Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Khusus Dakwah

Sepeda Motor Untuk Dakwah Islam Di Daerah Terpencil Pegunungan Bromo-Semeru

Kondisi jalan yang becek, penuh lumpur, membuat Gus Wahid berkali-kali  turun untuk menuntun dan mendorong sepeda motor yang dinaikinya. Apalagi jika musim hujan, licinnya semakin menjadi-jadi dan rasa was-was pun bertambah, lantaran sisi kanan dan kiri jalan terdapat jurang yang dalam. Medan yang sulit tersebut ia tempuh untuk sampai ke daerah binaan dakwah  di kawasan pegunungan Bromo-Semeru.

“Medan yang kami lalui memang bermacam-macam, tetapi ya namanya daerah pegunungan tidak akan jauh kondisinya dengan seperti ini,” ujar Abdul Wahid, da’i yang sudah lama berdakwah di pelosok-pelosok daerah di sekitar pegunungan Bromo dan Semeru, Jawa Timur ini mengungkapkan, saat menemani tim Badan Wakaf Al-Quran (BWA) meninjau daerah binaan dakwahnya.

jalan dakwah

Sesampainya di Desa Bungkus, salah satu lokasi yang menjadi target dakwah di kawasan gunung Semeru, seperti biasa da’i yang biasa disapa Gus Wahid ini membersihkan bajunya dari kotoran lumpur yang banyak menempel. Bergegas, ia melanjutkan perjalanan ke beberapa rumah warga yang sudah menjadi kontakan dakwahnya dengan raut wajah penuh kegembiraan.

Ditemani 7 orang da’i lainnya yang memiliki visi yang sama, Gus Wahid merapihkan barisan dakwah dengan membentuk sebuah komunitas berbadan hukum, dengan nama LPS Garda Muda, kependekan dari Lembaga Pendidikan dan Sosial - Gerakan Da’i Peduli Mualaf  dan Dhuafa.

Alhamdulillah, sejak memulai perjalanan dakwahnya di Suku Tengger, kawasan Gunung Bromo, kini mulai merambah ke daerah pegunungan sebelah utaranya, yakni kawasan Gunung Semeru. Di kawasan Semeru ini, terdapat dua kecamatan yang sudah satu tahun menjadi lahan dakwah tim Garda Muda. Yakni, Kecamatan Senduro dan Kecamatan Gucialit.

Di kawasan Gunung Semeru ini, tim Garda Muda kesulitan menjangkau daerah-daerah terpencil tersebut, “Karena jalannya sangat rusak sekali, sehingga waktu tempuhnya jadi lama apalagi menggunakan motor bebek yang kami miliki ini,” ungkap Gus Wahid.

puncak semeru

 

Sambutan Dakwah Ditengah Masyarakat Beragama Hindu   

Ketua dari tim Garda Muda ini cukup gigih menyampaikan dakwah islam. Ia memulai dakwah dengan perkenalan dan sambung hati dengan salah seorang warga. “Awalnya kita membicarakan masalah pertanian misalnya, lalu saling memberikan pendapat dan masukan. Akhirnya kita sentuh masalah tauhid pelan-pelan,” beber Gus Wahid.

Setelah sekian kali berkunjung, lanjutnya, Alhamdulillah lama kelamaan sudah satu kampung bisa kenal semua. Tak sedikit, sebagian warga mau bersyahadat dan mengaku sangat lega perasaannya setelah memeluk Islam.

Supoyo (40), tokoh dusun Pusung Duwur, Desa Argosari Kecamatan Senduro  Ia mengaku tak dapat mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. “Waduh iya pak, sekarang ko dada saya beda rasanya, lega sekali seperti tanpa beban, terus slametannya bagaimana pak?” tanya Supoyo kepada Gus Wahid saking senangnya.

Untuk melancarkan aktivitas dakwah, Gus Wahid meminta dua orang temannya, Ustadz Fattah dan Ustadz Yunus menikah dengan perempuan dari desa Argosari, anak perempuan Supoyo dipersunting oleh Ustadz Fattah. Sejak itu, Alhamdulillah sholat jum’at pun bisa diselenggarakan di desa tersebut.

Gus Eko Iqro

Di Kecamatan Gucialit, sambutan warga lebih antusias lagi. Eko Setyawan, selaku penanggung jawab wilayah itu menuturkan, meski warga masih mayoritas beragama Hindu, anak-anak mereka dipersilahkan belajar Iqro di majelis yang ia adakan. “Kemarin sempat ikut acaranya Darul Qur’an di Senayan, Jakarta. Padahal sebagian orang tua mereka masih beragama Hindu,” tutur ustadz yang biasa disapa Gus Eko ini.

Berkat antusiasme warga yang cukup tinggi, tim Garda Muda di Kecamatan Gucialit bersama warga kini sedang dalam proses pembangunan sebuah Pondok Pesantren dan sebuah Mushola. Ponpes yang direncanakan bernama Tahfidzul Qur’an Roudhlotul Muhibbin ini dikoordinatori langsung oleh Gus Eko, lokasinya di Dusun Sumber Agung Desa Pakel Selatan.

Gus Wahid, selaku ketua tim Garda Muda sangat bersyukur dapat menyelami berkah dakwah ini. Ia mengajak seluruh kaum muslim untuk mempertahankan suasana dakwah di dua kecamatan kawasan Gunung Semeru ini.  “Selain itu kami membutuhkan dukungan sarana transportasi untuk menempuh perjalanan yang terjal itu. Sepeda motor jenis trail akan sangat membantu dakwah ini,” ungkapnya, menyampaikan harapan.

Bersediakah Anda menyingkirkan hambatan dakwah di sana? Insya Allah, setiap hidayah yang tumbuh di hati dan setiap  ilmu yang didapatkan para mualaf-mualaf baru, akan mengalirkan pahala bagi mereka yang mewakafkan hartanya. []

 

Donasi yang dibutuhkan :

3 Unit Motor Trail Merk Kawasaki Tipe  D Tracker 150

Senilai Rp 83.700.000,- (Delapan Puluh Tiga Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah)

 

Patrner Lapang

Eko Setyawan  

Sepeda Motor Untuk Dakwah Islam Di Daerah Terpencil Pegunungan Bromo-Semeru

Update # 4 : Motor Dakwah BWA, Permudah Dakwah Islam di Tengah Budaya Hindu

Ustadz Abu Hurairah atau yang akrab disapa Gus Abu mengaku mobilitasnya untuk berdakwah menjadi lebih mudah setelah mendapatkan wakaf motor trail. “Motor trail ini sangat membantu mobilitas saya yang harus menempuh jalan yang belum beraspal dengan kemiringan hampir 80 derajat!” bebernya kepada www.wakafquran.org.

Motor Dakwah

Ust.Abu Hurairah sedang berdiri didepan Motor Trail yang merupakan Wakaf dari Para Wakif.

Da’i anggota Lembaga Pendidikan Sosial Gerakan Da’i Peduli Mualaf dan Dhuafa (LPS Garda Muda) tersebut mendapatkan wakaf Kawasaki  type KLX 150 warna hijau saat pengajian umum di rumah wakif Kresna Didit, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (20/7).

Dengan demikian, lelaki yang berusia 28 tahun ini lebih mudah mendatangi rumah warga binaannya yang terpencar satu sama lain di lereng pegunungan Semeru-Bromo sisi Lumajang khususnya di Dusun Pusung Malang dan Dusun Poli Kecamatan Gucialit, Lumajang, Jawa Timur.

Di samping membina warga, lulusan Ma’had Abdurrahman bin Auf UMM tersebut juga mendapat kepercayaan warga untuk membina anak mereka. Maka diadakanlah pengajian rutin yang saat ini diikuti sekitar 50 anak.

Selain masih awam dan kuatnya budaya Hindu di tengah warga minoritas Muslim, kendala bahasa pun menjadi kesulitan tersendiri. Karena mayoritas warga belum dapat berbahasa Indonesia. Namun dengan segala tantangan ini, dakwahIslam senantiasa terus digalakkan salah satunya oleh LPS Garda Muda.

wk

Motor Tral Ke-3 yang merupakan hasil Wakaf dari Wakif.

Dengan wakaf motor ketiga ini, berarti terpenuhi sudah tiga motor wakaf yang diajukan LPS Garda Muda kepada BWA untuk memperlancar mobilitas dakwah mereka. Sebelumnya, motor Kawasaki hitam type KLX 150 yang mereka dapat pada Januari 2014, digunakan secara bergantian oleh Gus Wahid dan Gus Eko yang sama-sama mendapatkan amanah dakwah di Gucialit, Bungkus dan Pakel. Sedangkan Kawasaki oranye type D Tracker 250 yang didapat Juli  2013 digunakan Gus Nur untuk membina warga Nduren, Wonocempoko dan Pasru.

Terima kasih kepada semua wakif yang telah berpartisipasi dalam project ini, semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan pahala yang terus mengalir seiring berputarnya roda ketiga motor trail tersebut.[]

Cerita lebih lengkap klik >>http://goo.gl/fnkE4T dan silahkan bantu program dan project BWA di www.wakafquran.org !

Update #3 : Tembus Terjal Pegunungan dengan Motor Dakwah, Sampaikan Hidayah

 

Setelah mendapatkan wakaf dua motor trail dari tiga yang diajukan, para da’i yang tergabung dalam Lembaga Pendidikan dan Sosial Gerakan Da’i Peduli Mualaf dan Dhuafa (LPS Garda Muda) senang dan bersyukur. Karena mobilasasi dakwah mereka ke daerah-daerah yang rawan pendidikan dan akidah di kantong-kantong minoritas Muslim Suku Tengger, di pegunungan Semeru-Bromo dapat lebih mudah dijangkau.

“Jadi tidak sering jatuh lagi,” ujar Ketua LPS Garda Muda Gus Wahid, Senin (19/5) di rumahnya, Desa Jatisari Kecamatan Semper, Kabupaten Gucialit, Lumajang, Jawa Timur.

Motor Kawasaki hitam type KLX 150 yang mereka dapat pada Januari 2014, digunakan secara bergantian oleh Gus Wahid dan Gus Eko yang sama-sama mendapatkan amanah dakwah di Gucialit, Bungkus dan Pakel. Sedangkan Kawasaki oranye type D Tracker 250 yang didapat Juli  2013 digunakan Gus Nur untuk membina warga Nduren, Wonocempoko dan Pasru.  

“Alhamdulillah kedua motor ini sangat membantu aktivitas dakwah para da’i yang kesehariannya membina warga di pedalaman. Warga memang harus lebih sering dikunjungi dan diajak berbincang seputar Islam. Agar mereka semakin menyakini kebenaran Islam serta mereka mau melaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Gus Wahid.

Rencananya, bila motor ketiga sudah didapat, akan digunakan untuk aktivitas dakwah di Kertowono, khususnya di Dusun Pusung Malang dan Dusun Poli. “Di daerah ini terdapat banyak muallaf dan dhuafa yang harus dibina. dan Alhamdulillah ada Gus Abu Hurairah yang baru lulus dari Ma’had Abdurrahman bin Auf UMM yang bersedia membina warga Kertonowo,” ungkapnya.

Melalui program Wakaf Khusus (WK) Motor Dakwah, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) mengajak kaum Muslimin bahu-membahu mengumpulkan dana untuk wakaf motor ketiga. Sehingga Gus Abu ---yang saat ini sedang membina sekitar 50 Muslim Tengger dan muallaf dari Hindu yang terpencar dalam beberapa dusun di Kertowono--- lebih mudah bergerak.[] 

Update #2 : LPS Garda Muda kembali Terima Wakaf Motor Trail

Lembaga Pendidikan dan Sosial Gerakan Da’i Peduli Mualaf dan Dhuafa (LPS Garda Muda) kembali mendapatkan motor trail wakaf, Senin (13/1). “Ini pencairan motor yang kedua dari tiga motor yang diajukan,” ungkap Gus Wahid, Ketua LPS Garda Muda, di rumahnya, Desa Jatirasi Kecamatan Semper, Kabupaten Lumajang Selatan, Jawa Timur.

Motor dakwah

Sesuai rencana yang diajukan dalam proposal, motor Kawasaki KLX 150 tersebut digunakan sebagai sarana transportasi dakwah Gus Eko, penanggungjawab LPS Garda Muda di Kecamatan Gucialit, Lumajang.

Namun sebelum diserahkan, Gus Wahid menggunakannya terlebih dahulu untuk mengontrol pelaksanaan pembuatan sarana air bersih wakaf di Dusun Pusung Duwur, Desa Argosari Kecamatan Senduro, Lumajang.

“Pas endrayen ana yang pake untuk pemasangan pipa di Pusung Duwur juga untuk kontak-kontak dakwah di sana selama seminggu,” ujarnya.

Gus Wahid pun menceritakan keunggulan kuda besi warna hitam yang ditungganginya itu. “Motor ini bannya kasar memiliki tonjolan dan dalaman (tipe off road, red) bagus untuk mencacar lumpur di sepanjang jalan tak beraspal,” ungkapnya.

Sepekan kemudian, barulah motor tersebut diserahkan ke Gus Eko di Dusun Sumber Agung Desa Pakel Selatan Kecamatan Gucialit, Lumajang. Harapannya dengan sarana motor tersebut, mobilisasi dakwah LPS Garda Muda di Gucialit semakin gencar sehingga semakin banyak mualaf dan Muslim yang terbina.

Sebelumnya, Garda Muda mendapatkan wakaf motor trail Kawasaki D Tracker 250 berwarna oranye pada Juli 2013. “Semoga motor yang ketiga segera cair, sehingga bisa digunakan untuk dakwah di Senduro,” ungkap Gus Wahid. 

LPS Garda Muda didirikan pada 22 Nopember 2012 oleh beberapa santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Lumajang pimpinan Gus Mujib (almarhum) di antaranya adalah Gus Wahid, Gus Eko, Gus Fattah dan Gus Yunus.

Lembaga ini didirikan agar dakwah dan pembinaan mualaf dan Muslim suku Tengger ---di pegunungan Semeru-Bromo yang dirintis mereka sejak dua tahun sebelumnya--- terkoordinasi dengan baik dan rapi.

Pada 2010,  ustadz-ustadz yang akrab disapa gus menyampaikan hidayah kepada warga Pusung Duwur sejak 2010. Hasilnya? 20 warga yang semula animis dan Hindu masuk Islam. Di samping para mualaf itu, mereka pun secara intensif membina 65 warga Muslim lainnya.

Pada 2012 dakwah mereka merambah ke Gucialit. Hasilnya pun cukup menggembirakan. Delapan warga yang semula animis bersedia masuk Islam. Sehingga secara rutin mereka membina mualaf beserta 120 warga Muslim lainnya.[]

Update #1 : Wakaf Motor Trail, Dakwah jadi Lebih Mudah

Bila bukan karena ingin mendapatkan ridha Allah SWT, berat rasanya bagi Ustadz Abdul Wahid berdakwah dan membina warga suku Tengger di Pegunungan Semeru-Bromo Jawa Timur.

Pasalnya, dari satu kampung ke kampung lain jaraknya saling berjauhan. Satu-satunya penghubung adalah jalan tanah terjal berliuk naik dan turun. Namun bagi dai yang akrab disapa Gus Wahid ini, tidak ada kata menyerah.

Lelaki asli Lumajang kelahiran 10 April 1983 tersebut suatu hari berangkat dari rumahnya di Desa Jatirasi Kecamatan Semper, Kabupaten Lumajang Selatan ke arah barat menuju lokasi di dataran tinggi Semeru, lereng Lumajang di Dusun Pusung Duwur, Desa Argosari Kecamatan Senduro yang jaraknya 45 Km.

Di hari lain, motor sarjana Pendidikan Agama Islam Institut Muhammadiyah Lumajang lulusan 2009 digas ke utara menuju Dusun Sumber Agung Desa Pakel Selatan Kecamatan Gucialit yang jaraknya 35 Km.

Gus Wahid Dalam Perjalanan Dakwah

Berbekal ilmu agama yang didapat saat nyantri selama delapan tahun di Pondok Pesantren Tafhidzul Qur’an Mambaul Hikam Lumajang Pimpinan KH Abdul Mujib (alm), ia menyampaikan hidayah kepada warga Pusung Duwur sejak 2010. Hasilnya? 20 warga yang semula animis dan Hindu masuk Islam. Di bantu temannya yang satu pondok di pesantren yakni Ustadz Fattah dan Ustadz Yunus. Kini Gus Wahid dan teman-temannya membina 65 warga.

Sedangkan dakwahnya ke Gucialit dimulai sejak 2012. Hasilnya pun cukup menggembirakan. Delapan warga yang semula animis bersedia masuk Islam. Ia dan rekannya yang lain yaitu Ustadz Eko Setyawan, yang juga teman satu pesantren,  kini membina secara intensif 120 warga Muslim. 

Agar dakwahnya semakin terkoordinasi dengan rapi, Gus Wahid dan rekan-rekannya  yang lulusan Mambaul Hikam membentuk lembaga yaitu Lembaga Pendidikan dan Sosial-Gerakan Da’i Peduli Mualaf dan Dhuafa (LPS Garda Muda) pada 22 Nopember 2012.

Alhamdulillah, pada akhir Juni 2013 lalu Gus Wahid mendapatkan bantuan satu unit sepeda motor trail merk Kawasaki D Tracker 250. “Motor trail ini merupakan wakaf yang disalurkan BWA, berarti motor ini sudah kami gunakan sekitar 2,5 bulan untuk berdakwah,” ungkapnya, Jum’at (27/9).

Gus Wahid Bersama Santri Binaan

Sebagai Ketua, ia mengatakan, aktivitasnya berdakwah bersama anggota LPS Garda Muda menjadi lebih mudah setelah menggunakan motor trail wakaf. Pria dengan satu istri dan satu anak ini pun membandingkannya dengan motor bebek tua miliknya yang sebelumnya dia gunakan dari rumahnya menuju Gucialit. “Dengan motor  bebek bisa memakan waktu 1,5 jam. Kalau motor trail cuma satu jam, uenak bisa ngewes...” bebernya.

Motor tersebut merupakan salah satu dari tiga motor trail wakaf yang BWA rencanakan untuk membantu lembaga yang beranggotakan enam orang da’i tersebut. “Insya Allah, di bulan Nopember 2013 dapat satu lagi, sisanya masih dalam proses karena BWA sedang menggalang dana wakaf dari kaum Muslim,” ungkap Gus Wahid.

Ia pun berencana kalau yang dua unit sudah didapat, satu digunakan untuk dakwah di pelosok Senduro dan satu unit lagi untuk mendukung dakwah di pelosok Gucialit.[]

Silahkan tambahkan project wakaf khusus motor trail ini ke kerenajang donasi Anda!

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.