Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Al-Qur’an Road Trip Manokwari – Bintuni, Papua Barat

Al-Qur’an Road Trip Manokwari – Bintuni, Papua Barat

Pada pertengahan bulan Mei 2018 Tim BWA melakukan survey ke Papua Barat yang meliputi Kabupaten Manokwari, kabupaten Teluk Bintuni, kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Sorong, Propinsi Papua Barat. Secara garis besar bahwa keempat wilayah kabupaten ini memiliki medan yang sangat berat sehingga untuk menuju ke wilayah tersebut diperlukan tenaga yang kuat, waktu yang panjang serta biaya  mahal.

Islam masuk ke tanah Papua jauh sebelum agama lain masuk ke wilayah ini.  Dipercaya Islam masuk ke wilayah Papua sejak pertengahan abad ke- 15 M ditandai dengan  datanganya Mubaligh asal Aceh yang bernama Abdul Gafar pada tahun 1360 M yang berdakwah selama 14 tahun hingga ia wafat ditahun 1374 M, kemudian dimakamkan di belakang masjid Kampung Rumbati tahun 1374 M.

Di Manokwari Tim BWA mengunjungi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, dalam pertemuan tersebut ada beberapa hal yang disampaikan ke Tim BWA oleh mudir Yayasan Ponpes Hidayatullah, antara lain sulitnya dalam menyampaikan Islam di pedalaman Manokwari, tidak adanya sarana dan pra sarana yang memadai, langkanya Al-Qur’an dan kurangnya pemahaman Islam di tengah-tengah masyarakat, hal ini bila dibiarkan akan sangat riskan. Oleh sebab itu pihaknya ingin sekali setiap rumah kaum Muslim memiliki satu Al-Qur’an dan di masjid juga ada Al-Qur’an dengan jumlah yang memadai, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak belajar ngaji.

Di Kabupaten Teluk Bintuni, tim BWA bertemu dengan pak Idris, beliau bercerita bahwa ada beberapa masjid dan mushola serta TPA yang tidak ada Al-Qur’an dan buku Iqra’ sebagai bahan ajar dan pembinaan mengaji bagi kaum Muslim di sini. Sedangkan untuk membeli dibutuhkan biaya, tenaga dan waktu yang tidak sedikit, pasalnya  untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja mereka kesulitan, akibatnya sangat sedikit masyarakat Islam yang paham akan agamanya. Harapannya kedepan ada pendidikan dan pembinaan Islam yang berkelanjutan serta setiap rumah keluarga muslim memiliki satu Al-Qur’an.

Selanjutnya Tim BWA sampai di desa Kamundan yang penduduknya Muslim semua, desa Kamundan ini terletak di satu distrik terdiri dari lima desa yang masyarakatnya semua beragama Islam, disini tim menjumpai ust. Muhammad Agus. Pria kelahiran Sulawesi Selatan ini menceritakan kali pertama sampai di desa Kamundan pada tahun 2008, pria berprofesi guru tersebut pernah terserang sakit malaria yang sangat akut, sehingga mengharuskan setiap beraktivitas selalu membawa botol cairan infus ditubuhnya agar kuat dan tidak demam, ketika  mengajar ngaji di sini. 

Banyak pertentangan dari ketua adat ketika beliau mengutarakan akan mengajak anak-anak untuk belajar ke Jawa dan Sulawesi, sampai akhirnya beliau pindah ke Manokwari pada 2009. Setelah di Manokwari beliau mengajak satu persatu anak desa Kamundan untuk belajar ngaji dan disekolahkan di Manokwari, selanjutnya  dikirim ke beberapa pesantren yang ada di Jawa dan Sulawesi. Hasilnya, alhamdulillah saat ini sudah ada remaja asli desa Kamundan yang berkulit hitam legam dan berambut kriwil mampu menghafal 30 juz.

Kepercayaan terhadap beliau mulai meningkat, sehingga banyak warga desa Kamundan merelakan anaknya ikut ust. Muhammad Agus untuk dididik dan disekolahkan ke pesantren di Jawa dan Sulawesi. Akhirnya ust. Agus pun kembali ke desa Kamundan guna meneruskan mendidik dan mengajarkan ngaji serta mendorong anak-anak agar giat belajar.

Tim BWA sempat dibuat kaget dan takut ketika suatu malam sedang berjalan menuju rumah ust. Agus, ditengah jalan ketemu beberapa orang hitam digelapnya malam yang sepi, tetapi sesaat itu pula perasaan takut sirna ketika dari mereka mengucapkan salam dan menyapa dengan ramah. Dalam hati ust. Erwin salah seorang Tim BWA mengatakan “inilah kaum Muslim yang hitam legam tetapi memiliki hati seputih salju dengan segala keramahannya.

Ustdaz Agus pun pernah bermimpi di suatu hari nanti masyarakat di desa Kamundan bisa memiliki Al-Qur’an setiap rumah mereka, sehingga memudahkan mereka untuk mengulang belajar mengaji di rumah mereka setiap saat, disamping dia juga ingin menjadikan desa Muslim percontohan di Papua Barat.

Berikutnya ketika tim BWA sampai di dusun Tambani, Tim BWA mengunjungi ust. Hasan, atau masyarakat di sini memanggilnya Imam Hasan karena beliau menjadi Imam di masjid At-Taqwa.      Beliau menerangkan bahwa di dusun ini terdapat 65 KK berjumlah 878 jiwa terdiri dari 318 pria dan 560 wanita, mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Beliau mengajarkan ngaji di masjid At-Taqwa, jemaahnya bukan hanya kalangan bapak-bapak ada pula ibu-ibu dan anak-anak. Sehingga harus di atur waktunya, untuk anak-anak sore hari sedangkan ibu-ibu siang hari adapun untuk bapak-bapak biasanya malam hari dengan berpenerangan lampu minyak yang sangat terbatas cahayanya.

Beliau juga mengajarkan mengaji kepada masyarakat di dusun Damiar yang tidak begitu jauh letaknya dengan dusun Tambani. Kondisi masyarakat dusun Damiar tidak jauh beda dengan masyarakat dusun Tambani. Di sini dihuni oleh 60 KK yang berjumlah 533 jiwa terdiri dari 180 pria dan 353 wanita. Dusun yang gelap lagi miskin serta terbelakang. Kedua dusun tersebut masuk wilayah dusun tertinggal. “Jangankan untuk beli Al-Qur’an, sedangkan untuk mencukupi kebutuhannyapun sangat sulit, satu-satunya cara agar bisa memiliki Al-Qur’an adalah berharap kepada BWA agar bisa mengusahakannya entah bagaimana caranya”. Tuturnya.

Perjalanan Tim BWA dilanjutkan ke Sorong, di sini Tim mengunjungi ust. Mursalih, imam masjid Babussalam, Komplek Bandara DEO Sorong. Pria kelahiran Sulawesi ini mengatakan di Sorong jarang ada toko buku, kalau pun ada tidak menjual Al-Qur’an, hal ini sangat menyulitkan bagi kaum Muslimin di sini untuk belajar mengaji, sehingga perkembangan Islam sangat lambat, bahkan tidak ada. Oleh sebab itu beliau berharap melalui BWA warga Muslim di sini bisa memiliki satu Al-Qur’an di setiap rumah.

Melalui Program Wakaf Al-Qur’an proyek Road Trip Papua Barat, Badan Wakaf Al-Qur’an mengajak kaum muslimin mewakafkan hartanya guna membantu saudara Muslim kita di Papua Barat.  Seiring dengan dibacanya Al-Qur’an dari ayat ke ayat lainnya, mengalirkan pahala sepanjang masa.

Dana yang diperlukan Rp. 5.000.000.000 (50.000 Al-Qur’an & 5.000 buku Iqra’)

Mitra Lapang :

Ust. Muhammad Agus.

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Project Sejenis