Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Mengikis Sajen di Pangandaran dan Sajian Haram di Nusa Kambangan

BWA-WAP. Andai tidak ada dai yang silih berganti berdakwah ke pegunungan Pangandaran, Jawa Barat,  budaya memberi sesajen kepada karuhun (arwah nenek moyang) pastilah semakin marak. Andai tidak ada dai yang berulangkali menyadarkan warga pesisir pantai Nusakambangan mestilah kebiasaan makan babi terus menjadi tradisi.

Pangandaran

Sudah dua puluh tahun Ustadz Anwar Hidayat (50 tahun) terus berupaya menyadarkan warga Pangandaran khususnya di  kecamatan Parigi, Cigugur, Sidamulih dan Padaherang. Walhasil, perlahan tapi pasti asap kemenyan dan sesajen yang biasanya ‘dihidangkan’  hampir oleh seluruh warga kini mulai langka ditemui.

Ketika warga sadar dan merasa butuh pembinaan secara rutin, Ustadz Anwar kewalahan. Untung saja, sejak dua tahun lalu muncul tiga dai muda yang bersedia membantunya. Mereka adalah Ustadz Ridwan (40 tahun) dari Boyolali dan dua warga asli Pangandaran yakni Ustadz Mumu Mulya Utama (34 tahun) dan Ustadz Abbas Abu Umar (32 tahun). Agar dakwah lebih terkoordinasi, tim dakwah Pangandaran tersebut pun mendaulat Ustadz Mumu ---yang alumnus Ponpes Miftahul Huda Cicau, Langkaplancar, Pangandaran--- sebagai ketuanya.   

Kepada tim survei Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) Ustadz Mumu menyampaikan masalah yang dihadapi tim dakwahnya. “Kami sangat sulit untuk mendapatkan Al-Qur’an. Warga harus ke kota untuk mendapatkannya itu pun tidak mudah karena jalannya sangat rusak,” ungkapnya.

 

Nusakambangan

Ketelatenan dalam berdakwah ditunjukkan pula oleh Ustadz Ipo (60 tahun). Sejak tahun 1990-an ia berdakwah di Kecamatan Kampung Laut, Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Menurutnya, saat ia mulai berdakwah banyak sekali babi ditemukan  dan dikomsumsi warga dan para pemudanya suka mabuk. Namun berkat ketelatenan dakwah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan tersebut, babi tidak ditemui lagi yang mabuk pun sudah sangat langka. Bahkan dari 30 KK Kristen dan Budha  tinggal beberapa saja yang belum masuk Islam.  

Kepada tim survei BWA, Ustadz Ipo menyampaikan curahan hatinya. “Kami membutuhkan Al-Qur’an terutama yang terjemah, karena agar memudahkan anak-anak dalam melihat artinya langsung setelah saya membaca ayatnya, selain itu juga Iqra sangat diperlukan,” ujarnya, Rabu (19/9) di lembaga pendidikan yang didirikannya, Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Miftahul Huda di Desa Klaces, Kampung Laut.

Pasalnya, “untuk mendapatkan Al-Qur’an, kami harus ke kota dan mengusulkan ke Kemenag, biasanya dapat 5 atau 10 eksemplar, padahal kebutuhan kami cukup banyak,” keluhnya.

Melalui project Al-Qur’an Roadtrip Pangandaran-Nusakambangan, BWA berencana mendistribusikan 2.000 Al-Qur’an wakaf pada Desember 2015. Dengan target, pendistribusian ke daerah binaan Ustadz Mumu dan tim dan sisanya di masjid, mushala, TPA binaan Ustadz Ipo di Desa Klaces, Desa Ujung Gagak, Desa Ujung Alang Kecamatan Kampung Laut. Serta beberapa kampung di pesisir pantai Cilacap.

Ayo sukseskan project ini dengan memastikan Al-Qur’an dari Anda-lah yang diwakafkan. Sehinga Anda terus memperoleh pahala dari setiap huruf yang dibaca mereka bahkan dari setiap ayat Al-Qur’an yang mereka amalkan.[]

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan: 

Rp 200.000.000,- (2.000 Al-Qur’an, @Rp 100 ribu)

Mitra Lapang:

Ustadz Mumu Mulya Utama (Pangandaran)

Ustadz Imo (Nusakambangan)

Mengikis Sajen di Pangandaran dan Sajian Haram di Nusa Kambangan

Al Qur'an Road Trip ke Kampung Laut | Nusakambangan dan ke Pangandaran

Ke Kampung Laut – Nusakambangan, Jawa Tengah

BWA - Wakaf Al Qur'an dan Pembinaan. Pada 22-23 maret 2016, tim Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) mengirimkan Al Qur’an di wilayah Pangandaran dan Nusakambangan sebanyak 300 eksemplar sebagai distribusi perdana ke pulau-pulau terpencil di sekitar Nusakambangan. Antusiasme warga menyambut kedatangan Wakaf Al Qur’an ini tampak pada saat mereka menyambut kadatangan tim BWA di dermaga. Anak-anak yang paling mendominasi acara serah terima wakaf Al Qur’an ini, khususnya di desa Ujung Alang - Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap.

WAP Nusakambangan 1

Penyerahan Wakaf Al Qur'an kepada Ust. Arifin di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Nusakambangan - Cilacap.

Keberadaan Al Qur’an sangat mereka butuhkan mengingat wilayah mereka yang jauh dari pusat kota, “daerah kami terisolasi dari daerah lain karena akses menuju desa kami hanya melalui air”, ujar Kyai Imuh yang sudah berdakwah sejak 1992 di desa Klaces Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap. Anak-anak sangat semangat belajar Al Qur’an walau mereka sudah SMP atau SMA tidak menghalangi mereka belajar Al Qur’an.

Kondisi serupa juga disampaikan oleh Ustadz Arifin, da’i dari AMCF yang sejak 2012 bertugas di desa Ujung Alang merasakan bahwa masyarakat Ujung Alang sangat membutuhkan pendidikan agama, terutama generasi mudanya yakni anak-anak. Setiap sore beliau mengajar anak-anak belajar Al Qur’an  sampai waktu menjelang Magrib. “Mereka biasanya belajar Al Qur’an bergantian maju kedepan karena jumlah Al Qur’an terbatas sehingga mereka maju satu persatu untuk belajar membaca Al Qur’an”, ujar Ustadz Arifin. Dengan bantuan wakaf Al Qur’an  yang di distribusikan oleh badan wakaf Al Qur’an pastinya membuat anak-anak senang dan tambah semnagat belajar Al Qur’an.

WAP Nusakambangan 2

Penyerahan Wakaf Al Qur'an kepada ust. Imu di Desa Klaces, Kampung Laut, Nusakambangan - Cilacap.

Saya terima wakaf Al Qur’an dari Badan Wakaf Al Qur’an, semoga mengalirkan pahala dan bermanfaat disini, semoga Allah menerima seluruh usaha antum dalam mendistribusikan Al Qur’an ini, ujar ustadz arifin saat serah terima wakaf Al Qur’an di desa ujung alang.

Mendistribusikan Al Qur’an ke pulau-pulau terpencil di sekitar nusakambangan memang tidak mudah. Untuk menuju desa Ujung Alang saja dibutuhkan waktu setidaknya 1-1,5 jam dengan naik perahu, yang biasa di sebut “compreng” oleh masyarakat ujung alang. Waktu beroperasinya perahu compreng inipun terbatas yakni hanya sampai jam 14.00 siang saja dari dermaga Seloke Cilacap untuk menuju desa Ujung Alang, dan desa Klaces.

Ke Pangandaran Jawa barat

Pangandaran yang daerahnya berbukit menjadi tantangan tersendiri bagi tim Badan Wakaf Al Quran (BWA) menyalurkan wakaf Al Qur’an.  Distribusi Al Qur’an yang BWA lakukan, harus melalui akses jalan yang rusak juga terjal. Khususnya di wilayah Kecamatan Cigugur. Di daerah ini BWA bertemu dengan Ajengan Asep yang sejak 2005 membina anak-anak belajar Al Qur’an.

WAP - Nusakambangan 3

Penyerahan Wakaf Al Qur'an kepada Ajengan Asep (paling Kanan) di kampung Cibiru, Desa Cimindi - KecamatanCigugur, Kabupaten Pangandaran.

Ajengan Asep memulai melakukan pendidikan Al Qur’an untuk anak-anak di kampung Cibiru Desa Cimindi - Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, mengalami  banyak tantangan, khususnya dari warga sekitar. Namun hal itu tidak menyurutkan niat dan semangat Ajengan Asep untuk terus melakukan pembinaan kepada anak-anak.

Saya khawatir dengan masa depan generasi sekarang, perkembangan teknologi berupa HP telah menjadi sesuatu yang berbahaya jika tidak digunakan dengan benar. Anak-anak bisa melihat hal-hal yang tidak layak melalui HP, sehingga pentingnya pembinaan dan pendidikan Al Qur’an untuk menguatkan aqidah meraka menjadi sesuatu yang penting”, ujar beliau. 

Tim BWA juga mendistribusikan Al Qur’an ke wilayah Cimerak, tepatnya ke masjid Jami At Taqwa dusun Masawah, RT. 004-005 RW. 02, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Tim BWA bertemu dengan Ajengan Rosikin sebagai ketua DKM masjid dan juga Ajengan Ikin yang menjadi ketua MUI Desa Masawah. “Kami ucapkan terimakasih atas Wakaf Al Qur’an yang di distribusikan di desa Masawah,” ujar beliau.

Keberadaan masjid dan pendidikan Al Qur’an disini telah dimulai sejak tahun 1950-an yang diawali oleh ulama-ulama di kampung Masawah ini dan dilanjutkan oleh Ajengan Ikin sampai sekarang. Sedangkan untuk pengajian/pendidikan kepada para da’i diadakan tiap bulan yang diikuti oleh sekitar 20 orang. Ajengan Ikin berharap bisa diadakan pengajian untuk para da’i agar dapat meningkatkan kemampuan para da’i dalam menyampaikan dakwah kemasyarakat.

Budaya lokal yang biasa disebut Sedekah Laut dengan menyembelih kerbau dan membuangnya ke laut, dulu sering menjadi hal yang biasa dilakukan oleh warga di Pangandaran, namun seiring pembinaan dan dakwah yang dilakukan oleh para da’i-da’i ini aktivitas sajen tersebut sudah ditinggalkan oleh warga. Kontribusi dakwah sangat berpengaruh dalam membuang budaya syirik tersebut di tengah-tengah warga.

Agar materi dakwah juga bisa mengikuti perkembangan jaman, maka dakwah tidak hanya membahas masalah sholat saja, ujar ajengan asep.  Beliau biasa mengadakan pengajian yang diikuti oleh mayarakat umum tiap bulan yang diikuti oleh ribuan warga. Pentingnya kitab-kitab seperti tafsir AAl Qur’an, Fiqih dan lain-lain menjadi bahan penunjang dakwah yang beliau lakukan di wilayah Cigugur. Karena menurut Ajengan Asep, Cigugur ini merupakan salah satu basis dakwah Islam di wilayah Pangandaran.

WAP - Nusakambangan 4

Penyerahan Wakaf Al Qur'an  kepada Ajengan Rosikin sebagai ketua DKM masjid (paling kanan) dan jugaAjengan Ikin (tengah) yang menjadi ketua MUI Desa Masawah di masjid Jami ATaqwa dusun Masawah, DesaMasawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran.

Proyek wakaf Al Qur’an sebanyak 2000 eksemplar yang ditarget oleh BWA semoga segera terkumpul dan didistribusikan ke daerah Kampung Laut Cilacap dan Pangandaran. Sementara Perolehan wakaf Al Qur’an baru sekitar 300 eksemplar sejak bulan oktober 2015 sampai februari 2016  telah didistribusikan akhir Maret lalu dan telah dimanfaatkan.

Masih 1700 eksemplar lagi, maka  kami mengajak para Wakif untuk menyisihkan sebagian hartanya dalam dalam Program Wakaf Al Qur’an dan Pembinaan ini, untuk saudara seiman kita agar Aqidah mereka tetap terjaga.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.