Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Al-Qur'an & Pembinaan

WAP Roadtrip Halmahera - Maluku Utara

Berikan Warga Halmahera Maluku Utara Wakaf Al Quran Anda

Halmahera (juga Jilolo atau Gilolo) adalah pulau terbesar di Kepulaun Maluku. Pulau ini merupakan bagian dari provinsi Maluku Utara, Indonesia.

Halmahera memilik area 17.780 km² dan populasi sekitar 162.728 jiwa. Pada 1997, sekitar 80% penduduk adalah Muslim, dan sekitar 20% adalah Kristen.

Pulau ini dibagi menjadi 10 kabupaten: Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Kepulauan Morotai, Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Pulau Talibau.

Tim Survey BWA memasuki Maluku Utara melalui Galela dan Tobelo, dakwah Islam di Halmahera mengalami pasang surut, walau jumlah penduduk mayoritas beragama Islam, namun kondisi umat Islam masih sangat memprihatinkan, menurut  keterangan dari ust. Salim, ketika Tim survey BWA menyambanginya.

Dalam kesempatan survey di Kabupaten Halmahera Utara, Tim BWA mengunjungi ust. Nurhadi Dai Tangguh dari Baitul Mal Hidayatullah, Beliau membina dan mengajarkan Islam kepada suku Togotil. Untuk menuju tempat suku Togotil, dari Jakarta terbang menuju Ternate, dari Ternate lanjut ke kota Sofifi, Ibu Kota Halmahera Utara, dilanjutkan ke Tobelo melewati jalur darat, ganti naik kapal laut malam selama 8 jam untuk sampai di perkampungan suku Togutil.

(Ust. Nurhadi disamping rumah-rumah adat suku Togutil, Platean, Halmahera Timur)

Beliau berdakwah di suku Togutil sejak 2016, bahkan beliau telah berhasil meng Islamkan beberapa orang dari suku Togutil tersebut. Suku Togotil masih hidup secara primitif bahkan seolah mereka belum mengenal peradaban, hal ini dibuktikan masih banyak yang belum mengenal pakaian dan uang.

Suatu hari beberapa orang suku Togotil di ajak oleh tim ust. Nurhadi pergi ke kota membeli beberapa baju di mal, mereka senang lihat mal dan mendapat baju bagus. Namun sore harinya setibanya di perkampungan Suku Togotil, baju yang telah dikenakan tersebut dicopot lalu dibuang, mereka kira hanya dipakai sekali saja.

Bahkan sebelum mereka bersyahadat, ada orang yang membawakan baju untuk para wanita Togotil, dan ketika mereka diberikan baju untuk dipakai, tanpa malu mereka buka baju yang mereka kenakan dan diganti dengan baju yang baru diterimanya dihadapan orang banyak.

Berikutnya ketika ada yang memberikan uang Rp. 100.000,- dan Rp. 50.000,- untuk membeli keperluannya, namun karena ketidaktahuannya uang-uang tersebut di buang ke sembarang tempat. Mereka kira hanya kertas yang tak berguna.

Alhamdulillah, saat ini sudah banyak yang masuk Islam dan berhijab. Pengalaman salah seorang yang baru masuk islam dari suku Togotil berpuasa, sepanjang hari bertanya kepada ketua suku “Ya Bapak ketua, kalau puasa tidak makan sepanjang hari, nanti bisa mati?”, atau celoteh yang lain “ Ustadz, saya lapar sekali, nanti kalau sudah malam saya akan makan yang banyak, agar kenyang”. Ternyata ketika berbuka puasa dengan minum segelas air dan makan sepotong kue sudah mesara kenyang, ujarnya “Ya Ustadz, saya sudah kekenyangan, ini berkat puasa”.

Bersama 23 masyarakat Suku Togutil bersyahadat masuk Islam (2017)

Di Halmahera Timur, tim survey BWA mengunjungi ust. Supri dan Ust. Salim dari AMCF yang berada di desa Patlean. Ust. Salim mengatakan, untuk dakwah Islam dan pembinaan di Halmahera Timur, kami siap mensupportnya, karena kami menargetkan satu keluarga satu Al-Qur’an. Selama ini harapan kami tidak bisa direalisasikan karena mahalnya biaya pengadaan Al-Qur’an, kebetulan BWA berkunjung kemari, harapan kami BWA bisa mewujudkan impian kami satu Qur’an satu keluarga. Pungkasnya.

Ketika survey ke Ternate, Tim BWA mengunjungi kediaman ust. Roni. Beliau bercerita, dakwah di Ternate sangat berat walaupun mayoritas warganya Muslim. Langkanya Al-Qur’an dan tidak adanya ustadz  atau guru ngaji menjadi kendala tersendiri. Belum lagi kesadaran kaum muslimin untuk belajar Islam yang masih rendah.

Beliau siap kerkordinasi dengan BWA guna mendistribusikan Al-Qur’an dan mengajarkan ngaji ke tengah-tengah masyarakat guna mencetak generasi Qur’ani yang sesuai tuntunan Islam.

Beliau juga memiliki kapal dakwah kemanusiaan dengan bobot mati 12 GT yang siap dipergunakan untuk distribusi Al-Qur’an ke berbagai wilayah Ternate.

Di Tidore tim survey BWA ketemu dengan pengurus Ma’had Ali Bin Abi Tholib yang siap bersinergi dengan BWA untuk mengajarkan ngaji di sini.

Melalui Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan, Badan Wakaf Al-Qur’an mengajak kaum Muslimin  membantu saudara muslim di Maluku Utara mendapatkan Al-Qur’an agar bisa belajar ngaji secara intensif.

Setiap huruf yang dibaca oleh kaum Muslimin mengalirkan pahala kepada para Wakif sepanjang masa.

Dana yang dibutuhkan Rp. 5.000.000.000 (50.000 Al-Qur’an + 5.000 Iqra’)

Partner Lapang

Ust. Nurhadi

 

WAP Roadtrip Halmahera - Maluku Utara

Update #6: Karomah Pohon Kurma di Pulau Gonone

 

Percayakah Anda di satu pulau di kepulauan Joronga Halmahera Selatan, ada pohon kurma yang berbuah?

Kisah ini berawal dari Moyangnya H Mustofa dari suku Tobelo, yang pada tahun 1938 datang ke pulau Gonone yang asal katanya dari "Naino Nomatame" artinya duduk sini. Pada Tahun 1939 hampir semua penduduk pulau tersebut masuk Islam kecuali satu keluarga yang belum masuk Islam.

Kemudian di tahun 1957, ada yang menanam kurma. keluarga yang belum Islam itu bilang "Seandainya pohon Kurma itu berbuah kami sekeluarga masuk Islam". Dan ketika kurma itu berbuah keluarga tersebut masuk Islam.

Adapun pohon Kurma yang kami lihat dan kami rasakan buahnya adalah tanaman yang di tanam tahun 2002. Kehadiran kami di pulau Gonone tidak lepas dari jerih upaya Kepala Desa Pulau Gala, Bapak Sunarto.

Mudah-mudahan ini menjadi Ibrah bagi kaum muslim sekalian bahwa tiada yang tidak mungkin bagi Allah SWT, di pulau terluar dan terpencil sekalipun dapat tumbuh pohon Kurma dan berbuah.

Selain itu Tim BWA juga membagikan mushaf Wakaf Al-Qur'an walaupun Al-Qur'an yang kami bawa itu belum bisa memenuhi kebutuhan semua warga, kami berharap di Maluku Utara, suatu hari Badan Wakaf Al-Qur'an mampu memberikan minimal satu mushaf Al-Qur'an bagi tiap rumah.

 

#2019SejutaQuranBangkitkanIndonesia

Update #5: Menyusuri Tepian Jurang, Wakaf Al-Qur'an Sampai di Desa Tertinggi Tidore

 

Jumat (22/3/) pagi tim BWA menuju Tidore dari pelabuhan Bastiong dengan menggunakan kapal KMP Baronang, berangkat pukul 08.00 dengan lama perjalanan selama 30 menit sampai di pelabuhan Prum, Tidore.

Tempat pertama yang kami tuju kali adalah pesantren Harisul Khairiyah,  Tidore bumi hijrah, Pimpinan H. An'im Fatahna M.Pd, di pesantren Al Qur'an yang ada sejak tahun 1999 ini kondisi Al Qur'annya banyak yang sudah sobek, tak layak pakai, namun masih digunakan untuk setoran hafalan bergantian.

Mendengar hal itu  tim BWA datang sambil menyerahkan  amanah wakaf Al-Qur'an dari para wakif. Hal ini tak disangka oleh Ust. Umar, salah seorang guru pembimbing santri saat menyetorkan hafalan Al-Qur'an, menjadi sebuah kejutan ketika kami langsung membagikan Al Qur'an kepada guru dan santri. Mereka merasa bersyukur atas nikmat Iman dan Islam.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Kalaodi yang berada di ketinggian gunung Tidore (atau gunung Kie Matubu), perjalanan ini sempat membuat tim kami was-was pasalnya mobil angkut Al-Qur'an yang kami bawa adalah menggunakan mobil tua L300.

Sempat tiga kali mobil mundur karena hampir tak kuat nanjak, bahkan tim dokumentasi kami yang duduk di belakang kerap memperhatikan arah belakang mobil tua ini, karena beberapa kali hampir masuk jurang.

Alhamdulillah walaupun perjuangan ini cukup berat dan menantang namun amanah wakaf Al-Qur'an ini harus sampai. Setibanya di kelurahan Kalaodi rupanya banyak juga kondisi Al-Qur'an yang sudah tak layak pakai.

Semoga dengan adanya wakaf Al-Qur'an ini adik-adik semakin giat mengaji, bertambah keimanan dan kecintaannya kepada Al-Qur'an.

Update #4: Hadiah Wakaf Alat Selam Perkuat Dakwah Ust. Supri di Pedalaman Suku Togutil Halmahera

Belajar dari filosofi menanam padi, tidak ada orang yang menanam akan mendapatkan hasil saat itu juga. Selalu ada proses di antara keduanya. Begitu juga hidup. Apa yang kita lakukan hari ini akan  menentukan seperti apa kita di masa depan. Kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan saat ini mungkin hanya dipandang sebelah mata orang lain, tapi disitulah proses yang harus dilalui.

Itulah yang di lakukan oleh Ustadz Supri dalam membina masyarakat Suku Pedalaman Togutil  bersama teman-teman spearfishing (komunitas penyelam).

Hal yang sangat unik adalah cara beliau berdakwah, Ustadz Supri kerap menyelam untuk mencari ikan yang kemudian hasil tangkapannya itu di berikan kepada masyarakat. Tidak jarang untuk anak-anak, Ustadz Supri meminta mereka setoran hafalan Al-Qur'annya sebelum diberikan ikan. Alhamdulillah adik-adik merasa senang saat mendapatkan ikan sebagai hadiahnya.

(Ikan yang Didapat Diberikan Kepada Anak-anak sebagai Reward Hafalan Surat)

(Ikan yang Didapat Diberikan Kepada Anak-anak sebagai Reward Hafalan Surat)

Memang selama ini terkadang urusan perut menjadi hal yang sangat sensitif bahkan aqidah pun mudah tergadaikan bagi masyarakat di pedalaman Halmahera. Namun sayang, baju selam yang di gunakan Ustadz Supri sudah mulai robek sehingga ketika di pakai untuk menyelam tubuhnya merasakan dinginnya air sehingga tidak tahan lama di dalam air.

Hal inilah yang disampaikan oleh Ustadz Hazairin Hasan (Direktur Program) kepada Weli Kurniawan (Staf Program BWA) untuk mencarikan alat selam dan dijadikan wakaf sebagai uslub dakwah Ustadz Supri. Dan alhamdulillah pada distribusi tahap ini, tim BWA tidak saja membawa mushaf wakaf, namun juga membawakan wakaf alat selam untuk dimanfaatkan oleh Ustadz Supri sebagai uslub dakwahnya

(Alat Selam sebagai Wasilah Dakwah)

(Alat Selam sebagai Wasilah Dakwah)

Mudah-mudahan dengan alat selam yang diwakafkan ini, menjadikan beliau bisa semakin memperkuat aqidah saudara muslim kita di pelosok Halmahera. Satu permintaan lain dari Ustadz Supri adalah permohonan bantuan wakaf Al-Qur'an untuk memperkuat aqidah masyarakat binaannya.

 

#2019SejutaQuranBangkitkanIndonesia #WAPHalmahera

Update #3: Melewati Ombak Besar Menuju Wasileo (Catatan Perjalanan Distribusi Al Qur’an Halmahera)

Kamis 28 Maret 2019, perjalanan distribusi Al Qur’an di Halmahera kembali dilanjutkan.  Dimulai dari Ternate menuju Sofifi kemudian Tobelo dan Wasileo dengan waktu tempuh selama 28 jam.

Perjalanan dari Ternate sampai Tobelo rasanya tidaklah terlalu berat, semuanya sesuai dengan rencana. Namun episode paling berat kali ini kami rasakan dari Tobelo menuju Wasileo, karena harus menggunakan jalur laut antara Tobelo ke Buli yang nantinya akan melewati tujuan kita ke Patlean. Dengan rute Tobelo, Tatam, Pololo, Jara-jara, Patlean, Wasileo, Dorosago, Way ampli dan Buli.

(Mengarungi Laut Halmahera, Menyampaikan Amanah Wakaf Al Qur'an)

(Mengarungi Laut Halmahera, Menyampaikan Amanah Wakaf Al Qur'an)

Namun di luar rencana dikarenakan harga kopra turun sehingga kapal dengan tujuan ke Buli mengalami penurunan jumlah penumpang, beberapa kali kapal harus singgah di dermaga- dermaga untuk mencari penumpang tambahan, namun pada kenyataannya jumlah penumpang memang sedang sepi.

Di tengah perjalanan kapal yang kami tumpangi menerjang ombak besar sehingga hampir semua tim mabuk laut, untung saja tidak sampai  memuntahkan isi perut kami. Sepanjang perjalanan kami merasakan guncangan-guncangan, bahkan beberapa kali terdengar suara  “krek krek krek” seresa kayu-kayu di kapal mau lepas, bahkan ketika subuh Ustadz Hazairin memanggil Weli untuk melakukan dokumentasi pun terhalang karena kami di hantam ombak besar. Hingga kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing, berlindung dari ombak dan angin, dan akhirnya kami baru sampai Wasileo pukul 14.00 WIT.

Rasa pusing dan angin kencang yang menerpa masih kami rasakan bahkan ketika kapal telah bersandar. Keadaan sedemikian sempat membuat kami syok, beruntung kami diantarkan ke rumah Bapak Kepala Desa Wasileo Aman Ahsan yang tidak jauh dari bibir pantai, sehingga kami bisa segera membersihkan diri dan istirahat memulihkan diri sejenak untuk kemudian melanjutkan distribusi Al Qur’an di Halmahera ini.

 

#2019SejutaQuranBangkitkanIndonesia #WAPHalmahera

Update #2: Bantu Muslim Bajo di Pulau Gala Halmahera memiliki Mushaf Al-Qur'an

Bila kita berkunjung ke Halmahera, rasanya belum pas jika tidak berkunjung ke bagian Selatan Halmahera yang memiliki sumber kekayaan alam laut yang besar serta pemandangan bawah laut  yang luar biasa indahnya.

Pulau Gala yang dibangun oleh Suku Bajo dengan menumpuk karang dan pasir (reklamasi) sejak tahun 1974 ini merupakan pulau terluar dan terpencil di Halmahera Selatan, di pulau ini ada 230 Kepala Keluarga suku Bajo yang seluruhnya muslim. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan petani rumput laut, dengan penghasilan yang sangat minim. Jangankan untuk membeli Al-Qur'an untuk biaya sekolah anaknya saja sulitnya bukan main.

Kedatangan kami ke Pulau Gala diawali dari info Pak Haji Ridwan Ilyasa, bahwa di pulau Gala itu penduduknya muslim semua, namun sayang jarang ada orang ke sana apalagi Dai untuk pembinaan.

Selama di perjalanan kami sudah menduga, di pulau terluar ini pasti jarang yang memiliki Al-Qur'an, kemudian kami tanya ke pak haji, berapa jam arah ke pulau itu dari Ternate, ternyata perjalanan hanya bisa menggunakan kapal laut dengan jadwal hanya ada satu kali trip perjalanan dalam seminggu dan di tempuh selama 1 hari, berangkat dari Ternate dari jam 21.30 WIT tiba di pelabuhan Babang (Pulau Bacan) 07.30 WIT Kita menurunkan 500 Al-Qur'an, dan 1000 ex Al-Qur'an di bagikan di Pulau Tawabi, Kukupang dan Gonone.

Proses Distribusi Al-Qur'an

(Al-Qur'an Berhasil Didistribusikan)

Setelah itu baru lanjut ke Pulau Gala. Namun sayang Al-Qur'an yang kami bawa masih belum mencukupi. untuk dibagikan juga ke pulau-pulau kecil sekitarnya.

Harapan besar dari Kades Pulau Gala Bapak Sunarto, agar dikirimkan Dai di daerahnya sehingga warga ada pembinaan dan pendidikan Al-Qur'an.

#2019SejutaQuran Bangkitkan Indonesia

#YukBerbagi Hingga Pelosok Negeri di wakafquran.org

Up Date #1: Menyusuri Tepian Jurang, Wakaf Al-Qur'an Sampai di Desa Tertinggi Tidore

Jumat (22/3/19), pagi ini Tim menuju Tidore dari pelabuhan Bastiong dengan kapal KMP Baronang berangkat jam 08.00 dengan perjalanan selama 30 menit sampai di pelabuhan Rum.

(Al-Qur'an Road Trip Halmahera)

Tempat pertama yang kita tuju kali ini pesantren Harisul Khairiyah  Tidore bumi hijrah Pimpinan H. An'im Fatahna M.Pd di pesantren ini Al Qur'an tidak pernah diganti sejak tahun 1999 sehingga kondisi Al Qur'annya sudah banyak sobek, tak layak pakai namun itu masih digunakan untuk setoran hafalan bergantian.

Mendengar hal itu  tim BWA datang untuk menyerahkan  amanah wakaf Al-Qur'an dari para wakif, hal ini tak di sangka oleh Ust. Umar, salah seorang guru pembimbing santri. Saat menyetorkan hafalan Al-Qur'an kedatangan kami menjadi sebuah kejutan ketika kami langsung membagikan kepada para guru dan santri mereka merasa bersyukur atas nikmat iman dan Islam.

(Kebahagiaan Warga setempat kedatangan BWA dan Al-Qur'an Wakaf)

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Kalaodi yang berada di puncak gunung Tidore (atau gunung Kie Matubu), perjalanan ini sempat membuat tim kami was-was pasalnya mobil angkut Al-Qur'an yang kami bawa menggunakan mobil tua L300. 

Sebanyak 3 kali mobil mundur hampir tak kuat nanjak, bahkan tim dokumentasi kami yang duduk di belakang kerap memperhatikan arah belakang karena beberapa kali hampir masuk jurang. 

Alhamdulillah walaupun perjuangan ini cukup berat dan menantang namun amanah wakaf Al-Qur'an ini harus sampai.

Setibanya di kelurahan Kalaodi rupanya banyak juga kondisi Al-Qur'an yang sudah tak layak pakai.

(Al-Qur'an Wakaf tiba di Ternate)

Semoga dengan adanya wakaf Al-Qur'an ini adik-adik semakin giat mengaji, bertambah keimanan dan kecintaannya kepada Al-Qur'an.
 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.