Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari

Untuk Berwudhu Saja Warga Oe Ekam Harus Berjuang, Air Bersih Sangat Mereka Butuhkan

Untuk Berwudhu Saja Warga Oe Ekam Harus Berjuang

------------------------------------------------------------------

“Santri kami kalau mau berwudhu harus mengambil dari sumur tetangga yang masih ada airnya, kalau sumur itu juga habis maka harus mengambil di sumber yang jauh dan susah diakses, jaraknya bahkan sampai 1,5 Km.”

Begitulah kondisi santri yang dituturkan pengajar Ponpes Miftahuddin, Bu Uswatun. Pesantren ini memiliki 250 santri dan disinilah mayoritas anak-anak muslim dari wilayah di sekitar desa Oe Ekam, NTT belajar Islam dan seperti halnya santri, masyarakat desa Oe Ekam juga mengalami kesulitan air bersih khususnya ketika kemarau tiba.

(Ponpes Miftahuddin)

(Ponpes Miftahuddin, Oe Ekam NTT)

Desa Oe Ekam berada di Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ketika Tim BWA (Badan Wakaf Al Qur’an) melakukan survei ke daerah ini pada November 2019 lalu, sumur-sumur dangkal milik warga mengering tidak ada airnya sama sekali.  Desa ini , berada di rentang ketinggian 400-500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan sebetulnya merupakan daerah pertanian, namun di musim kemarau lahan menjadi kering kerontang sehingga tidak bisa digarap.

(Warga Mengantri untuk Mengambil Air)

(Warga Mengantri untuk Mengambil Air)

Termasuk daerah pelosok dimana jarak ke kota terdekat dari tempat ini yaitu kota Kupang, warga desa harus menempuh perjalanan darat selama 4-5 jam. Desa Oe Ekam berpenduduk sekitar 3.000 jiwa (750 KK), sekitar 100 KK di antaranya beragama Islam. Walaupun minoritas tapi di daerah ini berdiri sebuah pondok pesantren yang bernama Pesantren Miftahuddin pimpinan Ustadzah Lisnayati. Di Pesantren Miftahuddin juga berdiri Lembaga Pendidikan mulai dari PAUD, MI, MTS dan SMK. Dari Pesantren inilah jantung dakwah Islam dan pembinaan masyarakat muslim di sekitar Oe Ekam, bahkan salah satu Guru menuturkan : “Banyak masyarakat yang akhirnya masuk Islam karena mereka bisa belajar Islam disini dengan program beasiswa dari pondok”.

(Warga Membawa Jerigen-jerigen untuk Mengambil Air di Sumber Air)

(Warga Membawa Jerigen-jerigen untuk Mengambil Air di Sumber Air)

Sebetulnya, di Desa Oe Ekam ini terdapat sumber air bersih yang cukup memadai, namanya mata air Oebono, air mengalir dari bebatuan yang terletak persis di bawah sebuah pohon besar. Namun lokasi mata air Aebono ini cukup jauh dari pemukiman penduduk berada di kaki bukit yang untuk mencapainya, warga harus berjalan menuruni bukit sejauh 500 meter dan jarak terjauh sekitar 1,5 Km. Di musim kemarau, warga Desa Oe Ekam tidak punya pilihan selain mengambil air ke mata air Oebono, kemudian mengangkutnya ke rumah dengan susah payah mendaki lereng bukit.

BWA tergerak membantu warga desa Oe Ekam agar terbebas dari masalah kekeringan dengan membuat Project Wakaf Sarana Air Bersih atau Water Action for People (WAfP) Oe Ekam.  Berdasarkan survei yang BWA lakukan, mata air Oebono dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga, debit air di musim kemarau saja masih bisa stabil 0,5 liter/detik, dan kualitas airnya cukup bagus. BWA sudah melakukan pegecekan bahwa air Oebono memiliki pH 8,06 dan TDS 226.

 

Rencana Proyek

Rencananya, BWA akan membuat proyek pipanisasi dan membangun bak-bak penampung air di berbagai penjuru desa, dimana dari sumber mata air Oebono air akan dipompa dan dialirkan ke bak-bak penampung. Dengan demikian warga desa akan lebih mudah mengambil air di dekat rumah mereka sendiri, sehingga tidak perlu lagi bersusah payah bolak balik turun naik bukit. Dengan pipanisasi ini, ketersediaan air bersih di desa akan lebih terjamin. Berikut ini rincian kegiatannya :

  1. Membuat bak penampungan mata air di mata air Oebono, Desa Oe Ekam.
  2. Pipanisasi dari mata air Oebono ke atas bukit dengan beda head sekitar 50 m menggunakan pompa submersible.
  3. Pengadaan Pompa submersible dengan teknologi tenaga sinar matahari (solar cell).
  4. Membuat Bak Penampung Induk di atas bukit atau di tempat yang tertinggi.
  5. Membuat 6 bak pembagi, di antaranya terletak di depan Kantor Desa, SD Negeri, dan Pondok Pesantren Miftahuddin.
  6. Mengalirkan air dari Bak Penampung Induk ke bak pembagi menggunakan metode pipanisasi dengan gravitasi.

Kami mengajak para wakif untuk membantu masyarakat Oe Ekam agar mereka tidak lagi bersusah payah mendapatkan air sehingga dapat untuk memenuhi hajat hidup mereka dengan air bersih yang mudah dijangkau. Mudahnya membantu urusan mereka dengan uluran tangan dan harta yang kita wakafkan dapat meringankan hisab kita di akhirat kelak. Aamiin.

 

Nilai Wakaf yang Diperlukan:

Rp.2.457.000.000

Mitra Lapangan:

Ustadz Arifuddin Anwar

 

#BWA #WakafQuran #WAFP #WaterActionforPeople

Untuk Berwudhu Saja Warga Oe Ekam Harus Berjuang, Air Bersih Sangat Mereka Butuhkan

Update #4: Matangkan Rencana, BWA Realisasikan Pembangunan Wakaf Sarana Air Bersih di Awal Tahun 2022

17 November 2021 tim WAFP BWA kembali meninjau lokasi project wakaf sarana air bersih di Desa Oe Ekam, Nusa Tenggara Timur. Tim BWA berangkat dari Jakarta menuju Kupang pada rabu dini hari. Setibanya di Kupang tim didampingi oleh Haji Rivan. Pak Haji demikian ia akrab disebut, merupakan sosok yang selama ini membantu dakwah BWA di daerah kabupaten Timor Tengah Selatan.

Pada kegiatan survey ini, tim berfokus pada persiapan realisasi pembangunan sarana air bersih di Oe Ekam. Setibanya disana, tim disambut oleh Haji Abdul Qadir Lenamah selaku tokoh adat dan tokoh muslim di Oe Ekam. Selepas berdiskusi dengan beliau, tim melakukan kunjungan ke kantor desa Oe Ekam.

(Kegiatan Survey BWA)

(Kegiatan Survey BWA)

Tim diterima langsung oleh kepala desa Oe Ekam, Bapak Yeyoda E. Nabunome. “Terimakasih banyak dan apresiasi setinggi-tingginya kepada BWA yang telah berniat membantu warga kami. Permasalahan air ini merupakan hal yang selalu dihadapi warga Oe Ekam setiap tahunnya terutama di musim kemarau,” tutur Bapak Yeyoda dalam sambutannya.

(Kunjungan di Kantor Desa Oe Ekam)

(Kunjungan di Kantor Desa Oe Ekam)

(Kantor Desa Oe Ekam)

(Kantor Desa Oe Ekam)

“Warga terpaksa harus berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan beberapa liter air bersih. Kesusahan mendapat air bersih ini telah kami rasakan selama bertahun-tahun,” sambung beliau.

Di pertemuan tersebut tim BWA menyampaikan rencana pembangunan wakaf sarana air bersih di Oe Ekam. Menanggapi rencana tersebut beliau berpesan jika akan mengambil air dari sumber mata air Oe Bono, beliau meminta agar tim berkenan untuk meminta ijin terlebih dengan kepala suku yakni Bapak Paul Menis, karena mata air tersebut terletak di dekat tempat ritual suku dan merupakan tanah ulayat atau adat.

Mendengar pesan dan usul dari Bapak Kades, tim BWA pun segera menuju rumah Bapak Paul Menis untuk meminta ijin terkait pembangunan di sekitar tanah ulayat.

Alhamdulillah dengan bantuan dari Haji Abdul Qadir dan Bapak Thamrin Isu selaku partner lapangan BWA yang merupakan salah satu keturunan keluarga raja yang dihormati oleh suku Dawan yang meliputi seluruh kecamatan Amanuban Timur, tim BWA tidak mengalami hambatan dalam mendapatkan ijin atau dukungan dari kepala suku Bapak Paul Menis.

Setelah  mendapatkan dukungan warga, perangkat desa dan tetua adat suku di Oe Ekam, selanjutnya tim BWA kembali melanjutkan kegiatan survey di titik mata air di daerah Oe Bono. Kegiatan survey tim BWA disana untuk menghitung jumlah debit air, beda ketinggian tanah dan mulai membuat titik pembuatan bak penampung yang InsyaAllah akan segera dibangun. Dari hasil survey ini, akan dibawa ke Jakarta guna melakukan penghitungan teknik, pemesanan barang dan kebutuhan lainnya.

Mari selesaikan pembangunan wakaf sarana air bersih untuk saudara kita di Oe Ekam NTT. Wakaf anda membantu mereka, memudahkan mereka untuk mendapatkan air bersih yang selama ini mereka impikan. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan para wakif dengan pahala berlipat, aamiin.

 

Update #3: Kemarau Datang, Sumur Tampungan Air Mulai Mengering

Musim kemarau kini telah datang dan mulai dirasakan dampaknya di sebagian besar wilayah di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Memasuki bulan Juli 2021, mulai tampak tanda-tanda keringnya ketersediaan air di sumur-sumur warga di Oe Ekam. Harapan untuk segera mendapatkan kemudahan memperoleh air bersih semakin terdengar dari warga Oe Ekam. Salah satunya dari Pengasuh pesantren Miftahudin di Oe Ekam, Ibu Uswatun Thamrin.

(Warga Mulai Kesulitan Mendapatkan Air Bersih)

(Warga Mulai Kesulitan Mendapatkan Air Bersih)

“Kami disini sudah memasuki musim kemarau. Bisa dilihat air sekarang sudah berkurang, semoga benar akhir tahun ini kami bisa mendapatkan bantuan air bersih,” tutur Ibu Uswatun kepada tim BWA melalui sambungan telepon. 

Kondisi kesulitan air terus terjadi berulang setiap tahun di musim kemarau, warga benar-benar kepayahan untuk mendapat air bersih hingga terpaksa naik turun bukit ke lokasi yang masih ada air. Pesantren Miftahudin yang merupakan satu-satunya pesantren di Oe Ekam, pengurus dan santri pesantren sangat terdampak dan benar-benar merasakan betapa susahnya untuk mendapatkan air guna keperluan ibadah dan kebutuhan sehari-hari.

Para santri yang beberapa di antaranya adalah mualaf, sangat terdampak ketika musim kemarau datang. Berburu sumur warga yang masih ada air merupakan kebiasaan yang sering dilakukan. Hal ini tentu sangat mengganggu kegiatan di Pesantren.

Melihat kondisi tersebut, BWA berusaha semaksimal mungkin dengan bantuan dari para wakif, untuk merealisasikan project ini sebelum akhir tahun. Membantu mereka, warga Oe Ekam yang tengah berjuang memperoleh air bersih di musim kemarau ini.

“Selain melakukan pipanisasi, BWA juga akan membuat pompa untuk mendorong air dengan tenaga surya. Teknologi ini kami pilih supaya warga tidak mengalami kesusahan membayar listrik untuk pompa air,” terang Didik selaku manager program BWA.

Dengan adanya sumber air di Oe Bono BWA berencana untuk merealisasikan amanah dari para wakif melalui Program Wakaf Sarana Air Bersih Water Action for People yang di targetkan akan  mulai  direalisasikan di penghujung 2021 ini. Mari bersama-sama membantu saudara kita di Oe Ekam, semoga Allah melapangkan rizki dan keberkahan di kehidupan kita.

 

Update#2 : Bantu Muslim minoritas Oe Ekam wujudkan tersedianya air bersih

Bagi penduduk muslim minoritas di Oe Ekam, NTT, bersuci adalah sesuatu hal yang mutlak yang dilakukan sebelum beribadah. Namun, sudah bertahun-tahun mereka kesulitan air bersih. Sumur-sumur galian masyarakat hanya mampu bertahan 1-2 bulan di awal musim kemarau. Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat Oe Ekam harus berjalan naik turun bukit untuk bisa mendapatkan air di sumber mata air Oe Bono. Tentu ini bukan perjalanan yang mudah karena naik dan turun bukit dengan memanggul jerigen sungguh melelahkan, apalagi untuk warga yang tinggalnya berjarak 1.5 KM dari sumber mata air Oe Bono. BWA berencana memanfaatkan air di sumber air Oe Bono untuk didistribusikan ke masyarakat Oe Ekam dengan teknik pompa tenaga surya dan pipanisasi. Insya Allah upaya kami mampu membantu masyarakat Oe Ekam mendapatkan air bersih, dapat mengalirkan pahala deras tanpa henti walaupun usia sudah berakhir.

Update #1: Tetua Adat Oe Ekam Bangga Bila Umat Islam Bisa Bangun Jaringan Air Bersih

Pak Kadir adalah salah seorang tokoh muslim dan tetua adat di Desa Oe Ekam, Kecamatan Amanuban Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan. Usianya hampir 60 tahun.  Beliau dikenal sebagai da’i senior serta perannya sebagai anggota BPD, membuat beliau sering menjadi tempat bertanya atau dimintai pertolongan warga-warga yang ada di desanya. 

(Bapak Kadir, Tetua Adat Oe Ekam)

(Bapak Kadir, Tetua Adat Oe Ekam)

“Ustadz,  air disini amat sulit, kita umat Islam minoritas disini maka bila kita bisa mempermudah akses air bersih untuk semua umat disini maka tentu dapat mengagungkan agama ini dan ini akan semakin menguatkan kita dan dakwah disini, lebih lebih kita umat islam yang paling banyak memerlukan air untuk ibadah.” Tutur beliau kepada partner lapangan BWA Ustadz Arifudin Anwar.

Sumur-sumur galian masyarakat hanya mampu bertahan 1-2 bulan di awal musim kemarau. Sehingga untuk mendapatkan air bersih yang layak konsumsi masyarakat Oe Ekam harus berjalan naik turun bukit untuk bisa mendapatkan air.  Bila BWA bisa membuat program “menarik” air di lembah Oe Bono itu ke kampung Oe Ekam, maka masyarakat Oe Ekam akan sangat terbantu.

“Saya tidak bisa membayangkan lagi gembiranya masyarakat disini,  Allahu Akbar.  Semoga BWA bisa membantu kami”, tutup Pak Kadir dalam silaturahim yang dilakukan Ustadz Arifudin Anwar.

BWA berencana memanfaatkan air di sumber air Oe Bono untuk didistribusikan ke masyarakat Oe Ekam dengan teknik pompa dengan tenaga surya dan pipanisasi sehingga masyarakat Oe Ekam lebih mudah mendapatkan air bersih di dekat rumah mereka.

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.

Para Donatur