Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Khusus Dakwah

Kita Bantu Pelayanan Kesehatan Di Pulau Terpencil Dengan Kapal Klinik

(Ilustrasi Kapal Pinisi - Kapal Dakwah Dokter Care)

Sumber Gambar : https://maritimenews.id/wp-content/uploads/2015/07/logo.jpg


Ide besar ini bermula dari keberhasilan BWA dan para wakif membangun Kapal Dakwah. Diantara kapal dakwah yang telah direalisasikan dan kini beroperasi untuk menebar manfaat serta mengantarkan Al-Qur’an ke berbagai penjuru Nusantara adalah : Kapal Dakwah #1 AFKN Khalifah I untuk Papua, Kapal Dakwah #2 untuk Nelayan Adonara, NTT, terakhir Kapal Dakwah #3 Jelajah Pulau Terpencil Nusantara (JPTN) Fatahillah yang baru saja selesai mengantarkan Al-Qur’an ke kepulauan sekitar Serang, Banten.

BWA ingin menghadirkan manfaat yang lebih besar lagi untuk masyarakat, terutama saudara-saudara kita yang berada di kepulauan terpencil Nusantara ini. Kemaslahatan yang ingin ditebar melalui Kapal Dakwah #4 ini adalah pelayanan kesehatan profesional gratis bagi masyarakat yang berada di kepulauan pelosok Nusantara. Selain tentu di dalamnya ada kegiatan dakwah Islam untuk menguatkan aqidah saudara-saudara muslim kita di sana.

Untuk mengakomodir ide dan manfaat yang begitu besar ini, maka dibutuhkan unit kapal yang lebih besar dari sebelumnya. Jika Kapal Dakwah #3 JPTN Fatahillah (kapal yang terbesar diantara ketiga kapal dakwah BWA) hanya berkapasitas 39GT dengan lebar 4,5 meter dan panjang 18 meter. Maka Kapal Dakwah Dokter Care mengusung jenis unit Kapal Pinishi dengan lebar lambung 8 meter dan panjang buritan hingga haluan 32 meter.

Setiap ide pasti memiliki visi dan misi. Begitu pula dengan proyek Wakaf Khusus Kapal Dakwah #4 Dokter Care ini. Visi besar yang dibawa Kapal Dakwah Dokter Care adalah menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui dakwah dan pelayanan kesehatan profesional di dalam kapal. Dengan visi ini, KDDC ingin menghadirkan semangat kepedulian yang bersumber dari aqidah Islam sehingga dapat melakukan pelayanan yang optimal terhadap umat, khususnya dalam bidang kesehatan.

Latar Belakang

Alasan paling mendasar bagi BWA untuk ngotot agar proyek Wakaf Khusus Kapal Dakwah #4 Dokter Care ini segera dirilis adalah fakta yang kami temukan ketika kami melakukan ekspedisi pendistribusian Al-Qur’an ke pulau-pulau terpencil di Nusantara adalah bahwa pelayanan serta fasilitas kesehatan yang mereka miliki sangat minim bahkan tidak ada.

Seperti misalnya ketika kami melakukan survey ke daerah Adonara, Flores Timur, tim kami berpapasan dengan seorang Lansia yang sedang sakit harus digotong dan dibawa menggunakan kapal penyebrangan seadanya, padahal terlihat kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tidak menggunakan tandu, kakek tersebut kemudian digotong ke Angkutan Umum yang sudah stand by di sisi pulau yang lain, siap untuk mengantar beliau ke Rumah Sakit terdekat.

Selain itu, Ustadz Arifudin Anwar yang selama ini menjadi partner lapangan BWA di Indonesia timur mengaku, setiap kali beliau singgah ke pulau-pulau yang mana di sana didistribusikan al-Qur’an, salah satu problem yang selalu muncul adalah soal pelayanan kesehatan. Beliau menyampaikan misalnya ketika beliau melakukan ekspedisi ke pulau-pulau terpencil di Kepulauan Selayar, pernah menghadapi situasi darurat yakni remaja yang kecelakaan jatuh dari pohon. Karena minimnya fasilitas kesehatan di pulau tersebut, remaja itu tidak mendapatkan perawatan kedaruratan yang memadai hingga kemudian dia meninggal dunia karena luka dalam di kepalanya yang cukup serius. Inna Lillahi Wa Innailaihi Rojiun.

Studi kasus lainnya adalah tentang Pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama dengan pemerintah kabupaten dan kota. Ternyata dirasakan belum menjangkau masyarakat di pulau-pulau pedalaman atau terpencil. Minimnya tenaga medis dan terbatasnya alat transportasi laut menjadi salah satu kendala utamanya. "Akses pelayanan kesehatan masih sulit dilakukan, terutama di Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Natuna. Apalagi kalau sedang musim angin utara, tak ada kapal yang bisa berlayar ke pulau-pulau karena kapal pompong rawan terbalik terkena ombak," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tjetjep Yudiana, Kamis (30/6/2011). (kompas.com).

Demikian pula faktor keterbatasan ekonomi, sering pula dijumpai Pusat Kesehatan Desa (puskesdes) yang kekurangan tenaga medis bahkan tidak ada karena tenaga kesehatan ini berasal dari luar pulau, yang apabila mereka pergi ke kota akan memakan waktu berminggu-minggu sampai bisa kembali lagi ke pulau tempat bertugas. Merekapun hanyalah tenaga medis biasa bukan dokter, belum lagi alat kesehatan dan obat obatan yang terbatas sekali, sehingga sering mantri-mantri  dari luar yang datang memberikan pelayanan secara pribadi sambil membawa obatnya kemudian dibeli oleh pasiennya.

Fokus Kegiatan Operasional KDDC

Kapal Dakwah Dokter Care ini memang didesain agar mampu mengarungi samudera dan menjangkau pulau-pulau terpencil di Nusantara. Di dalamnya akan disiapkan kamar-kamar seperti Ruang Rawat, Ruang Operasi, Ruang UGD, dan Ruang Persalinan. Selain itu, kapal ini juga mampu memuat awak hingga 30 orang sehingga mampu melayani puluhan orang dalam waktu yang bersamaan.

Perbedaan Kapal Dakwah Dokter Care dengan klinik apung sederhana lainnya adalah, selain memberikan pelayanan kesehatan memadai dan profesional, KDDC menyajikan berbagai kegiatan pengembangan masyarakat ketika nanti beroperasi. KDDC akan dilengkapi dengan tim pengembangan dan pendampingan masyarakat, tujuannya untuk mengoptimasi akses kesehatan dan membina kader-kader di pulau terpencil tersebut. Harapannya, dengan kegiatan pengembangan masyarakat ini, kondisi kesehatan masyarakat bisa lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, selama memberikan pelayanan kesehatan, KDDC juga mendistribusikan Al-Qur’an dan melakukan pembinaan secara langsung, baik kepada masyarakat muslim setempat, maupun membuat kegiatan peningkatan kapasitas da’i lokal yang merupakan SDM utama untuk mempertahankan dan menguatkan aqidah masyarakatnya.

Proyek Wakaf Berpotensi Pahala Besar

Dengan besarnya visi dan misi dari Kapal Dakwah Dokter Care ini pastinya membawa manfaat yang besar untuk umat, khususnya saudara-saudara kita di pulau-pulau terpencil di Nusantara. Semakin besar manfaat yang diterima oleh mereka melalui Kapal Dakwah Dokter Care, niscaya potensi pahala yang akan diraih oleh para wakif dan donatur sekalian tentu semakin besar.

Bulan ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala. Sehingga ketika kita berwakaf di bulan ini, diniatkan untuk membangun Kapal Dakwah Dokter Care, pahala yang besar dan berlipat itu semakin nyata, insyaaAllah. Mari tunaikan wakaf untuk proyek Wakaf Khusus Kapal Dakwah Dokter Care dengan wakaf terbaik.

 

Dana yang Dibutuhkan:

Tahap #1 untuk Rancang Bangun & Pembuatan Lambung Kapal :

Rp. 6.500.000.000,- (Enam Milyar Lima Ratus Juta Rupiah)

Partner Lapangan:

Ustadz Arifudin Anwar

 

 

Kita Bantu Pelayanan Kesehatan Di Pulau Terpencil Dengan Kapal Klinik

Update #2: Bakti Sosial Kapal Dakwah Doctor Care (Tak Ada Dokter dan Puskesmas, Jika Sakit Masyarakat Pulau Tunda Hanya Bisa Pasrah)

(Baksos Badan Wakaf Al-Qur'an)

Seandainya ada warga Pulau Tunda yang hendak melahirkan lalu mengalami kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis secara cepat, maka saat itu pula bayangan kematian berkelebat di pelupuk mata. Ini bukan mengada-ada, tetapi memang begitulah kenyataanya. Pulau Tunda, yang berlokasi di Laut Jawa dan termasuk dalam wilayah adminitrasi Kabupaten Serang, Banten ini sangat minim fasilitas kesehatan. Tidak ada Puskemas di tempat ini, apalagi dokter. Satu-satunya tenaga kesehatan yang bertugas melayani warga hanyalah seorang bidan desa.

Bagi masyarakat Pulau Tunda, berobat adalah sebuah kemewahan. Jika jatuh sakit, biaya yang ditanggung sangatlah mahal. Paling tidak untuk bisa mendapatkan pengobatan dari seorang dokter, mereka harus menyiapkan uang minimal sekitar Rp1 juta. Uang itu sebagian digunakan untuk biaya transportasi laut menuju daratan Serang yang lumayan besar biayanya. Masyarakat yang umumnya hidup dengan keterbatasan, lebih memilih untuk berdiam diri saja di rumah, sambil berharap penyakit sembuh dengan sendirinya.

Kondisi masyarakat Pulau Tunda yang memprihatinkan ini mendorong Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) mengadakan kegiatan bakti sosial di sana. Pada tanggal 28 Februari 2020 siang BWA memberangkatkan Kapal Dakwah Doctor Care dari pelabuhan di Serang menunju Pulau Tunda guna mengadakan pengobatan gratis bagi masyarakat setempat. Kegiatan baksos ini dilaksanakan tanggal 29 Februari 2020 dari pagi hingga siang hari, dengan ditangani oleh lima orang tenaga kesehatan. Mereka adalah dr. Rudolf Nur Hidayat, dr. Hermawan, dr. Endah Kusumawati, Bidan Yuli Mardiasih, dan Drs. Med. Rudolf Noer Addien Binanda Putra. Dan, dibantu pula oleh para relawan BWA, salah seorang di antaranya H. Dinul.

Masyarakat Pulau Tunda menyambut kedatangan rombongan BWA dengan suka cita. Hadirnya Tim Dokter BWA ini benar-benar menjadi anugerah bagi mereka. Yang tadinya tidak terpikir untuk pergi berobat, menjadi antusias memeriksakan kesehatan. Warga beramai-ramai datang ke posko baksos membawa serta anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga lansia. Dr. Rudolf Nur Hidayat mengatakan baksos ini memang diperuntukkan bagi semua usia. Rata-rata masalah kesehatan yang dialami masyarakat adalah penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang muncul karena sel-sel tubuh mengalami penurunan fungsi seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Contohnya, penyakit hipertensi, diabetes, dan jantung.

Sebuah peristiwa haru terjadi. Ketika Tim Dokter tengah beristirahat usai melaksanakan baksos, seorang warga datang menghampiri. Dengan wajah pilu menceritakan kondisi kerabatnya yang sedang sakit keras. Ia meminta agar dokter berkenan datang ke rumahnya melihat kondisi kesehatan saudaranya itu. Dr. Herman diutus berangkat ke lokasi, dan mendapati seorang warga yang terbaring lemah. Saat itu sangat terasa betapa masyarakat Pulau Tunda sangat membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang permanen. “Seharusnya ada Puskesmas Pembantu di tempat ini. Pemerintah daerah harus memberikan perhatian terhadap masalah ini,” tutur dr. Herman.

Pulau Tunda bukan satu-satunya wilayah yang membutuhkan faslitas kesehatan. Tak jauh dari sana, ada pula Pulau Panjang yang bernasib sama. Karenanya usai menunaikan tugas di Pulau Tunda, pada tanggal 1 Maret 2020 Kapal Dakwah Doctor Care menyambangi Pulau Panjang ini untuk memberikan pengobatan gratis bagi warga setempat.

Rasa Haru, Senang, dan Cemas

Dari Pulau Panjang rombongan Tim Kesehatan BWA kembali ke Serang, melayari lautan dengan hati yang bercampur aduk. Rasa haru dan senang berbaur dengan cemas. Senang telah melakukan sesuatu yang berarti bagi masyarakat di Pulau Tunda dan Pulau Panjang. Cemas, karena Kapal Dakwah Doctor Care yang berukuran kecil ini melawan gelombang laut dengan keadaan yang kurang prima. Baling-baling kapal mengalami gangguan, sehingga lajunya tidak maksimal. Alhamdulillah, walau bergerak pelan akhirnya Kapal Dakwah Doctor Care berhasil berlabuh di darmaga Serang dengan keadaan yang aman dan selamat.

Suka duka dalam menjalankan misi kesehatan bersama Kapal Dakwah Doctor Care membuat Tim Dokter bersemangat untuk mengadakan baksos ke pulau-pulau yang membutuhkan. Dr. Rudolf Nur Hidayat mengungkapkan, “Masih banyak daerah-daerah di Indonesia ini yang membutuhkan fasilitas kesehatan. Kami akan kembali dan akan mengadakan kegiatan-kegiatan seperti ini, untuk membantu masyarakat di pulau-pulau yang tidak memiliki fasilitas kesehatan.”

Kegiatan baksos yang dilakukan BWA tidak terpaku pada pengobatan gratis saja, melainkan juga diiringi dengan kegiatan lain yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.  Seperti di Pulau Tunda, BWA juga memanfaatkan momen baksos untuk membangkitkan ghirah keislaman warga dengan mengadakan kegiatan pengajian pada tanggal 28 Februari 2020 malam, yang diikuti masyarakat sekitar. Kegiatan ini dipandu oleh Ustad Marsi dengan sajian materi yang menarik dan interaktif.

Ibaratnya, sekali merangkul dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali singgah ke suatu tempat, BWA berusaha memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi masyarakat. Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhoi upaya dan niat tulus ini.

Update #1: Kapal Dakwah Doctor Care - VISI DUNIA AKHIRAT

Pulau itu berada di sebelah tenggara Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Namanya Pulau Badi. Sekitar 80 penduduknya bermatapencarian sebagai nelayan. Laut merupakan sumber penghidupan mereka.

Beberapa tahun yang lalu, seorang penggiat di media sosial kompasiana mengabarkan kondisi masyarakat Pulau Badi yang memprihatinkan. Wilayah ini belum tersentuh pelayanan kesehatan yang memadai. Fasilitas yang dimiliki hanya berupa Puskesmas Pembantu, dengan tenaga kesehatan yang tidak selalu ada di tempat. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, warga Pulau Badi terpaksa harus menyeberangi laut ke Makassar selama 2 jam, atau ke Kota Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkep dengan waktu yang lebih lama, sekitar 2,5 jam. Mereka juga harus menyediakan uang yang banyak, karena biaya transportasi tidaklah murah. Paling tidak ratusan ribu harus ada di tangan.

Suatu ketika, banyak warga Pulau Badi yang jatuh sakit. Mereka tidak mendapatkan pengobatan lantaran waktu itu tidak ada petugas kesehatan disana. Hal buruk pun terjadi, beberapa orang warga akhirnya meninggal dunia. Pertolongan medis berdatangan ke Pulau Badi, setelah kabar ini tersiar ke publik.

Kejadian di Pulau Badi ini, mewakili gambaran keadaan pelayanan kesehatan di pulau-pulau terpencil di Indonesia. Betapa masih sangat banyak masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, namun sulit mendapatkannya karena keterbatasan akses yang dimiliki.

Keadaan ini menggugah Badan Wakaf Al Quran (BWA) untuk merancang proyek wakaf khusus Kapal Dakwah #4 yang diberi nama Kapal Dakwah Doctor Care. Melalui program ini, BWA dengan kapal khusus akan mendatangi pulau-pulau terpencil dan terluar untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara gratis. Untuk pelaksanaannya, BWA bekerja sama dengan Healthcare Professionals for Sharia (HELP-S), sebuah organisasi nirbala yang beranggotakan para praktisi kesehatan profesional.

Kerja sama antara BWA dan HELP-S ini telah diikat dalam sebuah kesepakatan yang resmi. CEO BWA, Heru Binawan  dan Ketua Umum HELP-S, dr. Fuad  telah menandatangani Letter of Intens (LoI) pada tangal 25 Juli 2017 di kantor BWA di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Momen spesial ini disaksikan oleh  M. Ichsan Salam (COO & COF BWA), Bhakti Aditya  (Project Development Head BWA), Ali Baharsyah (Project Implementation Head BWA), dan Virdy Vinora (Project Control Head BWA).

(Penandatangan Letter of Intens (LOI) oleh dr. Fuad dan CEO BWA

(Penandatangan Letter of Intens (LOI) oleh dr. Fuad dan CEO BWA Ustadz Heru Binawan)

Sekarang ini program Kapal Dakwah Doctor Care dalam fase persiapan. Kapal Dakwah Doctor Care rencananya akan dibuat di Bonerate, Sulawesi Selatan. Sementara  untuk finishing-nya akan dikerjakan di Semarang, Jawa Tengah. Kapal Dakwah Doctor Care membutuhkan desain yang khusus. Selain harus memenuhi standar kelayakan kapal yang disyarat oleh Kementerian Perhubungan, konstruksi dan desain kapal juga harus memenuhi kaedah rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Sebagai contoh, di dalam kapal terdapat ruangan-ruangan pelayanan kesehatan yang sesuai standar pelayanan di rumah sakit, lengkap dengan peralatan medis yang dibutuhkan.

Diperkirakan, pembuatan kapal akan memakan waktu sekitar satu tahun. Harapannya dock trial (uji coba kapal keluar dari galangan) bisa dilaksanakan akhir tahun 2020. Adapun sea trial (uji coba melaut) diharapkan terlaksana pada awal tahun 2021.

Ketua Umum HELP-S, dr. Fuad dalam acara penandatangan Letter of Inten menyampaikan apresiasinya terhadap kerja keras BWA menghadirkan program Kapal Dakwah Doctor Care sebagai upaya untuk memberikan pelayanan kesehatan di pulau terpencil dan terluar yang sangat membutuhkannya. “Kami berharap kapal ini bukan sekedar kapal yang membawa tenaga kesehatan saja, tetapi berharap kapal dakwah ini betul-betul dilengkapi dengan ruangan yang representatif untuk melakukan pelayanan kesehatan. Walau kecil, sederhana, tapi komplet,” ungkap Fuad.

Pada kesempatan yang sama CEO BWA, Heru Binawan mengungkapkan bahwa program Kapal Dakwah Doctor Care ini mengemban visi yang besar. “Ini bukan sekedar kapal yang akan mengangkut tenaga kesehatan yang memberikan kesehatan, tapi juga memiliki nilai dakwah. Ke depan, kapal ini bisa juga membawa Al Quran dan para dai.  Sehingga Kapal Dakwah Doctor Care ini memiliki visi dunia dan akhirat,” tutur Heru.

Sekalipun pelaksanaan kegiatan efektif proyek Wakaf Khusus Kapal Dakwah Doctor Care baru akan dimulai tahun 2021 mendatang, kerja sama BWA dan HELP-S dapat direalisasikan dari sekarang. HELP-S yang memiliki jejaring di seluruh wilayah Indonesia, menyatakan siap mendukung kegiatan-kegiatan BWA yang berkaitan dengan program-program kesehatan, seperti pengobatan masal dan pemeriksaan gigi gratis di berbagai daerah.

Bulan September mendatang, BWA dan HELP-S akan mengawali kegiatan pelayanan kesehatan dengan menggunakan Kapal Dakwah #3 di pulau Panjang, salah satu kepulauan yang ada di sebelah utara Provinsi Banten.

Semoga Allah subhanahu wata’ala meridhoi kerja sama ini dan tentu semakin meningkatkan semangat kita untuk berwakaf inovatif melalui BWA.

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 6.500.000.000



3.38%
Butuh Rp 6.280.144.000,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.