Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Zakat Peer To Peer

Delapan Tahun Glukoma, Sulastri Menanti Dioperasi

Sulastri (34 th) janda dengan dua anak ini masih harap-harap cemas menunggu adanya pendonor kornea mata. Penantiannya ini pun tak pasti, bisa 1-6 tahun, tergantung dari adanya pendonor. Di samping harus menunggu lama, Sulastri juga diminta pihak rumah sakit menyiapkan sejumlah uang untuk bisa mendapatkan donor kornea tersebut.

 Sulastri-ZPP

“Biaya untuk kornea lokal sekitar enam juta rupiah, dan untuk impor sekitar delapan belas juta rupiah,” ungkap Sulastri menirukan ucapan yang disampaikan pihak bank donor mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Menurut pihak rumah sakit, Sulastri baru berhak mendapatkan nomor antrian setelah menyetor pembayarannya. Bila antri untuk kornea lokal, butuh waktu hingga sampai enam tahun, sedangkan kornea impor hanya satu tahun.

 ZPP

Berat bagi keluarga Sulastri jika harus mengeluarkan uang dengan jumlah yang begitu besar, pasalnya selama ini Sulastri berobat hanya mengandalkan kartu Jaminan Kesehatan.

Sulastri warga asli Lebeng, Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas ini mengalami kebutaan sejak 8 tahun yang lalu. Bermula pada tahun 2005 mata sebelah kanannya sering mengeluarkan air mata, tarasa panas dan gatal, kemudian penglihatannya buram. Memutuskan untuk berobat ke Puskesmas setempat, namun belum mendapatkan hasil.

Selang satu bulan, mata kirinya mengalami hal serupa, disertai dengan rasa panas dan sakit kepala yang luar biasa, sehingga berapa lama kemudian rambutnya menjadi rontok dan akhirnya botak.

Karena kondisi Sulastri kian parah, pihak Puskesmas pun merujuknya ke RSUD Banyumas. Namun hasilnya juga tetap sama. Merasa tidak sanggup menangani Sulastri, pihak RSUD merujuknya ke dokter spesialis mata di Yogyakarta. Sempat berobat satu kali namun harus terhenti karena ketiadaan biaya.

Akhirnya, Sulastri memutuskan untuk berobat hanya dengan pengobatan tradisional saja. Namun keputusan ini membuat kondisi matanya semakin memburuk.

Secercah harapan pun datang ketika Ilham Ardiansyah (48) yang merupakan teman lama yang tinggal di Depok, Jawa Barat, mengajak Sulastri berobat ke Jakarta. Ilham beserta istrinyalah yang dikemudian hari mengurus dan membantu Sulastri berobat.

Pada Februari 2013 tiba di Depok, menumpang dikontrakan petak milik Ilham untuk selanjutnya berobat ke RSCM Jakarta.

Bermodalkan kartu Jaminan Kesehatan yang diurus Ilham, alhamdulilah Sulastri mulai mendapatkan tindakan medis. Menurut analisa dokter, kedua mata Sulastri terkena penyakit rabun dan glukoma akut yang menyebabkan kornea matanya menjadi rusak.

Setelah menjalani beberapa bulan pemeriksaan, akhirnya diputuskan bahwa tindakan yang paling memungkinkan saat ini adalah dengan mencangkok kornea matanya. Supaya Sulastri dapat melihat kembali.

Agar tidak antri hingga enam tahun, rencananya Sulastri akan dicangkok dengan kornea mata dari pendonor asal Taiwan. Untuk itu diperlukan biaya Rp22 juta. Dengan rincian Rp18 juta untuk menebus kornea mata dan Rp4 juta untuk biaya akomodasi.

Beberapa waktu terakhir ini, Badan Wakaf Al-Qur’an telah membantu biaya transportasi Sulastri ke RSCM. Dan www.detik.com pun telah mendonasikan Rp12 juta dari para pembacanya ke Sulastri. Untuk itu, BWA mengajak para donatur untuk meringankan beban Sulastri dengan membantu menutupi sisanya.

Donasi yang dibutuhkan

Rp10.000.000,- (enam juta menutupi sisa biaya mendapatkan donor kornea dan empat juta biaya akomodasi Sulastri)

 Partner lapang: 

 Ilham Ardiansyah

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.