Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Zakat Peer To Peer

Meski Menderita Kaki Gajah, Mukhlis Tetap Semangat Jalani Hidup

Meskipun menderita sakit kaki gajah, Mukhlis (21 tahun) tetap semangat menjalani kehidupan. Setiap pagi, warga Gang Kartini (dekat Rumah Sakit Kartini), Bekasi Timur, Jawa Barat tersebut mengayuh sepedanya menjajakan koran.

Senyum Muklis

Selain untuk menjajakan koran, Mukhlis juga menggunakan sepedahnya untuk kuliah dan turut bergabung dalam jamaah dakwah.

Tidak kurang dari sepuluh kilometer, ia keliling Kota Bekasi namun penghasilannya tetap minim. “Kadang dapat Rp25 ribu dan kadang juga tidak dapat,” tuturnya.

Namun pekerjaan itu tetap ia jalani lantaran dirinya tidak mau menjadi beban kedua orang tuanya yang sudah sangat sepuh. “Minimal bisa buat hidup sendiri, kalau dapat lebih kan bisa bantu kedua orang tua saya yang sudah sangat sepuh,” ungkapnya.

Sedangkan pada malam harinya, dengan menggunakan alat transportasi yang sama, ia kuliah di Jurusan Ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam PTDI, Lubang Buaya, Jakarta Timur.  “Alhamdulillah, saya mendapat beasiswa sehingga tidak perlu bayar kuliah,” ujarnya.

Sejak kecil, lelaki yang masih tinggal dengan kedua orangtuanya ini menderita sakit kaki gajah. Sudah dua kali kakinya itu dioperasi. Terakhir operasi yang dilakukan pada saat ia kelas 6 SD. Namun penyakit yang dideritanya belum tuntas.

“Saat itu sel kaki gajahnya masih kecil. Karena lama gak dioperasi penyakit kaki gajah yang dialami Mas Mukhlis sudah menjalar sampai pada pinggul beliau,” ungkap Ustadz Yayan, partner lapang Badan Wakaf Al-Qur’an.

Sudah lama Mukhlis ingin sembuh dari penyakit kaki gajah ini, namun mengingat penghasilannya yang tidak seberapa,  terpaksa dia tidak bisa mengobati penyakitnya. Oleh karena itu, Ustadz Yayan yang juga guru mengajinya Mukhlis, mengajukan kepada BWA agar menggalang dana dari kaum Muslimin untuk membiayai pengobatannya.

Muchlis sedang menjual koran

Senyum sumringah Muchlis saat menunggu lapak korannya di Jl Kartini, dekat rumahnya.

Rencananya, Mukhlis akan diperiksa di rumah sakit di Kota Bekasi untuk mengetahui parah tidaknya penyakit sakit kaki gajah yang dideritanya. Dan selanjutnya akan dioperasi dan ditangani lebih lanjut dengan pengobatan sesuai rekomendasi dokter.  

Donasi yang dibutuhkan

Rp 9.500.000,- (dua puluh juta rupiah untuk operasi dan pengobatan penyakit kaki gajah yang diderita Mukhlis)

Partner lapang

Ustadz Yayan

Meski Menderita Kaki Gajah, Mukhlis Tetap Semangat Jalani Hidup

Muchlis Senang Menerima Sepeda Listrik yang Diidam-idamkannya

BWA-ZPP. Betapa senangnya hati penderita kaki gajah Muchlis (24 tahun) karena dapat sepeda sepeda listrik yang diidam-idamkannya. Sepeda itu sangat membantu aktivitasnya, mengingat Muchlis sulit berjalan jauh karena kaki sebelah kanannya besar disamping itu bermanfaat juga untuk,  jualan koran sekitar pukul 05.00-10.00 wib. Kadang dipakai belanja ikan, karena Muchlis juga jualan ikan hias di rumah.

BWA-ZPP.

Insya Allah sepeda yang dibeli dengan uang dari kaum Muslimin yang dikumpulkan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melalui program Zakat Peer to Peer (ZPP) mengalirkan pahala seiring dimanfaatkannya sepeda itu oleh Muchlis si penderita neurofibromatosis.

“Semoga hamba Allah yang telah membantu diberikan limpahan rizki, umur panjang, kesehatan, rahmat dan berkah dari Allah SWT,” doanya dengan tulus, Kamis (8/1/2015). Aamiin.[]

 

Update # 1 Mukhlis tetap Ikhlas Meski Kaki Gajahnya belum dapat Disembuhkan

Sesuai dengan namanya, Mukhlis (21 tahun) tetap ikhlas dan bersyukur meski operasi yang dilakukan dokter sekedar mengurangi massa yang menumpuk di kaki akibat penyakit kaki gajah yang dideritanya.

Dokter yang mengoperasinya pada Jum’at (27/12/2013) di Rumah Sakit Kartini, Bekasi Timur, menyatakan operasi ini dilakukan untuk mengurangi massa kakinya agar menjadi lebih ramping supaya dia bisa berjalan normal. Operasi dilakukan bukan dalam rangka menyebuhkan penyakit ini, namun hanya mengurangi efek sampingnya saja.

Kaki gajah atau Neurofibromatosis (NF) adalah kelainan genetik berupa kemunculan neurofibroma yang muncul pada kulit dan bagian tubuh lainnya. Neurofibroma adalah benjolan seperti daging yang lembut, yang berasal dari jaringan saraf. Jadi sampai saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit ini.

Satu bulan pasca operasi, jahitannya tidak kunjung kering, bahkan sering mengeluarkan darah mati berwarna merah kehitaman. Setelah beberapa kali kontrol, tim dokter akhirnya memutuskan untuk operasi ulang.

Walaupun kondosinya belum membaik, Mukhlis dan Ema Reni tetap bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh donatur yang telah membantu demi kelancaran operasi ini. “semoga Allah yang balas kebaikan para donatur, dipanjangin umurnya, dibanyakin rezekinya,” doa Emak Reni, ibunda Mukhlis.[]

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.