Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari

Riskan Ambruk, Gedung Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin Harus Direnovasi

Riskan Ambruk, Gedung Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin Harus Direnovasi

Hari beranjak senja, namun langit terlihat mendung, tampaknya hujan sebentar lagi turun. Hati Aruzi Abdullah resah, tadi siang ia meninggalkan buku pelajaran dan buku catatannya di dalam kelas.  Maksud hati agar tidak perlu repot-repot membawa buku-buku tersebut besok ke sekolah. Tadi, semua tugas sudah dikerjakannya.

Yang membuat Aruzi gelisah, air hujan bisa masuk ke dalam kelas. Dengan rasa menyesal Aruzi membayangkan, buku-bukunya akan basah pula, ia sama sekali tidak menyangka sore ini akan turun hujan lantaran cuaca siang tadi begitu cerah.

Bagi Aruzi, buku-buku adalah harta yang sangat berharga. Santri Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin yang duduk di kelas XII tingkat Aliyah (SMU) ini sangat membutuhkan buku-buku itu untuk menyiapkan diri menghadapi ujian akhir.

(Atap Pesantren yang Bocor)

(Atap Pesantren yang Bocor)

Ruang kelas yang digunakan santri Aliyah Ponpes Ikhwatul Mukminin memang sangat memprihatinkan., bagian atapnya bocor di mana-mana dan dindingnya pun sudah retak-retak.  Suasana belajar bukan saja tidak nyaman, tetapi juga tidak aman. Kayu-kayu yang menyangga atap sudah banyak yang lapuk, sewaktu-waktu bisa roboh.

Menurut Ustadz Arifuddin, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin, ruang kelas tersebut memang sudah berusia lama. Awalnya dibangun secara darurat tahun 2002, kemudian direnovasi tahun 2005 dan belum pernah lagi diperbaharui hingga sekarang.

(Kondisi Pesantren yang Memprihatinkan)

(Kondisi Pesantren yang Memprihatinkan)

Bukan perkara mudah bagi pengurus Ponpes Ikhwatul Mukminin untuk melakukan perbaikan atau renovasi bangunan maupun memenuhi kebutuhan ruang kelas. Kendala utama adalah faktor biaya. Ponpes yang berada di Desa Adonara, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menyelengarakan pendidikan gratis. Para santri bersekolah dan tinggal di asrama tanpa dipungut bayaran. Semua biaya operasional dan kebutuhan makan para santri ditanggung secara swadaya oleh pendiri dan pengurus Ponpes, sesekali ada donatur dari orang tua santri yang memberikan bantuan, tapi sifatnya tidak tetap karena memang sebagian besar santri yang mondok di tempat ini berasal dari keluarga yang juga terbatas ekonominya.

Diharapkan, sekalipun para santri ini berasal dari keluarga yang terbatas ekonominya, kelak mereka bisa memiliki ilmu yang dapat menebarkan manfaat bagi masyarakat luas. Karenanya, jenjang pendidikannya dibuat dua tingkatan. Selepas dari tingkat SMP, santri dapat melanjutkan ke tingkat SMU (Aliyah). Setamat Aliyah para santri diharuskan menjalani praktik lapangan dengan berdakwah ke pulau-pulau kecil di sekitar Flores Timur.

(Ponpes Ikhwatul Mukminin)

(Ponpes Ikhwatul Mukminin)

Aruzi sendiri berasal dari Kabupaten Lembata. Ia merupakan anak dari keluarga broken home dan tinggal bersama neneknya. Sebagai remaja tanggung, Aruzi sempat larut dalam lingkungan pergaulan yang kurang baik. Suatu ketika tanpa sengaja ia melihat brosur tentang Ponpes Ukhwatul Mukminin, hatinya tergerak untuk bersekolah ke tempat ini. Aruzi sangat bersyukur, pendidikan di Ponpes Ikhwatul Mukminin telah menyelamatkan kehidupannya.

Di tingkat SMP, ada pula santri kembar bernama Azham dan Azhim yang berusia 13 tahun. Keduanya yatim, tinggal bersama ibundanya di Kabupaten Sikka yang cukup jauh dari daerah Adonara. Si kembar ini berkeras hati untuk belajar ke Adonara. Mereka merasa betah, dan rela berpisah dengan ibunda demi bisa mempelajari mendalami ilmu agama Islam, meski fasilitas pendidikan yang didapati jauh dari sempurna, di pondok pesantren ini ada ketenangan batin yang dirasa.

Renovasi Ruang Kelas

Dilihat dari sisi kenyamanan dan keselamatan, kondisi ruang kelas Ponpes Ikhwatul Mukminin sudah sangat darurat sehingga perlu segera direnovasi. BWA tergerak membantu mewujudkan renovasi ini dengan skema berikut:

  1. Rencananya, di lokasi kelas yang rusak akan dibuat bangunan dengan luas 13x18 meter persegi. Ini lebih besar dari ukuran bangunan yang ada sekarang (9x10 meter persegi).
  2. Bangunan dirancang untuk menjadi bangunan dua lantai. Pada tahap awal dibangun satu lantai terlebih dahulu, yang dapat memuat tiga ruang kelas. Juga akan disediakan toilet untuk santri.
  3. Kelas yang direnovasi akan dilengkapi dengan fasilitas meja dan kursi belajar.  Paling sedikit diperlukan 30 pasang meja dan kursi belajar. Setiap satu meja belajar memiliki dua kursi.

Menjadi Ringan Bila Dilakukan Bersama-Sama

BWA mengajak para wakif untuk bersama-sama merwujudkan renovasi ruang kelas dan pengadaan fasilitas belajar di Ponpes Ikhwatul Mukminin ini. Dengan bergerak bersama-sama, maka sesuatu yang berat akan terasa ringan dan dapat terwujud dengan cepat.

Semoga Allah Subhanahu wata’aala meridhoi dan memudahkan niat baik ini, serta membalasi kepedulian dan partisipasi para wakif dengan kebaikan berlipat ganda.

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.1.995.642.000

Partner Lapangan:

Ust. Arifudin Anwar

 

#BWA #Wakaf #WakafKhususDakwah #RenovasiPesantren #Adonara

Riskan Ambruk, Gedung Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin Harus Direnovasi

Update #1: Atap dan Plafon Hampir Runtuh, Santri Terpaksa Harus Belajar di Masjid dan Rumah Pengasuh Pondok

Di balik semangat, keceriaan dan antusiasnya para santri dalam mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran di Pondok Pesantren Ikhwatul Mukminin, Adonara, Flores Timur, ada keprihatinan yang mereka alami dari hari ke hari. Gedung sekolah yang rapuh dan menua yang ada di lingkungan pondok tak bisa mereka jadikan tempat belajar yang teduh dan nyaman karena khawatir atap dan plafonnya sewaktu-waktu bisa roboh menimpa mereka. Gedung yang hanya terdiri dari 3 ruang kelas yang digunakan secara bergantian oleh santri Tsanawiyah dan Aliyah dan 1 ruang guru itu sudah mulai rusak disana sini. Atap bocor, dinding retak, lantai kotor dan berdebu karena serpihan runtuhan plafon yang tidak sempat lagi dibersihkan menyisakan langit-langit yang berlubang.

Demi keamanan dan kenyamanan, oleh pengasuh pondok, para santri diarahkan untuk belajar di bangunan atau ruang-ruang di dalam lingkungan pesantren yang masih memungkinkan digunakan untuk belajar seperti; di masjid, kamar-kamar santri, rumah pengasuh pesantren, dan di halaman terbuka dengan bernaung di bawah teduhnya pepohonan yang tumbuh di pekarangan. Semua itu mereka jalani sepanjang tahun dengan penuh rasa syukur.

Ibu Siti Wahida Ratuloli, S.Ag, Kepala Madrasah Pesantren Ikhwatul Mukminin mengungkapkan bahwa gedung sekolah rusak berat, khususnya bagian atap dan plafon. Para santri tidak bisa belajar di ruang kelas karena sering bocor dan tiba-tiba plafon runtuh, sementara untuk memperbaikinya perlu biaya yang tidak sedikit, sehingga kegiatan belajar mengajar dan mengaji dipindahkan ke masjid, kamar asrama dan rumah asatidz atau pimpinan pesantren. Karena itu beliau sangat berharap ada uluran tangan untuk membantu merenovasi ruang kelas yang rusak sehingga bisa digunakan kembali sebagai tempat belajar yang aman dan nyaman.

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Project Sejenis