Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Produktif

Mari Bantu Nelayan Banten Agar Bisa Melaut Kembali

Mari Bantu Nelayan Banten Agar Bisa Melaut Kembali

BWA mengajak wakif untuk ikut Program Wakaf Produktif Jukung untuk para nelayan di Desa Tanjungjaya, Panimbang, Banten. Kondisi sudah sangat mendesak. Jangan sampai kalah cepat dengan rentenir.

(Jukung Banten BWA)

(Jukung Banten BWA)

Sudah lebih 8 bulan peristiwa tsunami Selat Sunda berlalu, namun dampaknya hingga sekarang masih dirasakan masyakarat di kawasan Tanjung Lesung, pesisir pantai barat Provinsi Banten, khususnya di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Peristiwa nahas yang terjadi tanggal 22 Desember 2018 itu meluluhlantakkan kehidupan masyarakat desa. Korban jiwa berjatuhan Rumah-rumah dan bangunan  serta harta benda lain hancur dihantam gelombang. Warga terpaksa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi dengan tidak membawa apa-apa.

Musibah tsunami membuat banyak warga Desa Tanjung Jaya kehilangan mata pencaharian. Warga setempat umumnya berprofesi sebagai nelayan. Namun sudah berbulan-bulan mereka tidak pergi melaut lantaran perahu milik mereka rusak bahkan hancur dihantam tsunami, sama sekali tidak bisa dipakai lagi untuk menangkap ikan. Padahal menangkap ikan merupakan sumber utama penghasilan keluarga.

Kondisi masyarakat setempat memprihatinkan. Hingga sekarang masih banyak warga yang untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan bantuan dari relawan dan donator, termasuk untuk memenuhi kebutuhan makanan. Kondisi ini lama kelamaan menjadi tidak “sehat” lagi. Ketika bantuan tiba, warga saling berebut untuk mendapatkannya. Sangat rawan terpecik konflik antarsesama warga.

Salah satu jalan untuk memulihkan kehidupan masyarakat Tanjungjaya seperti sedia kala adalah membantu para nelayan untuk memiliki kembali perahu atau jukung serta peralatan yang biasa mereka gunakan untuk menangkap ikan. Dengan begitu, para nelayan berpeluang menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, minimal bisa mencukupi keperluan makan, pakaian, dan tempat tinggal sehari-hari.

Kondisi Sudah Mendesak

Badan Wakaf Al Quran (BWA) melihat kebutuhan pengadaan perahu dan alat tangkap ini dalam kategori sangat mendesak. Selain adanya potensi konflik di antara sesama warga desa, sebagian nelayan melakukan jalan pintas. Mereka ingin selekasnya keluar dari kesulitan ini, lalu berusaha memiliki perahu baru dengan cara meminjam uang kepada bank atau rentenir. Cara yang mereka tempuh bukan solusi yang aman. Dibalik pinjaman itu ada bayang-bayang bunga yang mencekik dan bisa membawa malapetaka baru bagi yang melakoninya. Apalagi bila ternyata uang pinjaman tidak sepenuhnya digunakan untuk membuat perahu, tapi tergerus pula untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Akibatnya bisa berentet panjang. Hutang dan bunga pinjaman dari ke hari semakin menggunung, sementara pemasukan tidak kunjung ada karena perahu tidak bisa ditebus lantaran uangnya sudah habis terpakai untuk keperluan lain.

(Proses Pembuatan Kapal Jukung)

(Proses Pembuatan Kapal Jukung)

Karena itulah, BWA mengadakan Program Donasi Jukung dan Pemberdayaan Terpadu Bagi Nelayan Tanjung Lesung Banten. Mitra lapangan BWA, Agus Niamilah, SST memetakan Program Donasi Jukung dan Pemberdayaan Terpadu ini difokuskan untuk para nelayan di Kampung Kalicaah, Karangmeungpeuk, Sumberjaya, Cikujang yang berada di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Terpilih sebanyak 31 nelayan yang akan menjadi sasaran program. Mereka semua adalah nelayan kecil yang betul-betul membutuhkan bantuan pengadaan jukung.

Donasi yang diberikan nanti berupa jukung lengkap dengan peralatan penangkap ikan yang dibutuhkan, jadi bukan dalam bentuk uang. Jukung yang diberikan ada dua jenis, yang disesuaikan dengan kebutuhan nelayan yang menjadi sasaran program. Pertama disebut Jukung Ketingting, yaitu perahu kayu berukuran panjang 5-7 meter yang dilengkapi dengan motor penggerak berkekuatan  8-10 PK. Kedua dinamakan Jukung Dayung, merupakan perahu kayu dengan panjang sekitar 4-5 meter,yang digerakkan dengan peralatan dayung.

Jukung-jukung ini dibuat di sekitar wilayah Pandeglang juga. Di sana terdapat workshop pengrajin perahu. Kayu-kayu untuk bahan pembuatan jukung diperoleh dari hutan sekitar atau membelinya dari pemilik kebun. Untuk membuat satu perahu dibutuhkan waktu sekitar 1 minggu. Diperkirakan pembuatan 31 jukung untuk 31 nelayan memerlukan waktu sekitar 3 bulan. Para nelayan penerima bantuan jugan dilibatkan dalam pembuatan jukung ini.

(Jukung Sudah Digunakan Berlayar Para Nelayan dalam Project BWA Sebelumnya)

(Jukung Sudah Digunakan Berlayar Para Nelayan dalam Project BWA Sebelumnya)

Sebelumnya, pada bulan Februari hingga Mei 2019 BWA sudah pernah mengalokasikan bantuan Jukung Ketinting bagi 15 nelayan di Desa Tanjungjaya. Hasilnya sangat menggembirakan. Para nelayan penerima jukung sudah bisa melaut kembali, dan memiliki penghasilan. Program pengadaan 31 jukung ini diharapkan dapat pula memberikan solusi dan membawa kegembiraan bagi nelayan yang sudah terdata namanya.

Waktu terus berjalan, kebutuhan hadirnya jukung semakin mendesak. Mari bergerak bersama BWA membantu nelayan Tanjungjaya untuk bangkit kembali menghapus trauma tsunami dan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dari kondisi yang sekarang. Jangan sampai para nelayan Tanjungjaya terlalu lama menunggu datangnya donasi jukung, lalu menyerah pada permainan rentenir yang justru membawa diri dan keluarganya pada keadaan yang semakin sulit.

 

Donasi yang DIbutuhkan:

Rp.844.200.0000 (Delapan Ratus Empat Puluh Empat Juta Dua Ratus Ribu Rupiah)

Partner Lapangan:

Agus Niamillah

 

#WakafQuran #2019SejutaQuranBangkitkanIndonesia #WakafProduktif #Wakaf

Mari Bantu Nelayan Banten Agar Bisa Melaut Kembali

Update #6: Survei Calon Penerima Manfaat Jukung Banten

Pada kesempatan survei kali ini, tim BWA diwakilkan oleh partner lapangan menyempatkan untuk berkunjung ke desa Caringin, Kec Labuan, Kab Pandeglang. Lokasi tersebut merupakan salah satu lokasi yang terdampak tsunami pandeglang pada 2018 silam, ada beberapa nelayan penyintas yang pada kedatangan BWA beberapa tahun silam mengajukan kebutuhan perahu jukung kepada BWA.

Para nelayan pada saat dikunjungi berada di pinggir pantai selepas melaut, terlihat hasil tangkapan para nelayan dikumpulkan menjadi satu yang setelahnya akan dibagi secara merata. Hal ini dikarenakan para nelayan masih mengandalkan uluran tangan dari sesama nelayan yang masih mempunyai kapal jukung dan bisa diminta bantuan untuk ditumpangi agar bisa melaut bersama.

(Survei Calon Penerima Manfaat)

“Kami melihat hasil tangkapan dari para nelayan yang dibagi belum cukup untuk menghidupi keluarganya masing masing. Faktor yang paling mempengaruhi pendapatan adalah sarana yang belum terpenuhi yaitu perahu jukung yang bisa dikelola sendiri-sendiri. Maka dari itu para nelayan sangat mengharapkan bantuan uluran tangan para wakif yang ikhlas menyalurkan harta terbaiknya melalui program wakaf produktif agar para nelayan bisa melaut kembali menggunakan perahu jukung wakaf dari para wakif sekalian yang akan dirawat dan di jaga sendiri,” tutur Abi, penanggungjawab program WP BWA.

(Nelayan Desa Caringin)

Terdapat 4 nelayan yang sekiranya sangat membutuhkan bantuan kapal jukung untuk membantu mereka dapat melaut kembali menggunakan perahu jukung wakaf. Semoga para wakif yang telah menyalurkan harta terbaiknya untuk projek Wakaf Produktif Jukung Banten mendapatkan pahala yang terus mengalir dan semoga nelayan Pandeglang yang membutuhkan kapal jukung bisa mendapatkannya dan bisa mencukupi kebutuhan setiap harinya Aamiin.

 

 

Update #5: BWA didukung UKM RR Textile dan UKM Uwais Hijab Kembali Memberikan Perahu Jukung kepada Penyintas Tsunami Banten

Setelah tahun lalu, tepatnya pada bulan September 2021 BWA Inovasi Wakaf memberikan bantuan 8 perahu jukung kepada nelayan korban tsunami Banten, BWA Inovasi Wakaf kembali memberikan bantuan 3 kapal jukung untuk para nelayan korban tsunami Banten ini.

Untuk bantuan kali ini, BWA Inovasi Wakaf dengan Program Wakaf produktif menyerahkan 3 perahu jukung yang merupakan bantuan dari UKM RR Textile, UKM Uwais Hijab dan hasil Crowdfunding BWA. Acara serah terima dilaksanakan pada hari rabu, 19 Januari 2022 di Desa Tanjung jaya, Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang, Banten. Serah terima dilakukan oleh Agus Niam selaku Manajer Program BWA dan perwakilan dari UKM kepada Bapak Rozi (Perahu Jukung UKM Uwais Hijab), Bapak Endin (Perahu Jukung UKM RR Textile) dan Bapak Indang (Perahu Jukung kelompok Crowdfunding BWA).

(Jukung untuk Nelayan Banten)

Seperti yang kita ketahui, pada akhir 2018 telah terjadi bencana tsunami di pesisir pantai barat provinsi banten, khususnya di Desa Tanjung Jaya. Pasca bencana tsunami ini, banyak nelayan yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perekonomian di masyarakat mengalami kehancuran dikarenakan mereka tidak memiliki perahu jukung untuk melaut. Hal ini yang menjadi pertimbangan BWA Inovasi Wakaf untuk terus berupaya membantu memberikan bantuan perahu jukung kepada para nelayan korban tsunami Banten ini.

(Pemanfaat Jukung oleh Para Nelayan)

(Pemanfaatan Jukung oleh Para Nelayan)

“Total sudah 11 perahu jukung diserahkan kepada nelayan dari 31 perahu jukung yang dibutuhkan untuk para korban tsunami Banten ini.  Semoga dengan tambahan bantuan 3 perahu jukung ini, para nelayan di Desa Tanjung Jaya ini bisa kembali melaut dan bisa kembali meningkatkan kesejahteraannya,” tutur Agus Niam.

Pada kesempatan yang sama, Bapak Indang, salah satu penerima manfaat wakaf produktif perahu jukung ini mengucapkan sangat berterima kasih kepada para wakif atas adanya bantuan wakaf perahu jukung yang disalurkan melalui BWA, untuk warga desa tanjung jaya kami sangat terbantu.

(Serah Terima Jukung Nelayan)

(Serah Terima Jukung Nelayan)

“BWA melalui program wakaf produktif masih membutuhkan 20 perahu jukung untuk nelayan di desa Tanjung Jaya ini agar seluruh nelayan korban tsunami ini bisa kembali bekerja mencari rezeki untuk kesejahteraan keluarganya, mari bantu mereka dengan berwakaf di program wakaf produktif BWA. Semoga apa yang kita wakafkan, Allah balas dengan pahala yang berlipatganda, aamiin,” tutup Agus. 

 

Update #4: Pembentukan Kelompok Nelayan dan Pemanfaatan Jukung Wakaf

Pada hari kamis tanggal 9 Desember 2021 tim BWA berangkat menuju desa Tanjung Jaya Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Banten guna melakukan monitoring berkala tentang program wakaf produktif jukung dan berkoordinasi dengan partner lapangan setelah diresmikannya bantuan dari JASINDO yang sudah diserahkan kepada para pemetik manfaat berjumlah 8 nelayan.

Setibanya di lokasi tujuan, tim BWA melakukan pertemuan bersama nelayan (pemetik manfaat) yang bertujuan untuk melakukan pembinaan terkait pemanfaatan jukung wakaf produktif. Partner lapangan membantu tim BWA untuk berkoordinasi bersama para nelayan (pemetik manfaat) guna mengumpulkan data kegiatan pemanfaatan jukung dan kendala yang dialami oleh para nelayan selama melaut menggunakan jukung tersebut.

(Pertemuan dengan Para Nelayan)

(Pertemuan dengan Para Nelayan)

“Alhamdulillah jukung wakaf dari para wakif sekalian sudah dimanfaatkan oleh para nelayan. Jukung ini sangat bermanfaat dan dapat membantu nelayan yang sebelumnya tidak dapat melaut diakibatkan musibah tsunami di Tanjung Jaya, Pandeglang Banten pada 2018 silam,” tutur Abi penanggungjawab program WP BWA.

Pada pertemuan ini juga membicarakan tentang pembentukan kelompok nelayan (pemetik manfaat). Pembentukan kelompok bertujuan untuk mempererat kerjasama dan ukhuwah antara pemetik manfaat.

“Kami membentuk kelompok nelayan pemetik manfaat. Tim BWA menjadi jembatan terbentuknya kelompok nelayan yang sebelumnya memang belum ada. Pada pertemuan ini juga terbentuk kelompok sementara dan telah ditentukannya struktur kelompok nelayan yang diketahui oleh tim BWA yang proses legalitasnya akan dibantu secara bertahap oleh BWA,” lanjut Abi.

Pemanfaatan Jukung oleh Nelayan

Keesokan harinya, tim BWA ikut melaut bersama para nelayan untuk merasakan secara langsung  tantangan dan kendala-kendala yang dirasakan oleh para nelayan pada saat mencari nafkah.

(Pemanfaatan Jukung oleh Nelayan)

(Pemanfaatan Jukung oleh Nelayan)

“Paling cuaca sih pak, yang sangat berpengaruh sama tangkapan ikan. Biasa cuaca buruk itu bulan oktober sampai bulan januari yang mana masih musim penghujan,”  cerita salah satu nelayan kepada tim BWA.

Tim BWA juga melakukan survei jukung kelompok yang masih dalam proses pembuatan dan perbaikan. Ada 3 jukung tambahan dimana salah satunya adalah jukung dengan kapasitas besar yang diperuntukkan untuk kelompok ke depannya.

(Jukung Besar untuk Kelompok)

(Jukung Besar untuk Kelompok)

“Untuk jukung kelompok sudah mencapai 85% perbaikan dan 2 jukung kecil 80% perbaikan. Kebutuhan yang masih diperlukan untuk finishing jukung kelompok adalah pengecatan badan depan, pemasangan tenda, dan pemasangan dua mesin pada tempat yang telah disediakan sedangkan jukung kecil tinggal finishing pemasangan saja dan siap pakai,” tutur Kak Sudin partner lapangan BWA.

(Jukung-jukung Kecil)

(Jukung-jukung Kecil)

Realisasi delapan jukung wakaf telah membantu pemetik manfaat di Tanjung Lesung Banten. Sampai pada bulan ini sudah ada tambahan tiga jukung yang kemungkinan akan diresmikan beberapa bulan ke depan. Dari 31 kebutuhan jukung yang dibutuhkan oleh pemetik manfaat masih kurang 20 Jukung lagi untuk memenuhi kebutuhan para nelayan. Mari bersama bantu para nelayan di Tanjung Lesung untuk bisa kembali melaut, semoga harta yang kita wakafkan membawa kebaikan untuk semua dan dibalas dengan pahala yang tiada terputusnya hingga hari akhir, aamiin.

Update #3: Asuransi Jasindo Bantu Nelayan Tanjung Jaya Banten

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG -- Pada tanggal 22 Desember 2018, terjadi peristiwa tsunami di kawasan Tanjung Lesung, pesisir pantai barat Provinsi Banten, khususnya di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang.

Peristiwa itu menyebabkan hancurnya  kehidupan perekonomian masyarakat desa Tanjung Jaya. Masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan banyak yang kehilangan perahu jukung yang selama ini menjadi alat pergi ke laut untuk menangkap ikan. Sebanyak 31 nelayan tidak dapat melaut kembali sebagai dikarenakan perahu mereka rusak hancur dihantam kerasnya tsunami.

(BWA dan Asuransi Jasindo Resmikan 8 Unit Jukung)

Asuransi Jasindo sebagai salah satu BUMN yang selalu konsisten dalam membantu perkembangan masyarakat khususnya dalam hal meningkatkan kesejahteraan hidup, berusaha membantu kesulitan yang dialami oleh 31 nelayan Tanjung Jaya ini. Oleh karenanya, Asuransi Jasindo kali ini memberikan bantuan berupa delapan  unit perahu jukung berikut alat tangkap ikan berupa alat pancing, jaring dan mesin ketinting dari total target 31 unit perahu Jukung yang akan diberikan kepada para nelayan di Desa Tanjung Jaya.

(Penyerahan Jukung kepada Nelayan Tanjung Lesung)

(Penyerahan Simbolis Jukung kepada Nelayan Tanjung Lesung)

Group Head Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Cahyo Adi mengatakan, pasca musibah tsunami di Desa Tanjung Jaya ini, perekonomian warga yang sebagian besar adalah nelayan mengalami kehancuran dikarenakan mereka tidak memiliki lagi perahu jukung untuk melaut. Hal ini yang menjadi pertimbangan Asuransi Jasindo untuk memilih membantu para nelayan di sini dengan memberikan bantuan berupa delapan  perahu jukung dan alat menangkap ikan.

“Semoga dengan bantuan ini, para nelayan di desa Tanjung Jawa ini bisa kembali melaut dan bisa kembali meningkat kesejahteraannya,” kata  Cahyo Adi pada acara serah terima delapan perahu jukung untuk nelayan di Desa Tanjung Jaya, Pandeglang, Rabu (15/9).

Ia menambahkan,  bersinergi dengan Badan Wakaf Alquran (BWA) yang dikenal dengan inovasi wakafnya dan memiliki program wakaf produktif, Asuransi Jasindo terus berusaha untuk mencapai target yaitu menyediakan 31 perahu jukung untuk para nelayan korban tsunami di desa Tanjung Jaya. Hal itu penting  agar para nelayan bisa mencukupi kehidupan sehari-hari sehingga bergairah kembali perekonomian masyarakat nelayan di sini.

“Untuk tahap awal ini sudah diberikan bantuan delapan perahu jukung dan alat tangkap ikan untuk delapan  nelayan di Tanjung Jaya, Banten ini,” tuturnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Penggunaan sarana delapan  perahu jukung  ini akan dikelola oleh BWA   sebagai lembaga filantrophy Islam yang bergerak di bidang sosial. BWA   bertindak sebagai pengawas dan pembina para nelayan penerima manfaat dari wakaf produktif perahu jukung ini.

“BWA telah membuktikan sebagai inovasi wakaf, bersinergi dengan Asuransi Jasindo melalui  program wakaf produktif perahu jukung ini,” kata  Chief Finance Officer BWA, Ustadz Ichsan Salam.

Ia menambahkan, bantuan delapan  perahu jukung dari Asuransi Jasindo juga diharapkan mendukung pengembangan dakwah Islam di desa Tanjung Jaya bersama para dai setempat.

PPS Head of CSR & PKBL, Niniek Mumpuni SR  mengatakan,Asuransi Jasindo sangat peduli dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Pada tahun 2020 Asuransi Jasindo telah menyalurkan bantuan CSR PKBL sebesar Rp 20,5 miliar. “Bantuan tersebut hampir sebagian besar ditujukan untuk para petani, nelayan dan peternak dengan luas sebaran seluruh Indonesia,” ungkap Niniek.

 

Sumber:

https://republika.co.id/berita/qzj66g374/asuransi-jasindo-bantu-nelayan-tanjung-jaya-banten

Update #2: Delapan Jukung akan Segera Diproduksi

14 Februari 2021, tim BWA kembali mengunjungi lokasi project wakaf perahu jukung di pesisir Barat Pandeglang, tepatnya di desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, untuk mempersiapkan pengadaan 8 unit Jukung hasil kerjasama dengan CSR PT. Jasindo. 

Di lokasi yang lebih dikenal dengan sebutan Tanjung Lesung, merujuk pada nama Pantainya yang terkenal indah dengan hamparan pasir putihnya ini tim BWA dibantu partner lapangan setempat memulai melakukan pemesanan-pemesanan bahan-bahan material untuk pembuatan 8 unit perahu jukung seperti papan kayu, paku, cat, lem, dan lain-lain.

(Belanja Kebutuhan Produksi Jukung)

Partner lapangan BWA di Tanjung Lesung, Bapak Sudin, yang juga merupakan anggota Badan Perwakilan Desa (BPD), selain amanah juga cukup cekatan dan memiliki jejaring yang luas untuk suksesnya pengadaan perahu jukung ini. Tim BWA pun berkesempatan mendampingi beliau berkunjung ke beberapa penyedia bahan untuk melakukan pemilihan dan pemasanan bahan sehingga bisa dipastikan bahan yang digunakan adalah bahan terbaik. Setelah melakukan pemesanan Tim BWA dan partner lapang berdiskusi untuk merencanakan proses produksi. 

(Bersama Partner Lapangan BWA)

Rencana produksi akan dilakukan di workshop nelayan yang ada di desa Tanjungjaya tersebut dan dipusatkan cukup di satu workshop saja dengan penambahan pengrajin terampil, sehingga memudahkan monitoring pekerjaan dan diharapkan bisa selesai sesuai dengan yang direncanakan, yakni dalam jangka waktu dua bulan ke depan.

Untuk itu, kami mohon doa dan dukungan dari para wakif dan donatur sekalian sehingga proses pengadaan 8 unit perahu Jukung untuk nelayan penyintas bencana tsunami Selat Sunda - Pandeglang dapat berjalan lancar sesuai dengan yang kita harapkan bersama.

Masih diperlukan 22 unit perahu Jukung dari total 30 unit yang dibutuhkan. Jangan sampai para nelayan menunggu lebih lama lagi untuk bisa melaut dan memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Update #1: Hampir 2 Tahun Pasca Tsunami, Nelayan Pandelang Masih Belum Memiliki Alat Tangkap Yang Layak

Dulu pas belum tsunami juga saya pinjam Jukung punya saudara buat turun ke laut. Waktu ada tsunami, Jukung saudara hancur, kepaksa saya minjam uang biar kebikin Jukung Sampan kecil aja seadanya pakai kayu yang murah-murah. Itu juga sekarang udah rusak, sering kebentur karang.” keluh Asim, salah seorang nelayan warga Kampung Bodur, Desa Tanjungjaya, Panimbang, Pandeglang.

Tak bisa dipungkiri bahwa jukung dan jaring merupakan sarana sangat penting bahkan satu-satunya prasyarat bagi nelayan untuk bisa melaut mendapatkan tangkapan ikan. Namun, karena tak memiliki cukup modal, mereka terpaksa berhutang untuk bisa memiliki jukung dan jaring. Tak jarang hutangnya juga terpakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena dibuat dengan modal seadanya, maka jukung dan jaring yang ia miliki pun cepat rusak.

Cerita Asim di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak nelayan Pandeglang yang masih mengalami kesulitan untuk bisa melaut karena ketiadaan jukung dan jaring pasca tsunami 2 tahun silam. Tidak sedikit nelayan yang beralih menjadi buruh tani, kuli serabutan, berjualan makanan dan minuman ringan di tepi pantai hingga merantau ke luar pulau untuk menghidupi keluarganya dan agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah.

Karena itu, mari dukung para nelayan kita untuk mendapatkan penghidupan yang layak melalui wakaf sarana tangkap berupa jukung dan jaring sehingga mereka bisa kembali melaut lagi, mendapatkan hasil tangkap ikan lagi, dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan layak serta mampu memberikan pendidikan yang layak bagi putra-putri mereka.

(Bantuan Wakaf Jukung Project Sebelumnya)

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.