal yang lahir dari sini dan kantor pusat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang mendunia markasnya pun ada disini.

Melihat kondisi sebagai minoritas disana banyak saudara muslim kita yang berada di daerah ini yang mengalami pendangkalan akidah, seperti upaya pemurtadan, pluralisme, dan lain-lain. Di tambah dengan adanya bencana erupsi gunung Sinabung 9 Juni 2019 lalu, melalui berbagai bantuan dari lembaga non Islam semakin menambah kemudahan pergerakan pendangkalan Akidah. Terutama bagi saudara muslim yang tinggal di lereng gunung Sinabung. Bahkan beberapa Da’i mengatakan bila mereka sudah bicara adat istiadat sering kali mereka seperti menyamakan dengan agama, mereka terkadang lebih mementingkan adat ketimbang ajaran dalam agama. Hal inilah yang menjadi kecemasan bagi kita semua sebagai saudara seakidah.

Beratnya medan dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi para da’i yang berdakwah di Tanah Karo, di tambah minimnya fasilitas akomodasi dan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat menjadi tantangan bagi kita semua. Salah satu masukan kepada Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) adalah untuk melakukan pengiriman Mushaf Al-Quran sebagai media pembelajaran dan pembinaan.  Ada beberapa desa yang kesulitan memiliki mushaf Al-Quran di antaranya :

  1. Desa Kuta Gugung kecamatan Naman Teran
  2. Desa Ndeskati kecamatan Naman Teran 
  3. Desa Suka Tepu kecamatan Naman Teran
  4. Desa Ujung kecamatan Simpang Empat
  5. Desa Rih Tengah kecamatan Kuta Buluh

Di desa-desa ini dan beberapa desa lainnya, problem keagamaan yang mereka hadapi adalah lemahnya pemahaman akan ajaran agama Islam.  Banyak penduduk desa yang belum bisa shalat, baca Al Qur’an, dan sebagian ada yang ikut kebiasaan setempat yaitu makan Babi Panggang Karo (BPK) dalam kesehariannya.  Kondisi yang rawan aqidah bagi kaum muslimin ini tentu terjadi juga di beberapa desa pedalaman, maka banyak desa-desa di pedalaman Sumatera Utara yang sangat membutuhkan Al-Qur’an dan Pembinaan.

Melihat kondisi ini, BWA mengajak kaum muslimin mendukung proyek penyaluran 100.000 Al-Qur’an wakaf dan 10.000 buku iqra’, serta mengadakan training dakwah dan pemahaman Islam untuk Da’i pedalaman Sumatera Utara. Semoga  dari setiap huruf Al-Qur’an yang mereka baca akan mengalirkan pahala kepada Anda hingga hari kiamat, Aamiin.

 

Partner Lapang

Ustd Faisal Rahmat

Wakaf yang di Butuhkan

Rp 10.000.000.000,-

Begini Kondisi Muslim Di Tanah Karo Jika Tanpa Pembinaan Islam

Update #10: Semoga dengan Wakaf Ini Menjadi Wasilah Lahirnya Para Penghafal Quran di Desa Kami

Ada banyak cerita yang tidak terlupakan saat tim BWA mendistribusikan Al-Qur’an untuk project WAP Medan – Aceh. Salah satunya saat tim mendistribusikan Al-Qur’an di Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Di daerah tersebut memiliki kendala terkait kurangnya tenaga da'i dan sulitnya mendapatkan Al-Qur’an baik mushaf maupun terjemah.

Masjid Nurul Yaqin yang berada di desa Perbulan, Kec Lau Baleng, Kab Karo adalah salah satu tujuan BWA dalam mendistribusikan Al-Qur’an wakaf dari para wakif. Di sana tim bertemu dengan Tengku Beni Dodi Ariska, yang berasal Aceh Tamiang, tepatnya dari Kuala Simpang, selain pengurus masjid beliau pun seorang da'i yang diutus untuk membina kaum muslim di desa tersebut.

(Al-Qur;an untuk)

(Al-Qur'an untuk Masyarakat Desa Perbulan)

"Perjalanan untuk mencapai di Desa Perbulan ini sulit. Tidak mudah untuk memperjuangkan dan mengembangkan umat Islam yang ada di sini. Karena di sini adalah Islam adalah agama minoritas. Tantangan kita untuk bisa mengembangkan dakwah di sini,” cerita Tengku Beni terkait kendala yang dialami.

"Kami juga dihadapkan dengan kondisi kekurangan para guru, ustadz maupun ustadzah, inilah yang membuat kami sebenarnya sangat berharap sekali, semoga ke depannya ada tambahan tenaga pendidik,” lanjutnya. Tengku Beni khawatir bila tidak ada guru atau pendidik agama Islam, berimbas pada rawannya aqidah para siswa atau murid.

Selain kekurangan da’i atau guru untuk mengajar, kendala lain yang dihadapinya adalah kurangnya Al-Qur’an yang dimiliki oleh masyarakat Desa Perbulan. "Dan kami juga disini dengan kekurangan guru, banyak sekarang anak-anak maupun ibu-ibu, bapak-bapaknya sekalian yang sangat antusias membaca Al-Qur’an, sementara jumlah Al-Qur’an yang tersedia sangat sedikit,” lanjutnya.

“Alhamdulillah sekarang kebutuhan Al-Qur’an di sini bisa terpenuhi. Sekali lagi, saya mewakili dari umat Islam di Desa Perbulan, mengucapkan ribuan terima kasih kepada BWA yang telah mewakafkan Al-Qur’an nya, yang dapat membatu kegiatan-kegiatan kami, baik dipengajian, baik disekolah dan di tempat-tempat yang lain,” ucap Tengku Beni.

“Sekali lagi kami ucapkan ribuan terima kasih. Semoga hadirnya BWA ini dapat menjadi wasilah lahirnya para hafidz-hafidz quran baru. Dan juga kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada para wakif. InsyaAllah dengan kemurahan hati para wakif, Allah mudahkan urusannya baik dunia maupun akhirat kelak," tutup Tengku Beni seraya mendoakan.

 

Update #9: Dauroh Al Fatihah dan Juz ‘Amma Bersanad BWA di Sumatera Utara

BWA selama lebih dari 15 tahun terus konsisten menyebarkan Al-Qur’an wakaf ke seluruh penjuru dan pelosok negeri. Tidak sekedar membagikan Al-Qur’an saja, BWA berupaya secara istiqamah membina masyarakat. Melalui program Wakaf Al Qur’an dan Pembinaan (WAP) Medan – Aceh, BWA kembali melakukan kegiatan dauroh Al-Fatihah dan Juz ‘Amma bersanad. 

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih lima hari tersebut, diisi oleh Ustadz Sofyan Abu Raihan serta Ustadz Abdurrahman Dihya. Didampingi oleh partner lapangan BWA untuk wilayah Medan, yakni Ustadz Musa dan Ustadz Azhari Hanafi, BWA melaksanakan kegiatan dauroh di beberapa daerah di Sumatera Utara.

(Kegiatan Dauroh di Tanjung Morawa)

(Kegiatan Dauroh di Tanjung Morawa)

Kegiatan dauroh diawali di daerah Tanjung Morawa dilanjutkan di Kabanjahe (Tanah Karo) lalu ditutup di Kota Medan. Tanjung Morowa merupakan daerah pinggiran yang berada di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Di daerah tersebut dilaksanakan kegiatan dauroh selama dua hari. Tampak peserta yang begitu antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan.

(Ustadz Dhiya dan Para Peserta)

(Ustadz Dhiya dan Para Peserta)

Dauroh kemudian dilanjutkan di Kabanjahe, Tanah Karo. “Dauroh ini dilaksanakan di Rumah Al-Qur’an Ats-Tsaqofi, yang bercita-cita melahirkan para penghafal Al- Qur’an yang berasal dari penduduk asli Suku Karo. Di wilayah Karo banyak penduduk asli yang tergolong muallaf. Perlu pembinaan yang lebih intensif untuk mereka,” tutur Ustadz Sofyan.

Kegiatan dauroh untuk Sumatera Utara oleh BWA ditutup di Kota Medan. Kegiatan dauroh dilaksanakan di kantor LBH Pelita Umat. Meskipun di wilayah urban dengan penduduk yang beragam, kegiatan dauroh cukup mendapat perhatian dan antusias yang tinggi dari peserta. “Respon peserta cukup antusias, bahkan ada salah satu peserta yang telah berguru di berbagai tempat di kota Medan,” tutup Ustadz Sofyan.

(Kegiatan Dauroh di Johor Medan)

(Kegiatan Dauroh di Johor Medan)

Kegiatan ini terselenggara sebagai bentuk tanggungjawab BWA dan komitmen untuk pembinaan dalam program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAP). Terima kasih kepada para wakif yang telah berwakaf di BWA, khususnya untuk project WAP Medan – Aceh. Semoga Allah membalas dengan pahala jariyah yang tidak ada terputusnya hingga yaumil akhir, aamiin.

 

Update #8: Alhamdulillah Ini Salah Satu Peran Penting untuk Membumikan Al Qur’an

Setelah melakukan distribusi Al Qur’an di beberapa lokasi di daerah Berastagi, tim melanjutkan distribusi di Pondok Pesantren Al-Purbanta Hidayatullah Karo yang berada di Desa Jaranguda, Kec. Merdeka, Kab. Karo, Sumatera Utara.

Alhamdulillah di ponpes tersebut tim BWA bertemu langsung dengan Ustadz Ulil Albab Habibullah Lubis atau yang biasa disapa oleh para santri dan warga sekitar dengan sebutan Ustadz Habib. Saat berkunjung para santri masih ada yang menginap dan beberapa di antaranya sudah mempersiapkan diri untuk pulang kerumah masing-masing.

Ustadz Habib adalah yang diamanahkan oleh Yayasan Hidayatullah untuk membina warga sekitar yang muallaf. "Awal mulanya kehadiran kita di sini yaitu karena ada beberapa keluarga yang bersyahadat, ada sekitar tiga kepala rumah tangga yang bersyahadat di Kampung Lau Gedang. Nah setelah pengucapan ikrar syahadat maka perlu ada pembimbingan tentang belajar agama Islam, maka kami ditugaskan dari Hidayatullah untuk mengajarkan saudara-saudara kita yang ada disini,” cerita beliau.

Ustadz Ulil Albab Habibullah Lubis

(Santri Pondok Pesantren Al-Purbanta Hidayatullah Karo)

"Lambat laun seiring berjalannya waktu, alhamdulillah tidak terasa sudah tiga tahun kami di Karo. Antusias masyarakat muallaf cukup luar biasa, dari awalnya dua puluh kepala rumah tangga alhamdulillah sekarang sudah empat puluh lima KK. Mereka sangat antusias untuk belajar Al Qur’an,” ungkap Ustadz Habib.

InsyaAllah para santri yang telah belajar di pondok pesantren Hidayatullah Karo ini, selesai mereka menempuh ilmu agama dan hafidz 30 juz, mereka akan kita terjunkan di pelosok-pelosok yang lebih membutuhkan pembinaan lagi. Harapan kami ke depannya ini bisa menjadi motivasi bagi temen-temen yang lain, mari kita sama-sama berdakwah di tanah Karo ini,” lanjut beliau.

"Sahabat-sahabat kita, saudara-saudara kita yang di Karo yang baru bersyahadat ini mereka haus akan ilmu dan haus akan bimbingan, dengan hadirnya BWA Alhamdulillah ini salah satu peran penting untuk membumikan Qur’an. Mudah-mudahan hadirnya BWA yang telah mendistribusikan Qur’an di pesantren ini membuat kami semakin semangat dalam menghapal Qur’an dan semoga dari mereka-mereka ini lahir para pejuang-pejuang Allah yang siap diterjunkan di pelosok nanti," cerita Ustadz Habib

Di akhir pertemuan Ustadz Habib pun berterima kasih dan mengungkapkan rasa harunya. “Kami berterima kasih sekali kepada BWA, atas bantuannya Wakaf Al Qur’an di Pesanteren Hidayatullah Karo. Semoga Allah membalas semuanya terkhusus juga kepada para wakif semoga Allah berikan kesehatan, kelapangan rizqi, dan juga dijauhkan dari marabahaya, dan dimudahkan karirnya, semoga setiap ayat yang dibaca itu akan membekas dan mengalir terus kepada pewakif,” tutup Ustadz Habib seraya mendoakan.

 

Update #7: Tutup 2021, BWA Salurkan 20 Ribu Al-Qur'an Wakaf Ke Sumatera Utara

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- BWA sebagai lembaga wakaf terpercaya dan dapat diandalkan menutup tahun 2021 ini dengan mendistribusikan 20 ribu  Alquran wakaf amanah para wakif untuk umat Muslim di Sumatera Utara. Ini merupakan distribusi tahap kedua yang dilakukan di Sumatera Utara. Tepat satu tahun yang lalu BWA telah melakukan distribusi tahap pertama sebanyak 20 ribu  Alquran wakaf.

Pada distribusi kali ini Alquran wakaf tersebut disebarkan  ke lebih dari delapan  kota/kabupaten di Sumatera Utara. Sebanyak 13.340 Alquran telah didistribusikan ke daerah Deli Serdang, Serdang Bebagai, Kisaran, Tanjung Balai, Simalungun, Padang Sidempuan, Nias, dan daerah sekitarnya. Sisanya sebanyak 6.660 akan didistribusikan ke daerah Medan dan sekitarnya bekerja sama dengan dai-dailo kal disana.

Bertempat di Ruang Kasdam I/BB, Rabu (8/12) BWA melalui Direktur Program H Hazairin Hasan memberikan  secara simbolis Alquran wakaf kepada Brigjen TNI Purwito Hadi Wardhono  SE MHum, Kasdam I/BB. “Semoga sinergi dengan TNI dapat memberi kontribusi besar guna menurunkan tingkat buta huruf Alquran di pedalaman Sumatera Utara,” kata Hazairin Hasan dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

(Penyerahan Al-Qur'an Secara Simbolis)

(Penyerahan Al-Qur'an Secara Simbolis)

Ia menambahkan, “Semoga Alquran wakaf ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat muslim di Sumatera Utara khususnya untuk para santri di sana dan Insya Allah bisa menjadi pemicu untuk menghadirkan calon-calon penghafal Alquran."

Daerah Kabupaten Asahan merupakan tanah kelahiran sejumlah  ulama besar di antaranya Syekh Silau Laut dan Ustadz Abdul Somad. Bersama dengan BuyaAhmad Faisal Al Haiidz yang merupakan pengasuh pondok pesantren Sirajul Musthafa, BWA telah mendistribusikan Alquran wakaf ke  lebih dari 20 pondok pesantren, masjid, mushala, dan  TPQ yang berada di Kabupaten Asahan.

(Al-Qur'an untuk Sumatera Utara)

“Semoga semua yang terlibat dan para wakif tentunya, dalam kegiatan distribusi Alquran ini hingga ke tempat kami mendapatkan barokah dari Allah SWT. Dan dengan Alquran ini diharapkan  bisa  menjadi  manfaat dan kebaikan bagi kita semua. Aamiin,” ujar Buya Ahmad Faisal Al Haiidz.

Aktivitas BWA di Sumatera Utara kali ini mendapat dukungan dari One Stop Logistic untuk mendistribusikan Alquran wakaf ke seluruh Sumatera Utara. ”Kami merasa berterima kasih kepada BWA karena sudah diberikan kesempatan untuk mendistribusikan ALquran wakaf sebanyak 20 ribu dan kami berkomitmen untuk ikut serta dalam semua kegiatan distribusi Alquran wakaf di Sumatera Utara di tahun-tahun berikutnya,” kata Asmansyah Harahap dari One Stop Logistic.

BWA mengucapkan banyak terima kasih kepada para wakif yang sudah berwakaf di BWA dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. “Semoga ini menjadi amal jariyah untuk kita semua yang pahalanya akan terus mengalirterus menerus. Aamiin ya Rabbal Alamin,” ujar Hazairin.

Untuk mengetahui project dan aktivitas BWA, bisa mengunjungi www.bwa.id ; www.wakafquran.org.

 

Sumber:

https://www.republika.co.id/berita/r41uq9374/tutup-2021-bwa-salurkan-20-ribu-alquran-wakaf-ke-sumut

 

Update #6: Seperti Mimpi, ini Al-Quran Terbanyak untuk Kami di Tanah Karo

Distribusi Al-Qur’an dilanjutkan menuju ke Desa Kuta Buluh, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, disana tim BWA bertemu dengan Ustadz Muhammad Fadli Marpaung, beliau adalah seorang Penyuluh Agama non formal yang dipercayakan KUA Kecamatan Kuta Buluh untuk membina kaum muslimin di Kecamatan Kuta Buluh.

Ustadz Marpaung berdakwah sudah selama kurang lebih 5 tahun di Tanah Karo, di desa-desa terpencil, khususnya desa-desa pedalaman yang berada di Tanah Karo. "Disini keadaan umat Islamnya mayoritas kita katakan tapi keadaan ekonominya di bawah rata-rata, karena mereka bukan petani namun kebanyakan buruh tani," ungkap beliau.

(Ustadz Marpaung)

(Ustadz Marpaung)

Ustadz Marpaung menjelaskan permasalahan lain yang dialami oleh warga di Desa Kuta Buluh. “Disini permasalahan air untuk masyarakat. Ketika tidak ada air, mereka ke bawah, ke sumur yang jauh berkisar sekitar satu kilometer lebih. Mereka memikul air untuk masak, karena disini kebetulan memang PAM, cuman PAM nya dia tidak selalu hidup, dan saat ini juga masih mati air, termasuk air untuk shalat, termasuk air untuk masak, termasuk air untuk kehidupan sehari-hari,” lanjut Ustadz Marpaung.

“Jadi permasalahan pertamanya disini memang air, yang kedua memang butuhnya Al-Quran, karena jangankan untuk beli Al-Quran, untuk membeli beras saja kadang-kadang hutang bang, begitu. Selama ini kalo ada Al-Qur’an itu dibagi, misal ada tiga Al-Qur’an yang pake itu ada lima belas murid. Ya jadi kongsi-kongsi lah, cerita beliau.

Alhamdulillah dengan adanya bantuan sebanyak 1.500 Al-Qur’an wakaf terjemah dan mushaf sangat bermanfaat bagi warga di Kuta Butuh. Selanjutnya Al-Quran ini diberikan kepada kaum muslimin yang berada di pedalaman Kecamatan Kuta Buluh.

Ustadz Marpaung merasa senang atas kedatangan team BWA dan begitu nampak terharu saat menerima mushaf Al-Qur’an wakaf. "Alhamdulillah senang, bahagia, bahkan tadi saya sempat terharu, jadi kaya mimpi. Rasanya ga mungkin kayanya turun ini Al-Qur’an untuk dibagi-bagi, bahkan ke daerah terpencil seperti kami disini. Alhamdulillah kami bahagia, sangat bahagia,” tutur Ustadz Marpaung saat menerima langsung Al-Qur’an wakaf.

"Kami mengucapkan banyak terimakasih dan luar biasa, kami sangat bersyukur dengan adanya BWA datang ke kampung ini, datang ke Tanah Karo. InsyaAllah Al-Qur’an ini akan sangat bermanfaat dan pasti menjadi pahala yang mengalir terus kepada pewakif yang telah bersedia, ikhlas mewakafkan Al-Qur’an. Dan mudah-mudahan dengan mewakafkan Al-Quran ini menjadi bukti dia kepada Allah, dan menjadi penolongnya nanti kelak dan InsyaAllah dimasukkan kedalam surga Allah, pewakif dan BWA ini terus-terus berjaya, terus-terus menyalurkan Al-Quran," tutup Ustadz Marpaung seraya mendoakan untuk para wakif dan tim BWA.

Update #5: Satu Huruf yang Dibaca, Maka akan Diberikan Pahala Sepuluh Huruf

Ketahuilah bahwa harta yang dimakan itu akan menjadi kotoran, harta yang disimpan akan menjadi rebutan, namun harta yang disedekahkan, diwakafkan atau diberikan kepada umat muslim yang lain, maka itulah yang akan menjadi penyelamat bagi kita nanti diakhirat.

Ustadz Ilham Maulana Purba, S. Pdi adalah seorang pria kelahiran Sumatra Utara, tepatnya di Desa Pertambatan, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, beliau mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah Swasta Bandar Pamah, Kacamatan Dolok Masihul, pendidikan non formal di Dayah Istiqamatuddin Sirajul Huda, Aceh Besar, dan UIN Ar Raniry, Aceh Besar.

(WAP Medan - Aceh)

(WAP Medan - Aceh)

Setelah selesai kuliah beliau banyak mengajar di berbagai Dayah di Aceh Besar dan beliau merasa mendapatkan panggilan atau tuntutan hati untuk berdakwah bersama Yayasan Yapri, hingga pada akhirnya beliau sampai di Desa Sukamaju, Kampung Mualaf.

“Warga disini antusias untuk menuntut ilmu. Alhamdulillah anak-anak kita yang sedang belajar iqra itu sekitar dua puluh orang, yang sedang belajar Al-Qur’an itu sekitar lima orang, dan setiap hari minggu itu biasanya ada pengajian ibu-ibu yaitu pengajian tentang bab fiqh,” tutur Ustadz Ilham.

Ustadz Ilham mengajar bersama sang istri setiap hari. Kitab fiqh yang digunakan beliau berjudul Kerukunan Iman, karangan ulama Aceh yang sudah di syarah oleh Ulama Banjar. “Kami menggunakan kitab fiqh istilahnya fiqh praktis untuk warga disini, karena memang warga disini, taulah sudah tua, jadi rutinitasnya bukan hanya belajar, kadang-kadang nanti bisa, merekalah yang mengatur waktu,” sambung beliau.

"Alhamdulillah kami ucapkan terimakasih kepada para muwakaf atau pun yang mewakafkan Al-Quran dan para wakil-wakilnya, mudah-mudahan apa yang diberikan oleh para muwakif akan menjadi amal ibadah,” tuturnya. Ustadz Ilham pun mengutip ucapan Buya Hamka, “ketahuilah harta yang dimakan itu akan menjadi kotoran, harta yang disimpan akan menjadi rebutan, namun harta yang disedekahkan, diberikan Al-Qur’an, dibelikan Al-Qur’an, diwakafkan atau diberikan kepada umat muslim yang lain maka itulah yang akan menjadi penyelamat bagi kita nanti diakhirat".

Dalam hadits disebutkan, "Man Qara-a Al-Qur’an..." “Barangsiapa yang membaca Qur’an", satu huruf dibacanya maka akan diberikan pahala sepuluh huruf, bayangkan Alif, Lam, Mim, kita baca tiga huruf sudah, tiga puluh pahala yang kita dapat. InsyaAllah bila kita mewakafkan Al-Qur’an maka pahala yang dibacanya itu tentu juga akan mengalir kepada kita.

Di akhir pertemuan, Ustadz Ilham mendoakan untuk para wakif dan yang semua pihak yang telah membantu distribusi Al-Qur’an ini keselamatan di dunia dan akhirat, Aamiin, dan Al-Qur’an lah yang menjadi penolong.

Update #4: Distribusi Al-Qur’an Kampung Muallaf Karo

Distribusi hari pertama BWA di Sumatra Utara kali ini bertujuan ke Kampung Muallaf, Desa Sukamaju, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Alhamdulillah sesampainya tim di lokasi, kami dapat bertemu dengan beberapa orang muallaf dan ustadz yang membina di tempat tersebut. Ibu Nur Aini Sembiring merupakan salah seorang muallaf di desa Sukamaju. Ia bertutur kepada kami bahwa 70 KK penduduk desa Sukamaju saat ini beragama Islam dan 50 KK-nya adalah muallaf, oleh sebab itulah desa tersebut lebih dikenal sebagai kampung muallaf.

Ibu Nur Aini bercerita bahwa dari awal warga di Desa Sukamaju tidak ada pemahaman sama sekali tentang pendidikan agama Islam karena bisa dibilang Desa Sukamaju adalah salah satu desa terpencil yang ada di Kabupaten Karo. Hingga pada akhirnya do'a orang Desa Sukamaju terjawab oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dipertemukan dengan sebuah yayasan sehingga bisa bangkit demi sedikit mendalami ilmu agama.

“Kami disini pak bisa dibilang kaya anak kecil, saya sendiri macam bisa dibilang alif, ba, ta, pun mungkin saya masih merangkak gitu pak. Kenapa kaya gitu karena selama ini tidak ada pendidikan agama yang kami terima,” ungkap Ibu Nur Aini.

Hingga pada akhirnya dikirimlah seorang da’i untuk membina warga Desa Sukamaju secara intensif, beliau bernama Ustadz Ilham Purba. Warga Desa Sukamaju merasa bersyukur atas kehadiran Ustadz Ilham Purba.

“Tapi Alhamdulillah kalau sekedar shalat untuk kek mana yang menjalankan yang terbagusnya Alhamdulillah kami umat muslim Desa Sukamaju mungkin sudah bisa melaksanakanya gitu pak. Kalau untuk mendalami ilmu agama kami memang cukup semangat, tapi ilmu tadi memang selalu digali gitu pak, tapi cam mana pak yang namanya kita paham aja lah kita tinggal di kampung, kerja sama orang, udah terbatas waktu kita tak belajar,” sambungnya.

(Ibu Nur Aini Menerima Al-Qur'an)

(Ibu Nur Aini Menerima Al-Qur'an)

“Sangat bahagia pak sampai menitik air mata akhirnya kami punya Al-Qur’an sendiri. Tapi yang kecewanya pak kami belum bisa untuk membaca cuma menengok, apalah artinya ditengok sebuah kertas, sementara kita tidak tahu artinya dan membaca isi kertas ini,” ungkap Ibu Nur Aini ketika salah satu tim BWA memberikan Al-Quran wakaf kepadanya.

Ibu Nur Aini meluapkan rasa bangganya sambil memegang Al-Quran wakaf tersebut, dan beliau pun menangis saat menjelaskannya kepada tim BWA.

“Disini saya mewakili umat muslim Desa Sukamaju, Kampung Muallaf, kami banyak mengucapkan banyak terimakasih kepada BWA dan para wakif yang telah mewakafkan sebagian Al-Quran kepada kami dan semoga kami dapat menggunakan Al-Quran ini dengan baik. Dan begitu juga dengan bapak-bapak yang telah sudi untuk mewakafkan Al-Quran ini kekampung kami semoga bapak selalu diberi kesehatan dan selalu diberkahi dengan umur yang panjang,” tutupnya sembari mendoakan.

Update#3: Al-Qur’an ini Sangat Bermakna bagi Kami

Balai Al Ikhlas adalah tujuan terakhir pada distribusi hari ke dua di daerah Lueng Bata, Aceh Besar, Selasa 29 Oktober 2019. Sekitar pukul 19.20 kami sampai di lokasi, alhamdulillah aktivitas mengaji masih berlangsung hingga adzan isya berkumandang.

Ustadz Daricman bersama istrinya membuka balai pengajian pada tahun 2012, saat itu jumlah santri baru 15 orang, dengan ruangan mengaji ukuran 3x6m beliau memulainya. Berawal dari anak-anak beliau dan lingkungan sekitar rumah, mulai yang duduk di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum belajar membaca tajwid, menghapal (murojaah), qiroati, doa keseharian, hingga pidato diajarkannya.

(Al-Qur'an Wakaf digunakan Santriwati untuk Menghafal)

(Al-Qur'an Wakaf digunakan Santriwati untuk Menghafal)

Alhamdulillah sejak tahun 2017 santri bertambah dari ibu-ibu dan mahasiswa/i, dari jam 17.30 dimulai dengan murojaah, santri dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum kurang lebih 200 orang dan mahasiswa/i 25 orang. Ibu-ibu yang mengaji mulai ba'da dzuhur hingga qobla ashar kurang lebih sebanyak 50 orang. Total kelas hingga saat ini sebanyak 15 kelas dengan tambahan tenaga pengajar adalah para mahasiswa/i.

Balai Al Ikhlas tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah dan memungut atau mematok biaya dari para santri, tapi bila ada wali santri yang ingin memberi maka diterima. Aktivitas mengaji dilaksanakan setiap hari kecuali ahad dan tanggal merah diliburkan.

“Kedatangan BWA sangat bermakna bagi kami dan memang selama ini hampir tidak ada yang berwakaf seperti ini, kepada para Wakif mendapat nilai terbaik disisi Allah SWT, dan ditahun kemudian dapat berwakaf kembali dengan senang hati disini,” ujar Ustadz Daricman.

Update #2: Menyebrang Laut Dua Jam, Pulau Aceh Sangat Membutuhkan Al Quran

Alhamdulillah, distribusi Al-Quran ke salah satu dayah di daerah Ingin Jaya, Aceh Besar disambut baik dan hangat langsung oleh pemimpin dayah tersebut. Dayah Bustanul Huda Lil Abiddin Al Amiriyah, berada di desa Ajecut, Kec. Ingin Jaya, Aceh Besar dan Teungku Jazri adalah pemimpin dayah tersebut.

(Al-Qur'an Wakaf telah Didistribusikan)

(Al-Qur'an Wakaf telah Didistribusikan hingga Ujung Pulau Sumatera)

Beliau sangat bergembira dan senang hati setelah mengetahui kedatangan kami membawa berita gembira, memberi wakaf Al Quran.

“Wakaf sangat perlu dan masuk dalam bagian pengembangan syariat Islam, yang telah diturunkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Masyarakat sekitar dan santri sangat membutuhkan Al-Qur’an, terutama bagi yang kurang mampu,” Terang Teungku Jazri kepada kami ketika selasai membagikan Al-Qur’an Wakaf kepada para anak-anak santri yang non mukim.

Beliau pun memberikan informasi dan berharap kepada kami sebelum kami berangkat melanjutkan distribusi, agar di tahun depan 2020 bisa mendistribusikan Al Quran di tempat kelahirannya. Dimana di daerah tersebut sangat perlu Al-Qur’an, di pulau Aceh 1 kecamatan, menyebrang laut 2 jam.

“Wakaf merupakan amal baik yang abadi bagi wakif, bagi dunia hingga akherat dan nanti pahalanya yang diberi oleh Allah terus menerus dalam pengorbanan harta mereka untuk mewakafkan Al Quran,” tuntas Beliau.

Sedikit tausiyah Teungku Jari berikan kepada tim distribusi dan beliau berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada team dari Badan Wakaf Al Quran yang mau mendatangi dayahnya.

Update #1: Raih Kemuliaan Menyatu dengan Al-Qur’an

Distribusi Al Quran Wakaf di Aceh sebelumnya baru sebanyak 5.000, berupa Al-Qur’an terjemah dan mushaf, sedangkan kebutuhan Al-Qur’an melihat dari jumlah dayah, masjid, panti asuhan lebih dari itu. Dilihat dari jumlah santri yang bermukim dalam 1 dayah paling sedikit ada 36 orang dan yang non mukim bisa lebih dari 100 orang.

(Distribusi Al-Qur'an Wakaf)

(Distribusi Al-Qur'an Wakaf)

Alhamdulillah pada Senin 28 Oktober 2019 distribusi Al-Qur’an Wakaf bertepatan dengan acara Tabligh Akbar dan sumpah pemuda yang diadakan oleh pemerintah Aceh di lapangan Blang Padang Banda Aceh. Badan Wakaf Al Quran diundang untuk menjadi salah satu bagian dari acara yang diadakan oleh pemprov tersebut.

Sebanyak 3.040 Al-Qur’an Mushaf dan Terjemah didistribusikan untuk perwakilan dayah (ponpes), masjid, meunasah (musholah), balai pengajian, ormas, dan sebagainya. Turut hadir dalam acara tersebut Habib Husein bin Hasyim Baagil di deretan bangku terdepan dan Ustadz Ahmad Al Habsyi sebagai pembicara tabligh akbar.

“Mari Kita Berwakaf di Badan Wakaf Al Quran, yang pagi hari ini benar-benar penuh berkah, penuh makna pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan alam disini pun membuktikan, kecerahan alam luar biasa. Jangan lupa tetap berwakaf ke Badan Wakaf Al Quran,” pesan dari Habib Husein bin Hasyim Baagil, sebelum beliau pulang, pada kesempatan yang diberikan kepada Badan Wakaf Al Quran.

“Saya Ahmad Al Habsyi mengajak semuanya, siapapun, apapun yang menyatu dengan Quran maka akan mendapatkan kemuliaan. Lihat ketika Allah memilih Jibril menjadi salah seorang malaikat yang membawa Al Quran kepada Nabi Muhammad, maka jadilah Jibril  malaikat yang terbaik dari seluruh para malaikat,” pesan Ustadz Ahmad Al Habsyi.

“Lihat ketika Allah memilih Nabi Muhammad mendapatkan kitab suci yang bernama Al Quran, maka Nabi Muhammad menjadi mahluk yang paling mulia. Lihat ketika umat Nabi Muhammad mendapatkan kitab suci Al Quran, maka kita menjadi umat yang termulia.Lihat ketika kulit menempel kepada Quran, hanya kulit tapi dicium dan di muliakan. Kenapa, karena ia menempel kepada Quran. Lalu bagaimana kalau Quran ada dihati kita, ada dalam semangat langkah juang kita. Semua yang berkorban demi Quran, demi Allah, Allah muliakan dunia dan akheratnya Insyaa Allah,” sambung Beliau.

Teruslah berwakaf Quran di Badan Wakaf Al Quran, mudah-mudahan keberkahan untuk kita semuanya. Sedikit tausiyah yang diberikan khusus kepada kaum muslimin, khususnya para wakif yang telah mewakafkan hartanya melalui Badan Wakaf Al Quran untuk kemajuan kaum muslimin,” tuntas Ustadz Ahmad Al Habsyi.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Para Donatur