Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

Ternyata Ini yang Membuat Remaja Ranah Minang Tidak Menonton TV Saat Maghrib

BWA-WAP. Kebiasaan maghrib mengaji di berbagai tempat di Nusantara semakin langka seiring dengan semakin menariknya acara sinetron di televisi. Meski dimasukan kategori remaja, namun tayangan yang menyedot perhatian anak-anak dan remaja tersebut kerap tidak mendidik. Untung saja, di Ranah Minang termasuk di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kebudayaan islami tersebut tetap lestari bahkan jadi ujung tombak membumikan Al-Qur’an.

WAP

Bukan hanya di masjid dan surau (mushala), kebiasaan mengaji usai shalat maghrib pun semarak di rumah-rumah di Tanah Datar terlebih pada sejak 2011 lalu Bupati mencanangkan Gerakan Maghrib Mengaji dan mematikan televisi dari maghrib hingga isya. Praktis, pada waktu tersebut hampir semua anak dan remaja tidak menonton televisi, karena mereka serentak belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Maghrib mengaji merupakan budaya Islami yang patut mendapatkan dukungan dari semua pihak, baik fikiran, tenaga dan sarana. Untuk tenaga pengawasan sejauh ini cukup memadai. Karena, menurut Datuk Jamuar (60 tahun), masyarakat Minangkabau mempunyai sistem pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan Al-Qur’an  melalui ninik mamak (pemimpin adat) yang memiliki peran yang penting. “Melalui merekalah pengawasan dilakukan karena mereka memiliki kedekatan hubungan dengan masyarakat,” ujar salah satu tokoh di Kabupaten Tanah Datar tersebut.

Nah, yang menjadi kendala adalah sarana terutama kuantitas Al-Qur’an. “Jumlah Al-Qur’an tidak sebanding dengan jumlah santri yang mengaji di surau-surau, sehingga anak-anak harus bergantian untuk membaca Al-Qur’an,” ungkap guru ngaji Surau Al Mukmin Nagari Tanjungbarulak Pintu Rayo Datuk Safrijon (42 tahun).

Di rumah-rumah pun demikian. Satu Al-Qur’an kerap jadi rebutan. Menurutnya, agar kegiatan mengaji anak-anak berjalan dengan baik, setidaknya harus ada tiga atau empat Al-Qur’an di setiap rumah. “Setiap hari belajar Al-Qur’an dari maghrib sampai isya, tidak ada agenda nonton televisi, dll, semuanya belajar mengaji, sehingga semua rumah ramai dengan bacaan Al-Qur’an,” harapnya.

Untuk mendukung budaya Islami maghrib mengaji, melalui program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAP), Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) akan mendistribusikan sekitar 5000 Al-Qur’an wakaf ke berbagai pondok pesantren, masjid dan surau di Tanah Datar.

Mulai dari Surau Al Amin Jorong Darek; Surau Al Huda; Masjid Uswatun Hasanah; Surau Nurul Yakin; Ponpes Al Harby  dan beberapa masjid dan surau lainnya di Nagari Simawang Kecamatan Rambatan. Lalu menuju Masjid Raya Nurul Amal Tepi Selo Lintau Buo, Surau Al Muslimin Jorong 10 Tanjung Barulak; Rumah Tahfidz Dengan Hati Nagari Pagaruyung dan beberapa masjid serta surau lainnya di Kecamatan Tanjung Emas. Kemudian dilanjutkan ke Rumah Tahfidz An Nur Jorong Ladang Laweh Kecamatan Batipuh.

Ayo dukung project Al-Qur’an Roadtrip yang diagendakan berlangsung pada Februari 2016 tersebut. Dan pastikan Al-Qur’an wakaf dari Andalah yang mereka terima. Sehingga Anda terus memperoleh pahala dari setiap huruf yang dibaca mereka bahkan dari setiap ayat Al-Qur’an yang mereka amalkan. Aamiin.[]

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp 500.000.000,- (5.000 Al-Qur’an, @ Rp 100 ribu)

Mitra Lapang:

Januar, SPd

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.