Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Sedekah Kemanusiaan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Transfusi Darah Seumur Hidup, Saka Tak Tahu Dirinya Mengidap Penyakit Langka

M. Saka Ibnu Hamidi (2 tahun) adalah satu dari ribuan penderita Thalassemia Beta Mayor. Termasuk penyakit langka yang belum ditemukan obatnya. Sumsumnya tidak dapat memproduksi sel darah merah, sehingga untuk  bertahan hidup, ia harus menjalani transfusi darah seumur hidup, setidaknya satu kali dalam satu bulan.

saka

(Saka sedang berbaring di ruang perawatam rumah sakit)

Saka, anak dari pasangan Hamidi (26 tahun) dan Mutia Putri Isyuningtias (28 tahun) sejak lahir rutin menjalani transfusi darah di RSCM – Jakarta. Mereka harus berangkat subuh dari rumahnya Jl Bacang, Ds. Rawasari, Cempaka Putih – Jakarta Timur menuju RSCM, agar mendapatkan nomor antrian lebih awal.  Sampai sekarang Saka belum tahu dirinya sakit. Yang ia tahu, Setiap tiga pekan sekali, dia harus ke rumah sakit.

Mamah aku mau di encus (ditusuk jarum) ya”, Ujar Saka setiap kali diajak ke RSCM oleh orangtuanya.

Transfusi darah wajib dilakukan setiap bulan, tapi efeknya juga sangat berbahaya, karena terlalu banyak transfusi darah menyebabkan penumpukan zat besi yang bisa membahayakan jantungnya. Maka perlu ditunjang dengan vitamin ferriprox untuk mengurangi kadar zat besinya. Terlalu banyak mengkonsumsi ferriprox bisa menyebabkan pengeroposan tulang, maka harus diimbangi dengan Dalfarol Vit E.

Ferriprox dan Dalfarol Vit E inilah yang membuat orangtua Saka kewalahan. Pasalnya kedua vitamin ini terkadang kosong dan harus beli di luar. Harga obat dan vitaminnya pun cukup mahal, sekitar 6 juta rupiah untuk satu bulan. Begitupun dengan darah, jika tidak tersedia di RSCM, maka dia harus membeli sendiri di luar.

Hamidi, ayah Saka, berprofesi sebagai guru dengan gaji kurang dari dua juta. Untuk hidup di Jakarta saja sudah berat, apalagi harus dipakai berobat. Selama ini, orangtuanya pinjam sana sini untuk mencukupi kebutuhan dana berobat Saka.

Selama bulan April 2018, sudah ada lima orang dengan penyakit serupa yang datang  meminta bantuan dana berobat ke Badan Wakaf Al Qur’an (BWA). Antara lain, Hardiyansyah ( 9 tahun), Muhammad Ivansyah (3 tahun), Yusuf Rangga Gemilang (4 tahun) dan Yusnita Herdian Pratama (13 tahun).

BWA mengajak seluruh kaum muslimin untuk membantu meringankan beban adik-adik kita penderita Thalassemia Beta Mayor agar terus bisa berobat ke RS melalui Program Sedekah Kemanusiaan. Semoga segala pengorbanan dan do’a dari para donatur akan terus mengalirkan banyak pahala. Semoga setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuh adik-adik penderita Thalassemia Beta Mayor menjadi penghapus dosa kita.

 

Partner Lapang : Ali

Donasi Pokok yang dibutuhkan : Rp. 250.000.000 (Perkiraan biaya berobat 5 anak)

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.