Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Ayo Cegah Pemurtadan Di Pesisir Sumatera Selatan!

Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, karena risalah Islam diemban untuk umat manusia di seluruh alam tak terkecuali di pesisir pantai Sumatera Selatan. Sayangnya, kondisi geografis lokasi ini sangat sulit dijangkau oleh kendaraan. Jalan-jalan umumnya berlubang dengan bekas-bekas jalan beraspal yang sudah hancur. Daerah ini juga mayoritas ditanami sawit dan karet sehingga dalam satu kilo meter persegi jarang ditemui rumah warga, kecuali beberapa saja.

Pada akhir 2017, tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) survei ke daerah tersebut tepatnya di Kabupaten Banyu Asin. Mayoritas penduduknya pendatang (transmigrasi) dari Jawa Timur dan DIY sejak zaman Soeharto. Daerah ini sudah berkembang, ditandai dengan banyaknya jumlah penduduk. 

WAP sumsel

(Warga Muslim Pesisir Sumsel Saat Menerima Baberapa Al Qur'an dan Iqro Yang Dibawa Tim Survei BWA)

Krisis akidah dan adanya kristenisasi menjadi masalah serius, sehingga pembinaan dan keberadaan Al Qur’an sangat mereka perlukan. Pasalnya, meski penduduknya mayoritas Muslim, langka sekali da’i yang berkiprah di sini, ada beberapa gereka padahal jumlah jamaahnya sedikit.

“Ditahun ini juga (2017) mereka mengadakan khitanan massal di gereja, ini sangat tidak etis, sehingga kami menemui pengurus gereja untuk membatalkan acara tersebut. Dan alhamdulilah berhasil membatalkan kegiatan khitanan massal tersebut,” Ujar Ustadz Umar da’i kota Palembang yang aktif melakukan dakwah dan pembinaan ke Banyu Asin.

Selain wilayah jalur ini, ada beberapa daerah lain yang membutuhkan Al Qur’an dan pembinaan yaitu daerah pedalaman Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Daerah ini juga merupakan daerah transmigrasi yang rawan akidah karena minimnya pendidikan dan pembinaan islam yang dilakukan oleh para da’i.

WAP sumsel

(Anak SD Menerima Kitab Iqro Yang Dibawa Oleh Tim Survei BWA)

Pada tanggal 14 Maret 2018, tim BWA juga melakukan survei ke Desa Sungai Ceper Kec. Sungai Menang, Kab. Ogan Komering Ilir. Jalur yang harus ditempuh ke Sungai Menang ini juga sangat sulit, jalannya rusak sehingga tidak bisa melaju dengan cepat. Bahkan beberapa daerah harus ditempuh dengan rakit menyusuri sungai karena tidak adanya jalan menuju ke desa tersebut.

Rakit mereka sebut sebagai taksi. Lebarnya 100 cm dengan panjang 5 meter, perjalanan untuk masuk ke desa ini sekitar 2,5 jam menggunakan taksi dan jalur yang ditempuhpun sangat sempit. Sungai yang dilalui banyak ditumbuhi tanaman air sehingga akses jalan hanya bisa dilalui oleh satu taksi.

Jadi setiap taksi harus memasang bendera agar terlihat dari kejauhan sehingga tidak terjadi tabrakan di jalur sempit. “Disini rawan konflik horizontal, tempat orang suka mabuk, mencuri, dan jual beli senjata api,” Ujar ustadz Faruq, dai setempat, saat bertemu di rumah tokoh Desa Sungai Menang Pak H. Dono.

Ustadz Faruq berharap dengan adanya Al-Qur’an dan pembinaan maka kondisi masyarakat akan lebih baik. “Jangan hanya membantu saudara kita di Kalimantan, di Nusa Tenggara, kami juga tolong diperhatikan, di wilayah Sumatera, khususnya di pesisir ini kami juga perlu dibantu!” ujar ustadz Faruq

Memang info kondisi masyarakat di pesisir sungai Propinsi Sumatera Selatan ini jarang terekpos ke media sehingga kondisi kehidupan mereka tidak diketahui. Padahal kondisi masyakarat di pesisir sungai in juga memprihatinkan perlu perhatian, pembinaan dan pendidikan Islam.

Melihat kondisi ini, BWA mengajak kaum muslimin menyukseskan agenda penyaluran 50.000 Al-Qur’an wakaf dan 20.000 buku iqra’ serta mengadakan training dakwah dan pemahaman Islam untuk da’i-da’i setempat dalam proyek Al-Qur’an Road Trip Pesisir Sumatera Selatan. Karena dari setiap huruf Al-Qur’an yang mereka baca akan mengalirkan pahala untuk Anda. []

Nilai Wakaf Yang Diperlulkan : Rp. 5.000.000.000,-

Partner Lapang : Ust. Umar

 

Ayo Cegah Pemurtadan Di Pesisir Sumatera Selatan!

Rabu 19 Desember 2018 Awal Perjalanan distribusi Al-Qur’an tahap #1 di mulai

Rabu 19 Desember 2018 Awal Perjalanan distribusi Al-Qur’an tahap #1 di mulai

Tim Berangkat dari Bandara Sukarno Hatta jakarta jam 06-07 Pagi menuju Palembang.

Sampai di Palembang kami sudah dinanti oleh Ust. Mahmud, sebagai tuan rumah tempat Al-Qur’an yang kami titipkan. Di kedai Ust. Mahmud, kami mendiskusikan lokasi awal yang akan kami tuju.  Sesambil menyantap hidangan sarapan pagi, beliau bercerita banyak lokasi yang akan kami distribusi Al-Qur’an itu yang merupakan daerah-daerah rawan pemurtadan akidah.

Salah satu tempat yang menjadi fokus kami yakni wilayah Jalur dan Sungsang, yang merupakan daerah rawan aqidah.

Di kedua daerah tersebut yang menjadi faktor rawannya akidah yakni karena sulitnya akses transportasi, sulitnya mata pencaharian dan faktor lemahnya pendidikan. Untuk pendidikan ini sendiri bisa di katakan beruntung jika ada anak didik yang bisa lanjut sampai SMA.

Selain itu perekonomian masyarakatnya rata-rata bekerja sebagai nelayan dan buruh tani.  Hal inilah yang kemudian di manfaatkan oleh oknum agama lain untuk memurtadkan masyarakat. Awal tahun 2012 Ustad Umar Said memulai dakwahnya di wilayah Jalur kemudian ada juga  seorang dokter muda namanya dr. Muhammad Bayumi warga asli Marga Sungsang.

(dr.Muhammad Bayumi, Doni, Khamsin)

Selesai diskusi dan loading Al-Qur’an Jam 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju kelurahan Sungsang kab. Banyuasin tempat dr.Muhamad Bayumi, beliau adalah tokoh masyarakat dan sebagai salah satu dokter muda di Desa sungsang, beliau kuliah fakultas kedokteran di Kendari, Sulawesi Tenggara. 

Alhamdulillah tepat jam 17.00 kami tiba di desa Marga Sungsang, kedatangan kami rupanya sudah dinanti oleh dr. Bayumi dan masyarakat setempat. Rasanya cepat betul beredar kabar bahwa kami datang membawa Al-Qur’an untuk di bagikan ke masyarakat. Sontak anak-anak kecil datang menghampiri kami untuk membantu menurunkan 800 Mushaf Al-Qur’an ojeg-ojeg becak juga berbaris rapih menanti Al-Qur’an yang kami bawa.

Desa Sungsang ini terdiri dari 5 Desa yakni Desa Marga Sungsang, Sungsang 1, 2, 3, 4 dengan rata-rata jumlah penduduk kurang lebih 1000 Jiwa di tiap desanya. Dari awal desa ini mobil hanya bisa masuk sampai Desa Marga Sungsang saja  karena akses jalan masuk ke Desa banyak yang terbuat dari jembatan kayu shingga hanya dapat di lalui oleh Bentor (Becak Motor) atau Becak saja, selebihnya harus jalan kaki.

Tantangan-tantangan di daerah Marga Sungsang kec. Banyuasin 2. Kab. Banyuasin. Palembang ini salah satunya yakni kurangnya mushaf Al-Qur’an dan juga kurangnya kepedulian masyarakat sekitar akan pentingnya pendidikan anak, sehingga banyak sekli anak-anak yang putus sekolah.

Ketika team BWA datang dan membagikan Al-Qur’an, dr. Bayumi merasa sangat bersyukur melihat masyarakat yang sangat antusias mendapatkan Al-Qur’an. Beliau juga sangat bersyukur karena ternyata masih ada saudara muslim di luar sana yang peduli dengan keadaan masyarakat yang ada di Sungsang ini.

Mudah-mudahan dengan dibagikannya Al-Qur’an Ini bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, Insya Allah kami akan adakan pembinaan setiap malam jumatnya bagi warga Sungsang, khususnya bagi orgtua beserta anak-anaknya "ujar dr. Bayumi meyakinkan kami dan disampaikan kepada jamaah yang ada di masjid.

Kami salut dengan dokter Bayumi, di sela kesibukannya mengurusi pasien, beliau tetap luangkan waktu untuk membina masyarakat Ini pula alasan beliau membuka klinik sendiri supaya tidak terikat dengan waktu, “Bisa bebas berdakwah” Ujarnya. Selain itu beliau juga tidak mentarif biaya berobat warga setempat, bahkan tidak segan untuk mengratiskan biaya berobat warga ketika warga tidak mempunyai uang.

Beda di Sungsang,  Beda juga di Maggar Raya.

Walaupun lokasi antara Desa Sungsang dan Desa Manggar raya ini dalam satu kabupaten, namun desa keduanya berbeda kecamatan.  Desa Sungsang berkecamatan di Banyuasin 2 sedangkan Manggar Raya berkecamatan di Tanjung Logo.

Lokasi desa Sungsang dengan Manggar Raya searah namun ketika kita ingin ke Manggar Raya kami harus melewati sungai yang ada buayanya. Dimana sungai ini harus dilalui sekitar setengah jam dari jembatan PU, namun kita hanya dapat pergi ke sana ketika air sedang pasang saja.  Sedangkan ketika air surut / tidak bisa pergi kesana. Ditambah lagi kalau ada angin kencang dan hujan, membuat ombak-ombak menggoyangkan speedboat yang kita tumpangi.

Ada juga jalur darat, namun harus ditempuh hingga 5 jam perjalanan dari Palembang.

Sebelum kami berangkat ke Desa Manggar Raya, kami bertemu dengan Ustad Umar Said, beliau adalah ketua FUI (FORUM UMAT ISLAM SUMSEL),  sekaligus pembina para mualaf yang ada di Palembang.

Desa Manggar Raya adalah salah satu lokasi binaan beliau di wilayah Jalur, sehingga beliau faham betul kondisi disana, sebenarnya beliau ingin menemani kami namun dihari itu bersamaan dengan adanya acara pertemuan para mualaf seSUMSEL di masjid PLN palembang sehingga beliau tidak bisa bersama kami.

Team BWA juga mampir ke acara pertemuan tersebut untuk membagikan 100 Mushaf Al-Quran kepada para Muallaf, alhamdulillah kami disambut dengan baik. Kemudian kami pamit untuk menjutkan perjalanan ke Desa Manggar Raya.

Alhamdulillah, Sabtu 22 Desember 2018 kami sampai di desa Manggar Raya, disambut langsung oleh kepala desa yaitu Bapak A. Bayu Aji dan salah satu guru ngaji setempat yang biasa di panggil Ust Imam.

Ust imam ini aktif dalam pembinaan masyarakat setempat. Sebagai tokoh masyarakat setempat beliau menjelaskan bahwa di sini alhamdulillah sudah ada program pembinaan anak-anak,  dan remaja yang sudah berjalan 1 tahun lalu sehingga di desa Manggar Raya ini lebih berkembang dakwahnya dibandingkan di Sungsang. Namun fasilitas seperti Al-Qur’an dan guru pengajar sangat kurang.

Keluhan Bapak kepala Desa juga sama, masyarakat sangat membutuhkan Al-Qur’an untuk memudahkan anak-anak menuntut ilmu. Al-Qur’an sangat sulit didapat kalaupun ada tidak banyak, ketika mau membeli Al-Qur’an mereka harus pergi ke Palembang,  sedangkan ongkos dari desa Manggar Raya ke palembang sangat mahal dibandingkan dengan harga 1 mushaf Al-Quran’nya sendiri, sehingga mereka berfikir ulang untuk membeli Al-Qur’an. 

Pak Bayu Aji selaku kepala Desa Manggar Raya dan Ust Imam sangat berterimakasih kepada kaum muslimin yang telah mewakafkan mushaf Al-Qur’an ke desa kami ini,  dan ini sangat bermanfaat sekali untuk kami, karena mayoritas penduduk kami muslim semua "ujar kedua tokoh masyarakat desa Manggar Raya.

Kami akan membagikan Al-Qur’an ini ke masyarakat, masjid dan ke TPA-TPA. yang ada di desa Manggar Raya.

Alhamdulillah di Desa Manggar Raya ini terdapat 3 masjid, dan 6 mushalah.  Serta terdapat juga 1 gereja. Dengan 4 kampung yang berjumlah 2.000 kk lebih, kami baru dapat  mendistribusikan 1.000 mushaf Al-Qur’an saja, masih kurang sekitar 1.000 mushaf lagi.

Mengingat kebutuhan Al-Quran yang ada di pelosok serta di pesisir daerah Sumatera Selatan kami

Badan Wakaf Al-Qur’an berencana akan mendistribusikan kembali Wakaf Al-Qur’an sebanyak 50.000 Mushaf Al-Qur’an dan juga Iqra di wilayah Sumatra Selatan.

Maka mari dorong dan dukung program Wakaf Al-Qur’an dan pembinaan dengan Program #2019SejutaQuran Bangkitkan Indonesia

Semakin banyak orang yang berwakaf maka semakin banyak pula saudara-saudara kita yang terbantu, dengan Al-Qur’an dan pembinaan bisa memperkuat aqidah dan keimanan saudara-saudara kita hingga kepelosok Indonesia dan mengalirkan investasi pahala yang abadi kepada para wakif sekalian.  amiin.

 

Weli Kurniawan

Profesi bukan halangan dalam berdakwah

Sosok Pembina (dr.Muhammad Bayumi)

Rabu 19 Desember 2018 Tim BWA melaksanakan distribusi Al-Qur'an tahap #1 untuk wilayah Sumatera Selatan, salah satu tempat yang kami kunjungi yakni Desa Marga Sungsang, Kecamatan Banyuasin 2.

Di Desa Marga Sungsang kami bertemu dengan dr.Muhammad Bayumi (28Th) Seorang Dokter yang juga pembina pemuda dan Masyarakat di Masjid Nurul Iman.

Kecamatan Sungsang terdiri dari lima Desa, yaitu Desa Marga Sungsang, Sungsang 1, Sungsang 2, Sungsang3, Sungsang 4 untuk menuju lokasi mobil kami hanya dapat sampai di perbatasan pintu masuk Desa Sungsang, selanjutnya kami menggunakan becak sebagai moda transportasi.

Rata-rata sumber perekonomian masyarakat di kecamatan sungsang bekerja sebagai nelayan atau pencari ikan dan pengayuh becak.

Pekerjaan Muhammad Bayumi sebagai Dokter tidak menyurutkan aktifitas dalam berdakwah, bahkan di awal-awal berdakwah pernah mendapatkan penolakan dari masyarakat.

Keinginannya yang kuat dalam membangun desa agar lebih maju supaya tidak tertinggal membuat dokter Bayumi semakin bersemangat.

Sebagai tokoh pemuda dr.Bayumi merasa cemas akan kondisi masyarakat dan generasi muda di desanya, sebab di tempat kelahirannya ini banyak pemuda yang kurang dari pembinaan akidah Islam. Salah satu faktor yakni minimnya media belajar seperti buku pelajaran Islam, iqra dan mushaf Al-Qur'an.

Alhamdulillah datangnya tim BWA membawa 4000 Mushaf Al-Qur'an dapat mendukung pembinaan anak-anak dan pemuda setempat. Namun jika dilihat dari kebutuhan masyarakat ini masih belum mencukupi.

wakafquran.org

#2019SejutaQuran Bangkitkan Indonesia

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 5.000.000.000



3.61%
butuh Rp. 4.819.600.000,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.