Detil Proyek

Berikut ini adalah salah satu detil proyek dari Zakat Peer To Peer

Zulhana Tetap Sabar dan Setia Merawat Suami yang Sakit Komplikasi

BWA-ZPP. Fahmi Yunus (42 tahun) terus  menerus merintih kesakitan. Sementara Zulhana (37 tahun), istrinya,selalu dengan sigap mengurus segala keperluan suaminya.

 

ZPP BWAFahmi Yunus saat sedang dirawat di RS. Cikini, Jakarta.


Fahmi sejak masuk rumah sakit lagi karakternya berubah menjadi lebih temperamen, telat sedikit mendapatkan oksigen, ia bisa marah-marah. Namun dengan sabar, Zulhana tetap memasangkan alat bantuan nafas dari tabung oksigen ke wajah Fahmi, lalu mengusap keningnya dan menenangkannya.

Fahmi yang mengidap gagal ginjal sejak empat tahun lalu sempat hidup ‘normal’ pasca operasi cimino pada Desember 2013 dengan berangkat ke rumah sakit sendiri ---menggunakan sepeda motor sepekan dua kali untuk cuci darah di salah satu rumah sakit di Cikini, Jakarta.

Namun, sejak Juni lalu, ia kerap mengalami sesak nafas. “Kata dokter, suami saya mengalami komplikasi, lantaran banyak cairan di perut dan infeksi, hati juga mulai membengkak dan infeksi juga menjalar ke paru-paru, kalau tidak pakai oksigen dia tidak bisa bernafas,” ungkap Zulhana.

Maka, sejak saat itu, Fahmi tidak dapat hidup ‘mandiri’ lagi dan nafas pun kerap dengan bantuan oksigen tabung dan berangkat cuci darah menggunakan taksi diantar istri.

Karena harus selalu melayani Fahmi, praktis pekerjaan Zulhana yang sebagai penjahit bordir pun sering terbengkalai. Uang zakat yang didapat menjelang lebaran sudah habis untuk biaya merawat suami yang bila dirata-ratakan per hari butuh biaya Rp 200 ribu itu.

“Dan maaf banget, uang buat kontrakan dari BWA yang Rp 6 juta kemarin juga saya pakai buat oksigen,” ungkapnya yang merasa bersyukur juga karena pemilik kontrakkan bertoleransi tidak mengusirnya dari rumah kontrakan di gang HS, Pamulang Barat, Tangerang Selatan.

Zulhana menyadari penyakit suaminya sangat parah dan sulit disembuhkan. Ketika ditanya apakah pengobatan suaminya akan dihentikan, berulang kali ia mengusap air mata. Namun ia tidak dapat membendung, sehingga air mata menetes deras melewati pipi.

“Saya tidak mau menghentikan pengobatan. Saya akan terus berusaha walau pun harus mengemis  sana-sini untuk mengobati suami saya, karena manusia hanya bisa berusaha, yang menentukan sembuhtidaknya kan Allah,” jawabnya sambil menyeka air mata.

Ketika ditanya apakah pernah terlintas untuk meninggalkan suaminya, ia pun menggelengkan kepala, lalu menjawab sambil terbata-bata: “Ini sudah takdirsaya... Saya akan terus... terus... menjaga dan merawat sampai akhir hayat.... Ini ladang pahala saya...”

Selain jadi ladang pahala Zulhana, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) mengajak kaum Muslimin untuk menjadikan ini sebagai ladang pahala kita semua dengan berzakat dan donasi kepada keluarga Fahmi melalui program Zakat Peer to Peer (ZPP) untuk enam bulan ke depan. Sehingga kewajiban zakat mal tertunaikan dan beban Zulhana pun terkurangi.[]

Donasi yang diperlukan:

Rp 41.100.000,-(Enam bulan X Rp 6.850.000,- per bulan. Dengan rincian per bulan: 6 oksigen Rp 150 ribu X 30 hari; taksi Rp 150 ribu X 9 kali ke rumah sakit; biaya hidup satu bulan Rp 1 juta).

Mitra lapang:

Alimudin Baharsyah

Belum ada Update

Disclaimer:
Jika hasil penggalangan dana project wakaf/donasi melebihi dari target yang dibutuhkan, maka kelebihan dana project ini akan dialihkan kepada program dan project lain di Badan Wakaf Al Qur’an berdasarkan kebijakan manajemen BWA.