Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Buruh Kebun Kopi ini Menjadi Kyai yang Diteladani

Siapa sangka, dulu ketika merantau sebagai buruh kebun kopi sebagai nobody (bukan siapa-siapa/tidak dikenali),  kini Suwarno menjadi Kyai yang diteladani.

Kyai Warno dan Ustadz Hazairin saat silaturahmi ke pondok

Lelaki kelahiran 11 Januari 1949 pada 1982 merantau ke Kabupaten Oku Selatan, sebagai buruh di perkebunan kopi. Berbekal ilmu-ilmu keislaman yang dipelajari dari kyai-kyai di pesantren tempat ia mondok di Jember, ia membina teman sejawat dan juga warga. Karena menyadari ‘apapun profesinya, setiap Muslim wajib berdakwah’.

Terlebih, di tempatnya bekerja, banyak buruh dan warga yang belum paham tata cara shalat dan kewajiban Islam lainnya. Maka, di luar jam kerja dia pun membina mereka. Hingga tak sedikit dari mereka mempercayakan anak-anaknya untuk dibina. Bukan hanya penduduk dusun setempat saja, warga dusun-dusun di daerah sekitarnya pun mempercayakan anak-anaknya mengaji pada lelaki yang akrab disapa sebagai Kyai Warno. 

Santri selesai sholat di masjid pondok yang masih terbuat dari papan kayu

Karena kondisi medan yang sangat berat, jalan terjal dan belum diaspal, rumah satu dan lainnya pun saling berjauhan, maka warga pun mendorongnya untuk mendirikan pesantren. Sehingga pada 1985 berdirilah Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin di sebuah dusun yang belum ada namanya di Desa Sidorahayu Kecamatan Buay Pemaca. Dan sejak saat itu pula dusun tempat pondok itu berada, diberi nama Talang Pondok -dusun kecil dekat hutan (di peladangan) yang ada pondoknya.  Saat ini, tak kurang dari seratus santri yang mendok di sana.

Hingga kini, perjalanan menuju Sidorahayu ini tidaklah mudah,  jalanan yang dilalui sangat sempit sehingga tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat. Lokasi desa berjarak sekitar 13 kilometer dari Desa Lebak Peniangan atau Gincing. Tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) saat survei ke lokasi harus melalui jalan berbatu dan juga tanjakan yang sangat terjal serta turunan yang sangat curam. Di tambah lagi posisi kanan dan kiri jalan tersebut adalah jurang yang sangat dalam, sehingga sangat beresiko tinggi jika tidak benar-benar mahir dalam mengendarai motor. Beberapa tim BWA sempat terjatuh saat melintasi jalanan yang sangat sulit dan licin itu.

Sulitnya akses menuju desa-desa di Kecamatan Buay Pemaca ini menjadi alasan lambatnya pembangunan di wilayah ini. Akses listrik, air bersih dan jalan masih jauh dari layak untuk memenuhi kebutuhan warga. Dan yang tak kalah penting adalah keberadaan Al-Qur’an untuk belajar sangat dibutuhkan, apalagi oleh Kyai Warno dalam mendidik santri-santrinya. Kondisi ini juga dialami oleh desa-desa sekitar yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Sidorahayu.

Kondisi Al Qur'an yang sudah tidak "lengkap" halamannya saat Tim BWA survey ke lokasi

Ketika tim BWA berkunjung ke Pondok Roudhotut Tholibin, kondisi Al-Qur’an juga sudah banyak yang tidak lengkap halamannya, karena tak sengaja terobek saking sering dipakai oleh santri untuk belajar.  

Untuk mendukung dakwah dan pembinaan Islam di sana, melalui Program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAP), BWA mengajak kaum Muslimin berwakaf melalui proyek Al-Qur’an Road Trip Oku Selatan.  Dalam proyek yang diagendakan berlangsung pada April 2017, ditargetkan terdistribusi 3000 Al-Qur’an dan 1000 Iqra’.

Pastikan kita semua bagian dari proyek mulia ini agar mendapatkan pahala dari setiap huruf Al-Qur’an yang mereka baca dan amalkan. Karena itu, Anda harus ikut![]

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

3000 Al Qur'an dan 1000 Iqro senilai Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta Rupiah)

Partner Lapang:

Kyai Suwarno Abil Hasan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibuat oleh BWA, maka kelebihan dana project tersebut akan dialihkan untuk project lain di program yang sama berdasarkan kebijakan Managemen BWA.

Live Chat
Hide Chat