Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Wakaf Khusus Dakwah

Wujudkan Kembali Lahirnya Ulama Islam dari Tanah Minang dengan Membangun Pondok Pesantren Manahijussadat 3 Salimpaung, Tanah Datar

Wujudkan Kembali Lahirnya Ulama Islam dari Tanah Minang dengan Membangun Pondok Pesantren Manahijussadat 3 Salimpaung, Tanah Datar

Dahulu para ulama Minang adalah gurunya para ulama se Nusantara, bahkan dunia. Para pendiri NU, Muhammadiyah, dan Jam'iyyah Jam'iyyah besar lainnya berguru pada para ulama Minang. Sebut saja Syeikh Yasin bin Isa Al Fadani yang dikenal sebagai Musnid ad dunya oleh kalangan Islam Internasional, juga ada Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, gurunya dua pendiri NU dan Muhammadiyyah.

(Gambar Rancang Ponpes Manahijussadat 3)

"..Al-Qur’an akan benar benar menjadi Hudan (petunjuk) jika di tangan mereka yang memiliki ilmu, para 'alim ulama. Para 'alim ulama ini dicetak di pondok pesantren. Maka inilah korelasi BWA mensupport wakaf pembangunan pondok pesantren. Karena dari pondok pesantren lah lahir para ulama yang akan mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai Hudan (petunjuk) untuk membimbing umat..*

Sepenggal kalimat yang terus kami ingat dari KH. Sulaiman Effendi saat kami berkunjung ke kediaman beliau yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Manahijussadat, Lebak, Banten. Kunjungan kami dalam rangka menggali cerita sedalam-dalamnya tentang rencana pembangunan Pondok Pesantren Manahijussadat 3 di Salimpaung, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Siang itu dalam suasana santai kami dijamu di ruang tamu dan menyimak setiap penggal cerita yang beliau sampaikan. Beliau mengawalinya dengan memori perjalanan beliau dalam menempuh pendidikan di Gontor, dimana sosok para pendiri Pondok Pesantren Darussalam Gontor, yang dikenal dengan istilah Trimurti, sangat menginspirasi beliau. Mereka adalah tiga bersaudara yaitu KH. Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fannanie, dan KH. Imam Zarkasyi.

(Bersama Wujudkan Ruang Kelas dan Asram Ponpes Salimpaung)

Seusai mengenyam pendidikan di Gontor, ulama kelahiran Asahan Sumatera Utara 58 tahun lalu ini mengabdi di Pondok Pesantren Darul Qolam Gintung hingga beberapa tahun kemudian diamanahi wakaf yang akhirnya mewujud menjadi rintisan Pondok Pesantren Manahijussadat di Rangkasbitung, Lebak, Banten ini.

Meski berasal dari Asahan, beliau berdarah Minang, sama seperti Ustadz Abdus Somad yang terkenal itu, kata beliau. Kaitan darah inilah yang menggerakan kepedulian beliau untuk turut berkontribusi bagi ranah Minang.

(Bangunan Asrama Sementara, Lokasi Tanah Wakaf)

Gayung bersambut, atas izin Allah beliau dipertemukan dengan para tokoh, para ninik mamak dari Salimpaung, Tanah Datar, Sumatera Barat yang berniat untuk mewakafkan lahan yang harapannya di atas lahan tersebut dapat dibangun Lembaga Pendidikan Islam yang mampu mencetak kader kader ulama kelas internasional dari Tanah Minang sebagaimana para pendahulu.

Menurut para ninik mamak tersebut, dahulu para ulama Minang adalah gurunya para ulama se Nusantara, bahkan dunia. Para pendiri NU, Muhammadiyah, dan Jam'iyyah Jam'iyyah besar lainnya berguru pada para ulama Minang. Sebut saja Syeikh Yasin bin Isa Al Fadani yang dikenal sebagai Musnid ad-dunya oleh kalangan Islam Internasional, juga ada Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, gurunya dua pendiri NU dan Muhammadiyyah.

Mereka rindu ketika ranah Minang menjadi kiblat intelektual muslim Nusantara. Karena itulah mereka berharap, di tanah yang mereka wakafkan ini kelak berdiri Lembaga Pendidikan Islam yang mampu mencetak kembali ulama bertaraf Internasional yang mengharumkan Nusantara dan dunia Islam dengan keilmuan dan kesholihannya.

(Para Santri Belajar di Tempat Seadanya)

Awalnya para pewakaf lahan tersebut masih ragu, Pendidikan Islam seperti apa yang mesti dijalankan hingga mereka dipertemukan dengan Kiyai Sulaiman. "Saya hanya tahu Gontor karena saya dididik disana. Dan jika dipercaya, di tanah inipun akan saya bawa Gontor, tidak kurang tidak lebih," tutur Pak Kiyai.

Pak Kiyai lanjut menjelaskan, bahwa blue print Gontor disusun di tanah Minang ketika salah satu pendirinya, yakni KH. Imam Zarkasyi menempuh pendidikan di Kweekschool, Padang Panjang, Sumatera Barat.

Jadi, menurut Pak Kiyai, Gontor dan Minang memiliki ikatan historis yang kuat. Dari penjelasan beliau, para ninik mamak yang merupakan para pewakaf lahan tersebut semakin tertarik dengan konsep Pendidikan Islam yang dibangun Pak Kiyai. Lalu berangkatlah rombongan pewakaf itu ke Lebak Banten untuk studi banding ke Ponpes Manahijussadat 1 dan 2 yang ada di Rangkasbitung, Lebak Banten. Dari hasil kunjungan studi yang kurang lebih selama satu bulan di Banten akhirnya para ninik mamak semakin berbulat tekad dan mantab untuk mempercayakan Pesantren yang akan dibangun di Salimpaung nanti oleh KH. Sulaiman Effendi dengan nama Ponpes Manahijussadat 3, dengan sistem pendidikan ala Gontor yang dipadukan dengan kearifan model pendidikan setempat.

BWA melihat Pondok Pesantren Manahijussadat 3 membutuhkan bantuan untuk dapat memenuhi kriteria sebuah pensatren. Untuk itu, BWA mengajak para wakif bersama-sama menyisihkan rezekinya membangun fasilitas pengembangan Pondok Pesantren Manahijussadat 3 ini. Dengan bersama-sama, sesuatu yang berat akan terasa ringan.

Semoga, Allah SWT meridhoi dan memudahkan rencana ini. Dan bagi para wakif yang turut serta berpartisipasi, semoga Allah membalasi dengan curahan rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.2.580.000.000 (Dua milyar lima ratus delapan puluh juta rupiah)

Partner Lapangan:

Kyai Sulaiman Effendi

 

#BWA #InovasiWakaf #WKD #PonpesSalimpaung

Belum ada Update

DONASI YANG DIBUTUHKAN

Rp 2.580.000.000



10.05%
Butuh Rp 2.320.750.500,- lagi

PROJECT LAIN

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.