Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Labuhan Bajo, Manggarai Setiap Tahun, ada Muslim Flores yang Pindah Agama

Setelah Tim Badan Wakaf Al-Qur’an melaksanakan distribusi Al-Qur’an di Pulau Timor pada 28 September 2018, kami melanjutkan perjalanan Road Trip Al-Qur’an ke Pulau Solor, Flores NTT.

Deburan gelombang menghantar Al-Qur’an Anda. 

Pagi itu tim distribusi Al-Quran BWA Ust.Arifuddin Anwar, mengantarkan Al-Quran ke pulau solor, tepatnya ke desa Lamakera. Gelombang  besar menerpa pantai membuat kami harus berhati-hati naik perahu kecil menyebrang ke pulau itu “Awas Al-Qur’annya basah” teriak Pak Berani mengomandoi teman-teman saat loading Al-Qur’an ke kapal dakwah BWA.

Hari itu hari Jumat maka kami bersegera ke lokasi  agar bisa sholat Jumat dan sekaligus membagi Al-Qur’an untuk jamaah disana. Perahu kecil itupun menghalau gelombang dengan lincahnya melintasi selat Solor yang kadang mendebarkan jantung. Akhirnya kami tiba di pulau itu Masya Allah, diatas pulau berbatu karang ini ternyata masjidnya megah sekali. Masjid ini berdiri atas upaya dari seorang putra pribumi yang menjadi anggota DPR RI mewakili Prov Banten yang bernama M ALI TAHER PRASONG. Siang itu ust Arif menjadi khotib dan imam Jumat disana, sekalian membagikan 300 Al-Qur’an Anda kepada jamaah. Ada ibu-ibu dengan bahasa lokal mengatakan ; be kame dapa hala we, nein noo kame esika ( hei kami tidak dapat tu, kasi kami dikitla) . Begitula suasana di masjid siang itu penuh haru bahagia yang mendapatkan arahan ustad dan imam setempat untuk membaca Al-Quran wakaf sekalian mendoakan buat wakifnya.

Kami juga akan menargetkan untuk distribusi Al-Quran di wilayah Flores lainnya, misalkan Labuan Bajo, sebuah kota yang berada di pesisir Flores Barat berwajah multietnis penuh dengan keragaman dan keindahan alamnya. “Mengapa Kota ini disebut Labu(h)an Bajo?” Ternyata ini terkait dengan sejarah Kesultanan Bima (Sumbawa) dan Kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) dan kedatangan Suku Bajo.

“Dalu” merupakan sistem pemerintahan terapan Kesultanan Bima yang terkait dengan penarikan pajak berupa budak (pajak taki mendi). Pada tahun 1660, ratusan pekerja Manggarai yang disuplai Bima tiba di Batavia untuk dipekerjakan sebagai budak Belanda. Para pekerja Manggarai yang digambarkan sebagai buruh yang baik hati, pekerja keras dan murah dibayar ini, menjadi posibilitas cikal bakal nama ‘Manggarai’ di Jakarta.

Perjalanan ke Flores Barat ini menarik karena memiliki sejarah yang berbeda dari Flores bagian timur. Daerah ini tidak pernah dikuasai Portugis, dan sekian tahun wilayah ini dikuasai Kesultanan Bima dan Gowa, yang pada abad ke 17 masehi, kerajaan ini dikenal sebagai Islam. Perjanjian Bongaya pada 1667, antara Gowa dan Belanda, memberi ruang bagi Bima untuk mengontrol Manggarai. Manggarai, konon dianggap sebagai “mas kawin” pernikahan anak Sultan Gowa dan Bima.

Pedagang dan administrator Bima bertahan pada wilayah pesisir di antaranya Bajo, Bari, Reok dan Pota yang dianggap memadai untuk kaum Muslim. Orang Manggarai acapkali menyebut kalangan ini “ata wa wae”, “ata Dima,” yang artinya (yang berada di perairan, orang Bima).

Seiring dengan penetrasi kekuasaan Belanda di Manggarai, kekuasaan kesultanan Bima makin terpinggirkan. Kesultanan Bima melemah dan populasi penduduknya menurun. Beberapa periode kemudian, misi kristen melalui para imam SVD(Societas Verbi Divini) Belanda-Jerman semakin menguat pada 1920. Empat tahun sesudahnya, Manggarai memperoleh hak untuk memiliki raja sendiri yakni Kraeng Aleksander Baruk, yang diangkat pada 1930 atas dukungan Belanda, dan ada pengaruh para misionaris.

Selain itu dari data 2011 lalu, ternyata setiap tahun, lima atau enam muslim flores pindah agama ( https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/10/20/ltd0un-setiap-tahun-lima-atau-enam-muslim-flores-pindah-agama )

Hal ini membuat kami semakin yakin untuk berjuang membantu menyelamatkan akidah kaum muslim hingga kepelosok wilayah Flores.

Dalam program tersebut dibutuhkan sekitar 20.000 Al-Quran. Badan Wakaf Al-Qur’an mengajak kaum muslimin mewakafkan hartanya guna membantu saudara Muslim kita di Wilayah Flores.  Semoga seiring dengan dibacanya Al-Qur’an dari ayat ke ayat lainnya, mengalirkan pahala sepanjang masa.

Biaya yang di Butuhkan

Rp 2.000.000.000

Partner Lapang

Ustad Arifuddin Anwar

Belum ada Update

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 2.000.000.000



0.6%
butuh Rp. 1.988.000.000,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.