Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Indonesia Belajar

IB Azhar dkk (Santri Kasatriyan)

Mari Wujudkan Cita-cita Azhar dan Teman-temannya Menjadi Hafidz dan Dai

Kehidupan Ustadz Teguh rupanya memang ditakdirkan penuh dengan ujian. Kecelakaan yang menyebabkannya bed rest selama kurang lebih 6 bulan, beserta biaya pengobatannya telah mengguncang ekonomi keluarga. Usahanya terpaksa ditutup, uang modal pun terpakai untuk kebutuhan hidup.

(Azhar dan Para Santri Lainnya di Kasatriyan)

(Azhar dan Para Santri Lainnya di Kasatriyan)

Sebelum kecelakaan itu, Ustadz Teguh adalah guru ngaji dan mengisi secara rutin kajian keislaman. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, warga Perum Wanakerta Bungursari Purwakarta tersebut berjualan pecel lele dan ayam goreng kaki lima. Kehidupannya meskipun sederhana dan bersahaja, namun hal tersebut sudah cukup membuat diri dan keluarganya bahagia.

Azhar (15 tahun) adalah anak sulungnya. Dia adalah harapan Ustadz Teguh dan masa depan keluarganya. Ustadz Teguh telah mendidik Azhar untuk menjadi seorang hafidz dan dai. Ustadz Teguhlah yang mengajarkan Azhar mengaji dan menghafal Al-Qur'an hingga sekarang Azhar memiliki hafalan 2 juz.

Agar Azhar lebih fokus dalam menghafal Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman, ia pun dimasukan ke Pondok Pesantren Kasatriyan di Kawasan Kosambi Karawang.

Namun, kondisi ekonomi Ustadz Teguh yang sekarang bergantung dari jualan ketoprak, membuatnya kesulitan untuk mewujudkan cita-citanya yang kini menjadi cita-cita Azhar yang tengah duduk di kelas X.

Saat bertemu dengan tim BWA, Azhar menyampaikan harapan dan cita-citanya itu sejalan dengan harapan ayahnya. “Saya ingin menjadi hafidz Al-Qur'an dan Da'i ilallah, saya ingin membanggakan keluarga di dunia dan akhirat,” ujar Azhar.

Selain Azhar, ada Arif (14 tahun), Dian Restu (13 tahun), Adam (14 tahun) dan Fajri (14 tahun) yang juga nyantri di Kasatriyan. Arif sangat memahami kondisi ekonomi keluarganya. Namun anak yang kini naik kelas 2 Madrasah Tsanawiyah tersebut masih memiliki harapan untuk menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Begitu pula Dian, semangat bersekolah santri kelas X MTs tersebut tidak pernah padam. Meski usianya terbilang agak telat masuk sekolah karena kendala biaya, Dian tidak malu dan tetap ingin melanjutkan mewujudkan cita-citanya menjadi hafidz dan dai.

Selain Dian, santri Kasatriyan yang tidak kalah semangatnya untuk terus bersekolah dan menghafal Al-Qur'an adalah Adam. Adam juga bukan datang dari keluarga yang berada. Dia berharap, dengan menjadi santri di Pesantren Kasatriyan, masa depan pendidikannya terjamin dan bisa menghafal Al-Qur'an serta menjadi Da’i.

Satu lagi, Fajri, anak sulung Ustadz Solihin. Ustadz Solihin dengan sangat terpaksa sebab segala keterbatasan ekonominya, harus menarik Fajri dari salah satu boarding school. Tunggakan di sekolahnya membengkak karena Ustadz Solihin tidak mampu membayar. Padahal, Ustadz Solihin sudah berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-cita anak sulungnya ini. Apa daya, kondisi ekonominya belum membaik.

Ketika bertemu saat wawancara dengan tim BWA, dengan sangat percaya diri, Fajri mengatakan "saya ingin jadi hafidz". Fajri telah hafal 3 Juz Al-Qur'an dan berharap dapat menuntaskan hafalannya tersebut hingga 30 juz mutqin.

Saat ini, kelima calon hafidz dan dai tersebut dibina di Pesantren Kasatriyan. Mereka juga dimasukkan ke Madrasah (Tsanawiyah dan Aliyah) yang ada di dekat Pesantren. Pembentukan karakter dai dan menyelesaikan hafalan serta mewujudkan cita-cita pendidikan mereka adalah tanggung jawab kita semua.

Untuk mengurangi beban keluarga kelima calon hafidz dan Da’i tersebut, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) mengajak kaum Muslimin berdonasi melalui program Indonesia Belajar (IB). Sehingga anak-anak ini bisa meneruskan sekolahnya setinggi-tingginya dan manjadi hafidz serta Da’i. Semoga kita semua mendapatkan pahala berlimpah dari Allah SWT karena telah membantu sesama. Aamiin.[]

 

Donasi yang Diperlukan:

Rp.80.000.000

Mitra Lapangan:

Bhakti A

 

 #Wakaf #WakafQuran #2019SejutaQuranBangkitkanIndonesia #IndonesiaBelajar

IB Azhar dkk (Santri Kasatriyan)

Update #1: Terimakasih Para Donatur, Azhar dan Teman-temannya Kini Bisa Melanjutkan Sekolah

Karena di Pesantrennya Azhar tidak memiliki sekolah formal, maka mereka pun harus bersekolah di luar pesantren. Kelima santri itu berangkat dari pesantren sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah sebelumnya menyelesaikan kegiatan-kegiatan pesantren, dimulai dari shalat tahajjud, shalat shubuh berjamaah di masjid, ta’lim, tahsin, dan tahfidz, mereka juga harus menyelesaikan tugas-tugas pribadi mereka seperti mencuci baju dan membereskan tempat tidur.

(Azhar dan Kawan-kawannya di Pesantren Kasatriyan)

(Azhar dan Kawan-kawannya di Pesantren Kasatriyan)

Rabu, 5 Februari 2020, tim Indonesia Belajar BWA melakukan penyaluran bantuan dana pendidikan sekaligus pendampingan kepada adik-adik santri di salah satu pesantren di Kosambi, Karawang. Pesantren tersebut memang hanya menerima santri dari kalangan dhuafa dan anak-anak yatim. Dengan harapan besar pengasuh Ponpes tersebut, yakni KH. Asep Nurdin, tokoh masyarakat Karawang yang concern memperhatikan generasi muda, beliau berharap agar pendidikan yang hari ini begitu mahal bagi anak-anak yatim dan dhuafa, dapat dinikmati setara dengan anak-anak sebayanya. “Pendidikan adalah hak semua anak, terutama pendidikan Al-Qur’an”.

Kelima santri tersebut bersekolah di tempat yang berbeda. Azhar, Dian, dan Adam bersekolah di MA Daarul Qur’an Karawang. Arif Budiman, dia bersekolah di MTs Al-Furqon Karawang. Sementara itu, Fazri bersekolah di MTs Al-I’anah Karawang. Meski sekolah mereka berbeda-beda, namun tidak mengurangi nilai ukhuwah diantara mereka. Mereka saling mendukung disetiap aktifitasnya. “sudah seperti saudara sendiri, ya becanda bahkan berantem begitu”, ujar Fazri yang kini duduk di bangku kelas 3 MTs itu, Fazri juga sedang progress menghafal Al-Qur’an Juz 29.

Kelima santri KH. Asep Nurdin itu mengucapkan banyak terimakasih kepada para donatur yang peduli terhadap masa depan mereka. “Terimakasih, jazakumulloohu khoyron kepada para donatur BWA yang telah peduli terhadap masa depan kami” begitu mereka menyampaikan dengan haru.

Sebenarnya, perjalanan mereka mengenyam pendidikan formal masih panjang dan masih perlu banyak support dari kita semua. Oleh karena itu, BWA berkomitmen menguatkan pundak dan kaki mereka agar mereka sampai ke titik di mana cita-cita mereka letakkan. Tentu BWA tidak sendirian, BWA memiliki para donatur yang senantiasa bersama-sama mewujudkannya.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.