Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Sedekah Kemanusiaan

Karena Tiada Biaya, Pengobatan Epilepsi Keisya Tertunda

Karena Tiada Biaya, Pengobatan Epilepsi Keisya Tertunda

Terlahir secara prematur dari pasangan Dasman (36 tahun/ayah) dan Minarti (34 tahun/ibu), Keisya Ria Amansyah yang kini berusia 10 tahun dan kerap disapa Keisya, harus menjalani hari-harinya di ruang NICU di RSUD Kabupaten Bekasi. Dua bulan menjalani perawatan di ruang NICU kondisinya semakin kritis hingga akhirnya Keisya dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung diusia dua bulan.

(Keisya Ria Amansyah)

(Keisya Ria Amansyah)

Tiga tahun waktu berjalan Keisya tak juga mendapat kesembuhan secara menyeluruh, selama itu pula Keisya harus menggunakan selang NGT untuk menerima asupan nutrisi. Dokter di rumah sakit memvonis jika Keisya menderita epilepsi dan kemungkinan untuk bisa tumbuh menjadi anak-anak normal sangat kecil.

Besarnya biaya untuk merawat Keisya di RS Hasan Sadikin Bandung, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk menghentikan perawatan karena sudah tak sanggup lagi untuk pulang-pergi Cikarang-Bandung. Selama ini Keisya hanya terapi obat saja, itu pun sering telat karena tidak ada biaya untuk menebus obat di apotik.

Di usianya saat ini, Keisya seharusnya duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, karena penyakit epilepsi yang ia derita, Kesya terlambat untuk bersekolah sehingga ia baru duduk di bangku kelas dua SD Karang Asih 06 Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Ketiadaan biaya membuat Keisya sekolah dengan pakaian seadanya, tak jarang ia sering di cemooh oleh teman-teman sekolahya karena pakaian yang ia gunakan sudah kucel dan tas yang sudah rusak, hal ini tidak membuat Keisya marah, ia hanya terdiam dan lebih menceritakan kepada sang ibu sepulangnya dari sekolah.

Kejang-kejang Keisya selalu kambuh jika kondisinya sedang drop, dalam sehari Keisya bisa dua kali kejang. Sang ibu tentu tak tega melihat putrinya mendapat ujian seperti ini. Namun, apalah daya tidak adanya biaya untuk perawatan dan membeli obat-obatan membuatnya harus menunda pengobatan putrinya. Keisya sudah berhenti menjalani pengobatan sejak akhir 2018, setelah sebelumnya sempai menjalani pengobatan dan perawatan di RSCM Jakarta.

Keisya memang terlahir dari keluarga yang kurang berada dari sisi ekonomi. Ayahanda Dasman yang memiliki keterbatasan fisik itu hanya berprofesi sebagai penjaga sekolah. Honornya sangat jauh dari harapan, selain kemudian mesti dipotong lagi untuk menyewa motor butut milik yayasan tempat ia bekerja.

Sementara itu, untuk membantu perekonomian keluarganya, ibunda Mimin sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci, upahnya Rp20.000,- per hari, itu pun tidak setiap hari orang memakai jasanya.

Untuk mengurangi beban keluarga Keisya, BWA mengajak kaum Muslimin bersedekah melalui program Sedekah kemanusiaan (SK) sehingga biaya pengobatannya terpenuhi dan semoga kita semua mendapat pahala berlimpah dari Allah SWT karena telah membantu sesama. Aamiin.[]

 

 

Sedekah yang Diperlukan:

Rp.46.750.000

Mitra Lapangan:

Wahyu

 

#BWA #WakafQuran #SK #SedekahKemanusiaan

Karena Tiada Biaya, Pengobatan Epilepsi Keisya Tertunda

Update #1: Keisya Harus Rutin Mengonsumsi Obat Hingga 3-4 Tahun Kedepan

Akibat sering kejang sejak kecil membuat syaraf mata sebelah kanan Keisya Ria Amansyah (10 tahun) mulai bermasalah, hal ini membuatnya dia sulit untuk fokus melihat pada jarak yang jauh, untuk membaca buku dan Iqro Keisya cukup kesulitan, ia juga harus menunduk agar bisa membaca dengan jelas. Jika terlalu lama menulis dan membaca membuat kepalanya pusing.

(Kondisi Terkini Keisya)

(Kondisi Terkini Keisya)

Dokter menyarankan agar Keisya segera dilakukan tindakan operasi pada matanya. Sang ibu sangat menginginkan sekali jika tindakan operasi segera dilakukan. Namun, dimasa pandemi saat ini tidak sedikit rumah sakit yang mau dan menerima pasien untuk melakukan tindakan operasi operasi, disamping itu sang Ibu juga masih ada kekhawatiran akan biaya-biaya lain yang harus ia keluarkan.

Sang ibu masih kerja serabutan, seperti cuci gosok di rumah-rumah sekitar kontrakan ia tinggal, upah yang didapat masih tak tentu. “Setidaknya masih bisa untuk tambah-tambah membeli obat Keisya,” ujar sang Ibu.

Untuk penyakit kejang yang kerap tibul masih bisa sedikit dikontrol oleh sang Ibu dengan memberikannya obat-obatan dan menenangkan putrinya. Keisya harus rutin mengkonsumsi obat hingga 3-4 tahun kedepan, yang tentu membuat sang Ibu harus terus-menerus memutar otak untuk mencukupi obat bagi putrinya.

BWA melalui program Sedekah Kesehatan masih mengajak para donatur untuk turut membantu Keisya dalam mencari kesembuhan. Semoga niat baik ini diganti dengan pahala yang berlimpah dari Allah SWT.

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.