Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Krisis Air Bersih; Jangan Biarkan Warga Sukorame, Bantul Bergantung Pada Air Sumur Rembesan Sungai

Krisis Air Bersih ; Jangan Biarkan Warga Sukorame Bergantung Pada Air Sumur Rembesan Sungai

Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) mendapat laporan dari BWA Cabang Yogyakarta bahwa beberapa daerah Kecamatan Dlingo masih mengalami krisis air bersih di musim kemarau. Tim survei BWA kemudian menindaklanjuti info tersebut dengan mendatangi Kantor Kecamatan Dlingo.

Didik bersama dengan Pak Suyatno mensurvei kondisi sumur resapan air sungai

“Setelah berkoordinasi dengan pemerintah di kecamatan, kami diarahkan ke Dusun Sukorame, Desa Mangunan. Keterangan dari Humas Kecamatan, bahwa setiap tahun Sukorame selalu kesulitan mendapatkan air bersih,” ujar Didik Wahyu, tim survei BWA, Kamis (7/3/2019).

Kedatangan BWA di Sukorame disambut Suyatno. Ia adalah tokoh masyarakat setempat yang selama ini mengkoordinir masyarakat untuk mendapatkan air bersih. Masyarakat selama ini sudah berjuang mendapatkan air bersih melalui menggali sumur dangkal di samping sungai (ini yang paling banyak dilakukan), menyedot dari sungai, membuat tadah hujan dan membeli dari dropping air oleh pemerintah daerah.

Kondisi pipa-pipa swadaya masyarakat yang menjadi satu-satunya media mengalirkan air ke tempat mereka

Usaha ini ketika musim kemarau dirasa sangat berat, karena sumur mengering, air dari sungai juga kering dan seringkali pasokan dari dropping air juga terlambat. Beberapa lokasi juga ditemukan kualitas air yang buruk (tidak layak konsumsi) karena kandungan unsur besinya masih tinggi, tetapi tetap terpaksa dikonsumsi karena warga tidak memiliki alternatif lagi.

Ada 270 KK di Dusun Sukorame yang membutuhkan air bersih, mereka membuat kelompok-kelompok kecil dengan tetangga (4-5 rumah), bekerja sama untuk menyedot air atau menggali sumur dangkal untuk berburu air bersih. Banyak sumur-sumur kecil di pinggir sungai yang digali oleh masyarakat. Mereka berharap ada rembesan dari sungai yang tertampung di sumur mereka.

Karena di lokasi tidak ada sumber air yang bisa stabil dimanfaatkan oleh warga, BWA melakukan tes geolistrik di lokasi. Hasil tes geolistrik didapatkan lapisan akuifer yang potensial untuk dilakukan pengeboran.

Dengan adanya titik akuifer ini maka BWA berencana mengadakan proyek wakaf sarana air bersih di Dusun Sukorame. Pertama, pengeboran di titik geolistrik sedalam 110 meter. Kedua, pipanisasi ke bak penampungan paling atas dusun sejauh 300 meter. Ketiga, pipanisasi menuju jaringan pipanisasi primer ke pemukiman warga sejauh total 4 Km.

(Pak Suyatno ketika menceritakan betapa mereka kekurangan air, apalagi di musim panas)

Untuk mengurangi beban warga Sukorame, BWA mengajak kaum Muslimin berwakaf melalui program Water Action for People (WAfP), sehingga mereka tidak kesulitan lagi mendapatkan air bersih. Semoga ibadah sunah wakaf ini berbuah pahala jariah yang tiada terputus hingga kiamat untuk bekal kehidupan di akhirat. Aamiin.[]

#2019SejutaQuran Bangkitkan Indonesia

Krisis Air Bersih; Jangan Biarkan Warga Sukorame, Bantul Bergantung Pada Air Sumur Rembesan Sungai

Update #2: Baik Di Musim Penghujan maupun Kemarau, Warga Sukorame Kesulitan Akses Air Bersih

Dusun Sukorame adalah salah satu dusun di wilayah Desa mangunan. Total ada 13 RT yang terdiri dari RT 17 hingga 24 dan RT 42 hingga 46 yang merupakan pemekaran. Sementara itu, kondisi geografis dusun sukorame terdiri dari daerah perbukitan dan persawahan. Perbedaan kondisi geografis ini menjadikan perbedaan solusi dalam mencari sumber air bagi kehidupan mereka. Warga di daerah perbukitan harus membuat sambungan pipa panjang menuju belik atau mata air kecil yang terletak didekat wilayah hutan pinus. Sementara warga di daerah persawahan harus mencari sumber mata air dengan cara menggali sumur resapan dipinggiran aliran sungai dan memompanya.

Pak Suyatno selaku partner lapangan BWA menuturkan, daerah Sukorame bagian atas mendapatkan air dengan mengandalkan belik dan bagian bawah mendapatkan air dengan menggali sumur resapan di sekitar daerah aliran sungai. Akan tetapi, meskipun mempunyai solusi dan sumber air yang berbeda, pada musim kemarau kedua daerah sama-sama mengalami kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.

(Sumber Air Rembesan di Samping Sungai yang Dimanfaatkan Warga)

(Sumber Air Rembesan di Samping Sungai yang Dimanfaatkan Warga)

Masalah lain yang dihadapi warga dusun sukorame adalah kondisi air pada musim penghujan. Pada musim penghujan, air yang didapatkan warga daerah atas bercampur dengan lumpur, hal itu terjadi karena pada musim penghujan, belik tempat sumber mata air terkena longsoran tanah akibat derasnya curah hujan di desa Mangunan pada musim penghujan. Sementara itu pada musim penghujan sekalipun, warga daerah bawah mendapatkan air dari sumur rembesan yang terkadang berbau seperti karat warga sendiri belum mengetahui penyebab bau karat yang tinggi tersebut karena belum pernah ada penelitian terkait hal tersebut di dusun Sukorame.

Melihat kondisi tersebut, beberapa warga berinisiatif untuk melakukan pengeboran mandiri dengan melakukan pengeboran sedalam 60 meter di area dekat tempat tinggalnya. Total ada 10 KK yang ikut serta dalam proyek mandiri ini. Biaya didapatkan warga dari meminjam uang di koperasi dan dibayar secara kredit perbulannya dibagi 10 KK. Berdasarkan info dari warga, 10 KK tersebut masing-masing harus ikut membayar kredit sebesar Rp 250.000,- /bulan. Berdasarkan informasi tersebut, tentu hal tersebut sangat berat jika ditanggung oleh keluarga dengan strata ekonomi menengah kebawah. Sementara, warga Dusun Sukorame didominasi oleh sebagian besar warga dari strata ekonomi menengah kebawah, apalagi ditengah pandemi ini banyak warga yang kehilangan mata pencahariannya.

Untuk itu, kami mengajak kepada para wakif untuk ikut membantu saudara kita di dusun Sukorame. Agar warga disana mampu mendapatkan air bersih yang layak tidak hanya dimusim kemarau tapi juga dimusim penghujan. Mari berwakaf di BWA!

Update #1: Sumur Bor, Harapan Besar Warga Sukorame

Berat benar perjuangan warga Dusun Sukorame, Kecamatan Dlingo, Yogyakarta untuk mendapatkan air bersih. Di daerah ini tidak ada sumber air yang stabil. Sehari-hari warga mengandalkan air resapan sungai, yang diperoleh dengan cara menggali sumur dangkal di samping sungai, kemudian mengalirkan airnya ke rumah-rumah warga. Alternatif lain yang selama ini dilakukan adalah menyedot air dari sungai, membuat bak tadah hujan, atau membeli air yang di-dropping oleh pemerintah daerah.

Di saat kemarau, sumber-sumber air ini tidak bisa diandalkan. Pada awal Oktober 2019, kondisi sumur resapan sungai mengering, karena air sungai sudah menyusut drastis. Sementara bak tadah hujan kosong lantaran hujan tak kunjung turun, dan dropping air dari pemda sering terlambat tiba. Untungnya, di saat-saat tertentu ada relawan dan donator yang mengirimkan mobil tangki air untuk mengisi bak-bak air miliki warga. Namun bantuan ini sifatnya sementara dan insidental, belum berupa solusi yang permanen.

(Warga Dusun Sukorame Mengalami Kesusahan Mengakses Air Bersih)

(Warga Dusun Sukorame Mengalami Kesusahan Mengakses Air Bersih)

Dusun Sukorame terdiri dari 277 Kepala Keluarga (KK). Untuk “berburu” air bersih, warga membentuk kelompok-kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 rumah. Ada pula satu kelompok air yang besar dengan anggota sekitar 40 rumah. Kelompok ini menamakan diri Paguyuban Sumbergiri yang diketuai Pak Suyatno, beliau sekaligus merupakan mitra lapangan BWA dalam proyek wakaf ini. 

Ketika sumber air yang ada tidak dapat diandalkan lagi, kelompok-kelompok warga berupaya mencari alternatif dengan membuat sumur-sumur baru di sepanjang pinggiran sungai. Kendati sebenarnya kualitas air sumur itu buruk, kandungan unsur besinya tinggi sehingga tidak layak konsumsi. Namun warga tidak punya pilihan lain, tetap menggunakan air tersebut untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari. 

Badan Wakaf Al’Quran (BWA) mendapat informasi tentang kondisi kekeringan di Dusun Sukorame ini, lalu mengirimkan tim untuk melakukan survei dan tes geolistrik di Sukorame. Hasilnya ditemukan lapisan akuifer yang potensial untuk dilakukan pengeboran. Adanya akuifer memberikan harapan besar bagi Dusun Sukorame untuk memiliki sumber air bersih yang layak dengan jumlah yang cukup bagi warga. Atas dasar penemuan titik akuifer ini BWA mengadakan proyek Wakaf Sarana Air Bersih atau Water Action for People (WAFP) di Dusun Sukorame.

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 1.720.000.000



26.56%
Butuh Rp 1.263.128.263,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Para Donatur