Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Mengentaskan Krisis Air Bersih Puluhan Tahun Di Tolo Nggeru, NTB

Mengentaskan Krisis Air Bersih Puluhan Tahun di Tolonggeru

Persoalan pengadaan air bersih di Dusun Tolonggeru, Desa Monggo, Kec. Mada Pangga, Kab. Bima, NTB sudah muncul sejak puluhan tahun lalu. Sekitar tahun 1979, sebuah program dari lembaga nirlaba bernama CARE membantu membuatkan fasilitas air bersih untuk masyarakat Tolonggeru. Mereka  memasang pipa utama untuk mengalirkan air dari sumber air Parigi yang berlokasi di atas Gunung Donggo Mboha. Air ini mulanya dialirkan ke bak induk di kaki gunung. Kemudian dari bak induk ini dialirkan air dengan debit 2,4 liter/detik melalui pipa-pipa, hingga masuk ke bak-bak penampung air yang tersebar di beberapa lokasi di Dusun Tolonggeru. Dari bak-bak penampung inilah warga mengambil air bersih untuk keperluan sehari-hari.

(Penampakan salah satu bak penampung air yang sudah lama tak digunakan)

Hingga Agustus 2019, masyarakat Dusun Tolonggeru masih mengandalkan fasilitas air bersih ini yang dibangun 40 tahun lalu padahal kondisinya sudah tidak seperti dulu lagi. Kini sangat memprihatinkan, banyak bagian bak penampung yang rusak. Begitu pula dengan pipa utama, beberapa bagian mengalami kebocoran, sehingga debit air yang sampai ke Dusun Tolonggeru sangat kecil. Namun warga tidak punya pilihan lain. Mereka tetap mengantri mengambil air di bak penampungan umum tersebut dengan jerigen untuk dibawa ke rumah masing-masing.

Sekarang ini persoalan air bersih semakin genting di Tolonggeru karena masyarakatnya semakin berkembang. Dulu fasilitas air bersih ini dibangun dengan kondisi jumlah penduduk dusun hanya 40 KK. Sedangkan sekarang jumlah penduduk Dusun Tolonggeru meningkat hampir sepuluh kali lipat, yakni 327 KK atau 1.488 jiwa. Memang di Tolonggeru terdapat sungai yang dapat digunakan untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus), tetapi tidak bisa diandalkan sebagai sumber air bersih.

(Pesantren Umar Bin Abdul Azis yang lama tutup karena tak ada air)

Masyarakat di Tolonggeru sangat heterogen, mayoritas penduduknya beragama Katolik (60 persen), sedangkan penduduk beragama Islam sekitar 40 persen. Mereka hidup berdampingan dengan damai. Selain bangunan gereja, di Tolonggeru juga terdapat masjid. Di daerah ini ada pondok pesantren yang sudah berdiri lama bernama Pesantren Umar bin Abdul Azis. Awalnya santri pesantren ini cukup banyak. Namun karena kekurangan dan kesulitan air bersih, seiring berjalannya waktu, satu persatu santri meninggalkan pesantren ini. Hingga akhirnya kini  santrinya tinggal sedikit. Bangunan-bangunan pesantren tampak mulai rusak karena kosong dan tidak terpakai.

(H. Nurdin Ibrahim, Pengasuh Pesantren Umar Bin Abdul Azis sedang menunjukan kamar mandi yang sudah lama tak dipakai karena tak ada air)

Tolonggeru pernah pula mendapatkan bantuan sarana air bersih dari Pemerintah pusat melalui Program PAMSIMAS yang digagas oleh Ditjen Cipta Karya Kementrian PU. Bantuan yang diberikan pada awal tahun 2018 itu berupa pembuatan jaringan air bersih dari sumber air hingga ke rumah warga. Tapi sayangnya, hanya sedikit warga saja yang menikmati fasilitas bantuan ini. Menurut warga setempat jika ingin menikmati fasilitas air dari bantuan PANSIMAS harus membayar jasa pemasangan jaringan sebesar Rp300.000-400.000 belum ditambah dengan tagihan bulanan yang dirasa sangat berat bagi warga, sehingga hanya segelintir keluarga saja yang mampu membayarnya.

 

Rencana Proyek BWA

Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) tergerak membantu warga Dusun Tolonggeru agar bisa menikmati air bersih secara memadai dan merata di rumah masing-masing. Untuk itu, BWA telah merancang program wakaf pengadaan sarana air bersih atau program Water Action for People (WAFP) bagi masyarakat Tolonggeru. Program ini ditujukan untuk membangun jaringan distribusi air bersih di dusun Tolonggeru hingga sampai ke setiap rumah warga. Prinsipnya, BWA akan membuatkan pipanisasi yang baru, dan juga memperbaiki jaringan pipa air bersih yang sudah ada.

Secara umum pekerjaan yang akan dilaksanakan BWA meliputi:

  1. Memodifikasi bak penampung di sumber air Parigi yang berlokasi di kaki Gunung Donggo Mboha bagian timur, agar debit air meningkat dari yang sekarang 2,4 liter/detik menjadi 3 liter/detik.
  2. Memperbaiki pipa galvanis jalur utama yang bocor termakan usia dengan pipa galvanis  (0.5 inchi, 1.5 inchi, dan 2 inchi) sepanjang kurang lebih 150 meter.
  3. Memasang jaringan pipa distribusi air di pemukiman warga dengan menggunakan sistem looping dengan pipa HDPE (berdiameter  1 inchi, 1.5 inchi, dan 2 inchi). Kurang lebih total panjang keseluruhan mencapai 4.500 meter.
  4. Membuat bak induk yang baru berkapasitas 15 meter kubik, berikut instalasi pipa dan stop kran di bak.
  5. Membongkar dan memperbaiki bak di jalur induk ukuran 1x1 meter kubik sebanyak 2 unit,  yang akan digunakan untuk keperluan warga di ladang.
  6. Memasang instalasi jaringan pipa PVC ke setiap rumah, yang berjumlah sekitar kurang lebih 327 rumah.

 

BWA bertekad program WAFP ini benar-benar menghadirkan solusi air bersih yang manfaatnya dapat dirasakan oleh segenap warga Dusun Tolonggeru, tanpa terkecuali. Dukungan para donator sangat berarti untuk menyukseskan program ini. Semoga Allah Subhanatuwata’aala memudahkan dan meridhoi langkah dan niat baik ini, dan menjadikan bantuan dari para donator sebagai amal jariah yang pahalanya terus mengalir sepanjang masa.

 

Donasi Wakaf Yang Dibutuhkan

Rp 1.837.900.000

Partner Lapang

Muhtar Hamid

Mengentaskan Krisis Air Bersih Puluhan Tahun Di Tolo Nggeru, NTB

Update #1: Desa Tolonggeru Masuk Masa Sulit Air

“Masa sulit air di Tolonggeru biasanya dimulai awal Mei hingga akhir Desember, itu berulang setiap tahun”, Kata Pak Syarif yang merupakan warga Tolonggeru.

Setiap musim kemarau warga sangat sulit mendapatkan air bersih untuk memenuhi hajat hidup mereka. Banyak sekali aktivitas masyarakat yang terhambat karena sulitnya air bersih. Dalam bidang pendidikan misalnya, anak-anak SD Tolonggeru harus membawa air bersih 1 liter dimasukan dalam botol air mineral untuk ditampung di bak penampungan air milik sekolah. Air ini mereka gunakan untuk MCK di sekolah jika stok air di sekolah sudah habis. Untuk tempat ibadah seperti masjid, takmir masjid membeli air dari mobil tangki yang berasal dari luar desa, karena sangat tidak memungkinkan memenuhi kebutuhan jamaah jika hanya mengandalkan ketersediaan air di Tolonggeru.

(Masjid di Tolonggeru Terpaksa Membeli Air dari Mobil Tangki)

(Masjid di Tolonggeru Terpaksa Membeli Air dari Mobil Tangki)

Selama ini sudah ada upaya bantuan dari PAMSIMAS untuk mengatasi krisis air, namun bantuan tersebut dirasa kurang maksimal. Seringkali jaringan air mati atau aliran air menyusut sangat kecil sehingga warga yang berlangganan akhirnya memutus langganan karena merasa rugi atas biaya yang dikeluarkan. Kondisi ini mempengaruhi masyarakat lain untuk tidak menggunakan jasa PAMSIMAS  untuk menyuplai air bersih. Mayoritas masyarakat terpaksa memanfaatkan sarana air yang dibangun dari bantuan program Care yang saat ini kondisinya sudah tidak berfungsi secara normal. Mereka antri untuk mengambil air di bak penampungan hingga ber jam-jam.

Dengan kondisi pandemi Corona saat ini di Bima memang terdapat beberapa kasus positif, namun di Tolonggeru tidak ditemukan kasus tersebut. Warga berharap kasus Corona di Bima tidak melonjak karena masalah dengan air saja mereka sudah kelabakan, apalagi ditambah dengan adanya wabah.

Sebagaimana rencana awal, BWA akan memanfaatkan sumber air di Tolonggeru (Sumber Parigi) di dekat kaki Gunung Donggo Mboha yang menyimpan banyak air. Sumber ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan amal wakaf dari para wakif sekalian. Semoga menjadi pahala jariyah yang menolong kita di akhirat.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.