Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Zakat Peer To Peer

Sadar Tidak Ada Kata Terlambat, Mantan Ajudan Soekarno ini Taubat

Meski usia sudah senja, Syahrudin (65 tahun)  belajar Islam dengan giat, karena mantan ajudan Presiden pertama RI Soekarno tersebut meyakini tidak ada kata terlambat untuk taubat. Ia banyak belajar Islam dari istri tercinta Rachmawati (45 tahun). Di samping itu, ia pun banyak membaca buku-buku keislaman.

Syafrudin Ajudan Seokarno Taubat Belajar IslamTim BWA mengunjungi kediaman Bpk Syahrudin, di Pondok Bambu Kuning, Bojong Gede.

Buku-buku tebal di lemarinya seperti kisah Sahabat Umar bin Khaththab ra, buku fiqih Imam Syari’i, buku Ihya Ulumuddin Imam Ghazali pun lahap dibaca. “Buku ini saya tamatkan dalam tiga hari dan sering saya ulangi lagi supaya lebih memahami,” ungkapnya sambil menunjuk buku Biografi 60 Sahabat Nabi yang tebalnya lebih dari 600 halaman tersebut.

Kuatnya tekad Syahrudin belajar Islam ditunjukan pula dengan kesungguhannya menghafal surat-surat pendek untuk bacaan shalat. Untuk menghafal surat Al Ikhlas saja, pensiunan angkatan laut dengan pangkat kapten tersebut perlu  waktu lebih dari seminggu. Hal itu karena kondisi kesehatannya yang tak kunjung stabil terutama jika kepalanya terasa sakit maka aktifitas menghafalpun ditinggalkannya. Saat ini, Syahrudin sedang manghafal Surat Al Kautsar.

Meski lahir dari keluarga Muslim, Syahrudin mengaku sangat jauh dari agama. Karir militer yang cukup baik dan kekayaan yang melimpah tak membuatnya bersyukur kepada Allah SWT. Pada usianya yang ke-51 tahun, ia mengalami dua musibah besar, usahanya bangkrut dan sakit jantungnya kumat sehingga serasa mau mati.

Sukses menjalani operasi jantung pada tahun 2000, ia merasa diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Maka sejak saat itu ia mulai tekun mendalami Islam.

“Alhamdulilah dengan penyakit ini Allah menegur saya, saya harus menjalani ini dengan ikhlas,” ungkap Syahrudin menyadari.

Karena tidak berbisnis lagi, harta yang melimpah pun habis untuk perawatan sakit jantungnya. Meski demikian, ia tetap rutin berobat jalan. Namun untuk menebus obat-obatan yang tidak murah itu ia sangat kesulitan. Maklumlah uang pensiun sudah habis untuk keperluan sehari-hari dan membayar utang berobat sebelumnya.

Maka tak jarang penyakit jantungnya itu sering kambuh karena telat mengkonsumsi obat. Agar bisa menebus resep obat, Rachmawati mencari bantuan ke sana kemari. Penyakit menahun itu terus menyebar ke organ yang lain. Terakhir cek lab ternyata Syahrudin juga terkena gangguan ginjal, penyumbatan pembuluh darah di kakinya. Di tambah lagi, sakit kepala yang luar biasa dan sakit pada urat belikat yang sering tak kuasa ditahannya.

Untuk meringankan beban keluarga Syahrudin, melalui program Zakat Peer to Peer (ZPP), Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) menggalang dana zakat mal (dan donasi) dari kaum Muslimin. Sehingga beban Syahrudin terkurangi dan kewajiban zakat (dan sunah sedekah) Anda tertunaikan sehingga pundi-pundi pahala untuk masuk ke dalam syurga-Nya semakin berlimpah. Aamiin.[]

Donasi yang diperlukan:

Rp  10.000.000,- (biaya berobat rawat jalan dan transportasi selama enam bulan).

Mitra lapang:

Alimudin Baharsyah

Sadar Tidak Ada Kata Terlambat, Mantan Ajudan Soekarno ini Taubat

Mantan Ajudan Soekarno Buka Usaha Kredit Buku Islami

BWA-ZPP. Syahrudin (66 tahun) dan Rachmawati (45 tahun) sangat berterima kasih kepada Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dan para donatur yang telah membantu meringankan bebannya.

zpp

Berulang kali Rachmawati mengucapkan terima kasih dan memanjatkan doa semoga para donatur dan semua pengurus BWA diberi kesehatan dan dilindungi Allah SWT.

Uang yang sudah diterima Syahrudin dan Rachmawati sebagiannya digunakan untuk usaha kredit buku-buku islami, “Alhamdulilah, usaha ini cukup membantu saya untuk makan sehari-hari, mengingat suami sudah tidak bekerja lagi,” ujar Rachmawati.[]

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.