Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Tanah Beralih Fungsi, Santri Dan Masyarakat Kampung Cirukap Sulit Mendapatkan Air Bersih

Separuh dari wilayah Kecamatan Cisata awalnya ditanami pohon karet oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. Namun setahun belakangan diganti dengan perkebunan sawit. Perubahan ini berdampak menyusutnya air tanah di Desa Cibarani. Menyusutnya air tanah membuat ketersediaan air di Desa Cibarani menjadi berkurang drastis dan saat musim kemarau mereka selalu terdampak kekeringan.

(Warga mengantre untuk membeli air bersih)

Kampung Cirukap terletak di Desa Cibarani, Kecamatan Cisata, Pandeglang Banten. Salah satu lokasi di kampung Cirukap yang sangat terdampak kekeringan adalah pesantren Riyadhul Athfal pimpinan Ustadz Didin. Di Ponpes ini bermukim 50 santri yang menimba ilmu. Ponpes ini sangat membutuhkan air untuk kegiatan belajar mengajar. Sangat menyedihkan, karena seringkali ketika mulai kegiatan belajar ba’da magrib mereka harus mengambil air wudhu ke rumah tetangga yang masih memiliki stok air karena di pondok air sangatlah terbatas. Sementara warga desa di lingkungan pesantren di kampung cirukap juga mengalami hal sama, kekeringan dan tidak memiliki sumber air yang bisa bertahan di kemarau panjang seperti tahun 2019 ini.

(Jerigen milik warga yang akan membeli air)

Masyarakat di kampung cirukap tidak memiliki sumber air yang dapat diandalkan saat kemarau. Kemarau tahun 2019 ini mereka harus membeli air seharga 250 rb/70L sebab air yang berada di sumber telah kering. Sedangkan sumur cincin (galian) yang ada di beberapa rumah warga hanya berupa air permukaan saja yang cepat sekali habis setelah diambil beberapa ember. Sebagian dari masyarakat ada yang memenfaatkan bantuan air bersih tapi dalam 1 hari hanya mendapat jatah 1 jam pemakaian dari sumur bor yang di buat kementrian ESDM dengan membayar iuran 5000/bulan. Ini tentunya sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari mereka.

Melihat kondisi lapangan yang demikian BWA berencana membantu masyarakat Kampung Cirukap untuk membuat wakaf sarana air bersih berupa pengeboran sumur dalam sebagai alternatif solusi dikarenakan tidak memungkinkan untuk merubah kebijakan penanaman di lahan milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Sumur dalam akan diprioritaskan dibangun di Pesantren Riyadhul Athfal kemudian didistribusikan ke sekitar pesantren yang berada di kampung Cirukap.

GAMBARAN PROYEK

Untuk membantu kesulitan air masyarakat di kampung Cirukap khususnya warga disekitar Pesantrean Riyadhul Atfal. BWA merencanakan proyek wakaf sebagai berikut :

  1. Sosialisasi ke masyarakat dusun akan pentingnya penghematan dan pemerataan akan pembagian air apda saat musim kemarau.
  2. Pembuatan 1 buah sumur bor dengan kedalaman 150 m’ berikut pompa, pipa dan asesorisnya, serta genset untuk power pompanya di lokasi ponpes Riyadul Athfal.
  3. Pembuatan Bak tampung Tower kapasitas 5000 ltr dengan tower konstruksi beton.
  4. Pembuatan instalasi pengisian air bersih di lokasi yang strategis yang mudah di jangkau oleh masyarakat kampung cirukap dengan motor ataupun mobil.

BWA mengajak kaum muslimin untuk membantu saudara-saudara kita di Desa Cibarani dengan proyek. Wakaf Sarana Air Bersih, sehingga mereka bisa kembali beraktifitas normal dengan ketersediaan air yang cukup. Para santri pun juga dapat belajar dan beribadah tanpa terkendala air bersih. Semoga amal ini menjadi pahala jariyah yang tiada terputus.

Donasi Wakaf Yang Dibutuhkan

Rp 770.000.000

Partner Lapang

Ustadz Didin

 

 

Tanah Beralih Fungsi, Santri Dan Masyarakat Kampung Cirukap Sulit Mendapatkan Air Bersih

Update #1: Air Habis, Santri Kesulitan Berwudhu

Rabu 5 Agustus 2020, Tim BWA melakukan survei ke pesantren Riyadhul Athfal yang berlokasi di Kampung Cikurap, Desa Cibarani Kecamatan Cisata Pandeglang. Kedatangan BWA langsung disambut oleh Ustadz Didin selaku pimpinan pesantren.

BWA melakukan pengecekan dan update kondisi terbaru di lokasi sebelum dilakukan pekerjaan fisik. Tim BWA yang saat itu ijin untuk kamar mandi ternyata tidak mendapati air keluar dari kran hanya satu ember air tersisa yang masih bisa digunakan.

(Air yang Tidak Lagi Mengalir)

(Air yang Tidak Lagi Mengalir)

“Jumlah santri sekarang ini ada 74 orang, yang paling kesulitan adalah untuk berwudhu/bersuci. Karena air hanya nyala beberapa jam saja dalam sehari dan baru menyala lagi esok hari,” cerita Ustadz Didin.

Kesulitan ini tidak mengurangi semangat santri untuk belajar mengaji ke Ustadz Didin, kegiatan belajar tetap berjalan walau beberapa santri kadang terpaksa numpang bersuci ke tetangga yang masih punya stok air bersih.

(Ustadz Didin)

(Ustadz Didin)

“Santri disini setiap tahun bertambah, ada yang masuk baru juga ada yang sudah selesai lalu keluar. Biasanya pas pelajaran Al Qur’an kan harus punya wudhu, itu yang menjadi kendala jika air habis”, Tambah beliau.

Suplai kebutuhan air bersih di kampung Cirukap paling banyak didapat dari sumur bor bantuan Kementrian ESDM yang dikelola PAMSIMAS. Namun karena kemampuan produksi air sumur bor tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat yang sangat banyak, maka air dinyalakan secara bergantian setiap harinya. Masyarakat di sekitar pesantren juga merasakan hal yang sama, mereka bergantian mendapat jatah dialiri air. Dengan kondisi tersebut mereka masih harus membayar tagihan air rata-rata Rp.150.000 per bulan. Kondisi ini semakin memberatkan mereka yang notabene mayoritas mata pencahariannya adalah petani

Ustadz Didin selain sebagai pengasuh sekaligus pengajar di pesantren, setiap harinya beliau juga bekerja sebagai penjual kerajian kayu. Beliau mengajar sejak tahun 1995 hingga sekarang ini dan baru merasakan sulitnya mendapatkan air bersih 4-5 tahun terakhir ini yang diduga kuat karena alih fungsi lahan dari karet menjadi kelapa sawit oleh PT PN dimana perkebunan tersebut hanya berjarak 100 m dari pesantren.  

Oleh karena itu BWA berinisiasi untuk membuat Proyek Wakaf Sarana Air Bersih dengan membuat sumur bor baru di pesantren Riyadhul Athfal agar terpenuhi kebutuhan air bersih di pesantren dan juga warga masyarakat sekitarnya.

Kami mengajak para wakif memudahkan urusan saudara-saudara kita di Kampung Cirukap dengan berpartisipasi dalam Program Water Action For People (WAFP) ini semoga Allah limpahkan kebaikan kepada kita semua.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Komunitas Pendukung