Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Rubianto Jual Seekor Kambing Demi Wujudkan Mimpi Alirkan Air ke Warga

Jalan sendiri-sendiri atau berkelompok di tengah teriknya matahari sembari membawa jerigen air maupun ember menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Jepitu setiap musim kemarau tiba. Mereka terpaksa berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air di sekitar telaga Puring yang jaraknya sekitar 3 kilo meter dari pemukiman terdekat. Sedangkan bagi yang tak sanggup membeli air atau pun berjalan kaki sejauh itu, terpaksa mengkonsumsi air dari beberapa telaga terdekat yang keruh dan tak layak minum.

Desa Jepitu adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa yang berjarak 40 kilometer di sebelah selatan Gunungkidul tersebut setiap tahun mengalami kekeringan. Dan tentu saja daerah krisis air bersih menjadi langganan.

Pasalnya, curah hujan rata-rata sebesar 1382 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 89 hari. Bulan basah 4–5 bulan, sedangkan bulan kering berkisar antara 7–8 bulan. Padahal tiga bulan tidak turun hujan saja, krisis air sudah melanda. Musim hujan dimulai pada bulan Oktober–Nopember dan berakhir pada bulan Maret–April setiap tahunnya.

Memang Pemda Gunungkidul sudah menganggarkan dropping air untuk membantu warga, namun solusi ini belum terasa signifikan bagi masyarakat. Selama ini warga bertumpu pada sumber mata air Puring yang terletak sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga. Sumber mata air ini menjadi primadona di musim kemarau dan membeli air salah satunya jalan bagi warga untuk bertahan hidup. Namun, umumnya warga tidak mampu. Sehingga jalan berkilo-kilo meter pun terpaksa ditempuhnya demi mendapatkan air bersih. Akhirnya, perekonomian menurun, konflik sosial pun kerap terjadi.

Pada 2008, Komunitas Merangkul Bumi (Kombi) menelusuri gua-gua yang ada di Jepitu dan mereka akhirnya berhasil menemukan sungai bawah tanah di daerah Pulejajar. Daerah Pulejajar ini berjarak sekitar 5,5 kilometer dari Jepitu.

Debit sungai bawah tanah di Gua Pulejajar ini cukup besar yakni 30 liter per detik saat kemarau, sehingga diprediksi bisa mencukupi kebutuhan warga Jepitu yang selama ini mengalami krisis air bersih. “Jadi tidak seperti di mata air Puring yang kalau musim kemarau debit airnya berkurang sehingga tidak cukup untuk kebutuhan warga,” ujar Rubiyanto, Ketua Komunitas Kombi.

Hanya saja, warga akan lebih kesulitan lagi untuk mengaksesnya bila tidak ada infrastrukturnya. Sehingga sampai saat ini, sungai bawah tanah di gua tersebut pun belum termanfaatkan.

“Kami pernah jual seekor kambing untuk beli pipa, berharap air bisa sampai ke pemukiman warga, namun usaha itu tidak berhasil karena butuh power dan teknologi tepat guna yang dapat mengangkat air sampai ke pemukiman warga”, ujar Rubiyanto. Untuk mengangkat air dari mulut gua pulejajar memang butuh dana yang tidak sedikit serta teknologi yang tepat, mengingat jarak gua pulejajar yang jauh serta selisih ketinggian yang besar yakni hampir 200 Meter. Oleh karena itu, melalui program Water Action for People (WAfP) Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) berencana mengadakan proyek wakaf membangun sarana air bersih, mengangkat air dari mulut gua pulejajar sampai ke pemukiman warga.

Gambaran Proyek

Proyek wakaf pembangunan sarana air bersih ini bertujuan untuk membantu warga Desa Jepitu memiliki akses terhadap air bersih. Pada proyek ini akan dibangun sarana air bersih untuk wilayah Dusun Nglaban, Dusun Jepitu, Dusun Karanglor dan Dusun Pelem.

Keempat dusun yang dihuni 527 KK dipilih karena daerahnya mudah dijangkau untuk distribusi air dari Gua Pulejajar dan merupakan pusat aktivitas masyarakat.

Secara umum tahap pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam beberapa langkah. Pertama, penambahan pipanisasi dengan pipa HDPE diameter 3 inch dari bendungan sungai bawah tanah gua Pulejajar sampai ke permukaan gua yang berjarak sekitar 1200 meter.

Kedua, pembuatan bak penampungan air di depan mulut gua berkapasitas 50.000 liter dan pemasangan pompa untuk mengangkat air sampai ke pemukiman penduduk. Ketiga, pipanisasi dengan pipa HDPE 1,5 inch dari bak penampungan air depan mulut gua menuju bak utama di Dusun Nglaban yang berjarak 5600 meter.   

Keempat, pembuatan Bak Utama Penampung Air Dusun Nglaban yang berkapasitas 30.000 liter. Kelima, pembangunan Bak RT wilayah Dusun Nglaban, Jepitu, Pelem dan Dusun Karanglor untuk distribusi air agar dekat dengan warga.[]

 

Nilai Wakaf yang Diperlukan:

Rp 2.001.300.000,‐ (dua milyar satu juta tiga ratus ribu rupiah)

Parner Lapang

Rubiyanto

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 2.001.300.000


0.8%
butuh Rp. 1.985.200.000,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibuat oleh BWA, maka kelebihan dana project tersebut akan dialihkan untuk project lain di program yang sama berdasarkan kebijakan Managemen BWA.

Live Chat
Hide Chat