Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Kita Bantu Warga Sukoharjo Bantul Dari Krisis Air Bersih

Sudah puluhan tahun warga masyarakat Dusun Sukoharjo, Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul, Yogyakarta mengalami kekurangan air bersih. Air sebagai salah satu sumber kehidupan teramat langka di dusun ini. Kondisi geografis yang berbukit nan berbatu menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan air bersih di dusun dengan sekitar 75 KK ini.

(Warga Sukoharjo mengambil air dari sumur yang terletak di Dusun Dukuh yang berjarak sekitar 500 m dengan jalan yang terjal dan naik turun)

Kekeringan semakin parah saat musim kemarau tiba. Udara menjadi kering dan panas, pohon-pohon meranggas dan rerumputan kering kecoklatan. Sumber air mengecil, debit sungai berkurang drastis, dan sumur-sumur penampung air hujan hampir tidak terisi sama sekali. Satu-satunya harapan adalah sumber air yang terletak di Dusun Dukuh, dusun tetangga.

Sebenarnya, masyarakat Sukoharjo telah gotongroyong dan swadaya mengadakan pipanisasi serta membuat bak penampungan dusun berkapasitas 12 ribu liter. Namun jika kemarau datang debit air dari sumber mengecil dan mereka tidak mendapatkan jatah mengalirkan air secara penuh, bak air hanya boleh diisi malam hari dan debitnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga.

(Untuk mandi, cuci, dan kakus mereka harus melakukannya di Sungai yang cukup jauh dan berbahaya)

Berbekal jerigen berkapasitas 20-30 liter para warga rela menempuh jarak ratusan meter demi air bersih untuk keluarga mereka. Berjajar, menunggu giliran untuk menimba dan memenuhi jerigen menjadi pemandangan yang sangat lazim di musim kemarau. Medan berbukit khas daerah Bantul dan kondisi tanah nan terjal menambah berat keadaan, namun inilah kenyataan yang harus mereka hadapi.

Saat musim penghujan tiba, warga Dusun Sukoharjo bisa sedikit bernafas lega karena lingkungan tidak begitu kering. Namun persoalan air bersih tak pernah benar-benar hilang dari kehidupan mereka. Sebagian sumur penampung air hujan bahkan tetap tidak terisi. Sedangkan sebagian yang terisi, volumenya tidak pernah banyak dan konsisinya tetap keruh. “Bahkan masuk musim penghujan saat ini sumur yang digali oleh warga di dekat sungai pun tidak meningkat debitnya,“ ujar Didik Wahyu, tim survei Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA), Kamis (7/3/2019).

(Hampir setiap hari mereka mengambil air di Sumur ini, saat musim kemarau maupun musim hujan)

Mau tidak mau, untuk kebutuhan minum dan masak mereka tetap bergantung pada sumber air di Dusun Dukuh. Untuk kebutuhan lain seperti mencuci pakaian, mandi dan BAB, masyarakat memanfaatkan sungai yang terletak di perbatasan dusun. Walaupun sungai tersebut pernah menelan korban jiwa, namun kondisi memaksa masyarakat untuk tetap bercengkrama dengannya.

Bangkit Bersama

Sekitar 3-2 tahun yang lalu beberapa tokoh masyarakat Dusun Sukoharjo berinisiasi untuk bangkit bersama, mencari solusi permasalahan air yang selama ini menimpa mereka. Warga tetap berikhtiar bergotong-royong mencari sumber air, mereka membuat sumur dekat sungai dengan asumsi bila dibangun dekat sungai akan ada air (air resapan). Mereka membangun sumur dengan kedalaman  sekitar 9 m di tepi sungai, namun debitnya tetap kecil, hanya 0,1 liter/detik. “Masyarakat tetap menggunakan sumur ini walaupun debitnya kecil sebagai cadangan karena memang kami susah mendapatkan air,” kata Jumani, mitra lapang BWA. 

Sumur-sumur resapan air digali di sepanjang aliran sungai, bak penampungan air dibangun dengan iuran seadanya, saluran air mulai dibuat semampunya. Walau tak dapat menyelesaikan permasalahan air bersih secara keseluruhan, namun setidaknya usaha ini mampu membangkitkan asa mereka.

Kondisi seperti ini tak boleh kita biarkan terjadi berlarut-larut. Tim BWA bergegas melakukan survey dan melakukan tes geolistrik ke beberapa titik di dusun yang potensial terdapat akuifer (lapisan yang membawa air) didampingi warga masyarakat. “Alhamdulillah, setelah tes geolistrik akhirnya didapat titik yang potensial untuk dilakukan pengeboran air. Dari titik ini BWA akan membuat instalasi untuk wakaf sarana air bersih," ungkap Didik dengan senyum mengembang.

Rencana Program

Untuk mengurangi beban warga Sukoharjo, BWA pun berencana membangun sarana air bersih dalam tiga tahap. Pertama, membuat sumur bor sedalam 110 meter. Kedua, pipanisasi dari sumur bor ke bak penampungan warga. Ketiga, menambah volume bak penampungan warga dari 9000 Liter menjadi 12.000 Liter.

Mari sukseskan proyek Wakaf Sarana Air Bersih di Sukoharjo dengan berwakaf melalui program Water Action for People (WAfP). Semoga kita semua mendapatkan pahala jariah dari setiap tetes air yang mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari. Aamiin

 

Nilai Wakaf yang Diperlukan :

Rp. 1.358.000.000,-

Partner Lapangan BWA :

Pak Jumani

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.