Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Water Action for People

Wujudkan Kebahagiaan Masyarakat Pedukuhan Karang Wetan I, Gunung Kidul dengan Wakaf Sarana Air Bersih

Wujudkan Kebahagiaan Masyarakat Pedukuhan Karang Wetan I, Gunung Kidul dengan Wakaf Sarana Air Bersih

Gunung Kidul adalah Kabupaten yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama Gunung Kidul berasal dari bahasa Jawa “Gunung di Selatan” yang mana wilayahnya terletak di jajaran Pegunungan Kidul Yogyakarta. Gunung Kidul dikenal sebagai daerah Tandus dan sering mengalami kekeringan. Daerah Yogyakarta khususnya di daerah perbukitan sangat kesulitan untuk mendapatkan air bersih bahkan sumber mata air pun sudah tidak ditemukan lagi, kalaupun ada maka jaraknya sangatlah jauh dan aksesnya juga sulit.

(Kondisi Air yang Keruh)

Disini, ada sebuah desa yang masih kesulitan air bersih yaitu Pedukuhan Karang Wetan I dengan Jumlah 153 KK yang berpenduduk kurang lebih 650 jiwa, kondisi air di desa ini sangatlah sulit, berpuluh tahun sudah desa ini mengalami sulitnya air dikarenakan kondisi di wilayah tersebut adalah perbukitan, jika penghujan datang maka keadaan air di desa tersebut membaik karena masyarakat bisa menampung air hujan di sumur resapan yang ada, namun saat kemarau datang maka keadaan  akan semakin parah sehingga mereka harus bertahan untuk menjalani hidup, dengan keadaan seperti ini mereka harus mengeluarkan biaya dari uang pribadi mereka. Setiap bulan mereka harus membeli air bersih seharga 200rb perbulan, tentunya akan terasa ringan bagi warga masyarakat yang memiliki ekonomi cukup dan menengah, tetapi tidak dengan warga masyarakat yang memiliki ekonomi menengah kebawah. Tentunya hal ini sangat menjadi kendala dan halangan untuk kehidupan sehari-hari di desa tersebut, karena mayoritas dari mereka adalah petani dan peternak yang sangat membutuhkan air bersih dalam kegiatan bertani dan beternak di pedukuhan Karang Wetan I tersebut.

(Penampungan Air Warga Banyak yang Kosong)

Pada tahun 2015 pernah adanya bantuan dari pemerintah yaitu berupa pembangunan sebuah embung di atas tanah warga seluas 10 m2, namun air yang ditampung didalam embung ini tidak bisa digunakan/tidak layak untuk dikonsumsi karenanya airnya keruh berwarna coklat ketika musim kemarau juga airnya kering. Sehingga embung ini tidak digunakan lagi hingga waduk ini akan dibongkar lagi oleh si pemilik tanah. Selanjutnya ada juga bantuan berupa sumur bor dalam yang pernah diberikan ke pedukuhan Karang wetan ini, namun karena pengelolaan semur yang kurang baik akhirnya sumur bor juga sudah tidak digunakan lagi.

(Kegiatan Survey Tim BWA)

Rencana Project

Tim BWA telah melakukan survey ke lokasi tersebut dan memiliki rencana sebagai berikut:

  1. Sosialisasi ke masyarakat pedukuhan akan pentingnya penghematan dan pemerataan akan pembagian air pada saat musim kemarau.
  2. Pembuatan 1 buah sumur bor dengan kedalaman kurang lebih 100 meter yang nantinya akan dilakukan tes geolistik terlebih dahulu.
  3. Membangun bak penampungan dusun dengan kapasitas 30m2
  4. Penarikan (gali dan tanam) pipa HDPE 1,5 inch sepanjang 3000m dimulai dari bak induk ke  RT 1, 2, 3 dan 4 serta pemasangan pipa PVC ke setiap rumah, yang nantinya akan dialirkan air dengan pipanisasi grativasi.

(Berikut adalah gambar letak RT satu ke RT yang lain)

Dari gambar diatas, jarak dari RT 1 ke RT lainnya kurang lebih 1,5 KM.

BWA mengajak kepada kaum muslimin dan muslimat untuk mari kita berwakaf di BWA dalam program Wakaf Sarana Air Bersih. Semoga menjadi amal jariyah untuk para wakif sekalian. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.1.150.950.000

Patner Lapangan:

Ustadz Jumari

 

#BWA #InovasiWakaf #WAFP #WaterActionforPeople #WakafSaranaAirBersih

 

Wujudkan Kebahagiaan Masyarakat Pedukuhan Karang Wetan I, Gunung Kidul dengan Wakaf Sarana Air Bersih

Update #2: Sumur Resapan Warga Mulai Mengering, Mari Bantu Segera Alirkan Air Bersih Hingga ke Rumah-rumah Mereka

Mbah Wakimin, salah satu warga dusun Karang Wetan I mengungkapkan, bahwa dalam 2 bulan terakhir ini sudah jarang ada hujan. Hal ini mengakibatkan sumur resapan yang ada di depan rumah beliau mengering. Dengan kondisi tersebut, memaksa 5 rumah yang bergantung pada sumur tersebut patungan untuk membeli tangki air seharga Rp.200.000,- .

“Sudah dua bulan ini jarang hujan. Sumur mulai mengering. Terpaksa kamu patungan untuk beli air lewat mobil tangki yang mahal,” cerita Mbah Wakimin.

Demikian salah satu cerita kesulitan air yang dialami oleh warga Karang Wetan I. Selama berpuluh tahun kondisi susah air dialamii oleh mereka. Kendala lain yang dihadapi oleh warga adalah ketika menampung air dari mobil tangki, mereka tidak mempunyai cukup bak ataupun toren untuk menampung air tangki yang sebesar ±4 kubik – 4,5 kubik itu. Akhirnya untuk mengakalinya, air dari tangki dimasukkan kedalam sumur yang mengering tersebut, dengan konsekuensi air merembes dan berkurang debit air yang bisa dimanfaatkan.

(Tes Geolistrik untuk Temukan Titik Air)

“Kondisi ini terus berlangsung setiap kemarau datang, dan puncaknya saat sudah sebulan lebih tidak ada hujan, mbah Wakimin harus rela merogoh kocek lebih dalam, entah dengan tabungan yang masih ada atau terpaksa meminjam saudara dan bahkan meminjam lewat bank plecit (rentenir). Paling parah dalam sebulan mbah wakimin harus membeli tangki sebanyak 5 kali atau setara dengan Rp 1.000.000,- dan dibagi 5 KK. Padahal dari hasil ternak dan sawah beliau saja, angka tersebut sudah sangat berat untuk dicapai,” cerita Agil, staff program BWA.

Saat tim BWA melakukan tes geolistrik, mbah Wakimin nampak terlihat sangat antusias dan senang, ia berharap dengan adanya wakaf sarana air bersih dari BWA ini, pada saat musim kemarau ia tidak lagi mengeluarkan uang untuk membeli air dari truk tangki yang sangat berat bagi beliau.

Mbah Wakimin bercerita untuk bulan ini saja ia dan beberapa warga sudah membeli air sebanyak empat tangki. Tentu hal ini sangat memberatkan ia dan warga Karang Wetan I lainnya. Kemudian tim BWA menyampaikan bahwa kegiatan ini baru tahap tes geolistrik dan meminta doa semoga diberikan kelancaran sampai air mengalir nanti.

“Alhamdulillah sudah ada tes saja saya sudah adem dengarnya mas, apalagi berhasil, mudah-mudahan Allah beri kelancaran,” tutur Mbah Wakimin seraya tersenyum.

Alhamdulillah pada pelaksanaan tes geolistrik di dusun Karang Wetan I ini, telah ditemukan titik duga yang diperkirakan memiliki debit air tanah yang besar dengan perkiraan pengeboran sedalam 120 meter. Titik duga ini didapatkan dari pencarian 2 titik di lokasi yang berbeda untuk menemukan debit air dan kedalaman bor yang paling memungkinkan. Selanjutnya untuk memastikan hasil yang akurat, hasil tes geolistrik tersebut akan diolah dan hasil scan tanah dari tes tersebut akan dianalisa kembali untuk menentukan titik bor yang tepat sampai akhirnya realisasi pembangunan.

Mari sahabat wakaf bersama BWA bantu Mbah Wakimin dan warga Karang Wetan I lainnya untuk mendapatkan air bersih. InsyaAllah dengan mengalirnya kelak air di dusun Karang Wetan I, mengalirkan pula pahala jariyah yang tidak ada terputusnya kepada para wakif hingga yaumil akhir, aamiin.

 

Update #1: Sumber Air Jauh, Warga Karang Wetan I Terpaksa Membeli Air dengan Harga Mahal

Warga Karang Wetan I yang berada di Kabupaten Gunung Kidul terpaksa harus membeli air seharga Rp.200.000 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Terutama saat kemarau datang, mau tidak mau mereka membeli air dengan harga yang tidak murah karena jarak sumber air yang sangat jauh dan kondisi medan yang curam dari tempat tinggal mereka.

(Kesulitan Air di Karang Wetan I, Gunung Kidul)

(Kesulitan Air di Karang Wetan I, Gunung Kidul)

Pada agustus lalu, tim BWA memiliki kesempatan berkunjung ke kediaman Ustadz Jumari, partner lapangan BWA untuk project di Karang Wetan I. Sesampainya di sana kami bertemu dengan salah seorang warga Karang Wetan I,  yakni Ibu Suranti. Dia bercerita tentang kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang dialaminya selama ini.  “Kondisi di  sini sulit sekali air, kami sebagai petani sangat keberatan jika harus membeli air bersih seharga dua ratus ribu setiap dua minggu di musim kemarau,” cerita Ibu Suranti.

(Tim BWA Menemui Warga Karang Wetan I)

(Tim BWA Menemui Warga Karang Wetan I)

Sebelum memutuskan untuk membeli air bersih, usaha yang warga Karang Wetan I lakukan adalah berjalan kaki menempuh jarak sejauh 4 km untuk mengambil air ke sumber, dan menggunakan air yang ada tersebut untuk keperluan minum dan masak. Keringnya air mengharuskan mereka mandi dan mencuci di sungai, sepulang mandi disungai mereka membawa dirigen untuk kebutuhan mereka di rumah.

Sahabat wakaf, kondisi seperti ini telah mereka alami selama berpuluh tahun lamanya. Oleh karena itu, BWA mengajak kepada kaum Muslimin dan Muslimat dimanapun berada untuk mari bersama-sama kita bantu kesulitan yang dialami oleh saudara kita dengan cara berwakaf di BWA. Nabi bersabda “sedekah yang paling baik adalah sedekah air” semoga dengan wakaf kita semua menjadi pahala mengalir yang tiada henti, Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

 

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.