Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Mimpi 5000 an Warga Jepitu Bisa Menikmati Air Bersih

Desa Jepitu adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa yang berjarak 40 kilometer di sebelah selatan Gunungkidul. Daerah tersebut setiap tahun mengalami krisis air bersih. Kekeringan, itulah kata yang mendekripsikan pemandangan saat tim BWA menelusuri Ds.Jepitu. Musim kemarau sangat dirasakan dampaknya oleh warga salah satunya adalah sulitnya untuk mendapatkan air bersih. Bulan Juli hingga November adalah musim kemarau yang biasa dilalui masyarakat Desa jepitu dengan ujian sulitnya mendapatkan air bersih.


Sumber airSumber air

Sudah ada upaya pemerintah Kabupaten Gunung Kidul meminimalisir krisis air di sana dengan menggunakan distribusi air mobil tangki. Namun pasokan air dari mobil tangki tersebut sering terhambat di musim kemarau dikarenakan debit air yang ada di sumber air puring (tempat satu-satunya yang diambil airnya untuk didistribusikan) semakin kecil debit airnya seiring lamanya musim kemarau. Penuturan dari mitra lapang BWA, Pak Rubiyanto, “Pengisian satu mobil tangki air 5000 L bisa memakan waktu hingga 3 jam dalam satu kali pengisian. Sehingga banyak masyarakat yang tidak mendapat pasokan air. Dusun-dusun yang berada di pinggiran Desa Jepitu bahkan harus menunggu satu minggu dari waktu mereka memesan air agar mendapat pasokan air.”

Pada tahun 2008, Komunitas Merangkul Bumi (Kombi) yang merupakan organisasi pecinta alam di Desa Jepitu menelusuri gua-gua yang ada di Jepitu dan mereka berhasil menemukan sungai bawah tanah di daerah Pulejajar. Daerah Pulejajar ini berjarak sekitar 5,5 kilometer dari Jepitu. Debit sungai bawah tanah di Gua Pulejajar ini cukup besar yakni 30 liter per detik saat kemarau, sehingga diprediksi bisa mencukupi kebutuhan warga Jepitu yang selama ini mengalami krisis air bersih. “Jadi tidak seperti di mata air Puring yang kalau musim kemarau debit airnya berkurang sehingga tidak cukup untuk kebutuhan warga,” ujar Rubiyanto, Mitra Lapang BWA sekaligus Ketua Komunitas Kombi.

Sumber air

Dengan bantuan dari dana desa dan penggalangan dana sosial oleh Kombi, sekitar tahun 2015-2016 air dari dalam gua telah berhasil dilakukan pipanisasi hingga ke bibir gua dengan pipa HDPE 2 inch, mendapatkan debit air 1,23 liter/detik di bibir gua. Namun air masih berada di bibir gua tersebut yang masih jauh dari pemukiman masyarakat. akses menuju gua dari tepi jalan raya perlu menempuh jarak 1,5 Km dan Jauh bibir gua dari pemukiman warga sekitar 5,5 Km.

Oleh karena itu, melalui program Water Action for People (WAfP) Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) berencana mengadakan proyek wakaf membangun sarana air bersih, menambah debit air di permukaan gua dan mengangkat air dari mulut gua pulejajar sampai ke pemukiman warga Desa Jepitu

Sasaran pada project WAFP WAFP Ds. Jepitu  ini adalah :

  1. Dusun Nglaban (237 KK)
  2. Dusun Pelem (97 KK)
  3. Dusun Pendowo (211 KK)

Adapun pemilihan teknologi yang akan dipakai Setelah dilakukan studi kelayakan teknologi BWA memilih untuk melakukan opsi (c) dengan skema :

  1. Tambahan pipanisasi air yang ada di dalam gua pulejajar sejauh 1,2 Km untuk menambah depit air di bibir gua, dan ditampung di bak/tangki di bibir gua
  2. Memompa air di tangki bibir gua menuju mobil tangki untuk didistribusikan langsung menuju dusun
  3. Membangun bak dusun untuk menampung air dari mobil tangki, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di tiap dusun  tersebut.

Kami mengajak seluruh kaum muslimin untuk bersama mewujudkan mimpi masyarakat Jepitu dan dapatkan aliran pahala dari setiap tetasan air yang dimanfaatkan oleh mereka.

 

Nilai Wakaf yang Diperlukan:

Rp 2.001.300.000,? (dua milyar satu juta tiga ratus ribu rupiah)

Parner Lapang

Rubiyanto

Mimpi 5000 an Warga Jepitu Bisa Menikmati Air Bersih

Update #3: Bak Penampungan Air Mulai Dibangun di Desa Jepitu

“Setiap tahun warga disini kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau. Walaupun ada bak penampungan air hujan, itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kalau tidak ada air kita harus menghemat, seperti mandi yang biasanya dua kali sehari, seringnya jadi satu kali sehari. Untuk baju, satu baju biasa digunakan lebih dari sehari, biar tidak sering mencuci.” Ujar Ibu Ngatini, salah satu warga Desa Jepitu ketika menceritakan kesusahannya dalam mendapatkan air bersih.

Hal yang sama dirasakan pula oleh ribuan warga Desa Jepitu lainnya. Selama ini mereka mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Terutama saat musim kemarau, kekeringan dan permasalahan kebutuhan akan air bersih begitu dirasakan dampaknya. Warga terpaksa membeli air dan seringkali dengan jumlah debit airnya tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari mereka.

 

(Awal Pengerjaan Bak Penampungan Aiir, 1 Mei 2019)

(Awal Pengerjaan Bak Penampungan Aiir, 1 Mei 2019)

Syukur alhamdulillah, permasalahan kebutuhan air bersih yang dialami warga Desa Jepitu mulai mendapatkan solusinya. Melalui program Water Action for People (WAfP), BWA bersama-sama warga Desa Jepitu membangun wakaf sarana air bersih yang nantinya, insyaAllah bisa dimanfaatkan oleh kurang lebih 5.000 warga desa disana.

 

Pembangunan Bak Penampungan Air

Pogress keseluruhan pengerjaan wakaf sarana air bersih  di Desa Jepitu sudah mencapai 30 persen. Saat ini sedang dibangun bak penampungan air di pelataran bawah mulut Gua Pulejajar.

(Progress Pembangunan Bak Penampungan)

(Progress Pembangunan Bak Penampungan)

Bak penampungan yang sedang dibangun berukuran 4x15 meter, dengan tinggi bak 1,25 meter. Bak ini nantinya mampu menampung air dengan kapasitas 60.000 liter. Fungsi dari bak penampungan ini adalah untuk menampung air dari dalam gua. Dari bak tersebut akan dipompa ke atas untuk pengisian mobil tangki, setelahnya kemudian digunakan untuk keperluan mengedrop air bersih ke Desa Jepitu.

(Progress Pengerjaan Bak Pada Tanggal 2 Juni 2019)

(Progress Pengerjaan Bak pada Tanggal 2 Juni 2019)

Dalam proses pembangunannya, bak penampungan ini dikerjakan oleh warga desa setempat sebanyak 12 orang. Kendala yang dihadapi dalam pengerjaannya adalah jauhnya tempat penampungan air dengan jalan utama, sehingga pengangkutan material bangunan membutuhkan waktu yang cukup lama.

(Anak-anak Menikmati Bak Baru di Depan Gua Pule Jajar)

Direncanakan bak penampungan selesai dibangun dalam 30 hari kerja. Progress pembangunan bak penampungannya sendiri telah mencapai 55% dari target. Saat ini memasuki hari ke 14, pengerjaan bak telah pada tahap pembuatan dinding bagian dalam bak dengan cor beton bertulang setebal 8 cm dan pembangunan dinding luar dengan batu bata serta pemlesteran untuk dinding luar dari bak penampungan.

 

#WaterActionforPeopleJepitu #WakafSaranaAirBersih

Update #2 : Uji Coba Memasukan Pipa HDPE Ke Dalam Gua Pulejajar

Setelah menerima dan memperhatikan hasil Geolistrik dari beberapa lokasi rencana pengeboran, ditambah lagi dengan informasi dari tokoh masyarakat yang menceritakan bahwa petugas dari kementerian PUPR pernah mencoba melakukan pengeboran di sekitar lokasi yang BWA merencanakan pengeboran juga, dan mereka tidak berhasil mendapatkan air.  Maka BWA memutuskan untuk kembali mengambil sumber air dari dalam gua Pule Jajar, seperti rencana awal.

Keputusan mengambil sumber air dari dalam gua Pule Jajar disambut gembira oleh masyarat Jepitu, terutama oleh partner Lapang BWA disana yaitu komunitas KOMBI. BWA kemudian mengirimkan sekitar 12 gulung pipa HDPE ukuran 3 inch ke desa Jepitu, setelah itu KOMBI menyiapkan kegiatan melakukan uji coba memasukan Pipa HDPE ke dalam gua Pule Jajar ini.

 

Mimpi ribuan warga Desa Jepitu, Gunung Kidul untuk mendapatkan kemudahan mengakses air bersih perlahan mulai terwujud. Pada tanggal 1 Mei 2019, tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) berkesempatan meninjau lokasi proyek pembangunan wakaf sarana air bersih di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

(Mimpi Warga Jepitu Perlahan Mulai Terwujud)

MasyaAllah luar biasa, kami melihat semangat dan kegigihan warga melalui Komunitas Merangkul Bumi (Kombi) yang dikepalai oleh Bapak Rubiyanto, berhasil memasukkan sebanyak empat roll pipa HDPE (diameter 3 inchi) kedalam Gua Pulejajar. Masing-masing pipa memiliki panjang 100 meter. Sedangkan kedalaman Gua Pulejajar dari mulut gua di bagian atas hingga sampai pada sumber air di bawah kedalamannya sepanjang 1.200 meter.

“Di Desa Jepitu ini lebih dari 5.000 orang mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan air bersih di musim kemarau. Untuk mencukupi kebutuhan air mereka, warga harus membeli sekitar Rp. 100.000 sampai Rp. 150.000 untuk satu truk tangki sebanyak 5.000 liter dan itu pun hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan selama satu bulan. Dan alhamdulillah saat ini sedang berlangsung pemasukkan pipa ke dalam Gua Pulejajar sedalam 1.200 meter dan juga pembangunan bak yang berkapasitas 60.000 liter di mulut Gua Pulejajar. Rencananya air dari dalam Gua Pulejajar tersebut akan kita alirkan ke dalam bak penampungan yang berada di luar mulut Gua Pulejajar tersebut. Setelah itu kemudian air ini kita pompa ke atas dan siap untuk didistribusikan kepada masyarakat.”, demikian keterangan Agil Jati Nugroho, Staff Program BWA saat meninjau progress pembangunan wakaf sarana air bersih di Desa Jepitu, Gunung Kidul.

Setelah berhasil uji coba memasukkan pipa HDPE ke dalam gua Pulejajar, selanjutnya di pelataran mulut gua sudah mulai dibangun bak penampung air yang memiliki kapasitas 60.000 liter. Kami tim Badan Wakaf Al-Qur’an dan para warga berharap dengan dimulainya pembangunan proyek sarana air bersih ini bisa mengetuk kepedulian para wakif untuk menyisihkan hartanya dalam membantu pembangunan wakaf sarana air bersih ini, agar ribuan warga Desa Jepitu tak khawatir ketika musim kemarau datang.

 

#WaterActionforPeopleJepitu #WakafSaranaAirBersih

UPDATE #1. Menentukan Titik Pengeboran Air di Desa Jepitu

Proyek Wakaf Sarana Air Bersih di Desa Jepitu semakin terasa dibutuhkan oleh masyarakat di sana. Saat ini (bulan Agustus) sudah memasuki bulan ketiga musim kemarau. Oleh karena itu selama tiga bulan terakhir ini tim BWA secara intensif  melakukan survey Teknis di Desa Jepitu Agar Proyek Realisasi WAFP bisa segera diimplementasikan.

 

SURVEI 1 (31 Mei-1 Juni 2018)

Survei pertama ini bertujuan untuk mengkaji ulang skema teknis distribusi air dengan memompa air dari mulut gua Pulejajar ke bukit tertinggi di desa jepitu sejauh 5,5 Km lalu air dari bak penampung di bukit tersebut dialirkan ke masyarakat melalui gravitasi. Pada saat survey ini adalah memasuki bulan musim kemarau.

Geolistrik

(Proses Geolistrik untuk mengetahui kandungan air dalam tanah)

Tim BWA didampingi tenaga ahli dari Dinas PU Jakarta, Pak Haerul.  Mengkaji kesulitan dengan skema awal yang direncanakan ini, kesulitannya adalah sebagai berikut :

  1. Tidak adanya jaringan listrik di dekat gua pulejajar, sehingga harus menginstal listrik sejauh 1,5 Km dari jalan raya
  2. Tidak adanya listrik di lahan yang ditempati pompa estafet serta lokasi yang jauh dari pemukiman warga (pertimbangan keamanan)
  3. Untuk memompa air dari bibir gua ke bukit tertinggi (Sejauh 5 Km) dengan beda tinggi sebesar 210 m tidak bisa sekali pompa. Harus melalui 3 kali pompa, dengan kebutuhan listrik untuk sekali pompa sebesar 30.000 W. Sehingga biaya maintenance listrik untuk pompa sangat besar yang dkhawatirkan akan membebani masyarakat setempat.

Melihat situasi ini, kami berkoordinasi dengan Dinas PLN setempat untuk mengetahui beban biaya listrik dan Tim BWA menyimpulkan, dengan pilihan skema ini di kemudian hari akan memberatkan masyarakat untuk memaintenance asset wakaf. Oleh karena itu Tim Ahli BWA, Pak Haerul menyarankan untuk mencoba Tes Geolistrik di Lokasi dekat dengan bukit yang direncanakan menjadi reservoir air. Kondisi air  di masyarakat pada saat survey masih mendapatkan bantuan air dari pemerintah daerah. Sumber Air di Puring, Jepitu juga masih bisa dimanfaatkan oleh warga. Tapi kami mendapat pesan dari mitra lapangan Pak Rubiyanto, “Ini mungkin sebulan atau dua bulan lagi sumber ini sudah mengering Pak”.

Akhirnya setelah mendapati laporan lapangan yang demikian. Tim BWA akan merencanakan tes geolistrik di Survei Selanjutnya untuk mencoba pilihan skema teknologi yang lain untuk dipakai.

 geolistrik

(Proses Geolistrik untuk mengetahui kadar air dalam tanah)

SURVEI 2 (5-6 Juli 2018)

Menindaklanjuti survey sebelumnya, pada survey kedua ini Tim BWA bersama Tim Geolistrik CV Budi Santoso untuk melakukan tes geolistrik di lahan persawahan di bawah bukit tertinggi desa Jepitu. Survei ini juga dibantu oleh teman-teman komunitas KomBi di Desa Jepitu. Selain pengujian Geolistrik pada survei ini juga berusaha memetakan lokasi bak dusun yang rencana menjadi bak distribusi di dusun-dusun yang akan mendapat manfaat dari sarana wakaf.

Pada survey ini tim BWA juga melihat lokasi sumber mata air Puring yang kondisinya sudah mulai berkurang debit airnya. Jika di hari normal banyak warga antri untuk mengambil air dan mencuci, saat dilakukan survey ini volume air di dekat Puring sudah berkurang drastis.

Hasil dari uji geolistrik ini diperoleh data sebaai berikut :

 

 

 

 

 Grafik

Titik yang paling potensial adalah titik 2. Pada titik 2 terdapat lapisan akuifer mulai kedalaman 72 m, lapisan tersebut dari lapisan batuan gamping pasiran yang daya tampung serap airnya masih dibawah pasir biasa . Namun lapisan akuifer ini di atasnya diselimuti oleh Batuan Marmer dan Batuan Gamping yang jika melihat batuan permukaan sekitarnya sudah berusia tua. (fisiknya keras)

 

 

 

Setelah mendapatkan laporan Geolistrik secara lengkap didapatkan hasil bahwa potensi debit air yang ada di titik geolistrik diperkirakan tidak mampu secara kontinyu mencukupi kebutuhan air di 3 dusun yang ada. Tim BWA juga mendapat info bahwa PDAM perna melakukan pengeboran di Jepitu dan air hanya mampu bertahan selama 3 bulan.

Melihat kondisi tersebut Tim BWA berusaha mencari jalan keluar agar proyek WAFP ini tetap bisa dijalankan dengan optimal.

 

SURVEI 3 (6-8 Agustus 2018)

Pada survey ketiga ini kondisi persediaan air bersih di masyarakat di desa jepitu sudah sangat memprihatinkan. Pasokan air dari mobil tangki sudah sangat jarang karena air di sumber puring sudah mengering, Penuturan dari mitra lapang BWA Pak Rubiyanto, “Kemarin itu debit air di puring menurun hingga 0,2 liter per detik pak, sehingga pengisian mobil tangki bisa memakan waktu hingga 3 jam tiap kali ngisi”. BWA mendapat kabar bahwa I pinggiran dusun nglaban sebagian masyarakat ada yang mendapat saluran air dari PDAM namun pada bulan ini air tersebut sering sekali mati.

Dengan melihat hasil survey sebelumnya, dan menganalisis kondisi di lapangan maka BWA memutuskan untuk merubah skema dengan cara menggunakan mobil tangki untuk mendistribusikan air dari bibir gua pulejajar menuju dusun-dusun yang merupakan titik distribusi.Dengan skema sebagai berikut :

  1. Tambahan pipanisasi air yang ada di dalam gua pulejajar sejauh 1,2 Km untuk menambah depit air di bibir gua, untuk ditampung di bak/tangki di bibir gua
  2. Memompa air di penampungan air  bibir gua menuju mobil tangki untuk didistribusikan langsung menuju dusun.
  3. Membangun bak dusun untuk menampung air dari mobil tangki, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di tiap dusun  tersebut.
  4. Dusun yang menjadi prioritas distribusi air adalah dusun Dusun Nglaban (237 KK), Dusun Pelem (97 KK), Dusun Pendowo (211 KK)

Dengan skema ini, bisa segera langsung dilakukan pipanisasi di dalam gua pulejajar pada musim kemarau ini. Sehingga harapan besar kesulitan air yang disasakan oleh masyarakat di Desa Jepitu bisa diminimalisir.

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.