Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Wakaf Al Qur'an Anda Perkuat Dakwah di Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur

Tapal Kuda adalah nama sebuah daerah di propinsi Jawa Timur. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Jumlah penduduk muslim diwilayah ini berdasarkan sensus tahun 2010 lebih dari 2 juta jiwa, yaitu berjumlah 2.335.807 jiwa.


Menurut sejarah, daerah Tapal Kuda ini pada zaman Majapahit dahulu disebut dengan Blambangan atau dalam budaya Jawa (dalam hal ini Jawa baku atau Jawa Mataraman) disebut daerah brang wetan (seberang timur), karena kawasan ini tidak pernah menjadi bagian dari kerajaan Mataram. Sampai akhirnya imigran dari kawasan Mataraman datang dan mengisi beberapa wilayah pesisir selatan sekitar abad ke-15.


Kini, istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang saat ini masuk Kabupaten Banyuwangi. Wilayah tapal kuda ini, cenderung bernuansa Madura daripada Mataraman. Pengaruh Madura mulai berkembang ketika banyak suku Madura bermigrasi ke arah Selatan secara besar-besaran sekitar abad ke-18, dan mencapai daratan tapal kuda atau yang mereka sebut "Madura baru" karena kemiripan kondisi wilayahnya yang sama-sama gersang.
Di kawasan Tapal Kuda terdapat tiga pegunungan besar: Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru (dengan puncak tertingginya Gunung Semeru / 3.676 mdpl), Pegunungan Iyang (dengan puncak tertingginya Gunung Argopuro / 3.088 mdpl), dan Pegunungan Ijen (dengan puncak tertingginya Gunung Raung / 3.344 mdpl).


Kawasan Tapal Kuda seringkali dianggap sebagai daerah yang cukup tertinggal di Jawa Timur, karena berdasarkan peta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur, beberapa daerah di kawasan ini berada pada kelompok rendah.


Secara tradisional, kawasan Tapal Kuda merupakan kawasan yang diwarnai nuansa ke-Islaman yang kental. Nahdlatul Ulama mempunyai akar yang sangat kuat diwilayah ini, kendatipun mistisme juga ditemukan utamanya di Banyuwangi.


Secara geografis, Umat Islam di lereng kaki gunung banyak yang masih awam dengan ajarannya sendiri dan rentan untuk dimurtadkan. Sehingga dakwah dan pembinaan Islam sangat diperlukan.


Di lereng Gunung Kelud misalnya, tim survei Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) menemukan fakta sepinya masjid dan mushala pada waktu-waktu shalat. Miris sekali ketika mendengar alasannya. “Karena belum bisa shalat, ada juga alasan yang belum fasih atau hafal bacaan dalam shalat,” ungkap Ustadz Imron Sadewa, anggota tim da’i, kepada tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA), Nopember 2017, di Pujon, Kota Batu, Jatim.


Pembinaan sudah dilakukan.”Namun karena jarangnya intensitas kedatangan da’i ke wilayah ini, sehingga menyebabkan perkembangan dakwah sangat lambat,” ujar Wiyono, tokoh masyarakat Ngantang.


Di Desa Torongrejo, ada secercah harapan ketika melihat sekitar 30 anak yang antusias belajar membaca Al-Qur’an di rumahnya Gus Abdul Mujib, da’i setempat. “Kami sangat memerlukan Al-Qur’an dan Iqro’ untuk ngajar anak-anak karena semangat anak-anak untuk belajar Al-Qur’an sangat kuat,” ungkap Gus Abdul Mujib.


Fakta pemurtadan terungkap ketika tim tiba di kaki Gunung Semeru sisi Malang tepatnya di Desa Taman Satriayan. Salah satu modusnya adalah Muslimah menikah dengan lelaki yang non Muslim (menurut hukum Islam pernikahan ini tidak sah).


“Saat sang istri mengandung, biasanya ada perjanjian antara suami dan istri jika anak yang lahir putri sang suami masuk Islam dan begitu sebaliknya”, ujar Ustadz Herman, da’i lulusan kampus STIKI Malang yang mewakafkan dirinya untuk dakwah.


Salah satu cara membentengi akidah umat di wilayah ini para da’i membuat pondok tahfizh,  membina anak-anak dengan Al-Qur’an dan juga membuka les pelajaran sekolah yang mengajari anak-anak baik Muslim atau non Muslim. “Alhamdulillah responnya sangat bagus dari masyarakat karena adanya pondok memberi manfaat tidak hanya untuk anak-anak Muslim,” ungkap Ustadz Herman.


Alhamdulillah di Desa Sumber Tangkil, pembinaan terhadap warga berjalan intensif. Bahkan ada salah satu tokoh sepuh yang tidak pernah shalat dan membaca Al-Qur’an, Mbah Wasis (85 tahun) namanya, sejak tiga tahun lalu rajin berjamaah di mushala dan belajar Iqro’ bersama bapak-bapak lainnya.


“Saya ini sudah tua Mas, banyak kendalanya salah satunya adalah kacamata baca, jadi kalau belajar Iqro’ kacamatanya gantian dengan yang lain karena hanya punya satu,” ujar Ustadz Jumadi yang mengajar ngaji Mbah Wasis dan tokoh-tokoh sepuh lainnya.


 
Perlu Al Qur’an dan Up Grading Da’i


Namun di semua titik dakwah, Al-Qur’an langka, dan dai-dainya pun perlu penyegaran materi dakwah. Kondisi ini sangat dimaklumi mengingat daerah pelosok kampung dan berada di lereng gunung akses jalannya sangat susah.
Untuk mendukung dakwah di lereng Gunung Arjuna, Gunung Kelud, Gunung Semeru dan Gunung Ijen, BWA berencana mendistribusikan sekitar 50.000 Al-Qur’an wakaf dan 20.000 buku Iqro’ wakaf dalam proyek Al-Qur’an Road Trip di Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.


Anda dapat berpartisipasi walau dengan satu eksemplar wakaf Al Qur’an, Insya Allah Al Qur’an wakaf Anda akan bermanfaat untuk menjaga akidah dan menumbuhkan semangat saudara-saudara kita belajar dan membaca Al Qur’an. Jangan lupa, pahala yang besar menanti Anda dari setiap huruf Al-Qur’an yang mereka baca.[]


 
Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:
Rp 5 miliar (50 ribu Al-Qur’an wakaf dan pembinaan plus 20 ribu buku Iqra’)
 
Partner Lapang:
Ustadz Waindika 

Belum ada Update

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 5.000.000.000



8%
butuh Rp. 4.600.100.000,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.