Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Tebar Cahaya Indonesia Terang

TCIT Solar Cell Togutil Patean Halmahera (198)

Berikan Cahaya Untuk Suku Togutil di Patlean, Halmahera

 

 

Suku Togutil (atau dikenal juga sebagai Suku Tobelo Dalam) adalah kelompok / komunitas etnis yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli yang termasuk dalam Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Yang perlu diingat, Orang Togutil sendiri tak ingin disebut "Togutil" karena Togutil bermakna konotatif yang artinya "terbelakang".

Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.

Suku Togutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara, tengah, dan Timur menggunakan bahasa Tobelo sama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo.

Kehidupan Orang Togutil sesungguhnya amat bersahaja. Mereka hidup dari memukul sagu, berburu babi dan rusa, mencari ikan di sungai-sungai, di samping berkebun. Mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual kepada orang-orang di pesisir. Kebun-kebun mereka ditanami dengan pisang, ketela, ubi jalar, pepaya dan tebu.

Khususnya masyarakat Togutil yang tinggal di desa Patlean, Halmahera Timur, mereka hidup di hutan dan rumah merekapun juga masih sangat sederhana dan jauh dari keramaian kota, sehingga permukiman mereka masih gelap apalagi bila malam tiba. Seiring perkembangan interaksi dan komunikasi antar sesama, masyarakat suku Togutil mulai mengenal dunia luar.

Sebagian dari mereka ada yang mulai mengenal Islam dan belajar mengaji. Namun karena keberadaan guru dan ustadz sangat jarang sehingga mereka belajar dan mengaji dilakukan sebulan sekali, itupun bila guru dan ustadz yang biasa mengajarkan islam kepada mereka datang.

Belum lagi karena rumah-rumah mereka yang terletak di hutan pastinya banyak kendala untuk bisa sampai ke perkampungan mereka, jalan yang masih becek seperti kubangan, suasana perkampungan yang gelap gulita karena belum tersentuh pembangun dan aliran listrik dari PLN.

Untuk penerangan setiap malam tiba mereka mengandalkan lampu minyak bagi yang mempunyai uang lebih itupun hanya segelintir orang, sisanya tidak menggunakan penerangan alias berselimutkan pekatnya kegelapan malam.

Tim BWA telah berkunjung ke Patlean guna melihat secara langsung kehidupan mereka. Dari pengamatan yang didapat Tim BWA menemukan solusi tepat dan cepat untuk penerangan di sini. Solusi penerangan yang di maksud adalah Solar Sell.

Melalui program Tebar Cahaya Indonesia Terang BWA mengajak kaum muslimin untuk membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat dusun Patlean, Halmahera Timur dengan pengadaan Solar Sell. Ayo bantu terangi rumah-rumah mereka dengan solar cell

Dengan terangnya rumah suku Togotil di desa Patlean insya Allah membawa cahaya Islam yang akan menerangi kehidupan masyarakat Patlean dengan Islam. Insya Allah akan mengiring pahala Allah selama Solar Sell menyala kepada kita.

Donasi Wakaf yang dibutuhkan

Rp 2.000.000.000 (200 Unit)

Partner Lapang

Hasan Kristo

TCIT Solar Cell Togutil Patean Halmahera (198)

Update #01: Sisi Lain: Suku Togutil Mulai Memeluk Islam

Suku Togutil hidup dan tinggal di Pedalaman hutan Kabupaten Halmahera, Maluku Utara. Togutil sendiri merupakan sebutan bagi sekelompok manusia yang mendiami hutan di kawasan Pulau Halmahera. Togutil memiliki arti “suku yang hidup di hutan” atau dalam bahasa Halmahera pongana mo nyawa.

Mereka hidup di hutan belantara dan nampak begitu tradisional, belum tersentuh peradaban modern dan teknologi. Dalam hal berbusana rata-rata setengah dari tubuh mereka, baik kaum lelaki maupun perempuan hanya ditutupi daun.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencarinya di hutan-hutan. Mereka terbiasa menyantap makanan secara langsung atau dimasak secara sederhana dengan cara dibakar dengan bambu. Mereka masih sangat bergantung pada hasil alam. Makan dari buah-buahan, umbi-umbian, pucuk-pucuk daun muda dan dari hasil buruan binatang hutan dan ikan sungai.

Dalam kesederhanaan mereka, masyarakat suku Togutil mulai mengenal Islam, beberapa diantara mereka menyambut baik, dan memiliki keinginan untuk belajar Islam lebih dalam. Namun seringkali hambatan geografis, kondisi mereka yang ada di pedalaman, mengakibatkan kurang maksimalnya dakwah terhadap mereka.

Tim BWA bersama Warga Muslim Suku Togutil

(Tim BWA bersama Warga Muslim Suku Togutil)

Salah satu kebutuhan bagi mereka adalah tersedianya jaringan listrik di daerah mereka. Sehingga apabila menjelang malam, mereka bisa beraktivitas dan salah satu manfaat lain adalah memudahkan pula bagi da’i untuk bisa berdakwah disana, menyebarkan cahaya Islam di kegelepan masyarakat terpencil di pelosok Halmahera ini.

Melalui program TCIT, Tebar Cahaya Indonesia Terang, BWA mengajak muslimin untuk bersama membantu, berwakaf untuk mewujudkan malam yang bercahaya bagi saudara kita Suku Togutil di Halmahera. Semoga wakaf kita menjadi pahala yang terus mengalir, insyaAllah, aamiin.

#TebarCahayaIndonesiaTerang

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Komunitas Pendukung