Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Puluhan Tahun Warga Mauleum Mengalami Krisis Air Bersih

Video Survey Desa Mauleum Amanuban Timur TTS

 

Debu beterbangan seiring melajunya mobil berpenggerak 4 roda (4WD) yang ditumpangi tim Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA). Pandangan mata didominasi tanah tandus yang dipenuhi bebatuan, hanya sesekali nampak pohon dan ilalang. Begitulah pemandangan perjalanan sejauh 60 kilometer lebih dari Kota Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju desa tujuan yakni Desa Mauleum, Kecamatan Amanuban Timur, TTS, Kamis, 16 Maret 2017.

“Sebentar lagi kita memasuki Desa Mauleum,” ujar partner lapang BWA Ustadz Arifuddin Anwar begitu kendaraan menyusuri pinggir sungai yang dialiri sedikit air.

Dari kejauhan nampak sesosok perempuan berjongkok sedang melakukan sesuatu di tepi sungai. Semakin dekat semakin jelas bahwa kedua tangannya tengah menggali dasar sungai agar air terkumpul. Mobil pun berhenti di dekatnya. Tim memandangi seorang gadis tengah menyiduk air dari cekungan yang dibuatnya ke dalam jeriken berkapasitas lima liter. Setelah ketiga jeriken yang dibawanya penuh, ia pun bangkit hendak pulang. Tim pun meminta waktunya sesaat untuk berbincang.    

Gadis ini bernama Mersi Teno (18 tahun). Dia tidak bersekolah tapi bisa berbahasa Indonesia walau terbata-bata. Ibunya telah buta sementara ayahnya hanya seorang petani kebun ketela. Kata Mersi, air 15 liter tersebut harus cukup digunakan oleh lima orang termasuk kedua adiknya. Ia mengatakan terakhir kali turun hujan sepekan yang lalu.

Mata Darminto, ketua tim BWA, berkaca-kaca sembari berkata, “Beginilah kondisi warga bila musim kemarau tiba ya...”

Mesi pun menyanggahnya, “Sekarang ini musim hujan!”

Arifudin Anwar pun meyakinkan Darminto yang nampak tak percaya sembari berkata kalau kemarau itu bisa delapan bulan tanpa turun hujan. Sedangkan pada musim penghujan, hujan turun maksimal tiga kali dalam sepekan.

“Masya Allah, musim hujan di Mauleum laksana kemarau panjang di Jakarta,” ujar Darminto.

Mersi pun pergi. Tim kembali meneruskan perjalanannya menuju desa  yang dihuni 239 KK atau sekitar 2.096 jiwa. “218 jiwa di antaranya adalah Muslim yang rata-rata mualaf,” ujar Arifudin yang kerap berdakwah dan rutin membagikan hewan kurban ke desa binaannya itu.

Di sepanjang perjalanan menyusuri sungai nampak puluhan warga tengah melakukan hal serupa Mersi.

Menurut Arifuddin, bila tiba musim kemarau, sungai benar-benar kering. Maka satu-satunya jalan untuk mendapatkan air adalah dengan mengantri di sumber mata air yang berada di puncak bukit yang berjarak sekitar tiga kilometer dari desa.  “Warga dari beberapa desa mengantri di sana dari pagi, setiap orang dijatah maksimal 15 liter sekali ambil. Biasanya antrian baru berakhir sekitar jam tiga dini hari!” ungkap Pimpinan Pondok Pesantrean Ikhwanul Mukminin Adonara, NTT tersebut.

Tim pun disambut secara adat begitu sampai tujuan di Mushala Ali Desa Mauleum. Di antara tetua adat yang menyambut ternyata seorang non Muslim, Lasarus Isu (80 tahun) namanya.  “Sejak kakek saya sudah sulit air bersih, dan yang membutuhkan air tidak hanya orang Muslim, orang non Muslim pun membutuhkan,” ujar keturunan raja setempat tersebut dalam bahasa Timor.

Ada pula seorang ibu bernama Dortia Maubui. Ia telah merelakan anak-anaknya menjadi Muslim walau dirinya belum masuk Islam. Ibu separuh baya ini menatap tim seakan penuh harapan. Ia bersama ibu-ibu lainnya mengalungkan selendang adat Timor kepada seluruh personel tim BWA.

Selesai acara adat, waktu menunjukan pukul 13.00 WITA, Tim BWA langsung survei ke lokasi sumber mata air. Perjalanan menapak bukit terjal lagi licin harus dilalui untuk menuju sumber mata air ini, dan juga harus melewati sungai yang memiliki lebar lima meter.  Usai survei, hujan gerimis pun turun.

Rencana Proyek

Dari hasil survei, debit air di mata air ini sekitar 0,4 liter per detik atau setara dengan 34 meter kubik/24 jam. Air ini akan didistribusikan ke empat dusun di Desa Mauleum dengan membangun bak penampung air di masing-masing dusunnya.

Dengan program Water Action for People (WAfP), BWA berencana mengadakan proyek wakaf sarana air bersih di Mauleum. Adapun rencana sarana air bersih yang akan dibangun adalah sebagai berikut.

Pertama, pembuatan bak penangkap mata air yang berkapasitas 24 Meter Kubik, bak ini dibuat besar agar memiliki daya dorong yang kuat. Kedua, pembuatan bak penampung Dusun Kampung Ali berkapasitas 16 meter kubik yang berjarak sekitar 600 meter dari bak mata air.

Ketiga, pipanisasi dengan pipa HDPE 2 Inch dari bak penangkap mata air ke bak utama di Dusun Kampung Ali beserta pemasangan sling kawat baja melewati sungai sepanjang 100 meter. Keempat, pembuatan bak penampung di tiga dusun berkapasitas 10 meter kubik. Kelima, pipanisasi dengan pipa HDPE 1,5 Inch ke tiga bak penampung dusun di bawah Kampung Ali.

Kami mengajak kepada seluruh kaum Muslimin untuk membantu meringankan beban hidup warga Mauleum dengan turut menyukseskan wakaf sarana air bersih ini. Wakaf Anda akan membawa kebaikan dan mengalirkan pahala seiring mengalirnya air di desa ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan air ini akan menggugah warga Mauleum lainnya untuk memeluk Islam. Insya Allah.[]

 

Nilai Wakaf yang Diperlukan:

Rp 2.250.000.000,-

Parner Lapang

Bapak Thamrin dan Ust. Arifudin Anwar (Arief Mitra Group)

Puluhan Tahun Warga Mauleum Mengalami Krisis Air Bersih

Update #2 : Kisah Project Wakaf Sarana Air Bersih Desa Mauleum, NTT : PASANG AIR MENGORBANKAN 3 NYAWA..?

Wilayah di pedalaman Timor sampai hari ini masih ada pewaris penganut animisme yg menghuni pegunungan Timor Tengah Selatan (TTS) seperti suku Boti yang berjumlah sekitar 77 KK. Budaya animisme inipun masih terasa sampai di bukit Mauleum lokasi sumber mata air dlm program WAFP Badan Wakaf Al-Qur'an.

Menurut tim do'a setempat atau semacam peramal adat di Mauleum bahwa utk mengambil air dari bukit itu akan mengorbankan 3 nyawa alias meminta tumbal bagi penunggu air. Hal ini membuat keraguan masyarakat setempat terutama warga Kristen dalam mengerjakan jaringan pipa air bersih ini.

Ada satu kejadian lucu saat menggelar pipa karena sugesti dg ramalan pemangku adat tadi. Saat masyarakat sedang menggelar pipa melewati pepohonan rimbun menjelang Maghrib yg tentu terasa semakin seram, ada anak yang tak sengaja menarik ujung selang ketitik lain dan teriak dalam pipa dgn mengatakan dlm bahasa daerah yg artinya ; "Kalian berdiri disitu bikin apa mau datang ganggu saya ?" Serta merta para pekerja itu kaget dan semuanya lari terbirit birit meninggalkan kerja karena dibenak mereka terngiang ngiang ramalan tim do'a bahwa mereka akan jadi tumbal penunggu air.

Ini pasti suara penunggu, gumam mereka. Dalam napas terengah engah  dan mencekam mereka berkumpul dan membahas kejadian tadi barulah anak yg bernama Asron yang berumur  kira kira 14 tahun menceritakan tindakan lucu dia ini, merekapun terhening campur marah tapi lega dalam perasaan telah tertipu.


 

Akhirnya mereka kembali melanjutkan kerja gelar pipa tersebut.

Alhamdulillah pipa 6 rol telah digelar dan air telah menggapai lereng dusun tertingi yakni kampung Ali. Ancaman ahli nujum diabaikan, krn ternyata air tiba juga di kampung ini tanpa halangan berarti. Dari raut wajah mereka terbaca ; betapa gembiranya masyarakat  krn dapat menikmati air yang semakin besar debitnya.

Adapun air sebelumnya hanya menggunakan pipa sebesar setengah inch dan kecil sekali debitnya, dan ternyata hari ini airnya mengalir sepenuh pipa satu setengah inch.

Subhanallah puji Allah SWT yg mengaruniai semua ini. Sayangnya baru satu kampung terjangkau air dan pipa ini untuk mencapai kampung kampung lain masih harus digelar melintasi hampir 4 km lagi atau 39 rol lebih. Masih banyak upaya yg dibutuhkan, maka berwakaflah utk saudara saudara kita. Insya Allah dengan air yang bersih akan membersihkan juga akidah yang batil, ini semua berkat partisipasi wakaf Anda juga !

Update #1 :Bak Penampung Mata Air Sudah 100 Persen

Pipa yang dikirim dari Jakarta telah sampai di Mauleum pada 8 Nopember 2018. Masyarakat Mauleum yang semula was-was dengan kabar kedatangan pipa tersebut akhirnya terjawab sudah. Meskipun medannya yang sangat sulit ditempuh oleh Truk pengangkut pipa tersebut.

Masyarakat Mauleum pun bergotong royong untuk membawa pipa sebanyak 45 rol tersebut dengan panjang total 4.500 meter ke titik-titik yang sudah ditentukan, salah satunya di dekat bak penampung mata air, yang posisi nya sangat sulit dijangkau, walau tanpa membawa pipa. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka.

Selain itu, progres pekerjaan pembangunan bak utama di mata air kini sudah mencapai 100 %. Semua kegiatan pembangunan tersebut diawasi oleh expert BWA, dibantu partner lapang, dan dikerjakan bersama-sama masyarakat. Pemandangan yang sangat indah dan harmonis.

Pipa pun sudah langsung digelar sepanjang 100 meter. Rabu, 21 Nopember 2018 rencananya akan melanjutkan pekerjaan pipa yang akan digelar dan ditanam. Material, pasir, dan semen untuk bak di dusun-dusun pun sudah mulai di distribusikan.

Sempat berkembang isu Sara  Ust. Arif, partner lapang BWA mengatakan "Masyarakat Mauleum itu ada sekitar 2.000 orang, sebagian besarnya adalah nasrani warga muslimnya hanya sekitar 300 orang saja. Ketika kita bangun bak, ada isu bahwa air hanya akan dirasakan oleh masyarakat muslim saja, langsung saya bantah, bahkan air ini nantinya akan mengaliri gereja-gereja mereka, pak Polisi yang mendatangi saya setelah mendengar penjelasan,    tersebut berkata ; kalau ada yang bilang bahwa air dari BWA ini hanya akan dirasakan orang muslim, nanti saya injak kepalanya". Sontak forum Raker BWA ramai. Pasalnya hal tersebut beliau sampaikan pada saat acara raker tersebut.

Sejak dulu, para pendahulu kita mengajarkan, bahwa wakaf air memang diperuntukkan bagi masyarakat suatu daerah tanpa memandang agama mereka. Justru harapannya, dengan wasilah wakaf ini, banyak yang kemudian mereka berbondong-bondong masuk ke dalam Islam.

Project WAfP Mauleum ini menjadi titik awal harapan warga Timor untuk mendapatkan air bersih. Mari terus dukung BWA untuk menebarkan manfaat wakaf ke seluruh penjuru Indonesia. Hingga yang merasakan manfaatnya bukan hanya masyarakat muslim, namun juga mereka yang ada di sekitarnya, sehingga menjadi wasilah hidayah bagi yang memanfaatkannya sebab sarana air bersih tersebut dibangun dari keikhlasan para wakif sekalian.

#WakafKita   www.wakafquran.org

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Para Donatur